Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Ketaatan Ismail

Selasa, 23 Februari 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 437 Kali

Ismail mengenal ayahnya dari cerita ibunya, Hajar. Ia belum pernah melihat seperti apa gerangan ayahnya. Kadang-kadang dibayang­kannya ayahnya itu seperti ayah teman-teman­nya. Kerinduannya terhadap ayah tercinta tidak dapat dilukiskan lagi dengan kata-kata.
Kini tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang dari Palestina mengaku sebagai ayah Ismail! Ismail ragu. Benarkah ini ayahku? Pikirnya.
“Dia ayahmu, Ibrahim!” Kata Hajar meyakin­kan anaknya.
Ismail tahu, ibunya tidak pernah bohong. Maka yakinlah ia bahwa lelaki tua dari Palestina itu pasti lah ayahnya. Dengan segala kegembiraan, Ismail memeluk sang ayah.
Ibrahim merasakan kehangatan pelukan anaknya. Hatinya makin sedih. “Anak ini akan mati di tanganku,” katanya dalam hati. Ibrahim menahan perasaan itu. Dia pun sengaja tidak memberitahukan hal itu kepada Hajar, juga kepada orang-orang Bani Jurhum.
Besoknya, Ibrahim akan melaksanakan perintah Allah lewat wahyu itu.
“Ikutlah bersamaku, Ismail,” katanya kepada anaknya. “Aku akan berjalan-jalan ke Bukit Mina.”
“ Baik, Ayah!” Ismail menyambut gembira.
Sejak kecil Ismail memang tidak pernah pergi ke mana-mana. Ia tidak pernah melihat panorama alam selain sekitar pemukiman Bani Jurhum itu. Binatang pun hanya unta dan kambing yang dikenalnya. Karena, kedua binatang itu ada di pemukiman Jurhum. Selebihnya tidak. Maka diajak ke Bukit Mina tentu menyenangkan hatinya. Ia akan bertamasya dengan ayah yang sudah lama dirindukannya.
 Ibrahim membawa seutas tali yang kuat dan panjang. Khanjar (pedang pendek) pun dibawanya pula. Ismail menyangka ayahnya akan berburu dengan tali dan khanjar itu. Dia pun semakin riang.
Ayah dan anak itu pun berangkat. Ibrahim akan benar-benar melaksanakan perintah Allah. Apapun yang terjadi, betapa pun hancur hatinya! Ia yakin, ada sesuatu yang baik baginya di balik perintah Allah yang maha berat ini.
Sepeninggal Ibrahim dan Ismail, Hajar di­datangi seorang laki-laki.
“Tahukah engkau, wahai Hajar, ke mana Ibrahim membawa Ismail?” tanya lelaki itu.
“Ke Bukit Mina,” jawab Hajar.
“Ibrahim akan menyembelih Ismail!”
“Tidak mugkin. Ia sangat menyayangi anaknya.”
“Betul! Ibrahim menyangka itu perintah Tuhan!”
Sesaat Hajar diam. Dipandanginya laki-laki itu. Siapakah dia? Mengapa ia tahu maksud Ibrahim mengajak Ismail ke Bukit Mina.
“Kalau memang Allah yang memerintah­kannya, biarlah suamiku, Ibrahim, melaksana­kannya,” kata Hajar kemudian.
Lelaki itu pergi. Dia sebenarnya setan yang menjelma menjadi manusia untuk menggoda iman, membatalkan pelaksanaan perintah Allah kepada Ibrahim.
Tiba di Bukit Mina, Ibrahim berhenti. Dia memandangi anaknya beberapa saat dengan hati iba.
“Kenapa, Ayah?” tanya Ismail. Ia merasa heran dipandangi begitu.
“Anakku,...” Ibrahim mendesah. “Sesungguh­nya berat sekali untuk mengatakannya kepada­mu.”
“Katakanlah, Ayah.”
“Aku mendapat perintah Allah melalui wahyu...”
“Ya, Ayah. Ibu sering bercerita tentang Ayah yang menjadi rasul, utusan Allah!”
“Tetapi kali ini perintah Allah itu adalah ... aku harus menyembelihmu sebagai kurban ....”
Ismail terkejut mendengarnya. Saat itu, datanglah Setan yang tadi menemui Hajar. Ia menggoda Ismail.
“Jangan kau turuti kata-kata ayahmu, Ismail! Perintah menyembelihmu itu bukan dari Tuhan!” katanya.
Ismail tidak tergoda. Ia percaya, ayahnya memang seorang nabi yang diutus Allah.
Semua yang dilakukannya pastilah atas kehendak Allah belaka.
Gagal membujuk Ismail, setan lalu menemui Ibrahim.
“Mimpi itu adalah tipu daya iblis! Kelak kau akan menyesal telah menyembelih anakmu sendiri,” katanya.
Kalau Ismail saja tidak tergoda, apalagi Ibrahim.
“Enyahlah wahai kau iblis” serunya. Sungguh ia tahu bahwa yang membujuk itu adalah setan yang akan menggoyahkan imannya.
“Lakukanlah perintah Allah, wahai ayahku!” kata Ismail tiba-tiba.
Ibrahim terhenyak. Dirangkulnya anaknya dengan penuh rasa syukur.
“Sebelum ayah melaksanakan perintah itu, aku mempunya beberapa permintaan. Hendaknya ayah mengabulkannya, “ kata Ismail.
“Katakanlah, Anakku.”
“Ikatkan tangan dan kakiku erat-erat supaya aku tidak meronta. Asahlah khanjar itu tajam-tajam sehingga aku tidak merasakan sakit ketika benda itu memutuskan leherku. Nanti telungkupkanlah wajahku ke tanah sehingga Ayah tidak melihatnya. Jika Ayah melihat wajahku, mungkin Ayah tidak akan sampai hati menyembelihku.”
“Baiklah, Anakku.”
“Yang terakhir, jangan sampai ibu melihat darahku.’’
“Baiklah. Kupenuhi semua permintaanmu.”
Kini Ibrahim melaksanakan permintaan anaknya. Saat yang paling menentukan pun tibalah. Khanjar di tangan Ibrahim telah menempel pada leher Ismail.
“Ya Allah! Kulaksanakan perintah-Mu. Terima­lah Ismail di haribaan-Mu ....”
Sesaat sebelum khanjar itu digerakkan, terdengarlah suara dari langit. “Hai Ibrahim, Hentikan tanganmu! Ismail Kami ganti dengan seekor kambing besar!”
Ibrahim tahu, itulah suara malaikat utusan Allah. Maka ia pun menghentikan gerakannya, menjauhkan khanjar dari leher Ismail. Ketika ia menoleh, tampaklah seekor domba besar dan gemuk.
Ibrahim cepat-cepat melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Ismail. Domba itulah yang kemudian disembelihnya.
Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan tanggal 10 bulan Zulhijah (menurut penanggalan Hijriah). Umat Islam sedunia memperingati hari itu dengan memotong hewan kurban. Hari itu dikenal dengan Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. [Bung Smas: Kisah-kisah dalam Al-quran]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT