Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

TAK ADA 'MUHAMMAD' DI XINJIANG

Kamis, 12 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 356 Kali

Pilihan hanya dua:  urungkan pemberian nama bernuansa Islam , atau anak ditolak masuk sekolah dan seluruh tunjangan dari pemerintah dihapuskan. Inilah delema baru yang kini dihadapi kaum Muslim di Xinjiang, China.

                 Awal bulan lalu pemerintah provinsi yang menampung sekitar setengah dari 23 juta Muslim China ini merilis daftar nama terlarang bagi bayi baru lahir di sana.  Menurut Associred Press, nama seperti “Muhammad”, “jihad”, dan “Islam” termasuk di antara setidaknya 29 nama yang sekarang dilarang di wilayah yang menjadi rumah bagi etnis Uitghur ini.  Nama lainnya yang dilarang antara lain: Imam, Haji, Azhar, Wahab, Sadam,  Arafat, Medina, dan Kairo.

                Pemerintah daerah juga diberi kewenangan untuk menambah daftar nama lain selain nama-nama yang diterapkan pemerintah provinsi. Menurut seorang pejabat di sebuah kantor keamanan publik tingkat kabupaten mengatakan beberapa nama dilarang karena mereka memilik “latar belakang agama.”

                Pembatasan penamaan tersebut merupakan bagian  dari upaya pemerintah yang lebih luas untuk “mengendalikan” Xinjiang yang merupakan rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur, orang-orang Turki yang kebanyakan mengikuti ajaran Islam Sunni. Telah lama Beijing mencurigai pemikiran  Islam radikal telah menyusup ke kawasan ini.

                Selama puluhan tahun, tekanan terhadap Muslim Uighur dari Beijing lebih keras dibandingkan Muslim dari suku lain di Cina, katakanlah etnis Hui. Selama bulan suci Ramadhan otoritas Kashgar memberlakukan tindakan yang luar biasa untuk mencegah orang-orang menjalankan bulan puasa. Kafetaria di beberapa kantor pemerintah diarahkan untuk mencatat siapa yang makan siang dan tidak.  Restoran diharuskan tretap buka pada siang hari, meski tidak ada pembeli.

                Tekanan di sekolah dan di perguruan tinggi lebih-lebih lagi.  Para siswa diminta makan siang bersama guru mereka dan dipaksa minum dari air botol mineral pada pukul 16.00 “Anda tidak bisa meninggalkan kelas sampai anda meminum setidaknya sepertiga botol. “ kata seorang mahasiswa berusia 21 tahun di Kasghar Normal University, seperti dikuti State. Com.

                Sebaliknya, pejabat universitas melarang mahasiswa makan setelah matahari terbenam. Petugas asrama akan melakukan inspeksi mendadak  antara pukul 02.00 sampai pukul o4.00 untuk memastikan  tidak ada yang menyelinap untuk makan sahur.

                Tahun lalu, delapan mahasiswa yang mengunci pintu asrama mereka untuk menentang peraturan tersebut diberi hukuman adminstratif.  Mereka diberi pilihan untuk tunduk pada aturan atau tetap kuliah tapi tidak menerima ijazah.

                 Selain itu, juga ada pemeriksaan langsung pada laptopnya, iPad, dan ponsel cerdas mereka untuk memastikan tidak ada konten religious didalamnya.

                “ Mereka tidak ingin kita mendengarkan lagu dalam bahasa Arab atau apa pun yang berhubungan dengan agama, “ kata mahasiswa berusia 21 tahun. Termasuk dalam daftar yang haram untuk didengarkan adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Maherzein, penyanyi lagu-lagu relegi asal Swedia.

                Soal penampilan, Negara pun  menentukan garis merah . Perempuan dilarang menutupi kepala mereka sama sekali, bahkan  dengan saputangan. Jenggot dan kumis dilarang utuk laki-laki. Sebuah lelucon di kalangan mahasiswa, adalah  mereka merekayasa  potret Marx, Lenin, dan Engels dengan menghapus jambangnya. Keterangan di bawahnya tertulis:Bukankah Partai Komunis tidak menyukai tampang begini?

                Namun, bagaimana pun, reaksi keras mereka memancing tindakan yang lebih keras lagi.  Mei 2013, pihak berwenang menahan para mahasiswa yang nekad menggunakan jilbab ke sekolah. Sebanyak empat orang dilaporkan tewas dalam huru-hara dalam rangka memperotes penahanan ini di Kuqa.

                Masih di bulan yang sama, imam masjid Kasghar berfusia 74 tahun, Juma Tahir, ditikam hingga meninggal di halaman luar masjid.  Para penyerang diyakini marah karena dukungan Tahir terhadap aksi protes atas berbagai pelanggaran tehadap kebebasan beragama.

                “ Penindasan beragama jauh lebih buruk sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan, “ kata Dilxat Raxit, juru bicara Wolrld Utgher Congress, yang berbais di Swedia. Xi diangkat sebagai pemimpin Partai Komunis pada tahun 2012 dan sebagai presiden Cina setahun kemudian. Pendek kata, hampir semua hal menyangkut kebebasan untuk menjalankan ajaran agama di Xinjiang dikebiri.

                Kalangan akademisi sudah sejak lama mengingatkan, bahwa kebebasanketat terhadap agama bisa memperburuk ketegangan di wilayah ini. “Anda tidak bisa mengatakan  karena seseorang memakai jilbab atau berjanggut panjang mereka adalah ekstrimis garis keras, “ kata Yang Shu, direktur Innstyitut Untuk Studi Asia Tengah di Universitas Lanzhou di propinsi Gansu. “Justru dengan menerapkan larangan keras melawan praktik agama, Anda beresiko meningkatkan konflik.

                Hal yang sama ditegaskan kelompok advokasi Uighur, di luar negeri.  Persoalannya, ekstremisme timbul di wilayah ini justeru karena sikap represif semua pihak yang menyuarakan kebebasan beragama di Xinjiang, omongan Yang Shu pun seperti menabrak tembok; Muslim Xinjiang tetap hidupp di bawah tekanan.

(SIWI TRI PUJI B)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT