Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Meraih Tujuan Puasa

Senin, 05 Juni 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 351 Kali

“Puasa merupakan titah Tuhan yang diwajibkan bukan hanya bagi umat Muhammad SAW, melainkan umat-umat sebelumnya. Tujuannya tidak lain adalah agar terbentuk pribadi-pribadi yang takwa” (Q.S. Ai-Baqarah :183)

Begitu pentingnya nilai-nilai ketakwaan ini disunting oleh manusia beriman (yang berpuasa) sehingga Tuhan pun secara berulang-ulang mengingatkan agar mereka tidak sekali-kali menanggalkan ruh puasa, yakni takwah tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Nisa: 1.Al-Maidah: 2. Al-‘Araf: 35, Al--Ahzab: 70, Al Hujarat:1 dan 10, Al Hadid 28, Al Hasyr: 18, serta Al-Thalaq:10. Bahkan kalau kita simak, nabi-nabi terdahulu pun membawa risalah yang isinya—di antaranya perintah puasa—merupakan seruan kepada para pengikutnya untuk bertakwa seperti yang dilakukan Nabi Nuh a.s. (Q.S. Al Asyu’ara:163), Nabi Daud a.s. (Q.S. Al- Syu’ara 126), Nabi Saleh a.s. ( Al-Asyu’rah :144), Nabi Luth a.s. (A.S. Al Syu’ara: 163), dan Nabi Syuaib a.s. (Q.S. Al Syu’ara: 179).
Dijadikannya puasa Ramadan sebagai momentum penerapan nilai-nilai ketakwaan, sebab kita maklum di dalam anatomi Ramadan tersimpul tiga buah proses pemadatan kebaikan: mengenali diri (ma’rifat al annafs), mengenali orang lain (ma’rifat al ghair), dan pada gilirannya,memuncak pada al- hikmah al ‘Ulya (kearifan teragung), yakni mengenali Tuhan (ma’rifah Allah).
“Mengenali” di sini tentu saja tidak mengandung arti harfiah, tetapi lebih menunjuk kepada muatan makna ruhani yang meniscayakan adanya keterlibatan demensi empati dan dedikasi yang tinggi bagi kemanusiaan dan ketuhanan.
Mengenai diri bisa kita “baca” dari penaklukkan jiwa atas nafsu dan amarah dengan bersabar menahan haus dan lapar seharian selama sebulan. “Puasa adalah setengah dari kesabaran dan kesabaran adalah setengah dari iman,“ kata Nabi.
Sesungguhnya, hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala bagi mereka tanpa tapal batas. ( Q.S. Al- Zumar: 10).
Mengenal orang lain diperoleh dengan cara kita mengeluarkan zakat fitrah dan (zakat mal). Orang berpuasa memiliki kepekaan sosial yang lebih karena mereka sendiri langsung merasakan bagaimana pahit getirnya menahan rasa lapar, dan di saat Ramadan katup komitmen dan solidaritas sosial ini harus mengikuti solusi yang disodorkan Tuhan, yakni dengan mengeluarkan sebagian harta kekayaan kepada kaum mustadh’afin (yang lemah dan dilemahkan ). “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang beriman, diri dan harta bendanya agar mereka beroleh surga.” ( Q.S, al- Taubat :111).
Mengenal Tuhan dilakukan lewat ritual komunikasi intensif dengan-Nya melalui medium ketulusan I’tikaf (Q.S. Al Baqarah 125, 187), kefasihan (ber -tadarrus (Q.S. al- Su’ara: 192-195 dan Al- Baqarah 97). Kebeningan munajat (Q.s. Thaha:186, al Rahman :55), kekhususan tarawih dan dipenghujung bulan dengan bersama-sama menggemuruhkan gema mengangungkan zat-Nya (takbir) dalam menyambut hari kemenangan dalam kondisi diri yang suci (‘id-al fithr).
Melazimkan ketiga bentuk “pengenalan” selama bulan Ramadan ini yang akan mengantarkan seseorang kuasa meraih tujuan puasa: terwujudnya mukmin bertakwa. Dengan kata lain, berpuasanya tidak hanya sebatas menahan syahwat jasmani sejak subuh sampai terbenamnya matahari (Q.S, Al-Baqarah 137) sebagaimana berpuasanya orang-orang “awam”, tetapi juga mempuasakan telinga, mata, lidah, tangan serta kaki, dan anggota badan lainnya dari perbuatan dosa, nista, dan aniaya (puasa khusus: istimewa) untuk kemudian mengosongkan dari segala bentuk dedak elemen-elemen duniawi dan menempatkan Allah sebagi satu-satunya fokus konsentrasi (puasa khawas al khusus, sangat istimewa).
Jika tidak demikian, kita khawatir tujuan puasa itu tidak tercapai dan itu artinya, secara lahiriyah, kita berpuasa, tetapi batinnya tidak. “Banyak orang tidak memperoleh kebaikan dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga, “ demikian peringatan Nabi dalam hadis riwayaty Al-Nasai dan Ibnu Majah.
Mudah-mudahan puasa kita betul-betul membuahkan hasil maksimal. Sebagai pantulan ketakwaan dan diterimanya puasa kita oleh-Nya, terwujudlah kesalehan, baik dalam jazirah individual maupun aras sosial. Tatanan kehidupan pun lebih santun, ramah humanis, dan berkeadilan; atau istilah Nabi terwariskannya maghfirah (ampunan), ‘itqah (pembebasan) rahmah (kasih sayang) bagi semesta kemanusiaan.
Sementara itu, dalam balasan estakatalogis (akhirat) cukuplah kita mengutip apa yang difirmankan Tuhan dalam sebuah hadis Qudsi-Nya, “Puasa adalah milik-KU dan Aku yang paling berhak membalas ganjaran untuknya. [Asep Salahudin]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT