Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Korban G30S/PKI: Mencari Sumur Tua

Kamis, 05 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2102 Kali

Mayjen Umar Wirahadikusumah menunjuk Mayor CPM Suhardi, ajudan Jenderal Ahmad Yani, untuk membawa Sukitman ke Cipinang. Di sana, Sukitman akan dihadapkan kepada Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Sebelum ke Cipinang, keduanya mampir dulu ke rumah Ibu Yani di Jalan Lembang. Kepada Ibu Yani, Sukitman menceritakan pengalamannya saat menyaksikan Jenderal Ahmad Yani di Lubang Buaya. Sedangkan Suhardi, memaparkan rencana untuk menemukan jenazah Jenderal Ahmad Yani.

Bu Yani tak kuasa menahan kesedihannya. Ia juga mendoakan semoga pencarian jenazah suaminya segera menemukan hasil.

Suhardi dan Sukitman melanjutkan perjalanan ke Cipinang.

Sukitman berhadapan dengan Kolonel Sarwo Edhie. Sebenarnya Sarwo Edhie sudah mengetahui laporan Sukitman. Juga sudah melihat sketsa yang dibuat Sukitman di hadapan Komandan Cakrabirawa di Istana. Tapi ia ingin mendengarkan langsung dari Sukitman sendiri.

“Coba kamu ceritakan lagi semua yang kamu alami,” kata Sarwo Edhie.

Sukitman pun kembali bercerita. Meski sudah menceritakan pengalamannya berkali-kali, Sukitman tidak merasa bosan. Ia tahu ceritanya itu bisa berguna untuk mencari para korban kekejaman PKI. Karena itu Sukitman bercerita dengan lengkap, tanpa ada yang terlupakan. Ia ingin sekali bisa membantu usaha pencarian jenazah ketujuh perwira TNI itu.

Setelah Sukitman selesai bercerita, Sarwo Edhie mulai membuat rencana.

“Kamu,” kata Sarwo Edhie sambil menatap Sukitman. “ikut dengan pasukan RPKAD yang akan melakukan pencarian. Kamu penunjuk jalannya.”

“Siap, Pak,” jawab Sukitman tegas. Ada rasa bangga di hatinya. Bagi Sukitman, ini adalah tugas tersbesarnya selama menjadi polisi.

Sukitman pun pergi bersama Suherdi.

Mayor Suherdi dan pasukan RPKAD berangkat ke Lubang Buaya. Sukitman ada bersama mereka. Ia memusatkan pikirannya untuk mengingat-ingat kembali daerah yang pernah didatanginya.

Begitu tiba di tengah kebun karet di Lubang Buaya, Sukitman melompat turun dari mobil. Ia berjalan cepat ke arah sumur tua. Pasukan RPKAD mengikuti di belakangnya.

Daerah itu sangat sepi. Padahal sebelum terjadinya peristiwa G 30-S/PKI, di situ banyak anggota organisasi massa PKI melakukan latihan militer. Pemuda Rakyat, Gerwani, Partindo, SOBSI dan lainnya, berlatih dengan semangat. Latihan yang disiapkan untuk pemberontakan itu berkedok latihan sukarelawan untuk membantu perjuangan Dwikora menentang Malaysia.

Dalam usahanya melakukan kudeta, pengkhianatan, dan pemberontakan, G 30-S/PKI, Aidit telah menjadikan daerah Lubang Buaya sebagai basis kekuatan. Di tempat itu pulalah ketujuh perwira TNI disiksa, dibunuh, dan dikuburkan jadi satu dalam sebuah sumur tua. Mereka dianggap sebagai penghalang bagi PKI dalam melakukan rencana busuk mereka.

Pasukan RPKAD memeriksa daerah sekitar situ. Mereka menmukan banyak bekas alat-alat yang digunakan untuk latihan kemiliteran. Kertas-kertas catatan, majalah-majalah yang berasal dari Cina, peralatan makan, dan peralatan lainnya, berserakan di mana-mana. Di situ juga banyak selongsong peluru, berserakan di hampir semua tempat, sampai ke sekitar sumur tua yang kini sudah ditimbun. Bahkan ceceran darah yang sudah mengering pun masih terlihat di sana, mendirikan bulu roma. Bukti kekejaman orang-orang yang punya niat untuk menguasai negeri ini dan mengendalikannya sesuai keinginan mereka.

Berada di Lubang Buaya kembali, Sukitman teringat pada pengalaman dahsyatnya. Bulu kuduknya berdiri semua. Sukitman nyaris tidah tahan lagi berada di tempat itu. Kenangan buruk berkelebat di benakanya. Sukitman menguatkan diri. Ia harus bertahan. Saat ini dirinya diperlukan untuk menemukan jenazah para pahlawan yang mengorbankan nyawanya untuk Ibu Pertiwi tercinta.

***

Pasukan RPKAD memeriksa gundukan tanah bercampur sampah. Sekilas tidak ada bedanya dengan gundukan tanah lain yang banyak terdapat di tempat itu. Susah juga menentukan mana yang dibawahnay terdapat lubang sumur. Tapi Sukitman masih mengenali letak sumur itu.

“Ini sumurnya, Pak,” kata Sukitman sambil menunjuk gundukan tanah itu.

“Kamu yakin?”

“Yakin sekali, Pak. Di sinilah mereka mengubur jenazah tawanan itu. Saya melihat semuanya. Saya ada di sana,” kata Sukitman menunjuk tempat dia berada saat menyaksikan penyiksaan itu.

Petunjuk itu tidak diragukan lagi. Pemimpin pasukan pun mengirimkan laporan ke Markas.

Pada hari Minggu, 3 Oktober 1965, regu ABRI yang terdiri atas RPKAD, Polisi Militer, dan KKo, menggali timbunan tanah itu.

Akhirnya diketahui pula bahwa rumah yang berada di dekat sumur itu adalah milik seorang guru bernama Harjono. Ia dikenal juga dengan sebutan Pak Besar. Harjono inilah orang yang banyak membantu PKI dalam menyiapkan penyiksaan dan pembunuhan keji itu.

Penggalian terus dilakukan. Bagian paling atas dari sumur bergaris tengah 75 cm itu ditimbun dengan sampah-sampah kering. Lalu di bagian bawahnya terdapat timbunan tanah. Di bawah lapisan tanah itu ada timbunan daun singkong dan daun-daun lain. Di bawahnya ada timbunan tanah lagi. Benar-benar usaha yang luar biasa untuk menyembunyikan lubang sumur itu.

Hari sudah mulai malam. Penggalian tidak dihentikan. Anggota pasukan yang menggali makin yakin mereka telah menemukan sumur yang mereka cari. Timbunan sampah yang mereka temukan masih kelihatan baru, belum busuk.

Para prajurit menggali dengan semangat, tanpa kenal lelah. Sedikit-demi sedikit timbunan yang berlapis-lapis itu dikeluarkan. Di antara lapisan-lapisan itu terdapat juga batang-batang pohon pisang yang dipotong kecil-kecil. Banyaknya tanah dan sampah yang digunakan untuk menutup lubang sumur, membuat usaha penggalian berlangsung lambat.

Setelah menggali lebih dari 10 meter, para prajurit menemukan lapisan timbunan terakhir. Lapisan terakhir itu terdiri dari sampah kering dan potongan kain warna-warni.

Mendadak tercium bau busuk yang sangat tajam.

Pada pukul 22.00 malam, para penggali menitikkan airmata. Rasa haru dan geram bercampur jadi satu. Di dasar sumur itu, mereka menemukan jenazah para perwira TNI yang sudah mulau membusuk, dengan posisi kaki di atas.

Kolonel Sarwo Edhie yang sudah datang sejak pukul 19.00 juga ikut terharu.

Sukitman pun tak kuasa menahan airmatanya. Apalagi kini ia tahu tujuh orang yang disiksa dan dibunuh di hadapannya itu adalah orang-orang yang telah mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara.

Sarwo Edhie menghampiri Sukitman.

“Kamu harus hati-hati. Jangan pergi ke mana-mana dulu,” kata Sarwo Edhie menasihati Sukitman. “Keselamatanmu mungkin terancam. Sebaiknya kamu copot semua tanda pengenalmu.”

Sukitman mengangguk-angguk. Ia cemas juga. Tapi Sukitman sama sekali tidak menyesal telah menunjukkan tempat ini kepada aparat. Mungkin ini bisa dianggap sebagai bentuk pengabdiannya kepada negara. Bukankah ia juga alat negara?

Kini yang harus dilakukan adalah mengangangkat ketujuh jenazah itu. Bukan pekerjaan yang mudah. Karena sumur itu memiliki kedalaman 12 meter dan sangat sempit. [Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT