Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengenal Tokoh Islam: Mu’awiyah (600-800 M)

Rabu, 30 Mei 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 9 Kali

Mu’awiyah adalah pendiri Dinasti Umayah. Pada pemerintahan daulah itu umat Islam dapat melihat perkembangan yang sangat mengagumkan di bidang filsafat hukum, konsep agama, dan kemajuan di bidang peradaban.

Mua‘awiyah juga sebagai peletak dasar konsep “sayyid” di kalangan orang Arab, yang masih terpakai sampai hari ini. Dia menjadi keteladanan dalam kesabaran, kecerdikan, toleransi, pengendalian diri, dan pemberian maaf ketika mampu, serta banyak lagi sifat-sifat lain yang hendak ditiru oleh para khalifah dan gubernur setelahnya, baik dari kalangan Bani Umayah maupun yang lainnya.

Kita tidak pernah mengetahui kegagalan Mu’awiyah dalam urusan yang dia inginkan, baik ketika dia bekerja sebagai gubernur di Syam pada masa Khalifah Rassydin maupun ketika berdirinya sendiri menjadi khalifahh bagi kaum Muslim selama dua puluh tahun. Satu kegagalan yang patut dicatat di sini ialah penaklukan kota Kon­stantinopel. Dia selalu melihat ke depan, tidak mau mengambil pelajaran dari masa lalu, khususnya dalam bidang politik yang telah dilalui oleh para pendahulunya. Oleh karena itu dia termasuk penguasa Muslim yang kurang begitu melakukan penjagaan terhadap dirinya, dan lebih banyak bergerak dengan bebas.

Dia mengetahui bagaimana cara mena­rik perhatian musuh-musuhnya dan para penantangnya. Yaitu dengan kesabaran dan kewibawaannya, seperti yang dilakukan Nabi terhadap orang-orang yang baru masuk Islam; selain dengan keyakinannya sendiri bahwa biaya perang dan resikonya lebih tinggi dibandingkan pemberian yang mesti dia bagikan untuk meredam penentangnya. Dia sangat tidak peduli dengan omongan penentangnya selama hal itu masih berada dalam batas wajar dan tidak dianggap sebagai suatu kemak­siatan. Dia pernah berkata: “Aku tidak akan menggunakan pedangku selama cambukku sudah cukup. Aku tidak akan menggunakan cambukku selama lidahku masih bisa mengatasi. Jika ada rambut yang membentang antara diriku dan orang yang menentang diriku, maka rambut itu tidak akan pernah putus selamanya. Jika mereka mengulurnya, maka aku akan menariknya. Jika mereka menariknya, maka aku akan mengulurkannya.” Sehingga setelah itu dikenalilah ungkapan “Rambut Mu’awiyah” dikalangan orang Arab hingga hari ini.

Mu’awiyah sudah menjadikan Syam—ketika ia menjadi gubernur di sana pada zaman Khalifah Rasyidin—sebagai wilayah terkaya dibandingkan dengan wilayah lainnya. Ekonominya paling bagus dan maju. Dia mengatur tentara dengan cara baru dia tiru dari aturan yang diterapkan oleh tentara Byzantium. Dia meninggalkan aturan yang didasarkan atas kesatuan kabilah. Dengan perubahan mendasar itu tentaranya menjadi sangat kuat dan paling baik tatanannya. Dia bersikeras agar gaji tentara diberikan secara teratur sehing­ga dia sangat disegani oleh tentaranya. Dia juga membangun armada perang pertama dalam sejarah Islam, membangun administrasi pemerintahan yang andal. Selain itu, dia juga menerapkan aturan kiriman pos yang menghubungkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Ketajaman penglihatannya mulai bekerja ketika dia melihat bahwa penaklukan bangsa Arab telah mengalihkan perhatian orang dari gurun Hijaz ke kota-kota terdekat di Persia dan Eropa. Suasana dalam negara pun ikut bergeser sehingga memerlukan berbagai perubahan mendasar di dalam administrasi negara. Pendapat di atas masih ada bekasnya, yaitu adanya pemindahan kekuasaan secara turun temurun demi menjaga kesetabilan dan kesinambungan politik.

Para pengikut agama Nasrani pada masa pemerintahannya dapat hidup tenang dan terhormat. Mu’awiyah memperlakuakan mereka sangat baik. Dia juga menikahi salah seorang di antara mereka, yaitu Masyum, ibu Yazid. Pembantunya yang beragama Nasrani bernama al-Akhtal. Dokternya juga beragama Nasrani, bernama Ibn Utsal. Selain itu dia juga mengangkat orang-orang Suriah Nasrani menjadi tentara dan melibatkan mereka dalam urusan administrasi negara. Keluarga Sarjun yang Nasrani dia minta untuk mengurus Bait al-Mal, dan menjadikan tugas ini turun temurun untuk keluarga itu.

Sebagian orang Islam meniru tindakan khalifah mereka sehingga mereka bergaul dengan orang Nasrani jauh melampaui batas. Hingga banyak orang yang melaku­kan ibadah dengan mereka di bawah satu atap. Orang Nasrani yang memeli­hara sua­sana toleransi ini dengan baik, baik pada zaman Mu’awiyah maupun khalifah-khalifah sesudahnya. Akhirnya, orang-orang Nasrani meleburkan diri dalam berkhidmat kepada negara dan menganggapnya sebagai negara mereka sendiri, sebagaimana kaum Muslimn. Dengan tulus, orang-orang Nasrani mem­berikan penghormatan kepada daulah Umawiyah dan mengagung-agungkannya. Hal itu maasih dapat kita ikuti dalam riwayat orang Nasrani di wilayah ini, ketika berbicara tentang sejarah Islam.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT