Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan Korban G30S/PKI: Ksatria dari Balige

Jum'at, 29 September 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2713 Kali

Brigadir Jenderal Danald Isaacus Panjaitan juga menjadi target yang akan dilenyapkan oleh PKI. Jabatannya sebagai Asisten IV Menteri/Pangliman Angkatan Darat membuat PKI menganggapnya sebagai penghalang. Selama masih ada DI Panjaitan, PKI akan sulit menjalankan rencana busuk mereka.

DI Panjaitan adalah prajurit sejati. Rasa cintanya pada tugas, melebihi apa pun. Ia sering meninggalkan keluarganya untuk melaksanakan tugas mendadak yang kadang bisa berlangsung berhari-hari. Tentu saja anak-anaknya protes. Mereka jarang berkumpul dengan ayah mereka. Marike, isteri DI Panjaitan, sudah terbiasa dengan hal itu. Sebagai isteri prajurit, ia sudah sering dtinggal oleh suaminya. Sejak pernikahan mereka tanggal 3 September 1946, entah sudah berapa kali ia ditinggal pergi suaminya. Karena DI Panjaitan dibutuhkan oleh negara yang sedang berjuang. Maka, Marike merelakan kepergian suaminya. Meski ia harus kesepian dan didera rindu berkepanjangan.

DI Panjaitan mencoba memberi pengertian kepada anak-anaknya.

“Kalau di rumah, saya ini milik kalian,” katanya dengan suara lembut dan tegas. “Tapi kalau sedang bertugas, saya adalah anak negara. Sebagai anak negara, saya wajib mengabdikan seluruh jiwa dan raga saya untuk kepentingan negara.”

Kalau sudah begitu, tak ada yang berani protes lagi. Anak-anak DI Panjaitan merasa bangga punya ayah yang setia mengabdi pada negara. Marike juga bahagia punya suami berjiwa ksatria.

Sayang, kebahagiaan itu tak bisa selamanya dirasakan.

Jumat dinihari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan penculik berseragam Cakrabirawa mengepung rumah DI Panjaitan di Jl. Hasanudin No. 52 Kebayoran Baru. Mereka datang dengan tiga buah truk dan dua buah bus. Mereka juga memblokir jalan Patimura dan jalan Iskandarsyah. Pasukan PKI itu melarang orang-orang lewat di kedua jalan itu. Maka daerah itu pun menjadi sangat lengang dan sunyi.

Kelompok penculik yang dipimpin oleh Sukarjo segera masuk ke rumah DI Panjaitan dengan cara melompati pagar. Derap langkah mereka membangunkan seisi rumah. Kemudian orang-orang beringas itu menghancurkan pintu depan dengan berondongon peluru dari senapan mereka.

Anak-anak DI Panjaitan dan dua keponakannya bangun dan kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang jelas, mereka ketakutan.

Sukarjo dan anak buahnya masuk ke dalam rumah. Mereka berpapasan dengan Erni, pelayan keluarga DI Panjaitan.

“Mana Jenderal?” bentak Sukarjo.

Erni belum sempat menjawab ketika beberapa anak buah Sukarjo masuk ke kamar-kamar dan menggeledah.

Kamar DI Panjaitan dan isterinya terletak di lantai dua. Marike yang sudah terbangun melihat banyak tentara berseragam berkeliaran di halaman rumahnya. Ia segera membangunkan suaminya.

“Pa, apa ada latihan hari ini?” tanya Marike pada suaminya.

DI Panjaitan belum sempat menjawab ketika terdengar rentetan tembakan ke arah paviliun rumah dan ke arah lantai dua. Kaca jendela pecah berantakan. Tirainya pun robek tekoyak-koyak kena sambaran peluru. Hujan peluru itu juga mengenai lampu kamar dan memecahkannya. Kamar DI Panjaitan pun gelap gulita.

Di bawah, keponakan DI Panjaitan yang bernama Albret Naiborhu, segera menyambar pistol. Ia akan melakukan perlawanan.  Albert mengarahkan pistolnya pada gerombolan penculik itu. Tapi ia kalah cepat. Asmara dan Herwanto—anggota gerombolan penculik—segera menghujani Albert dengan peluru dari senapan mereka. Pemuda pemberani itu pun ambruk bermandi darah.

Melihat kakaknya tewas, Victor segera menyambar pistol Albert dan mengarahkannya pada para penculik. Senapan para penculik kembali menyalak. Victor rubuh dengan luka parah pada limpa dan pinggangnya.

Anak-anak DI Panjaitan yang ketakutan berlarian ke kamar ayah mereka di lantai dua. Mereka menghambur masuk.

“Ada ini, Papa? Ada apa ini, Mama? Kami takut, Pa!” seru mereka panik.

DI Panjaitan berusaha tetap tenang. Ia menyuruh anak-anaknya tiarap di kolong tempat tidur.

Dengan gerakan cepat DI Panjaitan mengambil senjata Sten yang selalu tersimpan di kamarnya. Ia harus melindungi keluarganya. Berapapun jumlah mereka, DI Panjaitan akan melawan habis-habisan. Sayangnya senjata itu macet.

Marike segera merebut Sten dari tangan suaminya. Ia merasa tindakan perlawanan itu akan sia-sia. Mungkin sebaiknya DI Panjaitan mengalah saja. Baru nanti dipikirkan bagaimana keluar dari situasi ini.

Di bawah, gerombolan orang-orang kejam itu sedang membentak-bentak pembatu keluarga DI Panjaitan.

“Mana kamar Jenderal?”

Si bibi diam saja. Ia gemetar ketakutan sambil berjongkok.

“He, kamu! Tunjukkan mana kamar Jenderal! Atau kamu saya cincang!”

Dengan tangan gemetar si bibi menunjuk ke arah kamar DI Panjaitan di lantai atas.

“Ayo suruh dia turun!” kata salah seorang anggota gerombolan sambil menodong perempuan itu dengan sangkur di ujung senapan.

Si bibi pun bangun dengan susah payah. Ia berjalan menuju kamar majikannya. Di belakangnya beberapa sangkur terhunus terarah ke tubuhnya.

Gerombolan itu sungguh gila-gilaan. Mereka menghamburkan peluru ke seluruh bagian dalam rumah. Perabotan pun hancur berantakan. Topi dinas DI Panjaitan yang digantung di kapstok menjadi sasaran tembakan mereka. Topi itu pun berlubang-lubang dihajar peluru.

Para pembantu digiring menuju tangga. Mereka naik tangga dengan terburu-buru. Anggota gerombolan mengarahkan tembakan ke bawah kaki mereka. Para pembantu itu pun berlari ke atas diiringi hujan peluru di bawah kaki.

Marike menelpon Polisi untuk minta bantuan. Polisi yang menerima telponnya mengatakan akan segera mengirim bantuan. Tapi anehnya bantuan itu tidak kunjung datang. Padahal pos polisi sangat dekat dengan rumah DI Panjaitan. Siapa yang menrima telepon tadi?

Sukarjo berteriak ke arah kamar DI Panjaitan, “Cepat turun, Jenderal. Jenderal dipanggil Presiden dan harus menghadap sekarang juga!”

DI Panjaitan melongok melalui pintu.

“Siapa kalian? Mau apa kalian di sini?” tanya DI Panjaitan.

Anggota gerombolan itu memandang DI Panjaitan dengan pandangan buas. Mereka memamerkan senyuman iblis.

“Kami Cakrabirawa! Kami diperintah untuk membawa Jenderal menghadap Presiden!” jawab salah seorang anggota gerombolan dengan suara lantang.

Lalu yang lainnya menyahut, “Cepat turun, Jenderal! Kalau tidak, kami bikin mampus seluruh keluargamu!”

DI Panjaitan heran bukan main. Kenapa Cakrabirawa berniat menghabisi keluarganya? Kalau mereka memintanya menghadap Presiden, mengapa sikap mereka begitu beringas? Benarkah mereka Cakrabirawa?

Marike berusaha menenangkan orang-orang di bawah.

“Tolong sabar, ya? Bapak ganti baju dulu,” katanya dengan suara gemetar.

“Tidak perlu ganti baju! Cepat turun! Atau saya sikat kalian semua!” seru salah seorang dari bawah. Benar-benar orang kejam. Siapa mereka sebenarnya?

DI Panjaitan memutuskan untuk turun. Ia tidak mau keluarganya celaka.

Baru beberapa langkah menuju tangga, DI Panjaitan mendengar teriakan dari bawah.

“Jangan turun, Paman. Jangan turun! Mereka akan membunuh Paman!”

Itu adalah suara Victor. Dalam keadaan terluka parah ia masih berusaha menyelamatkan pamannya.

DI Panjaitan pun bimbang. Kalau ia bertahan di atas, ia bisa menyelamatkan diri. Tapi bagaimana nasib keluarganya. Orang-orang beringas itu pasti akan menghabisi keluarganya.

Marike menghampiri suaminya.

“Isaac, turutilah mereka. Ingat anak-anakmu,” katanya memohon.

DI Panjaitan memandang wajah isterinya sejenak. Ia pun segera memgambil keputusan dengan mantap. Apa pun yang terjadi, ia harus turun. Keselamatan keluarganya di atas segala-galanya.

DI Panjaitan mengenakan seragamnya. Marike memasangkan tanda pangkat dan penghargaan pada baju seragam itu. Teriakan-teriakan dari bawah tidak mereka hiraukan. Kalau benar harus menghadap Presiden, maka DI Panjaitan harus mengenakan pakaian seragam lengkap.

Teriakan-teriakan dari bawah makin menggila, menyuruh DI Panjaitan turun. Orang-orang itu kembali menghamburkan peluru, menembak apa saja yang ada di rumah itu.

Marike berteriak dari atas, “Sabar, Pak. Saya mohon. Jenderal Panjaitan sedang berpakaian. Kaos kakinya sebelah lagi belum dipasang.”

Sebagai jawaban, kembali terdengar bunyi rentetan senapan dan barang-barang yang hancur.

Marike kembali berteriak, “Tunggu, Pak. Jenderal sedang bersembahyang.”

Gerombolan penculik mengamuk lagi.

Selesai membaca doa, DI Panjaitan memandang isterinya, berpamitan.

“Pergilah, Pap…,” bisik Marike lirih.

DI Panjaitan melangkah mantap menuruni tangga. Ia siap menghadapi segala kemungkinan, bahkan yang paling buruk. DI Panjaitan tampak begitu gagah dengan seragamnya. Di pundaknya menempel tanda pangkat Brigadir Jenderal TNI. Dadanya dihiasi tanda-tanda jasa.

Sejenak derombolan penculik itu tertegun melihat karisma DI Panjaitan. Mereka terpesona oleh ketenangan sang jenderal. DI Panjaitan menatap orang-orang beringas itu dengan pandangan penuh wibawa. Tak tampak rasa gentar sedikit pun.

Sesampainya di tengah tangga, DI Panjaitan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke atas, memandang isteri dan anak-anaknya. Marike dan anak-anaknya tak kuasa menahan airmata. Apa yang akan terjadi pada suami dan ayah mereka? Hanya Tuhan yang tahu.

DI Panjaitan kembali menuruni tangga dengan langkah tegap seorang prajurit sejati. Ia terus berjalan menuju pintu. Gerombolan itu mengikuti sambil menodongkan senjata. Di bibir mereka tersungging senyum penuh ejekan, merendahkan. Benar-benar senyum iblis pengkhianat bangsa.

DI Panjaitan tiba di luar rumah. Ia melewati mobil dinasnya yang sedang diparkir di garasi. DI Panjaitan berhenti sejenak, memandangi mobilnya. Lalu ia merapatkan kedua tangannya di dada dan berdoa. DI Panjaitan memohon diberi kekuatan menghadapi situasi berat ini.

Selseai bedoa, DI Panjaitan mencabut pistolnya dengan gerakan cepat. Ia mengarahkan pistolnya kepada salah seorang penculik.

Tapi anggota gerombolan yang lain lebih cepat bereaksi. Sebuah tembakan mengenai kening DI Panjaitan. Topi dinasnya terlempar. DI Panjaitan pun rubuh. Cairan putih keluar dari kepalanya yang berlubang. Anggota gerombolan itu segera menghujani tubuh DI Panjaitan yang sudah tak bernyawa itu dengan peluru.

Setelah puas, mereka menyeret tubuh DI Panjaitan dan melemparkannya ke dalam truk, melompati pintu gerbang yang masih terkunci. Lalu manusia-manusia biadab itu pergi menuju Lubang Buaya.

Anak-anak DI Panjaitan menyaksikan peristiwa tragis itu dari lantai atas. Mereka menjerit melihat ayah mereka diperlakukan begitu kejam.

Pagi yang sunyi itu dipenuhi jeritan histeris anak-anak yang kehilangan ayah yang mereka cintai.

Kstaria kelahiran Balige itu telah pergi, meninggalkan genangan darah di pekarangan rumah. Bukti pengorbanannya bagi negeri tercinta.[Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT