Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Wakaf

Rabu, 30 Mei 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 13 Kali

Secara bahasa, waqaf berarti manahan. Sedangkan menururt terminologi Fiqih, waqaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan untuk jalan kebaikan demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Waqaf terdiri dari dua macam, yaitu waqf ahli dan waqaf khairi.
Waqaf ahli adalah waqaf yang ditujukan kepada keluarga dan kaum kerabat, seperti waqaf yang dilakukan oleh Abu Thathah. Dari Anas r.a. dia berkata: “Abu Thatha adalah seorang terkaya dari kaum Anshar di Madinah. Harta miliknya yang paling ia cintai adalah kebun Bairaha yang menghadap masjid, Rasulullah SAW sering memasukinya dan minum dari mata airnya.”

Anas r.a. berkata: “Ketika turun ayat, kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesunggunya Allah mengetahuinya, dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bhairaha’ dan sesungguhnya aku telah sedekahkan untuk Allah SWT, yang dengannya aku mengharapkan kebaikan dan pahala di sisi Allah SWT.”

Oleh karena itu wahai Rasulullah, per­­gunakan kebun itu untuk apa pun yang engkau kehendaki. Rasullah SAW lalu bersabda: “Bagus, harta itu pasti menguntungkan. Aku mendengar pernyataanmu dan aku berpendapat lebih baik kamu memberikan kepada kerabatmu.” Maka Abu Thathahpun membagikannya kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya (Bukhari dan Muslim).

Sedangkan waqaf Khairi merupakan yang ditujukan untuk kebajikan. Dari Ibnu Umar berkata bahwa: “Umar memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi SAW untukk meminta petun­juknya tentang tanah itu, Ia mengtakan: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, aku belum pernah memperoleh harta yang lebih berharga menurutku daripada tanah tersebut, maka apakah yang akan engkau perintahkan kepadaku mengenainya?“ Nabi SAW menjawab: “Jika engkau suka engkau boleh menahan pokoknya (mewakafkannya) dan menyedekahkan (hasilnya dengan ketentuan pokoknya tidak boleh dijual dan tidak pula boleh dibeli, tidak boleh diwariskan, dan tidak pula boleh dihibahkan).“

Maka Umar menyedekahkannya. Ibnu Umar r.a. mengatakan: “Lalu Umat r.a menyedekahkannya untuk kaum fakir miskin, kaum kerabatnya, hamba-hamba sahaya, sabilillah, ibnus sabil, dan untuk tamu. Tidak mengapa bagi orang yang mengurusnya memakan sebagian daripadanya dengan cara yang ma’ruf atau ia memberi makan temannya dan tidak memperkaya diri dengan hasilnya.” (Bukhar dan Muslim)

Waqaf dapat dilaksanakan dengan memenuhi syarat–syarat sebagi berikut:
(1) Ada orang yang mewaqafkan harta benda miliknya (waqil). Waqil dapat perseorangan, organisasi, dan badan hukum.
(2) Ada orang yang diserah tugasi meme­lihara dan mengurus benda waqaf (nadzir). Nadzir dapat perseorangan, organisasi, dan badan hukum.
(3) Ada benda yang diwaqafkan, baik benda bergerak maupun tidak bergerak.
(4) Ada ikrar wakaf, yaitu pernyataan kehendak dari waqil untuk mewaqafkan benda miliknya.
(5) Ada peruntukkan harta benda waqaf.
(6) Ada jangka waktu waqaf.

[Prof. Dr. M. Suyanto]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT