Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Korban G30S/PKI: Usaha Menumpas PKI

Kamis, 05 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1838 Kali

Kebingungan dan kekacauan tidak hanya terjadi di Jakarta. Di kota-kota lain di seluruh wilayah Indonesia, orang bingung dan ketakutan. Kalau dalam tubuh ABRI sudah terjadi perpecahan, bagaimana nasib bangsa ini? Rakyat membayangkan kekacauan yang lebih besar lagi bakal terjadi. Betapa menakutkan!

Untuk memudahkan setiap tindakan yang diambil, Pangkostrad Mayjen Suharto memindahkan pasukan dari Markas Kostrad ke Senayan. Dengan dibantu Staf Gabungan Angkatan Darat, Suharto mulai merencanakan tindakan untuk mengamankan Jakarta. Ia segera menggerakkan pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie. Suharto juga menyiagakan pasukan-pasukan lainnya.

Kostrad berusaha merebut kembali RRI Pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi. Keduanya sangat penting untuk menyebarkan informasi. Pihak yang menguasai RRI dan Pusat Telekomunikasi, bisa dengan mudah menyebarkan berita sesuka hati dan merebut simpati dan dukungan rakyat.

Tindakan lain yang diambil adalah mengamankan Kepala Negara. Dan yang lebih penting lagi, mencari para perwira ABRI yang diculik. Samapi saat keberadaan mereka sama sekali belum diketahui. Nasib mereka pun tak bisa dipastikan.

Tepat tengah hari, Pangkostrad menarik pasukan Yon 454 dan Yon 530 dari daerah kedudukan mereka. Kedua pasukan itu telah digunakan oleh G 30-S/PKI untuk steling di Lapangan Merdeka.

Pangkostrad belum berhasil juga menemui komandan kedua pasukan itu.

Setelah dilakukan pendekatan berkali-kali, akhirnya Wakil Komandan Yon 530 Kapten Sukarbi dan Wakil Komandan Yon 454 Kapten Kuncoro menghadap Pangkostrad di Senayan.

Suharto mengajak keduanya bercakap-cakap. Suasananya dibuat sesantai mungkin.

“Apa tugasmu di sekitar Istana?” tanya Suharto.

“Tugas kami menurut perintah Dan Yon adalah mengamankan Pemimpin Besar Revolusi,” jawab salah seorang dari mereka.

“Apakah kamu sudah mendengar siaran radio?” tanya Suharto lagi.

“Sudah, Pak,” jawab Sukarbi dan Kuncoro bersamaan.

“Apakah kamu mengerti keadaan yang sebenarnya?”

“Kami tidak mengerti, Pak.”

“Mulai saat ini, saya perintahkan batalyon ditarik masuk ke Kostrad. Mulai saat ini juga kamu berdua sebagai Dan Yon,” perintah Suharto tegas.

“Siap! Akan kami laksanakan!”

***

Pada pukul setengah lima sore, Kapten Sukarbi datang membawa pasukan Batalyon 530 minus satu kompi ke Senayan. Mereka bergabung dengan Kostrad. Suharto lega melihat kepatuhan Sukarbi.

Sayangnya Kapten Kuncoro tidak mengikuti jejak Sukarbi. Ia tidak pernah melaksanakan perintah untuk membawa pasukan Batalyon 454 ke Senayan. Rupanya seluruh anggota pasukan itu masih dimanfaatkan oleh PKI.

Dengan mundurnya Yon 530 dari G 30-S/PKI, satu tahap dalam usaha menumpas PKI telah dilalui. Tahap selanjutnya ditandai dengan kembalinya Batalyon II Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang berkonsolidasi di Prapatan.

Pada pukul lima sore gerakan pasukan Baret Merah di bawah Dan Men RPKAD sudah berada di perbatasan kota dengan kekuatan dua batalyon. Satu batalyon RPKAD terus ke Makostrad di Senayan. Untuk membedakan diri dengan pihak petualang G 30-S/PKI yang memakai pita hijau, pasukan TNI memakai tanda berupa pita berwarna putih.

Munculnya tanda pengenal yang berbeda warna ini membuat kecut pihak PKI. Mereka mulai menyadari adanya gerakan yang berusaha menumpas mereka. Mereka mengundurkan diri ke arah Cililitan di daerah Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Rupanya tempat itu memang sudah disiapkan sebai basis pengunduran diri mereka.

Malamnya, sekitar pukul setengah tujuh, dua peleton dari Yon 328 Para/Kujang Siliwangi mengambil kedudukan di Jalan Radio, Kebayoran Baru. Sisanya disiapkan untuk masuk ke lapangan udara Halim.

Sasaran berikutnya yang harus dikuasai adalah RRI Pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi. Pada saat juga Pangkostrad Mayjen Suharto mengeluarkan perintah untuk membebaskan kedua gedung tersebut. Suharto menekankan untuk memegang teguh prisip “memperkecil kemungkinan timbulnya pertumpahan darah dengan menghindarkan tembak menembak”.

Perintah itu segera dilaksanakan. Dalam waktu duapuluh menit, satuan-satuan Baret Merah ini telah berhasil menguasai kembali kedua gedung tersebut sesuai dengan petunjuk Pangkostrad.

Usaha penumpasan G 30-S/PKI sudah menemukan titik terang. Tetapi hal itu masih jauh dari yang diharapkan. Karena ketujuh perwira TNI-AD yang diculik belum diketahui keberadaannya. Sama sekali tidak ada gambaran ke mana PKI membawa ketujuh orang itu. Nasib mereka pun masih merupakan tanda tanya besar. Kemungkinan terburuk, mereka telah tewas. Karena sepak terjang PKI selalu diwarnai kekejaman.

Pihak TNI juga tidak mengetahui dengan pasti berapa banyak senjata yang dimiliki oleh pasukan G 30-S/PKI. Senjata-senjata itu berasal dari oknum-oknum pengkhianat dalam tubuh ABRI. Selain itu, banyak sekali masalah yang ditimbulkan oleh adanya pemberontakan G 30-S/PKI.

Setelah direbut kembali, untuk sementara RRI Pusat Jakarta ditempatkan di bawah pengawasan TNI-AD dan SAB. Hal itu berarti alat penghubung vital dengan daerah-daerah lain di wilayah Tanah Air telah berhasil dikuasai.

Pada pukul 20.00, Pangkostrad Mayjen Suharto berbicara di depan corong RRI. Ia memberikan penjelasan mengenai situasi yang terjadi di Indonesia. Selain menceritakan terjadinya penculikan atas tujuh orang petinggi ABRI, Suharto juga meberitahukan bahwa Prtesiden Sukarno dan Menko Hankam Kasab Jenderal AH Nasution, dalam keadaan aman dan sehat walafiat.

“Kini situasi sudah dapat kita kuasai, baik di pusat maupun di daerah-daerah,” begitu di antaranya, yang dikatakan Suharto dalam pidato radionya. “Seluruh jajaran Angkatan Darat ada dalam kompak bersatu. Untuk sementara pimpinan AD kami pegang. Antara AD, ALRI, dan AKRI, telah terdapat saling pengertian, kerjasama, dan kebulatan tekad bersama untuk menumpas perbuatan kontra-revolusioner yang dilakukan oleh apa yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September”.”

Suharto juga menjelaskan tentang adanya “Dewan Revolusi Indonesia” yang dibentuk oleh G 30-S/PKI. Dewan itu telah mengambil alih kekuasaan negara atau kup dari tangan Paduka Yang Mulia Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pimpinan Besar Revolusi Bung Karno. Mereka juga melemparkan Kabinet Dwikora ke dalam kedudukan demisioner.

Pada akhir pidatonya, Suharto meminta rakyat tetap tenang dan waspada. Mereka juga diminta siap siaga dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Presiden Sukarno selalu dalam lindungan-Nya.

Hampir seluruh rakyat Jakarta mendengarkan pidato lewat radio itu. Mereka yang telah diliputi rasa gelisah seharian, mulai merasa tenang. Penduduk Jakarta mulai mendapatkan gambaran yang jelas mengenai situasi yang sebenarnya.[Bahrudin Supardi}

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT