Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengenal Tokoh Islam: Al Bukhari

Jum'at, 06 Juli 2018 ~ Oleh Zamzami Djahuri ~ Dilihat 33 Kali

Al Bukhari

(810-870) M

Al Bukhari adalah ulama hadis yang paling terkenal. Kemashurannya disebabkan usahanya mengumpulkan hadis yang dia himpun dalam kitab al-Jami’al Shahih. Kitab ini -- oleh kaum Muslim—dianggap sebagai kitab Islam yang paling mulia dan utama setelah Kitabullah.

            Pada zamannya, medan hadis adalah bagaikan lautan yang sangat luas yang bercampur antara hadis shahih dan hadis palsu. Antara yang benar dan buatan. Hadis telah dijadikan—oleh sebagian orang—sebagai mata pencaharian hidupnya. Mereka menghilangkan batas-batas hadis shahih. Mereka menjadikan hadis sebagai alat untuk mendekati penguasa; mereka membaik-baikkan cara periwayatannya. Keadaan bobrok seperti ini menggelisahkan orang yang  bertakwa  dan ulama. Mereka menyadari kondisi seperti itu sangat mempengaruhi perjalanan agama ini. Mereka khawatir  dengan kondisi semacam ini agama Islam akan menghadapi bahaya seperti yang telah dialami  oleh agama lain sebelumnya; ketika penganutnya telah menyelewengkan kitab suci mereka sendiri.  Sebagai orang yang melakukan usaha memerangi munculnya berbagai macam hadis itu dengan membuat hadis tandingan agar tidak muncul hadis-hadis buatan. Namun, sebagai orang—seperti Bukhari dan Muslim—tidak mau melakukan  hal seperti itu. Dia kemudian menciptakan  dasar-dasar ilmu hadis, serta ukuran-ukuran yang jelas dan pasti mengenai cara menyeleksi hadis-hadis sahih. Diriwayatkan dari al- Bukhari, ketika dirinya mulai melakukan pengumpulan hadis shahih, dia bermimpi melihat dirinya sedang mengusir lalat dari badan Nabi.  Sebagian orang menafsirkan bahwa lalat itu adalah kebohongan yang terjadi di seputar hadis Rasulullah saw.

            Ketika memilih hadis – hadis shahih itu, al-Bukhari telah menampakkan kecerdasan dan kecermerlangannya. Dia menyeleksinya dengan dengan hadis yang diriwayatkannya. Dia keluarkan segala daya upayanya untuk sampai kepada tujuannya yang hakiki dengan cara yang paling baik.

            Ukuran utama yang dia jadikan sebagai pedoman adalah mengecek kebenaran para perawi hadis, ahli hadis, berikut identitas mereka. Disamping itu dia juga meneliti ketakwaan orang-orang yang terlibat  dalam mata rantai periwayatan, dan segi kejujuran mereka dan ketidak keterlibatan mereka dalam fanatisme golongan, mazhab, atau kaum mereka.  Jika mereka terbukti bersih dan tidak tersangkut dengan hal-hal seperti itu, dan tidak pernah sengaja berbohong terhadap Nabi. Maka ketersambungan zaman dengan orang-orang yang meriwayatkan hadis, penulis hadis, dan nama mereka tercantum dalam mata rantai perawi hadis itu, maka oleh Bukhari, hadis itu dianggap shahih.

            Ketika sedang menyusun kitab sahihnya, di tangan Buchari telah ada enam ratus ribu hadis; hadis yang dianggap shahih tidak lebih dari tujuh ribu tiga ratus sembilan puluh tujuh buah hadis. Jika kita tunjukkan yang ada di dalam bukunya pandangan kita terhadap hadis-hadis yang terulang dalam berbagai bab yang ada dalam bukunya,  maka sebetulnya jumlah hadis itu hanya duaribu tujuh ratus enam puluh dua. ( Artinya satu hadis dapat berubah menjadi duaratus hadis karena diriwayatkan oleh orang banyak).

            Seleksi hadis sahih yang dilakukan oleh Bukhari—seperti yang telah kami katakan—didasarkan kepada kesahihan  sanad (mata rantai rawi) bukan matn (isi atau inti) hadis itu sendiri. Mata rantai rawi, menurut Bukhari merupakan tiang pancang hadis.  Jika dia roboh, akan merobohlah hadisnya; jika mata rantai itu benar, hadisnya dapat diterima, walau bagaimanapun isinya; Bahkan, meskipun isi hadis itu bertentangan dengan logika atau sejarah yang sudah benar. Kita juga mengkeritik metodologi seperti ini,  karena bisa saja orang yang suka memalsukan hadis dapat membuat silsilah  atau mata rantai riwayat yang sangat bagus yang sudah pasti diakui sebagai mata rantai yang muncul dari  orang yang bertakwa dan didasarkan atas logika yang benar. Karena mereka melihat bahwa tidak mungkin semua manusia mencapai tingkat pemahaman terhadap semua hadis Rasulullah saw. Kita sendiri sulit mengetahui dan memahami mereka, untuk menolak mereka.  Karena mereka memang orang suka berbohong dan hidupnya selalu diliputi keraguan.

            Jika Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menyatakan bahwa dasar penyeleksian hadis shahih dari yang palsu adalah dengan menggunakan perbedaan antara yang mungkin dan yang mustahil dan jika Abn Abas al-Bar dan al-Nawawi mengatakan bahwa hadis shahih itu harus tidak bertentangan dengan logika dan hakikat sejarah, maka satu-satunya problem yang dihadapi oleh para penyusun buku hadis ialah bagaimana cara menghukumi hadis shahih dan hadis lemah. Mereka mengalami kesulitan jika menemukan dua buah hadis yang isinya bertentangan tapi masing-masing hadis memiliki mata rantai rawi yang jelas. Mereka tidak akan mudah menganggap benar mata rantai yang satu dan mengabaikan mata rantai rawi yang lain. Mereka pasti menggabungkan antara kedua hadis tersebut.  Jika mereka sulit melakukan  penggabungan, mereka menerapkan teori nasikh dan mansukh.

            Dalam Shahihnya, Bukhari telah menetapkan bahwa hadis shahih adalah hadis yang keshaihannya disepakati oleh rawi tsiqat yang meriwayatkan dari seorang sahabat yang masyhur, yang tidak terjadi perselisihan pendapat di antara para tsiqat itu sendiri. Selain itu mata rantai sanad hadis itu harus tersambung, tidak terputus. Syarat yang ditetapkan oleh al–Bukhari ini hampir tidak pernah diterapkan oleh ulama lain. Ada orang yang meriwayatkan darinya bahwa dia berkata, “Aku tidak meletakkan sebuah hadis dalam shahiku kecuali aku mandi dahulu dan shalat dua rakaat.”

            Bukhari juga dikenal sebagai orang yang pemalu, tawadhu, meskipun ilmunya sangat luas. Dia sendiri berkata, “ Aku berharap untuk berjumpa dengan Allah, dan Dia tidak menghisab diriku bahwa diriku ini telah melakukan gunjingan terhadap orang lain.”  Ucapannya ini dibuktikan dengan caranya menyeleksi hadis dan mendaifkannya. Jika ia menemukan seorang perawi hadis yang tidak diterima atau tertolak, dia mengatakan, “ Ada sesuatu dalam dirinya, “ atau “Mereka tidak berkata apa-apa tentang dirinya.” Jarang sekali dia mengatakan dengan terus erang, “Fulan itu seorang pembohong.”

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT