Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

KERETA API CEPAT INDONESIA CHINA (KCIC)

Rabu, 27 Desember 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 272 Kali

Rahim Asyik :

Kereta Tak Buru-buru

Meski cepat, orang tak pernah bilang kereta api buru-buru atau tergesa-gesa. Tak pernah terdegar yang namanya kereta buru-buru Bandung – Jakarta atau kereta tergesa-gesa Jakarta – Surabaya. Yang ada adalah frasa kereta cepat, kereta ekspres, kereta peluru, dan kereta kilat.  Nama rutenya suka ditulis di belakang. Tapi ingat, Kereta Api Cepat Indonesia Cina (KCIC) bukan berarti trayeknya Indonesia  -- Tiongkok pulang pergi.  KCIC cuma nama perusahaan, rutenya juga rute lama, Jakarta – Bandung,

            Mengapa tak pernah dibilang buru-buru, mungkin karena ada jadwalnya, Minimal jadwal berangkat. Sekali peluit ditiup, masinis harus pergi membawa keretanya. Tak masalah tibanya terlambat, meski ini juga ada jadwalnya.

 

            Dulu, kereta memang suka terlambat. Tak heran kalau Iwan Fals bikin lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa.” Seberapa terlambat? Biasanya kata Iwan, setelah tanya loket dan penjaga, kereta terlambat dua jam. Tapi itu dahulu, dan tentu saja, angkanya dibesar-besarkan. Pada priode Ignasus Johan, saya dengar banyak sekali perubahan positif di Kereta api Indonesia. Meski begitu yang namanya terlambat sampai sekarang masih, waktu tinggal dua tiga menitan.

            Berapa cepat sih yang disebut cepat untuk kereta api?  Di luar negeri, kecepatan maksimum kereta api seperti Train a Garande Vitesse di Perancis mecapai 574,8 kilometer per jam.  Di Indonesia, paling pol 120 Km per jam. Kenyataannya dengan alasan keselamatan, kereta cuma jarak tempuh sekitar 166 Km dengan  waktu tempuhnya 80 km perjam atau bahkan kurang. Membandingkan Argo Parahyangan Jakarta Bandung sebagai contoh, rata-rata dipacu 55 Km per jam.

            Apakah kereta sekarang lebih cepat ? Kalau ukurannya Jakarta Bandung, jawabannya, tidak.  Tanggal 1 November 1934 atau 82 tahun silam, Jakarta Bandung sudah biasa ditempuh dalam waktu 2,3/4 jam. Untuk mengekspresikan kebanggaannya, Staatssepoorwegen sampai memasang iklan  di majalah Mooi Bandoeng pada bulan Maret 1935. Bunyi iklannya, kalau diindonesiakan, “Pada zaman Gubernur Jendral Daendels, orang melakukan perjalanann dengan kereta pos tercepat dari Bandung ke Jakarta, makan waktu 2, 3/4 hari. Sekarang dengan ‘Si Empat Cepat’, Cuma 2, 3/4 jam!” karena saat itu Jakarta-Bandung dilayani empat formasi kereta ini dalam sehari.

 

            Kalau tak ada aral melintang, tahun 2019 situasinya akan berubah. Saat itu kereta berkecepatan 250 km per jam sudah beroperasi. Dengan kereta itu Jakarta Bandung dipredeksi bisa ditempu cuman dalam tempo 35 menit.

           

Dengan informasi itu, penduduk kota Bandung jangan senang dulu.  Disebut Bandung bukan berarti kota Bandung . Kalau melihat rencananya, stasiunnya akan dibangun di Kota Baru Walini, Kabupaten Bandung Barat dan di Tegalluar, Kabupaten Bandung. Kedua tempat itu lumayan jauh dari kota Bandung. Ukuran 35 menit itu yah sampai stasiunnya. Tambahan  waktu tepuh dari stasiunnya ke rumah Anda di kota Bandung, itu waktu tempuh yang sebenarnya. Sekarang bandingkan dengan KA Argo Parahiyangan yang berhentinya di Stasiun Bandung, cepat mana?  Abaikan dulu tingkat keribetannya. 

(Rahim Asyik)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT