Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Korban G30S/PKI: Sejarah Hitam

Kamis, 05 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1553 Kali

Keberhasilan TNI menemukan jenazah ketujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban kekejaman G 30-S/PKI membuka tabir kejahatan dan pengkhianatan yang dikendalikan dan direncanakan oleh Partai Komunis Indonesia.

Hati siapa pun akan pilu dan terluka melihat tumpukan jenazah para perwira TNI-AD di dalam sebuah sumur tua. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dan pejabat negara yang tekun dan setia menyumbangkan darma bakti kepada bangsa dan negara sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sudah terbukti beberapa kali PKI berusaha merebut kemenangan untuk menegakkan ideologi komunisme di negara ini. PKI selalu berusaha mengubur Dasar Negara Pancasila. Usaha itu dilakukan antara lain dengan mempopulerkan Manifesto Politik, Nasakom, konfrontasi dengan Malaysia, menciptakan Angkatan ke-Lima yang terdiri dari masa buruh dan tani yang dipersenjatai. Segala cara mereka tempuh. Dari yang halus sampai yang paling kasar dan kotor. Bahkan ada pula tindakan biadab dengan bersemboyan “Politik Sebagai Panglima”.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia selalu setia dan berjuang untuk mempertahankan falsafah Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hasil perjuangan sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945. Karena itu ABRI selalu menolak dan akan menghancurkan setiap usaha yang bertujuan untuk memusuhi dan merusak negara kesatuan dan falsafah Pancasila. Itulah sebabnya PKI memandang ABRI sebagai kekuatan yang menghalangi usaha-usaha mereka di Indoensia selama ini.

ABRI harus merelakan prajurit-prajurit terbaiknya menjadi korban pengkhianatan PKI untuk kesekian kalinya. Meski begitu ABRI tak tergoyahkan. Apa pun yang terjadi, mereka tetap akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keutuhan Negara Republik Indonesia.

***

Pada tanggal 4 Oktober 1965, sejak pukul 18.00, jenazah para Pahlawan revolusi disemayamkan di Aula Depad. Dengan dikawal oleh pengawal kehormatan, peti jenazah para pahlawan diletakkan berjajar di ruang aula. Suasana sungguh mendirikan bulu roma. Rasa sedih dan pilu dari mereka yang hadir terasa menyelimuti ruang aula yang luas itu. Sesekali terdengar isak tangis dan raung kesedihan dari keluarga almarhum, rekan sejawat, bawahan, juga teman seperjuangan. Kesedihan trasa begitu dalam karena ditinggalkan orang yang dicintai. Tapi perasaan pilu lenih terasa mengiris kalbu, mengingat kekejaman yang dialami oleh para Pahlawan tersebut.

Malam itu seluruh perwira TNI-AD dan ABRI, pejabat pemerintah, Korps Diplomatik, dan lain-lainnya, berdatangan ke Aula Depad sepanjang malam. Mereka menyampaikan penghormatan terakhir disertai rasa duka yang amat dalam

Rakyat Ibu Kota yang sudah mengetahui jalannya peristiwa itu, juga diliputi rasa duka. Dalam hati mereka juga ada perasan marah atas kebiadaban PKI atas para pahlawan mereka.

Keesokkan harinya, 5 Oktober 1965, adalah Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang ke 20. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya dilakukan persiapan-persiapan untuk upacara peringatan hari bersejarah tersebut. Kota Jakarta ikut mempersiapkan dan menyambut Hari ABRI. Warga masyarakat memasang hiasan-hiasan dan spanduk-spanduk yang berisi slogan yang mengingatkan kita pada peranan dan perjuangan ABRI selama duapuluh tahun.

Ternyata semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Kegembiraan yang diharapkan pada hari besar itu, berganti dengan perasaan duka yang luar biasa. Tak ada lagi upacara megah dan parade militer yang membuat rakyat bangga pada ABRI. Tak ada lagi malam hiburan yang menyatukan ABRI dan rakyat dalam kegembiraan yang meluap. Hari penuh pesta yang dinantikan, menjadi hari penuh duka seluruh bangsa.

Sejak pagi, sekitar Mebes AD di Jalan Merdeka Utara telah dipenuhi ribuan warga Ibu Kota. Mereka ingin memebrikan penghormatan terakhir kepada ketujuh Pahlawan Revolusi. Mereka berdiri dengan khidmat dan tenang menunggu iringan peti jenazah.

Suasana duka makin terasa ketika anggota keluarga almarhum memasuki Mabes AD. Duka menyelimuti semua yang hadir. Para ibu kelihatan meneteskan air mata. Beberapa lainny mengigit bibir, berusaha menahan tangis agar tak pecah. Bola mata mereka tampak merah, bersimbah air mata.

Suasana menjadi hening mencekam, ketika Menko Hankam/Kasab Jenderal AH Nasution memasuki Mabes AD. Ia akan bertindak sebagai inspektur upacara untuk melepas kepergian tujuh Pahlawan Revolusi ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir.

Perasan duka yang amat dalam sampai menyesakkan napas Jenderal Nasution. Ia sendiri nyaris menjadi korban seperti rekan-rekannya. Beruntung Tuhan masih menyelamatkannya. Tapi Nasution juga harus membayar mahal keselamatannya. Ade Irma, puteri yang amat dicintainya, gugur sebagai perisai bagi dirinya.

Pada pukul 09.00 pagi matahari Jakarta meredup, tertutup oleh mendung tipis. Tak lama kemudian gerimis pun turun. Bahkan, alam pun seolah ikut menangis, melihat putera-putera terbaik bangsa direnggut dengan begitu kejam.

Jenderal Nasution memberikan sambutan. Suaranya tenang, meski duka menyelimuti hatinya.

Dalam sambutannya yang terasa mendirikan bulu roma, Jenderal Nasution seolah-olah berbicaar dengan ketujuh rekannya yang telah gugur.

“Biarpun kamu hendak dicemarkan, dan difitnah sebagai pengkhianat, justru kami semua di sini menjadi saksi yang hidup. Kamu telah berjuang sesuai dengan kewajiban kita semua menegakkan keadilan, kebenaran, dan kemerdekaan. Tak ada yang ragu-ragu. Kami semua bersedia mengikuti jalanmu. Jika memang fitnah mereka itu benar, kami akan buktikan.

“Saya yang tinggal bersama yang lainnya, akan meneruskan perjuangan kamu, membela kehormatan kamu. Menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI. Sebagai pahlawan, menghadaplah kepada asal mula kita, yang menciptakan kita, Allah Subhanahu Wataala. Karena akhirnya Dialah Panglima kita yang paling tinggi. Dialah yang menentukan segala sesuatu atas diri kita. Kami yakin, yang benar akan tetap menang dan yang tidak benar akan hancur….”

***

Tepat pukul 10.00 pagi iringan jenazah diberangkatkan dalam suasana hening dan tembakan salvo. Perlahan-lahan iring-iringan kendaraan berjalan menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Sepanjang jalan, rakyat berdiri memandang iring-iringan jenazah. Wajah mereka kelihatan sendu oleh duka dalam hati. Banyak juga yang mencucurkan air mata. Bukan hanya yang wanita, banyak juga kaum laki-laki yang menangis sedih. Menangisi kepergian para Pahlawan Revolusi. Kepergian lewat cara yang amat memilukan.

Dalam waktu hampie dua jam, iring-iringan jenazah tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dengan upacara militer, ketujuh jenazah Pahlawan Revolusi dimakamkan. Dikembalikan kepada pangkuan Sang Pencipta.

Mereak memang telah pergi. Tak bisa lagi berjuang untuk negeri. Tapi semangat mereka tak akan pernah padam di hati bangsa Indonesia. Mereka telah menjadi korban dalam sejarah hitam bangsa ini. Semoga sejarah itu tak terulang lagi. Cukup sekali saja bangsa Indonesia mengalami kejadian seburuk itu. Di masa depan, tentunya kita berharap sejarah bangsa ini akan lebih gemilang. [Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT