Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

BAPAK BUPATI YANG TERHORMAT

Kamis, 19 Mei 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 555 Kali

Satu hari sebuah pesantren di Jawa Timur kedatangan Bupati setempat. Pak Kiyai pesantren itu cukup akrab dengan Pak Bupati, sehingga tidak saja kedatangan pejabat itu disambut dengan hangat olehnya, bahkan percakapan antara keduanya pun berlangsung tanpa formalitas yang kaku.

            Pak Kiyai memberi kesempatan kepada Pak Bupati untuk berceramah kepada santri dan guru.  Maka terjadilah sedikit adegan yang walaupun santai dan rileks, namun amat menarik dan mengandung makna yang kiranya patut kita renungkan. Dalam ceramahnya, setelah mengucapkan salam, Pak Bupati mulai dengan kalimat yang kedengaran wajar dan semestinya saja. Katanya, ”Bapak Kiyai yang saya hormati…” Tiba-tiba Pak Kiyai berdiri dan menghampiri mikrofon, dan lalu berkata, “Nanti dahulu Pak Bupati! Saya memang sudah tahu bahwa Pak Bupati menghormati saya, dan untuk itu saya ucapkan terimakasih. Tapi, soalnya, apakah saya ini memang terhormat, ataukah hanya kebetulan dihormati Pak Bupati? Dan kalau  saya memang terhormat, mengapa Pak Bupati tidak mengatakan saja, Bapak Kiyai yang terhormat? Dan saya tidak peduli apakah Pak Bupati atau orang lain menghormati saya atau tidak, kalau memang benar-benar saya ini terhormat, dan tidak sekadar kebetulan dihormati orang tertentu saja!”

            Maka Pak Bupati pun, dengan penuh pengertian, meralat ucapannya, dan dia pun berkata, Bapak Kiyai yang terhormat….Demikian pula pak Kiyai, ketika gilirannya tiba untuk memberi sambutan, setelah salam dia mulai dengan ungkapan penuh tulus, Bapak Bupati yang terhormat… (bukannya, “Bapak Bupati yang saya hormati….”) Dan Pak Kiyai masih merasa perlu menerangkan perihal hormat – menghormati ini. Dijelaskan bahwa dengan mengatakan Bapak Bupati yang terhormat, Pak Kiyai hendak menunjukkan suatu kualitas pada Pak Bupati tergantung kepada siapa pun, termasuk kepada Pak Kiyai sendiri. Karena itu Pak Bupati tidak usah mengharap penghormatan orang tertentu. Sebab kehormatan Pak Bupati itu melekat pada diri pribadi Pak Bupati, tanpa peduli apa sikap orang lain kepadanya.

            Pak Kiyai malah mengatakan bahwa dia sedikit tersinggung dengan ucapan, Bapak Kiyai yang saya hormati. Sebab seolah-olah dia mengharap dihormati oleh Pak Bupati, atau kehormatan Pak Kiyai itu haya karena dihormati oleh Pak Bupati. Apalagi dalam bahasa asing, seperti Arab atau Inggris, tidak ada ungkapan yang sepadan dengan:” ….yang saya hormati” hanya ada yang sepadan dengan…yang terhormat.”

            Pak Kiyai memang sering menunjukkan kepekaan dan kehalusan perasaan yang menakjubkan. Karena merenungi berbagai segi ajaran agama secara mendalam, juga karena pergaulan yang akrab dengan masyarakat luas, para Kiyai  sering mampu menangkap hal-hal dalam hidup ini yang tidak tertangkap oleh orang kebanyakan. Dalam hal kehormatan itu, misalnya, para Kiyai tidak mengharap agar orang menghormatinya. Sebab mereka yakin bahwa penghormatan itu hanya datang dari Allah karena adanya itikad baik dan amal saleh. Firman Allah, “Dan barang siapa menghendaki kehormatan, maka ( ketahuilah bahwa) kehormatan itu seluruhnya milik Allah. Kepada-Nya menaik perkataan (itikad) yang baik dan Dia pun menjunjung amal yang saleh….”(QS.Fathir/35:10). Tentu saja firman itu tidak hanya berlaku bagi Kiayi, tetapi juga bagi semua kita orang yang beriman.

 

(Dr Nurcholish Majid)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT