Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

‘Ulama’ Bukan Pendeta

Rabu, 09 Maret 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 463 Kali

Dalam sebuah hadits yang terkenal, Nabi Muhammad saw bersabda bahwa Islam tidak mengenal rahbaniyyah atau kerahiban, yaitu pola hidup pertapaan (monashism).Para rahib adalah gandengan para pendeta (qisis-QS, al- Maidah/5:82). Maka para ‘ulama’ berdasarkan sabda Nabi itu, menegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal sistem kependetaan.

Para ‘ulama’ sendiri bukanlah pendeta. Maka kebiasaan sementara pers berbahasa Inggris yang mengartikan ‘ulama’ dengan priest adalah sama sekali keliru, seperti kelirunya kaum Orientalis yang menyebut Islam dengan “Mohammedanism” ( analog dengan Christianity, Buddism, Confucianism, dan lain-lain),seolah-olah umat Islam menyembah Nabi Muhammad saw yang hanya seorang manusia, Hamba Allah.

Perkataan   Arab ‘ulama’ adalah bentuk jamak dari ‘alim’, yang artinya ialah orang berilm (Ilmu). Jadi kaum ‘ulama’ artinya kaum yang berilmu atau para sarjana, bukannya pendeta atau sekaligus para sarjana, adalah soal lain.  Dan bahwa saat sekarang dalam budaya Islam istilah ‘ulama’ hanya digunakan untuk kalangan yang ahli ilmu agama, adalah juga soal lain ( hal ini sesungguhnya menyimpang dari penggunaan perkataan di zaman lalu, ketika semua orang yang ahli di bidang ilmu apa pun disebut ‘ulama’). Tetapi, dalam sistem keagamaan Islam, para ‘ulama’ itu tidaklah berkedudukan sebagai pendeta seperti yang ada dalam sistem agama-agama lain.

Lalu apa bedanya ‘ulama’ atau sarjana dengan pendeta?  Perbedaan itu banyak sekali, tetapi yang amat penting ialah perbedaan fungsi, wewenang dan peran mereka. Kita mengetahui bahwa seorang pendeta mempunyai wewenang keagamaan dalam sistem organisasi agama bersangkutan.  Misalnya,  satu upacara keagamaan tidak sah kecuali jika diselenggarakan oleh seorang pendeta yang berwenang. Dan seorang menjadi pendeta yang sejenis dengan itu lewat suatu bentuk upacara pengesahan tertentu, seperti apa yang disebut “pentahbisan.”

Adanya para ulama dalam Islam terjadi hanya secara informal. Yaitu bahwa seseorang disebut ‘alim’ adalah hasil pengakuan masyarakat, tanpa lewat jenjang peresmian seperti pelantikan pentahbisan, dan lain-lain. Karena mereka “hanyalah” kaum sarjana, para ‘ulama’ “hanyalah” mempunyai wewenang keilmuan atau ilmiah belaka, bukan wewenang keagamaan atau diniyah. Maka wewenang ‘ulama’ sesungguhnya terbatas, yaitu setingkat dengan ilmunya, sehingga dapat dibantah dengan mengemukakan sumber atau bahan ilmiah yang lain yang lebih absah, tepat dan kuat. Pendapat seorang ‘alim’ yang bisa disebut fatwa, tidak selalu mengikat, dan dapat senantiasa dipertanyakan tingkat keabsahannya.

Memang, di masyarakat manapun, khususnya masyarakat Islam, kaum ilmuwan selalu dipandang dengan penuh hormat. Maka, penghormatan kepada kaum ‘ulama’ pun sangat dikehendaki oleh Islam. Kitab suci menyebutkan bahwa dari kalangan manusia ini yang paling mampu bertaqwa kepada Allah ialah para ‘ulama’ atau ilmuan ( QS. Fathir/35-28). Dan kita dianjurkan untuk bertanya kepada mereka yang ahli tentang sesuatu jika kita tidak tahu ( QS. Al-Nahl/16:43). Namun, kita juga diperingatkan agar tidak mengikuti sesuatu yang kita tidak mengerti, sebab “ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani itu semuanya akan dituntut pertanggungjawaban.” ( QS. Al- Isra / 17:36)

(Dr. Nurcholish Madjid)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT