Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

KISAH PARA IBU YANG NAMANYA DIABADIKAN DALAM AL-QURAN: Fatimah Az-Zahra (Ibunda Hasan dan Husein)

Kamis, 05 Januari 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 759 Kali

Sejarah telah mencatat bahwa Fatimah merupakan wanita hebat, memiliki karakter mulia, penyabar, dan dermawan sebagaimana ibunya, Khadijah binti Khuwailid.
Fatimah Az-Zahra adalah putri keempat pasangan Rasulullah SAW dengan Khadijah al-Kubra. Ia memiliki julukan, az-Zahra, ash-Shiddiiqah, at-Thaahirah, al-Mubaarakah, az-Zakiah, ar-Radhiah, al-Mardhiah, al-Muhaddatsah, dan al-Batuul. Mayoritas sejarawan menetapkan bahwa ia lahir di Mekah pada hari Jumat tanggal 20 Jumadil Akhir 5 H., setelah Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra dan Miraj beliau. Sebelumnya, Jibril as. telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah SAW akan kelahiran Fatimah.
Fatimah Az-Zahra dibesarkan di kalangan keluarga yang sangat mulia, di rumah pemuka umat sedunia, pemimpin para makhluk, yaitu Rasulullah SAW yang memiliki gelar Abul Qasim, yakni Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Sebagai anak kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah mendapatkan didikan dan bimbingan langsung dari ayahnya. Fatimah dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat Allah swt. Setiap kali Rasulullah SAW melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah. Beliau menegaskan, “Wahai Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.” Begitupun dengan Fatimah, ia mencintai ayahnya melebihi cintanya kepada siapa pun. Setelah ibundanya (Khadijah) wafat, beliaulah yang merawat ayahnya. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itulah Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Mekah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan ia pula yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta. Fatimah senantiasa mengajak bicara kepada sang ayah dengan kata-kata yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah SAW memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, ia membangun keluarga dengan penuh barakah, diliputi rasa cinta dan kasih sayang. Kehidupan keluarganya menjadi teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya. Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah” (wahai putri Rasulullah) adalah panggilan yang biasa diungkapkan Ali setiap kali ia menyapa istrinya, Fatimah. Sementara Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin” (wahai pemimpin kaum mukmin). Demikianlah kehidupan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Keduanya adalah teladan bagi kita semua dalam berkeluarga.
Buah cintanya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah dikaruniai dua orang anak yang bernama Hasan dan Husein. Sejak kelahiran dua cucu yang sangat dicintainya ini, Rasul SAW diberi gelar Jadal Husaini (kakek dari Hasan dan Husein). Rasul SAW mengasuh kedua cucunya ini dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Ketika Rasulullah SAW keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di ribaannya dengan penuh kehangatan. Suatu hari, Rasulullah SAW lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husein. Kemudian dengan hati yang pilu dan sedih Nabi mengatakan: “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Tidak lama berselang, Fatimah pun melahirkan Zainab dan Ummu Kulsum. Meskipun kehidupan Fatimah Az-Zahara relatif singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah wanita hebat yang telah menjadi panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah wanita teladan, istri teladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai Sayyidatu Nisa’il Alamin, yakni penghulu wanita alam semesta. Bila Maryam binti Imran, Asiyah (istri Firaun), dan Khadijah binti Khuwalid adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Fatimah Az-Zahra adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman. Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal.
Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali bin Abi Thalib, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tenteram bahagia di dalamnya. Begitu pula peranannya sebagai seorang ibu, beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia.
Fatimah telah mempelajari ilmu pengetahuan dari sumber wahyu. Rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang dimilikinya adalah hasil pendidikan langsung sang ayah, dan ditulis oleh suaminya tercinta, Ali bin Abi Thalib ra. Setelah itu, ia mengumpulkannya dalam bentuk sebuah “mushaf”, yang kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Fatimah.[Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT