Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

SANG JENIUS

Jum'at, 04 Maret 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 524 Kali

Lima puluh tahun setelah kematiannya,

kejeniusan Albert Einstein masih terus menggema

Seratus tahun yang lalu, pada musim panas 1905, seorang pemuda pegawai negeri Jerman menggebrak dunia. Pemuda berusia 26 tahun tersebut telah sukses menerbitkan empat buku yang mengguncang dunia tentang cahaya, pergerakan partikel, pergerakan elektrodinamis tubuh, dan energi.  Karyanya hanya diulas beberapa halaman saja pada jurnal-jurnal ilmiah, akan tetapi mengubah selamanya pola pikir kita tentang ruang, waktu dan keseluruhan semesta dan mengubah nama Einstein menjadi sinonim untuk kejeniusan.

Albert Einstein lahir pada 14 Maret 1879 di Ulm, kota sebelah selatan Jerman, tanpa ada tanda-tanda bahwa dia akan menjadi orang besar. Sebaliknya sang ibu, Pauline, seorang ibu rumah tangga, menganggap Albert sebagai anak dengan prilaku ganjil. Sejak umur lima belas bulan mereka tinggal di Munich.

Pada usia dua setengah tahun Einstein masih belum bisa berbicara. Ketika pada akhirnya mulai bicara, dia selalu mengulang setiap perkataan dua kali.

Einstein  tidak tahu bagaimana bermain dengan anak-anak lain. Teman-temannya menjulukinya sebagai sahabat yang membosankan. Einstein kecil lebih banyak bermain sendiri. Dia lebih menyukai mainan yang bersifat mekanis. Saat dia melihat adik perempuannya baru lahir, Maja, dia berkata, “ Cantik, tapi mana rodanya?”

Berlawanan dengan cerita-cerita yang pernah kita dengar, Albert Einstein bukanlah seorang siswa yang bodoh. Nilainya bagus hampir di setiap mata pelajaran. Selama bersekolah Einstein hanya tidak suka dengan tata tertib sekolah yang ketat, dan dia seringkali berselisih dengan guru-gurunya.“Albert , kehadiranmu di kelas membuatku kehilangan respek dari murid-murid yang lain,“ kata seorang gurunya pada suatu hari. Saat berumur lima belas tahun Einstein merasa tidak tahan lagi dengan kekangan sekolah, dia memutuskan untuk keluar dari sekolah selamanya.

Tahun sebelumnya, ayah Albert memindahkan usahanya di bidang teknik elektro ke Italia.  Ayahnya dan Pauline pindah ke Milan dan meninggalkan anak lelaki mereka bersama para kerabat. Setelah melalui pembicaraan yang panjang, Einstein muda mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah berbahasa Jerman di Swiss. Suasana di kota Aarau lebih bebas daripada di Munich.

Einstein sangat berbakat dalam mata pelajaran matematika dan sangat menyukai pelajaran fisika. Setelah menyelesaikan sekolahnya, dia melanjutkan pendidikannya ke sebuah universitas di Zurich. Tapi ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya hal yang menggoda seorang pemuda penuh semangat dengan kumis bak singa laut ini. Dia jatuh hati pada teman sekolahnya, Mileva Maric, yang baginya merupakan ”makhluk cerdas.” Gadis Serbia ini datang ke Swiss karena di sana wanita diperbolehkan bersekolah. Einstein melihat pada diri gadis tersebut adanya dukungan dan pemikiran yang sama untuk melawan “philistine”—orang yang berpikiran picik dalam keluarganya dan di universitas dengan siapa Einstein selalu bertentangan.

Pasangan muda-mudi ini jatuh cinta. Mereka saling berkirim surat dengan kata-kata bercampur sains dan kasih sayang. Einstein menulis: “ Betapa aku bahagia dan bangga saat kita berdua membawa karya kita tentang kreativitas menuju kesimpulan yang memuaskan.”

Pada tahun 1900, saat berumur 21 tahun, Albert Einstein lulus dari universitas dan menganggur. Dia bekerja sebagai asisten pengajar, memberikan les-les privat dan baru mendapat pekerjaan tetap pada 1902 sebagai ahli teknik di kantor paten di Bern. Ketika sedang mempelajari penemuan-penemuan milik orang lain, diam-diam Einstein membangun gagasan-gagasannya. Konon ia menyebut meja gambar di tempatnya bekerja sebagai biro fisika.

Dan kemudian lahirlah karyanya yang terkenal pada tahun 1905. Di antaranya adalah teori Einstein yang istimewah: Teori relativitas  yang menyatakan bahwa waktu dan ruang bukanlah nilai mutlak; keduanya tergantung pada pergerakan suatu bentuk—entah itu bumi, kereta yang bergerak, pancaran sinar,-- dalam hubungannya dengan yang lain. Teori ini diikuti oleh rumus paling terkenal di dunia, yang menjelaskan hubungan antara massa dan energi: E=mc2.

Ketika Einstein sedang berusaha memecahkan masalah paling sulit dalam bidang fisika, kehidupan pribadinya mulai menemui hambatan. Albert bermaksud menikahi Mileva setelah menyelesaikan pendidikannya, namun sang ibu tidak merestui. Dia merasa Mileva, yang tiga tahun lebih tua untuk Albert. Sang ibu juga merasa terganggu dengan kecerdasan Mileva. “Dia kutu buku sama sepertimu. Kau harus menikahi seorang wanita,“kata sang ibu. Einstein pun menunda pernikahan tersebut.

Namun, hubungan mereka tetap berlanjut.  Mileva hamil di tahun 1901, dan melahirkan bayi perempuan bernama Lieserl di Serbia. Diperkirakan bayi itu diserahkan untuk diadopsi.

Pasangan tersebut akhirnya menikah pada bulan Januari 1903 dan mempunyai dua orang putra. Tetapi beberapa tahun kemudian, kehidupan rumah tangga mereka terguncang.  Einstein berpaling kepada wanita lain. Ia menjalin hubungan dengan sepupunya, Elsa.

Sementara itu Mileva yang kehilangan ambisi intelektualnya berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang tidak bahagia dengan perkawinannya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam pertengkaran, pada tahun 1910 mereka akhirnya bercerai dan pada tahun yang sama Einstein menikahi Elsa.

Lembaran baru kehidupan Einstein berjalan seiring dengan kemasyurannya. Pada tahun 1915 dia menerbitkan Teori Umum Relativitas yang menjelaskan pengertian baru tentang pusat gravitasi.  Gerhana matahari pada tahun 1919 telah membuktikan keabsahan teorinya.  Einstein telah terlebih dahulu menghitung dengan tepat titik di mana cahaya dari suatu bintang akan berbelok ketika  memasuki wilayah gravitasi matahari.  Koran-koran menyebut karya terbarunya itu sebagai ”Revolusi di bidang ilmu pengetahuan.”

Untuk karyanya di bidang efek fotoelektrik, Einstein menerima anugerah Nobel di bidang fisika pada tahun 1921. Dia benar-benar dihujani pujian dan diundang ke seluruh dunia, seluruh media cetak memberitakannya.

Sejak itu Einstein tinggal di Berlin. Dia ditunjuk oleh akademi ilmu Pengetahuan Prusia sebagai kepala institut riset dengan gaji tinggi. Namun, dari sisi ilmiah, dia tidak membuat gebrakan lagi setelah teori Relativitas.

Sebaliknya Einstein menjauhkan dirinya dari kancah ilmiah. Sebagai contoh dia menolak teori Quantum yang dikembangkan oleh para ahli fisika di tahun 1920-an, meskipun dasar teori tersebut adalah karyanya sendiri. Baginya, kemungkinan terlalu banyak berperan dalam teori baru itu. Einstein berkata: “ Tuhan tidak berjudi.”

Ketika Nazi menguasai Jerman tahun 1933, Einstein hijrah ke Amerika Serikat. Lima tahun kemudian, penemuan fusi nuklir di Berlin membuat ilmuan-ilmuan Amerika kalang kabut.  Banyak dari mereka bekas penganut Fasisme, seperti Einstein, dan sekarang mereka takut jika Nazi membuat dan menggunakan boim atum dalam peperangan.   

Atas desakan seorang rekan, Einstein menulis sepucuk surat kepada Presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt,  pada tahun 1939. Dia memperingatkan bahwa jika bom jenis ini diledakkan di suatu daerah, maka akan membawa bencana yang sangat dahsyat—tidak hanya bagi daerah itu, tapi juga daerah sekitarnya.

Surat ditanggapi dengan serius, Amerika memulai proyek rahasia pengembangan bom atom. Dan dengan bom tersebut mereka meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945.

Einstein sangat terguncang dengan bencana yang ditimbulkan oleh bom itu. Kali ini dia menulis surat umum kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berisi usulan untuk membentuk pemerintahan dunia.

Tidak seperti suratnya kepada Roosevelt, surat kali ini sama sekali tak berpengaruh. Tapi beberapa dasawarsa kemudian, Einstein banyak terlihat dalam politik—menentang pengembangan di bidang persenjataan dan menggunakan popularitasnya untuk mengkapanyekan perdamaian dan demokrasi.

Saat Einstein meninggal pada tahun 1955 dalam usia 76 tahun, dia dikenang sebagai pemikir dan warga dunia serta seorang jenius.

Karir yang tidak biasa bagi serang pria yang melihat dirinya sebagai “Kereta dengan satu kuda” dan yang menyadari bahwa keengganannya untuk memiliki ikatan dengan orang lain ternyata kerap menimbulkan konflik baginya. Banyak orang telah mencoba menjelaskan kontradiksi dalam karakter Albert Einstein. Dan teori terbaik sejauh ini—selain teori Einstein itu sendiri—datang dari pakar psikologi Howard Gardner. Dengan menolak untuk membuat ikatan dalam kehidupan pribadinya, menurut Gadner, “Einstein memiliki kebebasan untuk memberikan seluruh komitmennya pada dunia.”

 (Judith Raugh)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT