Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Riya Dalam Beramal

Kamis, 05 Januari 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 946 Kali

Amal saleh merupakan jasad yang berdiri tegak. Dialah sosok amal yang paling baik yang sesuai dengan hidayah Allah. Adapun yang menjadi ruh amal saleh adalah ikhlas. Karena itu, amal yang tidak didasarkan ikhlas bagikan jasad tanpa ruh; bagimanapun gantengnya sosok tubuh seseorang apalah gunanya jika tidak ada ruhnya; bagaimanapun baik dan banyaknya amal seseorang,  apalah gunanya kalau tidak dibarengi ikhlas. Hendaklah setiap mukmin menanam keikhlasan dalam lubuk hati yang paling dalam. Jika tidak, amal saleh yang berbuah ikhlas (kebaikan ) tidaklah akan tumbuh.

                Adapun yang dimaksud dengan ikhlas adalah mengosongkan hati dari semua motivasi dunia dalam amal akhirat. Pribadi mukmin yang ikhlas adalah pribadi yang paling tinggi nilainya di antara semua hamba Allah yang takwa.  Rasulullah SAW bersabda;

Berbahagialah orang-orang yang ikhlas. Mereka adalah lampu-lampu hidayah. Bagi mereka akan terbuka semua fitnah (petaka) yang gelap (tidak pernah tampak) bagi yang lain.” (HR. Tarmudi)

                Hanya orang-orang ikhlas hatinya tidak akan termasuki penyakit-pewnyakit yang ditawarkan setan. Demikian janji iblis kepada Allah:

                Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas.(Qs.Al-Hijr, 39-40).

                Kebalikan dari ikhlas adalah riya’, yaitu : mengharapkan keuntungan dunia dengan amal-amal akhirat.  Riya’ dalam amal, sebagai penyakit hati, adalah riya’ dalam perbuatan yang merupakan amal akhirat yang seharusnya untuk tujuan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dan mengagungkan-Nya, tetapi beralih menjadi motivasi duniawi. Contohnya beribadah karena ingin dapat pujian orang, ingin mendapat upah material, atau sebagai kedok atas pribadi sesungguhnya yang buruk. Amal siapa pun yang di dalam hatinya dibarengi dengan riya’, sama sekali tidak ada nilainya di hadapan Allah. Rasulullah bersabda:

                “Orang yang menjalankan shalatnya dengan sebaik-baiknya tatkala orang lain melihatnya, dan menjelekannya sewaktu tidak ada orang lain, sama saja dengan menghina Tuhan.” (HR. Abu Ya’la).

                “Sesungguhnya yang paling aku takuti  atas kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil.” Sahabat bertanya: “Apakah syirik yang paling kecil itu?” Rasul menjawab: “ Syirik yang paling kecil adalah riya’. Ketika semua orang mendapatkan pembalasan amal ( saleh)-nya, Allah berfirman kepada orang yang suka riya’  dalam amalannya: “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kamu jadikan riya’ atas mereka, dan lihatlah apakah kamu dapat menemukan balasan dari mereka?” (HR.  Ahmad bin Hambali).

                Penyakit riya’ ini terkadang sangat sulit dideteksi, bahkan lebih sulit daripada mencari semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap. Akan tetapi, ada beberapa tanda yang dapat dijadikan barometer bahwa seseorang terserang penyakit ini. Antara lain sebagi berikut:

  1. Merasa ringan jika beribadah disaksikan atau di sekitar orang lain, tetapi terasa agak berat jika berada sendirian.
  2. Mereka senang jika orang lain memberikan pujian, penghormatan, atau bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup,  padahal dia sendiri masih mampu melakukannya.
  3. Lebih mengutamakan sahabat yang kaya daripada yang miskin.
  4. Ada perubahan sikap, penampilan, dan cara bicara jika berhadapan dengan para pembesar atau oenguasa.
  5. Apabila dia seorang alim (berilmu) dan suka menasihati orang lain, merasa iri bahkan memandang jelek dan berlaku hasut jika menemukan seorang alim lain yang mendapat simpati lebih baik dan lebih besar dari massa.

Orang-orang yang merasakan adanya tanda-tanda tersebut di atas, sudah pasti akan mendapat kesulitan menanamkan rasa ikhlas dalam hatinya. Namun, jangan sekali-kali seseorang meninggalkan amal ibadahnya hanya karena belum mampu ikhlas, karena itu pun merupakan bagian dari langkah setan yang nyata.

Berikut beberapa langkah membebaskan hati dari riya’:

  1. Selalu ingat akan bahayanya riya’ dalam amal.
  2. Mengawali semua aml ibadah dengan iman, bukan atas panggilan manusia atau duniawi.
  3. Merasakan nikmatnya buah ikhlas, yaitu adanya pengakuan dari Allah, diterimanya amal, dan keselamatan hakiki di akhirat.
  4. Memenangkan perasaan tersebut di atas perasaan ingin mendapat pujian manusia, cinta materi, status, dan hal dunia lainnya.
  5. Menghadirkan niat yang ikhlas sejak awal ibadah, dan meminta perlindungan kepada Allah  dari godaan setan yang pasti akan menggugurkan niat itu.

Meskipun demikian, adakalanya suatu amal ibadah ukhrawi bermotivasi duniawi, tetapi tidak termasuk riya’. Contohnya sebagai berikut:

  1. Seseorang yang rajin melaksanakan shalat hajat agar dimudahkan semua kebutuhannya.
  2.  Seseorang yang memamerkan amalannya (seperti infak) agar orang lain mengikuti jejaknya.
  3. Ibadah-ibadah umat Islam yang seharusnya dipertontonkan agar syiar, keesaran, dan keagungannya nampak, seperti shalat Idul Fitri, shalat Jum at, atau ibadah qurban.
  4. Ibadah walimatul ‘urus (pernikahan ) yang bertujuan memberitahukan kepada khalayak tentang akad pernikahan seseorang.

[Uwes Al-Qorni]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT