Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo Korban G30S/PKI: Korban Fitnah Keji

Jum'at, 29 September 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2516 Kali

Hari itu Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo kelihatan aneh. Ia tampak begitu gelisah. Mondar-mondir di ruang kerjanya, tanpa tahu apa yang akan dilakukannya. Siang hari tanggal 29 September 1965 itu memang panas. Sutoyo kelihatan kegerahan. Ia pun menyalakan AC di ruang kerjanya. Tapi anehnya, udara dingin yang dihasilkan oleh AC tidak mampu menghilangkan rasa gerahnya. Ia pun keluar dari kamar kerjanya. Tapi tak lama kemudian masuk lagi. Begitu seterusnya.

Letda Sutarno, ajudan Sutoyo, heran melihat tingkah atasannya. Tidak biasanya Sutoyo bersikap begitu. Ia adalah orang yang tekun bekerja. Hari-harinya di kantor biasanya disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan. Tapi hari ini Sutoyo seperti tidak bersemangat untuk bekerja.

Sutarno memberanikan diri menanyai atasannya, “Maaf, Pak? Ada apa sebenarnya? Bapak kelihatan gelisah.”

Sutoyo memandang ajudannya sejenak. Lalu ia tersenyum.

“Ah, tidak ada apa-apa,” jawab Sutoyo kalem.

Jawaban itu tidak memuaskan Sutarno. Tapi ia tidak berani mendesak lagi. Sutarno hanya memandangi gerak-gerik atasannya dengan cemas.

Tak lama kemudian Sutoyo masuk ke ruang kerjanya. Sutarno pun melanjutkan pekerjaannya. Tapi tak lama kemudian Sutoyo keluar dari kamar kerjanya. Wajahnya tampak keheranan.

“Lho, di sini kok dingin, ya? Di dalam panas sekali,” kata Sutoyo seolah pada dirinya sendiri.

Kali ini Sutarno yang keheranan. Bagaimana mungkin kamar kerja Sutoyo yang dipasangi AC bisa panas? Di ruangan ini malah tidak ada pendingin udaranya. Tapi Sutoyo malah merasa dingin. Ada apa dengan atasanya ini?

Hari itu Sutarno bekerja dengan tidak tenang. Ia sangat khawatir melihat keadaan atasanya, Brigjen Sutoyo.

Sore harinya, menjelang pulang kantor, Sutoyo memanggil ajudannya.

Sutarno menghadap Sutoyo.

“No, coba kamu buat rancangan untuk acara peringatan Hari Angkatan Bersenjata tanggal 5 Oktober 1965 nanti,” kata Sutoyo pada ajudannya. “Acara itu harus dibuat semeriah mungkin.”

Sutarno heran lagi. Selama bertahun-tahun menjadi ajudan Sutoyo, Sutarno belum pernah melihat atasannya peduli dengan acara peringatan Hari Angkatan Bersenjata. Biasanya Sutoyo tidak pernah mengurusi hal itu. Karena sudah ada tim yang mengurusinya. Sutoyo biasanya hanya hadir saja pada hari-H. Kenapa sekarang beliau malah ingin merancang acaranya? Pertanda apa ini? Sutarno berdoa dalam hati semoga keanehan-keanehan yang ia lihat pada diri atasannya bukanlah pertanda buruk.

***

Pada saat yang sama, jauh di belahan timur kota Jakarta, tepatnya di daerah Lubang Buaya, PKI sedang mengadakan pertemuan. Dul Arief, pimpinan PKI yang memimpin pertemuan itu, berpidato dengan semangat. Ia berusaha mempengaruhi orang-orang yang hadir agar sejalan dengan pikirannya.

“Kita semua mempunyai tugas yang penting, yaitu mengamankan Presiden dan keluarganya. Sekarang ini para petinggi TNI yang tergabung dalam “Dewan Jenderal” sedang merencanakan kudeta terhadap Presiden. Karena itu kita harus bertindak untuk menggagalkan rencana kudeta itu,” kata Dul Arief berapi-api. “Kita harus menghabisi Jenderal-Jenderal jahat itu sebelum mereka melaksanakan niat busuk mereka menguasai negara itu.”

Semua yang hadir mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka percaya semua yang dikatakan Dul Arief adalah benar. Tmbullah kebencian di hati mereka terhadap jenderal-jenderal yang dikatakan akan melakukan kudeta itu. Pertemuan itu berhasil menanamkan keyakinan di hati mereka. Jenderal-jenderal itu harus dibunuh!

Hari itu itu fitnah keji telah ditebarkan. Kebenaran telah diputarbalikkan. Sebenarnya PKI-lah yang akan melakukan kudeta. “Dewan Jenderal” yang disebut-sebut itu tidak pernah ada. Para jenderal itu justru berniat menggagalkan usaha PKI melakukan kudeta. Karena itu mereka harus disingkirkan. Karena menjadi penghalang bagi terwujudnya niat busuk PKI.

***

Jumat, 1 Oktober 1965, pukul 03.15 dinihari. Sebuah truk dan sebuah jip yang berisi gerombolan PKI berhenti di depan rumah di Jalan Sumenep 17. Itulah rumah Mayor Sutoyo Siswomiharjo.

Anggota gerombolan berlompatan turun dari kendaraan. Mereka menyebar ke posisi yang telah direncanakan. Sebagian masuk ke rumah, sebagian lainnya mengamankan Jalan Sumenep.

Mereka yang bertugas di luar langsung melarang kendaraan atau orang memasuki Jalan Sumenep. Saat itu ada beberapa orang Hansip yang sedang berjaga di beberapa rumah tetangga Sutoyo. Gerombolan itu mendatangi para Hansip. Mereka menodongkan senapan, menyuruh Hansip-Hansip itu diam. Hansip-Hansip itu langsung lemas. Selama bertugas, belum pernah sekalipun mereka ditodong dengan senjata. Maka Hansip-Hansip itu pun gemetaran. Salah seorang dari mereka malah sudah pipis di celana.

Kelompok penculik yang masuk dari belakang rumah, langsung menodong pembantu rumah tangga yang baru terbangun karena mendengar suara gaduh. Salah seorang dari penculik itu merampas kumpulan kunci yang dibawa oleh si pembantu. Dengan kunci itu mereka membuka pintu-pintu dan bergerak ke bagian depan rumah.

Bunyi gaduh itu membangunkan para penghuni rumah.

Dari dalam sebuah kamar terdengar suara seorang lelaki berteriak, “Siapa?”

Salah seorang anggota gerombolan menjawab, “Saya dari Malang.”

“Dari Malang? Siapa?” tanya orang di kamar lagi.

Kali ini yang menjawab anggota gerombolan yang lain lagi, “Saya Hansip dari Hotel Indonesia.”

Pasukan yang datang dari depan rumah menggedor-gedor pintu dengan kasar. Menimbulkan suara gaduh di pagi buta itu.

Kembali terdengar suara dari dalam kamar, “Siapa itu?”

Mereka menjawab dengan suara keras, “Pak Toyo! Cepat buka pintu! Bapak dipanggil Presiden!”

Bu Toyo yang sudah terbangun segera menuju pesawat telpon. Ia ingin mengecek apa benar ada panggilan Presiden untuk suaminya. Tapi sambungan telepon telah diputus. Bu Toyo langsung merasa cemas. Badannya langsung lemas. Apalagi saat itu ia memang sedang sakit. Bu Toyo melupakan sakitnya sejenak. Ia menyelinap ke rumah tetangganya untuk pinjam telepon.

Bu Toyo berhasil tiba di rumah tetangganya, Jaksa Agung Brigjen Suthardio. Tapi sebelum Bu Toyo mengatakan apa-apa, sambungan telepon itu juga putus. Bu Toyo pun memutuskan untuk kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, Bu Toyo terkejut melihat perabotannya sudah hancur berantakan.

Brigjen Sutoyo keluar dari kamar. Ia menghampiri pintu depan dan membukanya.

Di depan pintu, telah menunggu orang-orang berseragam, bersenjata, dan berwajah beringas.

“Bapak diminta keluar menemui Dan Ton. Ia membawa surat perintah dari Paduka Yang Mulia Presiden. Bapak diminta datang ke Istana,” kata salah seorang anggota gerombolan.

Sutoyo yang masih memakai piyama melangkah keluar. Beberapa anggota gerombolan mengiringinya.

Sesampainya di luar geromboloan itu memaksa Sutoyo naik ke atas truk. Tentu saja Sutoyo tidak mau. Ia belum siap untuk pergi. Tapi gerombolan itu mendorong dan menarik tubuhnya dengan kasar. Babarapa dari mereka malah menusuk-nusuk tubuh jenderal itu dengan bayonet di ujung senapannya.

Bu Toyo yang berada dalam rumah berusaha melihat apa yang terjadi dengan suaminya. Kondisinya yang lemah membuat pandangannya tidak jelas. Ia hanya bisa melihat kilatan pisau bayonet para penculik itu. Kemudian ia melihat suaminya dipaksa naik truk. Bu Toyo cemas dan bingung. Ucapan yang keluar dari mulutnya hanyalah, “Piye?” atau “Bagaimana ini?”

Di dalam truk, Sutoyo disuruh duduk di lantai bak truk bagian depan, menghadap ke belakang. Matanya ditutup kain lusuh. Kedua tangannya diikat. Sutoyo tidak tahu akan dibawa ke mana. Ia juga tidak tahu bahwa dirinya telah menjadi korban fitnah keji dari PKI. Saat itu Sutoyo tidak tahu, di Lubang Buaya nanti, siksaan yang lebih pedih telah menantinya….[Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT