Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Pesan Nabi Melalui Abu Dzar

Jum'at, 28 April 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 391 Kali

Nabi Muhammmad saw telah menyampaikan berbagai amanah dan wasiat untuk umatnya sejak beliau hidup hingga ke akhir zaman.  Amanah dan wasiat atau pesan tersebut merupakan sunah yang harus diperhatikan, dipahami dan dilaksanakan sebagaimana semestinya kerena mengandung petunjuk kearah kebaikan dan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Mengingat posisi dan peran Nabi saw sebagai rahmatan lil alamin.
Firman Allah Swt,  “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan semata-mata sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al Anbiya: 107).
Pesan Nabi saw disampaikan kepada para sahabatnya untuk disampaikan lagi kepada umat Islam dari generasi ke generasi. Salah seorang sahabat yang mendapat pesan itu adalah AbuDzar al Ghifari. Seorang figur sahabat utama, selain Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Salman al Farisi, dan banyak lagi.
Beberapa pesan Nabi Saw kepada Abu Dzar, yaitu mengenai nikmat yang suka dilalaikan manusia. “Hai Abu Dzar, dua macam nikmat yang menimbulkan kerugian manusia karena tidak dipergunakan sebaik-baiknya. Yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.“
Sehat jasad dan jiwa merupakan kurnia Allah Swt kepada setiap makhluk-Nya. Namun, tak sedikit manusia yang menganggap sehat itu hal biasa-biasa saja, bukan nikmat. Akibatnya, banyak yang melalaikannya dengan melakukan aneka perbuatan yang akhirnya mengundang penyakit. Setelah jatuh sakit baru sadar, bahwa sehat itu nikmat. Sakit itupun penuh derita serta mahal karena banyak harus mengeluarkan biaya utuk berobat ke sana-ke mari agar sehat kembali.
Demikian pula waktu senggang. Dilalaikan begitu saja. Tidak diisi dengan hala-hal bermanfaat, baik bagi Allah Swt maupun bagi dirinya dan orang lain.  Malah menggunakannya untuk segala sesuatu yang mengundang kemaksiatan dan kerusakan.
“Hai Abu Dzar, gunakan lima keadaan sebelum datang lima keadaan yang lain. Gunakan masa muda  sebelum datang masa tua. Gunakan kekayaan sebelum datang kemiskinan. Gunakan waktu luang sebelum datang kesibukan,  dan gunakan kehidupan sebelum datang kematian.“
Masa muda adalah kesempatan untuk belajar, beramal, serta melatih ketaatan dan keimanan kepada Allah swt.  Jangan menunda-nunda belajar setelah usia tua. Jangan menunda-nunda ibadah dan amal saleh setelah tiba masa pensiun agar tidak canggung dan tidak tanggung. Kata pepatah, “Masa tua untuk memanen hasil tanaman di masa muda.” Artinya, pada masa muda sudah siap mengumpulkan  segala kebaikan dan kebajikan yang manfaatnya akan terasa hingga masa tua.
Menggunakan kekayaan untuk ibadah kepada Allah Swt melalui zakat, sedekah, infak, wakaf, jaria, dan lain-lain yang hasilnya terasa oleh sesama manusia. Kekayaan untuk mempersubur keimanan dan amal saleh. Jangan dihambur-haburkan menuruti kehendak hawa nafsu agar ketika tiba kemiskinan, tidak dilanda penyesalan.
Menggunakan kesempatan yang tersedia untuk berbuat segala sesuatu yang bermanfaat, baik jangka pendek, baik jangka panjang, hingga ke akhirat kelak. Jangan menunda-nunda karena jika sudah datang kesibukan macam-macam, tak ada lagi kesempatan berbuat kebaikan dan kebajikan. Apalagi kesibukan tersebut berkaitan dengan dosa-dosa pada waktu senggang. Seperti korupsi dan kejahatan yang lain yang akan membuat sibuk berurusan dengan hukum dan tuntutan sosial.
Sementara itu berlaku selama hidup. Setelah ajal menyergap, tubuh masuk kubur, habislah peran dan fungsi manusia di muka bumi. Menurut hadis sahih  riwayat Imam Bukhari, hanya tiga perkara yang dapat dibawa manusia ke alam kubur. Yaitu ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan orangtuanya dan amal jariah (memberikan sebagian hartanya untuk kepentingan umat, seperti masjid, pesantren, sekolah, rumah sakit, dan sumur umum).
Nabi juga mengingatkan Abu Dzar terhadap kondisi seseorang manusia yang  menjalani hari ini merasa tidak cukup. Padahal hari esok yang dinanti-nanti belum tentu tiba.
“Hai Abu Dzar, janganlah menunda-nunda perbuatanmu karena engkau bergantung pada hari ini dan bukan pada hari sesudahnya.” [Usep Romli]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT