Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

KISAH NYATA ALAM KUBUR

Rabu, 06 April 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2818 Kali

Alam kubur adalah alam gaib. Tak seorang pun yang hidup pernah ke sana dan kemudian balik lagi dan menceritakan kepada kita.  Semua cerita tentang yang gaib datang dari Allah SWT  yang telah mendapatkan pengetahuan dari Allah.  Namun ada beberapa orang yang mengalami keajaiban alam kubur, Allah “telah membuka mata” para saksi mata dengan beberapa kejadian yang cocok dengan Alquran dan sunnah Rasul.

Ibn Rajab Al-Hanbali dalam buku Ahwal al-Qubur wa ahwal Ahliha ila an-Nusyur, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Mesteri Alam Kubur”, Perjalanan Arwah ( PT Sahara Intisari, Jakarta 2006), menuturkan beberapa kisah orang-orang yang menjadi saksi mata tentang keajaiban alam kubur.

Apabila kita mendengarkan orang hidup dan melafalkan kata-kata yang fasih, itu adalah kejadian biasa. Namun, menjadi hal luar biasa jika sesosok mayat berbicara dan melafalkan kalimat-kalimat tauhid dengan fasih. Allah berusaha mendengarkan dan memperlihatkan sebuah kejadian yang luar biasa kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Beberapa sumber menuturkan hal itu, meski ada beberapa yang lemah.

Satu hari, Rasulullah pergi ke suatu pemakaman Baqi Al-Gharqad. Di situ beliau berdiri di atas dua makam, lalu bertanya: “Apakah kalian telah menguburkan Fulan dan Fulana di sini?

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah bersabda, “Si Fulan sekarang sedang didudukkan sambil dipukul. Demi Tuhan, yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, dia telah dipukul dengan sebuah pukulan yang membuat semua pembuluh darah terputus. Kuburannya dipenuhi api yang berkobar-kobar. Jeritannya di dengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Seandainya hati kalian tidak diliputi kegalauan dan kalian tidak berlebihan dalam bicara, kalian bisa mendengarkan apa yang aku dengar.”        

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa gerangan dosa mereka?”

Rasulullah menjawab, “Si fulan tidak bersuci dengan bersih sesudah buang air kecil, sedangkan si Fulanah suka mengumpat.”

Membaca Surah Al-Muluk

Sebagian sahabat Nabi pernah mendirikan kemah di atas pemakaman. Salah satu dari mereka tidak mengira tempat itu adalah kuburan. Lalu, tiba-tiba ia mendengar orang yang membaca surah Al-Muluk hingga selesai. Maka sahabat itu mendatangi Nabi seraya berkata, “ Wahai Rasulullah, aku mendirikan tenda di atas kuburan, tetapi aku tidak mengira itu  adalah tanah kuburan. Kemudian aku ,mendengar ada orang yang membaca surah al Muluk hingga selesai.”

Rasulullah bersabda: ”Surah Al- Muluk adalah benteng, ia dapat menjadi penyelamat dari azab neraka.”  

Thaihah bin Ubaidillah menceritakan, satu hari dia ingin mengambil hartanya yang berada dalam hutan, tetapi dia kemalaman. Maka dia pun pergi menuju makam Abdullah bin Amr bin Haram, yang  sangat bagus. Lalu dia datang kepada Nabi dan menceritakan kejadian itu.

Nabi pun berkata, “Itulah hamba Allah. Tahukah engkau bahwa Allah mencabut arwah mereka, lalu meletakkannya di dalam lampu-lampu yang terbuat dari batu permata dan menggantungkannya di tengah-tengah surga. Ketika waktu malam tiba, arwah mereka dikembalikan lagi ke badan mereka seperti semula.”

Orang-orang yang biasa berjalan dengan menunggang kuda pada malam hari pernah menceritakan kepada Ibrahim bin Ash- Shamah al- Mahlabi, “ Ketika melewati kubur Tsabit Al-Banani, kami mendengar bacaan Alquran .”

Suatu hari, ayah Yassar bin Hubaisy dan Hamid, serta seorang lelaki lainnya memasukkan jenazah Tsabit bin Al Banani ke dalam liang lahatnya. Ketika mereka memasang penutup liang lahat itu, tiba-tiba salah satu dari penutupnya terjatuh. Di situ tampak Tsabit bin Banani sedang shalat. Maka ayah Yasar pun berkata kepada salah satu temannya, “Tidakkah engkau melihat itu?”

 Temannya berkata, “Diam!”

 Setelah selesai meratakan kuburnya, mereka mendatangi anak perempuannya dan bertanya kepadanya, “Apakah amalan yang dilakukan Tsabit?”

Anak perempuan Tsabit balik bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian lihat?”

Lalu anak perempuan Tsabit menceritakan kepada mereka bahwa bapaknya selalu melakukan shalat  malam selama lima puluh tahun ketika mendekati waktu sahur. Dalam doanya dia berkata, “ Ya Allah jika Engkau telah memberikan kesempatan seseorang untuk dapat melakukan shalat di dalam kuburnya, berikan juga kesempatan itu kepadaku. “ Berarti, Allah SWT telah mengabulkan doanya.”

Isa bin Muhammad Ath-Thumari, pernah bermimpi melihat Abu Bakar bin Muahid Al-Muqri, yang seakan-akan saat itu sedang membaca Alquran . Dalam mimpi itu Isa seolah-olah bertanya kepadanya, “Bukankah engkau telah meninggal dunia, tetapi engkau masih membaca Alquran?”

Abu Bakar menjawab, “Setiap selesai melakukan shalat dan mengkhatamkan Alquran, aku selalu berdoa memohon  kepada Allah SWT agar dijadikan-Nya sebagai salah seorang yang dapat membaca Alquran dalam kubur.”

Ibnu Rajab mengutip kisah yang lebih seru lagi. Ketika Al-Huarits bin Ar-Rahab berada di sebuah pemakaman, tiba-tiba seorang lelaki keluar dari kubur, lalu mendatanginya dengan muka dan kepala dipenuhi api yang menyala. Sedangkan tangannya terikat rantai yang terbuat dari besi. Orang itu berkata, “Selamatkan aku.” Tidak berapa lama, ada orang lain yang menyusulnya seraya berkata, “Jangan engkau siram orang kafir.”

Kemudian dia memegang orang itu, lalu dengan ujung rantai tersebut, menyeretnya kembali ke dalam kubur.

Melihat semua kejadian itu, Al Huwairits langsung memacu untanya untuk meneruskan perjalanan. Setelah sampai di suatu tempat, dia turun dari untanya, lalu mengerjakan shalat Magrib dan Isya dengan jam ta`khir.  Setelah itu kembli meneruskan perjalanan hingga pada pagi harinya dia sampai di Madinah. Kemudian dia mendatangi Umar bin Khaththab dan menceritakan kejadian itu kepadanya.

Umar bin Khaththab berkata, “ Wahai Huwalrits, demi Allah aku tidak menuduhmu, engkau telah menceritakan  kepadaku cerita yang sangat menakutkan.”

Kemudian Umar bi Khaththab mengutus seseorang untuk  menemui sesepuh dari keluarga Ash-Shafra yang banyak mengetahui kehidupan pada masa jahilliyyah. Setelah itu ia memanggil Al-Huwairits seraya berkata kepada sesepuh keluarganya Ash-Shafrah, “ Dia inilah yang telah menceritakan kepadaku, wahai Huwairits, ceritakan kepada mereka sebagaimana yang telah engkau ceritakan kepadaku.”

 Lalu Huwairits menceritakan kejadian yang dia alamai kepada mereka.

Setelah itu, orang-orang dari kabilah Ash- Shafra berkata, “ Wahai Amirul Mukminin, kami telah mengetahui cerita ini. Orang yang dilihat AlHuwairits itu seorang lelaki dari Bani Gaffar yang meninggal dunia pada zaman Jahillyyah.”

Mendengar penjelasan itu Umar bertahmid, mengucapkan Alahamdulillah, lalu kelihatan sangat gembira ketika mereka mengatakan kepadanya bahwa orang yang Al-Huwairits ceritakan itu meninggal pada zaman Jahilliyyah.

Kemudian Umar bertanya lagi,  tentang keberadaan orang tersebut dan mereka menjawab, “ Wahai Amirul Mukminin, dia itu seorang lelaki yang semasa hidupnya tidak memperlihatkan hak-hak tamu.”

Ada satu kisah lagi tentang kisah siksa kubur yang sumbernya dari Abu Sinan.  Seorang kelihatan sedih karena kehilangan saudaranya. “ Apa yang membuatmu tampak sedih ?”

Dia menjawab, “Aku bukan bersedih karena kematiannya. Tapi saat aku selesai menguburkannya aku mendengar suara “aduh” dari dalam kuburnya. Maka aku segera menggali kuburnya kembali, hingga saat sampai di liang lahat, aku melihat ada lingkaran api di kain kafan dan bagian tengah badannya. Lalu aku berusaha memasukkan tanganku ke dalam liang lahat untuk memutuskan lingkaran api itu, tetapi lingkaran api itu justru membakar jeri-jemariku dengan cepat. Saat itu aku juga melihat tangan saudaraku itu telah terbakar.

Dengan hanya menggunakan pendekatan rasional, mungkin akal kita tidak bisa menerima kisah-kisah itu. Ini diakui juga oleh Syaikh Abu Abdullah Ad-Dani bin Munir Az-Zahwa, pensyarah kitab yang ditulis  ibnu Rajab ini. Namun, setidaknya semuanya itu memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya mengingat mati.

(alkisah)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT