Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

CATATAN HARIAN SEORANG AYAH

Rabu, 11 Mei 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 540 Kali

Prof.  Zaki Najib Mahmud, Guru Besar Universitas Kairo dan seorang intelektual  Mesir kenamaan, dalam bukunya Qiyammin Al-Turats, menceritakan bahwa ia menemukan—dalam suatu tumpukan buku yang pernah diserahkan kepadanya—sebuah “Catatan Harian” seorang ayah yang sedang mengalami krisis. Sang ayah mempunyai seorang anak yang bernama Ismail. Dia sungguh-sungguh mendambakan sukses anaknya, dan pada saat yang sama dia juga mengharapkan agar anaknya tetap memelihara etika, norma-norma agama, dan susila. Sukses mencapai kedudukan terpandang, menurut pengamatan sang ayah, seringkali melalui pengabaian norma-norma tersebut. Dari sinilah pangkal krisisnya.

Saya tidak berani menyampaikan hal ini kepada anakku. Saya bimbang apakah saya akan mengajarkan, misalnya, norma tawadh’u (rendah hati) kepadanya, sedangkan saya tahu bahwa norma ini seringkali menghalangi pencapaian kedudukan terpandang, yang oleh masyarakat diidentikkan dengan kekuasaan atau kepemimpinan. Salah satu syarat untuk mencapai sukses tersebut adalah      “ kemampuan berkurang ajar”. Jangan tertawa membaca ini.

Demikian tulis sang ayah yang mengharap pada awal catatan hariannya agar apa yang ditulisnya ini tidak dipublikasikan kecuali setelah wafatnya.

Kekurangajaran yang saya maksud sungguh-sungguh dalam makna yang sebenarnya. Memang ada saja yang kurang ajar, tetapi ia keliru menempatkan kekurangajaran itu sehingga ia tergelincir. Tetapi ada yang tahu tempatnya, yaitu ia mampu mengatur siasat dan memiliki kemampuan berkurang ajar. Inilah tangga yang mengantarkannya “ke atas.”

Ayah yang menulis “Catatan Harian“ ini, tampaknya, berwawasan cukup luas. Terbukti antara lain, ketika ia membandingkan gejolak jiwanya itu dengan diskusi yang terjadi antara Plato dan teman-temannya tentang arti “keadilan” dan yang dituangkan oleh filosof tersebut dalam buku ‘Republik’-nya.

“ Apakah keadilan itu?”

“Kebenaran ucapan, “ ujar seseorang.

“Pemberian bantuan kepada teman dan bencana kepada musuh,” sangga yang lainnya.

 “ Keadilan adalah yang memenangkan yang kuat,“ kata yang lainnya lagi.

“Tidak, “ kata Plato, “Keadilan  adalah menempatkan sesuatu atau seseorang pada tempat yang sesuai”.

Sang ayah melanjutkan catatan hariannya seakan-akan ia berhadapan dengan putranya;

Jadilah, wahai Ismail, seorang yang kuat, niscaya engkau akan dinilai adil dalam perbuatan dan ucapanmu. Engkau akan dianggap pakar meskipun tanpa ilmu, sastrawan meskipun tanpa pena. Tetapi… (tampaknya pada saat itu gejolak jiwanya muncul lagi), tetapi…Tidak! Seribu kali tidak. Mereka yang demikian halnya akan dicari oleh generasi berikut tapi tidak ditemukan, bahkan mereka tidak akan disebut-sebut sama sekali.

Berjalanlah wahai anakku, sekuat kemampuanmu. Pilihlah untuk dirimu sendiri suatu misi yang harus engkau emban, karena kalau tidak, hidupmu akan sia-sia. Memang mungkin perjalanan yang engkau tempuh begitu panjang dan hasil yang kudambakan untukmu belum juga engkau raih. Tetapi yakinlah bahwa dengan seizin Tuhan, suatu ketika engkau akan memetik buah. Pahamilah keadilan                sebagaimana dipahami oleh Plato. Sesungguhnya Tuhan tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan orang-orang lain yang berbuat kebajikan.

Apa yang ditulis sang ayah dalam catatan hariannya ini mungkin dapat dialami oleh setiap ayah kapan dan di mana pun. Semoga ia mampu melihat dari alam kubur, bahwa putranya Ismail telah mencapai sukses dengan cara yang diajarkannya ini, karena cara demikianlah yang menjadikan  seseorang dapat hidup abadi di dunia ini dan bahagia di akhirat kelak.

(M. Quraish Shihab) 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT