Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Krisis Rohingya

Rabu, 27 Desember 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 149 Kali

UTANG SUU KYI KEPADA ANAK PENGUNGSI ROHINGYA

Seorang perempuan pengungsi asal Rohingya bercerita tentang nasib malang anak perempuannya berusia 14 taun. “Ketika dia kembali ke kamp, dia tidak dapat berjalan,” ujar ibu itu.

            “Suami majikannya adalah seorang pecandu alkohol. Dia akan masuk ke kamaranya pada malam hari dan memerkosanya. Dia melakukan enam atau tujuh kali,” kata ibu itu menambahkan.

            Kemalangan lain dialami Muhammad Zubair (12) yang bekerja sebagai kuli konstruksi jalan. Ia harus dibayar 500 taka atau setara dengan 6 dollar AS untuk bekerja selama 38 hari, “Itu adalah kerja keras, meletakkan batu bata di jalan,” kata Zubair, sambil berjongkok di ambang pintu gubuknya di kamp Kotupalong.

            Ia kerap dimaki, kemudian diusir majikannya karena meminta bayaran lebih. Nasib malang kedua pengungsi anak-anak itu adalah sedikit dari sekian banyak nestapa yang terus menghimpit pengungsi Rohingya yang saat itu memadati kamp-kamp kumuh di wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh. Buruknya kondisi kamp-kamp itu, ditambah minimnya harapan hidup, telah memaksa orangtunya menjual atau mempekerjakan anak-anak mereka.

            Organisasi internasional untuk Migrasi ( IOM) mengatakan,  dengan menmanfaatkan ketidakberdayaan orangtua karena hidup terlunta-lunta di pengusian,  maka anak menjadi target agen tenaga kerja. Biasanya anak laki-laki dipekerjakan di peternakan,  menjadi buruh konstruksi, pekerja kasar di kapal penangkap ikan, atau menjadi supir becak.

            Anak-anak perempuan dipekerjakan sebagai pembantu atau pengasuh anak untuk keluarga Bangladesh. Mereka dipekerjakan di kota Cox’s Bazar, atau ke Chittagong, sekitar 5 jam perjalanan dari kamp di Teknaf atau Kutupallong. Bahkan ada sebagian dari mereka dipaksa menikah muda demi meringankan beban orangtua.

            Potensi ancaman pada pengungsi anak-anak itu sangat besar karena nyaris 55 persen dari sekitar 600 ribu pengungsi Rohingya di Bangladesh adalah anak-anak. Temuan IOM itu menunjukkan, kehidupan kamp pengungsian ternyata tidak lebih baik daripada di Myanmar. Selain kesempatan pendidikan sangat terbatas, masa depan mereka pun hancur. Sebagian besar anak laki-laki dan perempuan Rohingya yang berusia 7 tahun dipastikan kerja di luar pemukiman.

            Oleh karena itu, menjadi penting mendorong penyelesaian  menyeluruh atas persoalan tersebut. Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara ( ASEAN) diharapkan tidak menutup mata atas krisis di Negara Bgian Rakhine yang ternyata berdampak sangat buruk bagi masa depan anak-anak Rohingya.

            Tuntutanb lebih besar tentu ditujukan kepada Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi yang 13 tahu lalu mengeritik ASEAN yang enggan campur tangan menyelesaikan krisis di negaranya. Dalam sebuah editorial surat kabar yang diterbitkan pada 1999, Suu Kyi mengatkan,  kebijakan noninterfensi hanyalah sebuah alasan untuk tidak membantu.  Saat ini pernyataan itu akan dikembalikan kepadanya.  Apakah Suu Kyi akan mendorong ASEAN terlibat lebih jauh daripada misi kemanusiaan juga telah dijalankan?

            Indonesia—dan sesekali Malaysia—terus berupaya keras agar krisis di Negarra Bagian Rakhine menjadi perhatian bersama, dan sedikit atau banyak telah mendapat perhatian. Namun, menurut David Mathieson, analis independen di Myanmar, menyebutkan, KTT ASEAN tidak dirancang untuk benar-benar membangun terhadap tanggapan terhadap isu-isu hak asasi manusia utama yang memengarui seluruh wilayah.

            “Saat ini permintaan Aung San Suu Kyi mendapat manfaat dari budaya kelambanan  ASEAN, “ kata Mathienson.

(KOMPAS)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT