Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

CINTA DAN BENCI, SEKEDARNYA SAJA......

Senin, 05 Desember 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 886 Kali

Mencintai dan membenci adalah bagian yang amat nyata dari hidup. Mustahil seseorang tidak mencintai sesuatu dan tidak pula membenci sesuatu yang lain.  Termasuk cinta dan benci kepada sesama manusia.

Dengan cinta yang “membara,” orang terdorong untuk berbuat positif yang besar, yang dalam keadaan biasa mungkin dia tidak sanggup melakukannya. Tapi mungkin juga karena cinta itu pula dia berbuat sesuatu yang amat negatif, yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap menghalangi cintanya.  Sebaliknya karena dorongan kebencian yang memuncak, seseorang mampu melakukan hal-hal yang negatif yang luar biasa kejinya, seperti misalnya, pembinasaan orang yang dibencinya.  Setiap hari dapat dibaca berita-berita tentang akses kebencian ini. Namun, tidak mustahil kebencian dapat jadi sumber motivasi untuk melakukan tindakan-tindakan yang  sangat terpuji, seperti kebencian seseorang kepada musuh bersama dalam satu bangsa yang membuatnya menjadi pahlawan yang gagah berani.

Jadi, cinta dan benci termasuk sumber motivasi manusia melakukan sesuatu, yang positif dan yang negatif. Dan di sinilah pangkal persoalannya.  Seandainya cinta dan benci itu hanya mendorong untuk berbuat baik saja, maka tidak ada masalah. Tapi karena juga bisa mendorong perbuatan negatif, maka agama kita memperingatkan supaya hati-hati.

Masalahnya ialah, tidak semua cinta dan benci kita mencapai tingkat yang bisa membenarkan terjadinya peperangan (Arab: qital ‘saling membunuh”) patriotik seperti nilai cinta kepada tanah air dan benci kepada musuhnya. Apalagi cinta dan benci dalam sekala kecil, dan pada tingkat hubungan pribadi. Tidak jarang kita mencintainya dan membenci secara salah atau terhadap sasaran yang salah. Sesuatu yang seharusnya kita benci, kita cintai, dan yang seharusnya kita cinta kita benci. Maka bisa jadi hari ini kita mencintainya, lain kali kita membencinya.  Sebalilknya kita benci kepada sesuatu, kelak berbalik kita mencintainya. Ini berarti bahwa tindakan-tindakan kita berdasarkan perasaan cinta dan benci yang keliru itu pun keliru, bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

  Karena itu agama memperingatkan, kalau membenci sesuatu periksalah, jangan-jangan dia mengandung kebaikan untuk kita. Dan kalau mencintai sesuatu, juga telitilah, kalau-kalu dia justeru berbahaya bagi kita. Peringatan Ilahi itu dikaitkan dengan masalah perang ( QS. al- Baqarah /2:2:216).  Peringatan serupa juga diberikan dalam kaitannya dengan masalah perjodohan (QS al- Nisa/4:19), yaitu hendalnya kita jangan terlalu mudah melepaskan jodoh kita, betapa pun kita merasa benci kepadanya pada suatu saat, sebab mungkin justeru dia membawa banyak kebaikan dari  Allah di saat yang lain.  Dan dikatakan dalam sebuah syair Arab “Abbib babibaka hawnan ma, asa an yakuna baghidlaka yauman ma. Wa abgbidlaka hauman ma, asa an yakuna yauman ma!” (“Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, kalau-kalau suatu hari dia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu sekedarnya saja, kalau-kalau suatu hari dia menjadi kekasihmu”).

Hendaknya tidak disalah pahami. Maksud itu semua bukanlah pengajaran agar kita menjadi orang yang tidak konsekwen, apalagi menjadi oportunis., tetapi hendaknya dalam masalah cinta dan benci itu kita selalu menimbang dengan baik, agar kelak tidak menyesal. Jadi cinta dan benci pun hendaknya kita jangan habis-habisan!

 

(Dr. Nurcholish Madjid)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT