Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Kapten Pierre Tendean korban G30S/PKI: Pahlawan Muda

Jum'at, 29 September 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1760 Kali

Menko Hankam/Kasab Jenderal AH Nasution menjadi target utama PKI. Petinggi TNI itu merupakan sandungan terbesar bagi rencana busuk PKI untuk merebut kekuasaan negara. Karena itu Nasution harus dilenyapkan.

Menjelang subuh, rumah Jenderal Nasution di Jalan Teuku Umar nomor 40 masih sepi. Rumah asri yang halamannya dipenuhi tanaman itu tampak remang-remang. Lampu-lampu hanya terdapat di bagian depan rumah utama. Paviliun yang ditempati para penjaga piket juga tampak terang. Di depan rumah jaga itu ada Praka Omon. Ia kelihatan sudah mengantuk. Praka Omon berusaha mati-matian untuk tetap terjaga. Ia tidak boleh tertidur saat berjaga begini. Mata Omon yang mengantuk menatap ke arah rumah besar di sebelah kanannya. Ia melihat komandan jaga Serda Isak dan Praka Otang. Omon memalingkan kepalanya ke sebelah kiri rumah besar. Di sana ada ruang ajudan. Saat ini yang sedang bertugas adalah Komisaris Polisi Hamdan Mansyur.

Dengan lesu Omon menatap arlojinya. Sudah pukul 4 pagi.

“Sebentar lagi…,” desah Omon. Lalu ia menguap. Heran, mengapa kantuk ini susah sekali ditahan, ya? Padahal biasanya Omon tidak pernah mengantuk kalau sedang berjaga malam.

Omon ingat pada temannya, Praka Jamuri yang berjaga di bagian belakang rumah. Mengantuk apa tidak ya dia?

Omon mentap jalan raya yang gelap dan sunyi. Hanya trotoar yang tampak temaram oleh sinar lampu neon yang redup. Omon makin sulit menahan kantuknya. Berkali-kali ia menguap. Berkali-kali pula mengusap wajah dan mulutnya.

Tiba-tiba terdengar deru kendaraan dari kejauhan. Sepertinya kendaraan berat. Bus atau truk. Eh, malah bukan cuma satu. Mungkin ada tiga atau empat kendaraan. Wah, siapa yang datang pagi-pagi buta begini?

Makin lama bunyi kendaraan itu terasa makin dekat. Lalu tampaklah kendaraan-kendaraan itu. Satu buah Gaz, dua Web, dan tiga buah truk. Mobil-mobil besar itu mengurangi kecepatan ketika berada dekat rumah Jenderal Nasution.

Seketika kantuk Omon hilang. Ia heran ada rombongan mendatangi rumah atasannya sepagi ini. Omon pun siaga.

Lalu dari dalam kendaraan-kendaraan itu berlompatan orang-orang berseragam militer. Yang pertama dilihat Omon adalah pasukan pengawal presiden, Cakrabirawa. Omon mengenali seragam dan atributnya. Lalu ada pasukan lain lagi. Terakhir adalah pasukan berseragam hijau, sukarelawan Pemuda rRakyat. Semua anggota pasukan itu memakai tanda kain kuning di leher. Pasukan itu berjumlah kurang lebih seratus orang. Mau apa ya mereka? Seperti mau perang saja.

Belum hilang rasa heran Omon ketika beberapa orang dari mereka menodongkan senjata ke arahnya.

“Jangan bergerak! Serahkan senjata!” bentak salah seorang penodongnya.

Omon tidak berdaya ketika senjatanya dilucuti. Ia lalu digiring keluar dari halaman rumah. Omon disuruh duduk di trotoar. Ia tidak berani bergerak. Laras senjata begitu dekat dengan kepalanya.

Pasukan itu langsung menyebar ke seluruh bagian rumah. Mereka mendatangi rumah jaga piket. Serda Isak dan Praka Otang langsung disergap dan dilucuti senjatanya.

Komandan pasukan penculik itu, Pelda Jahurup, mendekati Serda Isak.

“Jenderal Nasution ada?” tanya Jahurup dengan suara galak.

“Ada. Sedang tidur,” jawab Isak. Sampai saat itu ia tidak tahu maksud kedatangan pasukan itu. Isak menyangka mereka adalah tamu-tamu Nasution.

Pelda Jahurup, Kapten Hargiono, dan Pratu Sulemi—ketiganya angota pasukan Cakrabirawa—membuka pintu depan rumah induk. Rupanya pintu dalam keadaan tidak terkunci.

Di dalam rumah, Bu Nasution yang sedang terjaga, mendengar keributan di depan rumahnya. Ia heran sepagi ini ada banyak orang di depan sana.

Saat pasukan penculik melumpuhkan para pengawal di rumah Nasution, Sukarelawan Pemuda Rakyat memasuki rumah Dr. Leimana yang berada di sebelah rumah Nasution. Mereka menyergap para pengawal di rumah itu. Pengawal yang terdiri dari anggota Brimob itu tidak berdaya menghadapi serangan yang datang dengan tiba-tiba.

Salah seorang pengawal Dr. Leimena, Abrip. Karel Sasuit Tubun, berusaha melawan. Tapi jumlah penyerang lebih banyak. Pemuda asal Maluku Tenggara itu pun tewas di tangan orang-orang kejam itu. Entah berapa butir peluru bersarang di tubuhnya.

 Ketika keributan berlangsung di ruang ADC yang terletak di sebelah kanan rumah besar, Lettu Pierre Tendean sedang tidur. Ia sedang istirahat setelah berjaga selama 24 jam. Pierre akan berangkat ke Semarang bersama iparnya. Di sana akan diadakan acara peringatan ulang tahun ibu Pierre. Perjalanan ke Semarang lumayan panjang. Karena itu Pierre berusaha tidur nyenyak, supaya tubuhnya segar.

Kompol Hamdan Mansyur yang bertugas menggantikan Pierre, sedang terkantuk-kantuk.

Kegaduhan di sekitar rumah membangunkan keduanya.

Bunyi rentetan tembakan yang begitu gencar, membuat Pierre siaga. Keselamatan Jenderal Nasution terancam. Pierre harus bisa melindungi atasannya itu. Ia segera mengenakan jaket coklat dan celana militer.

Pierre melihat Janti, puteri Nasution, keluar dari pintu belakang bersama pengasuhnya. Janti masih mengenakan pakaian tidur. Ia menangis ketakutan. Rupanya Janti dan pengasuhnya berhasil melarikan diri melalui jendela.

Pierre mengajak Janti ke kamarnya. Ia menyuruh Janti tidur.

“Janti tenang saja, ya? Jangan takut. Om Pierre akan melihat Papa dan Mama,” kata Pierre dengan senyum menenangkan. Ia menoleh ke arah pengasuh Janti. “Mbak. Jaga Janti.”

Pengasuh itu mengangguk-angguk. Rasa takut yang amat besar membuatnya tak bisa bicara.

Pierre menyambar senjatanya dan langsung melesat keluar.

Dengan cepat Pierre berlari ke rumah besar. Tapi di jalan ia dicegat oleh Pratu Edris, anggota Cakrabirawa.

Dalam sekejap anggota Cakrabirawa yang lain mengepung Pierre. Mereka mendorongkan senjata ke arah ajudan Nasution itu.

“Siapa kamu?” bentak Edris.

“Saya Jenderal Nasution!” jawab Pierre tegas. Ia sengaja berbohong untuk melindungi atasannya. Orang-orang ini pasti punya niat buruk. Jenderala Nasution tidak boleh jatuh ke tangan mereka.

“Kamu bohong! Siapa kamu?” ulang Edris.

“Saya Nasution,” Pierre tetap dengan jawabannya.

Rupanya ada seorang anggota pasukan yang melapor ke dalam tentang tertangkapnya Nasution. Jahurup pun kelauar dari rumah besar.

Pakaian dan senjata Pierre dilucuti. Pierre didorong dengan kasar dan dipaksa untuk duduk di bawah pohon. Dengan gerakan kasar orang-orang itu mengikat Pierre.

Jahurup menatap Pierre yang telah tak berdaya. Ia begitu yakin yang telah ditangkap oleh pasukannya itu adalah Jenderal Nasution. Padahal di dalam rumah tadi ia sempat melihat Nasution sekilas ketika pintu kamarnya dibuka oleh Bu Nasution. Jahurup menyangka Nasution meloloskan diri melalui pintu belakang.

Jahurup meniup peluit tanda misi telah berakhir.

Juhurup menatap Pierre dengan pandangan kejam dan mengejek.

“Bendiri!” bentak Jahurup.

Dengan susah payah Pierre bangkit. Anggota pasukan penculik itu langsung mendorong-dorong tubuhnya. Pierre sempoyongan. Ia berusaha tidak jatuh.

Orang-orang beringas itu berteriak-teriak kegirangan.

“Ini Nasution! Ini Nasution” teriak mereka sambil menunjuk-nunjuk Pierre. Mereka mengejek Pierre yang mereka sangka Jenderal Nasution.

Teriakan penuh ejekan itu terdengar oleh Omon dan Isak. Mereka menangis sedih karena menyangka Jenderal Nasution tertangkap.

Pierre didorong-dorong sampai ke mobil para penculik. Lalu dengan dorongan tangan dan laras senjata, Pierre dipaksa masuk ke kandaraan itu. Jahurup menendang-nendang tubuh Pierre dengan kejam.

Pierre diruruh berbaring telungkup di lantai bak belakang kendaraan itu. Anggota Cakrabirawa duduk di bangku di kiri kanan Pierre. Mereka kelihatan puas dengan hasil kerja mereka.

Tubuh Pierre terguncang-guncang selama dalam perjalanan. Pierre tidak tahu ia akan dibawa ke mana. Tak tahu pula apa rencana orang-orang ini. Mantap sudah tekad dalam hati pemuda itu. Ia akan menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Pierre tak peduli pada penderitaannya sendiri. Dalam keadaan sengasara begitu, ia masih bisa bersyukur. Karena atasannya, Jenderal Nasution, selamat.[Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT