Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Abu Bakar yang Selalu membenarkan

Rabu, 17 Februari 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 504 Kali

Berita tentang perjalanan Isra itu menyebar ke mana-mana. Menjadi buah bibir orang. Lebih banyak yang membantah daripada yang percaya. Bahkan banyak orang Islam yang kemudian meragukannya. Merek sangat kecewa terhadap Nabi yang dianggapnya omong kosong. Masya Allah, merekapun murtad! Kembali men­jadi kafir. Semoga Allah tidak menghendakinya atas kita.
Ada juga yang percaya akan cerita Rasulullah. Orang ini bernama Abu Bakar. Dia seorang muslim yang banyak membeli budak yang disiksa kaum musyrikin, lalu dimerdekakannya.)
Sekalipun percaya, dia merasa perlu mena­nyakan hal itu kepada Rasulullah sendiri. Ia pun menjumpai Rasulullah ketika kabar tentang Isra itu sudah terdengar ke mana-mana.
“Ya, Rasulullah! Benarkah Anda mengatakan bahwa semalam Anda pergi ke Baitul Maqdis?” tanyanya.
“Betul, sahabatku Abu Bakar.”
Abu Bakar diam sesaat. Dia pernah ke Baitul Maqdis. Dia tahu seluk-beluk kota itu. Bahkan tahu persis Masjidil Aqsa di sana.
“Maafkan aku, ya Rasulullah,” kata Abu Bakar pula. “Bukan aku tidak percaya kepada Anda. Tetapi berilah keyakinan yang hak kepadaku. Supaya aku tidak meragukannya.”
“Apa maksudmu?”
“Bisakah Anda menggambarkan keadaan Baitul Maqdis itu?”
“Insya Allah!”
Allah Maha Besar! Seketika itu juga, ter­gambarlah di benak Rasulullah semua yang dilihatnya di Baitul Maqdis. Rasulullah bahkan bisa menggambarkan Masjidil Aqsa secara terinci sampai ke bagian-bagian yang paling kecil.
Abu Bakar mendengarkan sambil meng­elus-elus janggutnya. Dia tidak menemukan kesalahan sedikit pun dari semua ucapan Rasulullah.
“Anda benar, ya Rasulullah! Sungguh Anda tidak berdusta. Aku bersaksi bahwa Anda benar-benar utusan Allah yang telah diperkenankan sampai ke Baitul Maqdis atas kuasa-Nya.”
Selama Rasulullah menyebutkan bagian-bagian Masjidil Aqsa, Abu Bakar selalu me­ngatakan, “Benar ... Anda benar ....”
Sejak saat itu Rasulullah menamai sahabat­nya ini Abu Bakar Ash Shiddiq, artinya Abu Bakar yang selalu membenarkan.
Tidak semua orang bersikap seperti Abu Bakar. Ada juga yang meminta pembuktian dengan cara lain.
“Kami belum pernah mendengar kebo­hong­an seperti itu,” kata seseorang.
“Katakan sebuah bukti saja yang bisa kami percaya, hai Muhammad!”
“Semalam aku melewati sebuah kafilah di sebuah lembah,” jawab Rasulullah. “Perjalananku mengejutkan mereka sehingga ada seekor unta yang menjadi beringas dan lari menjauhi rombongannya. Ketika itu aku sedang menuju ke arah negeri Syam.
Orang saling berpandangan. Rasulullah me­ng­ucapkan itu dengan penuh keyakinan, seolah dia memang benar mengalaminya. Bukan mengarang-ngarang saja. Tetapi sampai pada pasal ini, orang pun belum mau mempercayainya.
“Apa lagi yang kau lihat?” tanya seseorang pula.
“Sampai di tempat yang bernama Dhajnan aku melewati lagi sebuah kafilah. Kulihat mereka sedang tidur nyenyak. Mereka mempunyai sebuah wadah tertutup untuk tempat air minum. Kuambil wadah itu dan kuminum airnya. Lalu kutaruh kembali di tempatnya semula.”
“Coba gambarkan lebih rinci lagi tentang kafilah itu!”
“Sekarang mereka sedang turun dari dataran tinggi Baidha di sebuah tikungan jalan Tan’im. Yang berjalan paling depan adalah unta berwarna coklat berponok dua. Unta itu sudah tua. Unta yang seekor lagi berwarna hitam, dan yang lain belang-belang.”
“Akan kubuktikan apa yang kau katakan itu!”
Boleh saja. Nabi mengatakan hal yang sebenarnya. Silakan saja orang-orang itu mau membuktikan dengan cara apa.
Ternyata mereka pergi berbondong-bondong ke tikungan jalan Tan’im. Mereka me­nunggu kedatangan kafilah yang konon sedang turun dari dataran tinggi Baidha.
Kafilah itu pun segera tampak. Unta tua berponok dua yang coklat warnanya, tampak berjalan di depan diiringi unta hitam dan belang-belang.
“Memang cocok,” gumam seseorang. “Tetapi tunggu dulu! Soal air minum yang dibilang Muhammad itu harus kita tanyakan dulu!”
“Benar juga!”
Mereka pun menunggu kafilah itu mendekat. Lalu mereka bertanya kepada penunggang unta coklat berponok dua itu.
“Apa kalian punya tempat air yang tertutup?” tanya salah seorang itu.
“Benar.”
“Apa yang terjadi dengan tempat air itu?”
“Tempatnya masih utuh. Tetapi isinya kosong.”
Sekali lagi terbuktilah ucapan Rasulullah.
“Kita tunggu kafilah di belakangnya,” kata seseorang pula. Rupanya ia belum puas juga mendapat pembuktian-pembuktian itu.
Kafilah itu pun lewat, memasuki kota Mekah. Mereka tetap bergerombol di sana untuk menunggu kafilah berikutnya.
Datang pulalah kafilah yang mereka tunggu.
“Kalau benar apa yang dikatakan Muhammad, sekali ini kita harus percaya,” kata seseorang.
“Apa itu bukan sihir Muhammad saja?”
“Sihir atau bukan, dia berkata benar.” Rupa­nya mereka terpecah menjadi dua golongan. Ada yang mempercayai peristiwa Isra itu sebagai kebenaran, ada yang meragukannya, menganggap itu hanyalah sihir Muhammad.
Kafilah yang dinantikan tiba.
“Apa yang terjadi ketika kalian dalam perjalanan?” tanya salah seorang dari orang-orang yang mencari pembuktian itu.
“Ada peristiwa yang aneh,” kata kepala kafilah.” Ada sinar terang benderang di langit yang meluncur dengan cepat. Aku tidak tahu apa itu kilat atau bukan.”
“Lalu apa yang terjadi pada unta kalian?”
“Seekor unta kami lari ketakutan dan menjadi beringas. Kami bersusah payah menangkapnya dan menjinakkannya kembali.”
Kalau sudah begini, apa masih ada alasan untuk tidak mempercayai kata-kata Nabi?
“Rupanya sekali ini Muhammad berkata benar,” kata seseorang pula.
“Ya. Dia tidak mungkin mengarang-ngarang dan meramalkan sesuatu sampai sebanyak itu dan semuanya benar.’’
“Ada apa sebenarnya?” tanya pemimpin kafilah itu.
“Kami akan membuktikan kebenaran cerita Muhammad.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Semalam dia melakukan perjalanan ghaib dengan Malaikat Jibril ke Baitul Maqdis.”
“Allah Maha Besar! Aku beruntung sempat menyaksikan peristiwa itu meskipun semalam aku tidak tahu apa yang kusaksikan. Demi Allah yang nyawaku ada di tangan-Nya, percayailah Muhammad!”
Memang, seharusnya tidak ada alasan lagi untuk meragukannya. Allah mampu berkehendak apa saja atas umat-Nya. Lebih-lebih terhadap Rasul utusan-Nya.
Tertulis dalam Kitab Suci Alquran tentang peristiwa ini,

Subhaanalladzii asroo bi’abdihii lailam minal masjidil haroomi ilal masjidil aqshol ladzii baaroknaa haulahuu li nuriyahuu min aayaatinaa innahuu huwas samii’ul bashirr.

Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya, pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Israa’: 1) [Bung Smas: Kisah Dalam Alquran]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT