Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

SUARA GETIR PENGUNGSI DARI RAKHINE

Senin, 16 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 285 Kali

Ahmad Islamy Jamil:

SUARA GETIR PENGUNGSI DARI RAKHINE

Pemerintah Myanmar menuduh orang-orang Rohingya sebagi pendatang terlarang yang masuk ke negeri mereka.

Wajah Karimullah (35 tahun) tampak getir menahan pilu tatkala menceritakan cerita nestapa yang dialaminya. Lelaki Rohingya itu mengungkapkan betapa sadisnya rezim meliter Myanmar (dulu: Birma-red) menghabisi para penduduk kampung halamannya yang bermukim di Negara Bagian Rakhine.

            “Mereka (tentara-tentara Myanmar) membakar habis 400 perkampungan kami hanya dalam waktu tiga pekan,” ujar Karim, sapaannya, saat ditemui di tempat pengungsiannya yang berada di kawasan Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dia menuturkan setiap kampung orang Rohingya dulu memiliki satu atau dua masjid. Sementara, setiap masjid punya satu madrasah. “Bayangkan, betapa banyaknya fasilitas ibadah dan pendidikan yang dibumi hanguskan oleh tentara-tentara itu? Kejahatan mereka sudah di luar batas, “ucapnya.

             Kami pertama kali tiba di Indonesia pada 2011, setelah toko garmennya di Rakhine hangus dibakar tentara Myanmar, ia memutuskan ntuk meninggalkan tanah kelahirannya itu. Awalnya ia menempuh perjalanan dari Myanmar menuju Thailand melalui jalur laut. Selanjutnya ia berjalan lagi ke Malaysia dan sempat tinggal di sana selama 20 hari. Dari Malaysia, pria itu lalu menyebrang ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. “Setelah masuk ke Indonesia, saya sempat tinggal di Bogor selama tiga tahun. Sejak tahun 2014, barulah saya menetap di Jakarta sampai hari ini,” katanya.

            Dalam perjalanannya mengungsi ke Indonesia, Karim tidak sendirian. Ia juga membawa isterinya, Rokiah (30), dan anak mereka yang sulung. Kini Karim dan keluarganya menjalani kehidupan baru di Jakarta dengan status tanpa kewarganegaraan. “ Anak-anak saya sekarang sudah lima orang. Yang sulung sekarang umurnya sudah sembilan tahun, dan sekolah di Azhari Islamic School Rasuna Said. Sementara yang bungsu umurnya mmasih enam bulan,”tuturnya.

            Karim dan keluarganya kini tinggal di sebuah kamar kos kecil berukuran 2x4 meter di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukannya di tempat itu. Bahkan untuk keluar kerja mencari nafkah pun, ia tidak bisa karena terkendala oleh aturan kewarganegaraan yang berlaku di Indonesia.  Setiap hari Karim hanya mengantar dan menjemput anak-anaknya sekolah.

             Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya, Karim selama ini mengandalkan bantuan yang diberikan oleh International  Organization for Migration (IOM), sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kemanusiaan. Setiap bulan ia mendapat bantuan uang sebesar 10 juta. Perinciannya suami istri mendapat Rp 2,5 juta, masing-masing anak mendapat Rp 500 ribu, dan biaya pendidikan untuk tiga anak sebesar Rp 5 juta.

            Selama tinggal di Indonesia Karim bisa bernapas sedikit lega, sebab di negeri ini keamanannya jauh lebih terjamin dibandingkan negara asalnaya, Myanmar. Disamping itu tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya untuk menjalankan ibadah di Indonesia. “Saya berharap satu saat nanti bisa mendapatkan kewarganegaraan Inndonesia,” katanya.

            Karim mengaku sampai hari ini masih menjalin komuinikasi dengan  saudara-sudaranya yang masih bertahan di daerah perbatasan antara Myanmar dan Balangdesh.  Berdasarkan informasi  yang dia peroleh dari mereka, saat ini sedikitnya ada 11 ribu anak Rohingya yang kehilangan ayah. Anak-anak itu menjadi yatim setelah orangtua mereka dibunuh tanpa ampun oleh aparat militer Myanmar.

            Pemerintah Myanmar menuduh orang-orang Rohingya sebagai penduduk terlarang yang masuk ke negara mereka. Padahal secara historis, orang-orang Rohingya telah membangun peradaban di tanah Arakan (Rhakine) sejak berabad-abad yang lampau.

            Pada November 2014, pemerintah Myanmar memutuskan untuk menilai ulang status  kewarganegaraan penduduk Rohingya yang ada di Rakhine. Ada dua opsi yang ditawarkan oleh pemerintah Myanmar kepada mereka. Pertama,  orang Rohingya bisa saja menjadi warga negara Myanmar asal mau menanggalkan status identitas etnis mereka sebagai Rohingya dan megubahnya menjadi Bengali. Kedua, jika tetap mempertahankan status etnisnya sebagai Rohingya, etnis Muslim itu akan kehilangan haknya menjadi warga negara Myanmar.

            Untuk pilihan kedua, konsekwensinya Pemerintah Myanmar akan mencap mereka sebagai migrant illegal.  Selain itu, pemerintah akan melepaskan masyarakat  Rohingya dari tanggung jawab negara dan menyerahkan sepenuhnya kepada UNHCR sebagai orang tanpa kewarganegaraan (Stateless person).  Faktanya tidak sampai disitu. Sampai hari ini Pemerintah Myanmar terus mengerahkan kekuatan militernya untuk melakukan operasi pembersihan etnis dengan membantai ribuan bahkan ratusan ribu orang Rohingya di Rakhine.

            “Binatang saja bisa hidup bebas di hutan. Tapi mengapa kami manusia justru diperlakukan dengan kejam sedemikian rupa?” kata Karim.

            Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Syuhelmaidi Syukur terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi Rohingya. Menurut dia semacam standar operating procedur (SOP) yang diterapkan ACT dalam mengemplementasikan program kemanusiaannya untuk pengungsi Rohingya. Mulai face emergency, recovery, maupun relief.

            “ Di Bangladesh tim kami masih medirikan dapur umum untuk menyuplai kebutuhan makan para pengungsi, mendistribusikan bantuan panggan dan logistik, serta melakukan  pelayanan kesehatan.  Terakhir tim kami telah memberangkatkan  2.000 ton beras via kapal laut dari Terminal Petikemas Surarabaya, Kamis (21/90) lalu, “ kata Syhelmaidi.

             Dia mengatakan saat ini Muslim Rohingya yang masih berada di Rhakhine terus menerus secara drastis hingga menjadi 40 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.  Populasi Rohingya menurt UNHCR ialah 1,3 juta orang. Sekitar  926 ribu antaranya adalah orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan  dan 375 ribu lainnya menjadi pengungsi di negara mereka sendiri.

            Sejak taun 2014 lalu, ribuan warga melarikan diri ke Negara-negara Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui jalur laut. “Salah satu pengungsian warga Rohingya di Indonesia dibangun oleh ACT berlokasi di Blang Adoe, Aceh Utara, “ ucap Syuhelmaidi.  

            (Ahmad Islamy Jamil- Dialog)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT