Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kisah Letnan Jenderal Anumerta M.T. Haryono Korban G30S/PKI: Manusia Kejam Berhati Hewan

Kamis, 28 September 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 3096 Kali

MT Haryono merasa amat bersyukur ketika menerima kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal pada tanggal 1 Juli 1964. Sebagai seorang prajurit, kenaikan pangkat adalah sesuatu yang membanggakan. Bukti dari buah pengabdiannya pada negara. Tapi MT Haryono tidak mau larut dalam kegembiraan dan kebanggaan yang berlebihan. Karena kenaikan pangkat juga berarti bertambahnya beban dan tanggung jawab terhadap negara ini.

MT Haryono sangat kritis dalam membina organisasi dan administrasi Angkatan Darat. Justru pada saat itulah Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang gencar-gencarnya merongrong TNI Angkatan Darat. Mereka berusaha memecah belah dan menghancurkan personil, organisasi, dan keutuhan TNI-AD. MT Haryono dianggap sebagai salah satu penghalang gerakan PKI. Maka lelaki setengah baya yang ramah itu pun menerima berbagai ancaman. Tapi MT Haryono adalah prajurit sejati. Ancaman seperti apa pun tak akan menyurutkan langkahnya untuk tetap membela keutuhan TNI-AD. Karena itu juga berarti membela keselamatan negara. Bayangkan, bagaimana nasib bangsa ini bila angkatan bersenjatanya terpecah belah?

Dilingkungan kerjanya, MT Haryono disukai, baik oleh atasan atau bawahannya. Ia adalah contoh perwira yang sangat ramah dan rendah hati. Tapi juga keras dalam mempertahankan kebenaran.

Di rumahnya, MT Haryono adalah kepala rumah tangga yang dicintai isteri dan anak-anaknya. Ia sangat sabar. Isteri dan anak-anaknya hampir tak pernah melihatnya marah. MT Haryono juga sangat kerasan di rumah. Ia jarang pergi kalau bukan untuk urusan dinas atau keperluan penting lainnya. MT Haryono lebih senang menghabiskan waktu luangnya di rumah, berkumpul bersama isteri dan anak-anaknya. Pada saat itulah ia bisa mencurahkan kasih sayangnya kepada keluarga. Pada sat itu pula MT Haryono bisa mengawasi langsung perkembangan anak-anaknya. Memberi mereka nasihat, atau menegur bila mereka berbuat salah. Ah, sungguh keluarga yang harmonis….

Meski pangkatnya tinggi, MT Haryono hidup sederhana. Ia tidak hanyut dalam arus kemewahan yang bisa didapat dengan jalan sesat.

Hari-hari belakangan ini, MT Haryono sedang tidak enak badan. Ia sering merasa deman, kadang kepalanya pusing.

“Ah, mungkin aku terlalu capek bekerja,” kata MT Haryono dalam hati.

Isteri MT Haryono cemas melihat keadaan suaminya.

“Sebaiknya Bapak cepat periksa ke dokter,” kata Bu Haryono.

Semula MT Haryono menolak. Karena menurutnya itu sakit ringan saja. Tapi setelah dipaksa, akhirnya MT Haryono pergi juga ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD).

Di rumah sakit, dokter memeriksa MT Haryono. Setelah pemeriksaan selesai dokter menemui MT Haryono. Ia tersenyum.

“Bapak sehat-sehat saja. Tidak ada satu penyakit pun yang saya temukan,” kata dokter. “Mungkin sebaiknya Bapak perbanyak istirahat saja.”

MT Haryono lega mendengar keterangan dokter.

Tapi sampai keesokkan harinya, MT Haryono masih saja merasa tidak enak badan. Hal itu membuatnya cemas.

“Wah, pertanda apa ini, ya?” tanyanya dalam hati.

MT Haryono tidak menceritakan kecemasannya kepada isterinya. Ia tidak mau isterinya ikut mencemaskan hal yang tidak pasti.

Ternyata Bu Haryono juga menyembunyikan sesuatu dari suaminya. Suatu malam ia mendapat mimpi aneh. Dalam mimpinya itu, Bu Haryono melihat suaminya dalam sebuah kamar bersama Jenderal Gatot Subroto. Tiba-tiba kedua jenderal itu menghilang. Bu Haryono pun terbangun. Ia beristighfar berkali-kali.

Sampai beberapa hari Bu Haryono terus memikirkan mimpinya. Ia takut sesuatu yang buruk akan menimpa suaminya. Tapi ia tidak berani bercerita pada suaminya soal mimpi itu. MT Haryono yang tidak percaya hal-hal yang berbau takhayul pasti akan marah. Haryono juga berharap semoga mimpinya itu hanyalah bunga tidur belaka.

Tapi kemudian Bu Haryono melihat keanehan terjadi pada suaminya. Belakangan ini MT Haryono selalu kelihatan murung, tidak ceria seperti biasanya. Ia juga tidak banyak bicara. Bahkan kepada anak-anak pun MT Haryono hanya bicara seperlunya saja. Padahal biasanya ia sangat suka bercanda dengan kelima anaknya.

Lebih aneh lagi, MT Haryono punya kebiasaan baru yang ganjil. Setiap malam ia duduk seorang diri di pekarangan rumahnya, di antara tanaman anggrek. Sikapnya seperti orang yang sedang bersemedi. Sebagai seorang isteri, Bu Haryono mempunyai perasaan yang tidak enak.

Dalam salah satu kesempatan, saat mereka sedang berdua, Bu Haryono bertanya pada suaminya mengenai kebiasaan barunya itu.

MT Haryono tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja sambil memandang isterinya lama sekali.

Entah kenapa Bu Haryono merasa pandangan suaminya aneh sekali. Bahkan senyumnya pun terlihat berbeda. Padahal sudah sangat sering Bu Haryono melihat suaminya tersenyum. Kenapa senyumannya kali ini terlihat aneh, ya? Bu Haryono berusaha menyingkirkan pikiran buruk dari benaknya.

***

Jumat dinihari tanggal 1 Oktober 1965, gerombolan pemberontak G-30-S/PKI mengirim satu pasukan untuk menculik Mayor Jenderal MT Haryono. Perintah itu diberikan oleh Untung di Lubang Buaya. Dul Arief, yang menerima perintah itu, menunjuk Bungkus sebagai pimpinan pasukan penculik.

Pukul 4 dinihari, pasukan penculik tiba di rumah MT Haryono di Jalan Prambanan nomor 8. Dengan gerakan cepat pasukan itu mengepung rumah MT Haryono. Mereka mendobrak pintu depan hingga jebol.

Bu Haryono terbangun mendengar bunyi pintu didobrak. Ia akan membangunkan suaminya. Tapi diurungkan niatnya. MT Haryono tidur lelap sekali. Seharian kemarin ia menghadiri rapat para teknisi di Istora. Bu haryono tidak tega membangunkan suaminya. Setelah merapikan rambut dan pakaiannya, Bu Haryono keluar dari kamar.

Bukan main terkejutnya Bu Haryono melihat beberapa orang berseragam militer dan bersenjata berada dalam rumahnya. Orang-orang itu sama sekali tidak ramah. Tampang mereka terlihat sangat kejam. 

Bungkus, pimpinan gerombolan, melihat ke arah Bu Haryono.

“Bapak mana?” tanya Bungkus dengan bentakan.

Tentu saja Bu Haryono kaget. Kurang ajar sekali orang ini.

“Bapak sedang tidur,” jawab Bu Haryono sambil menahan marah melihat kekurangajaran orang tak dikenal itu.

“Kami perlu bicara dengan Bapak. Bangunkan!” bentak Bungkus lagi.

Bu Haryono pun kembali ke kamarnya. Biar Bapak yang menghadapi orang-orang ini, kata Bu Haryono dalam hati.

Bu Haryono membangunkan suaminya.

“Pak, bangun. Ada yang mau ketemu Bapak. Penting katanya,” kata Bu Haryono.

MT Haryono yang masih mengantuk, membuka matanya.

“Suruh kembali lagi nanti jam delapan. Bapak capek, Bu. Masih ngantuk,” jawab MT Haryono dengan suara pelan.

Bu Haryono belum sempat bicara apa-apa ketika pintu kamar didobrak dan dihujani peluru oleh Bungkus.

Kontan saja MT Haryono bangun dengan sigap. Ia berniat mengambil pistol. Tapi kemudian ingat, kebiasaannya. MT Haryono tidak pernah membawa pulang senjatanya.

Bungkus dan beberapa orang lainnya masuk dan menodongkan senapann ke arah MT Haryono. Dengan gesit MT Haryono menyambar laras senapan Bungkus dan berusaha merebutya.

Segera saja Bungkus dan anak buahnya menghujani tubuh MT Haryono dengan peluru. Tubuh jenderal itu pun rubuh ke lantai bermandi darah.

Bu Haryono berusaha menahan jeritannya. Bukan main sedih dan hanucur hatinya melihat suami tercinta dianiaya di hadapannya.

Gerombolan penculik itu langsung menyeret tubuh MT Haryono, meninggalkan bekas darah di lantai.

Sesampainya di luar, orang-orang kejam itu melemparkan tubuh MT Haryono ke dalam truk. Lalu mereka pun meluncur ke Lubang Buaya.

Hati Bu Haryono hancur luluh. Ingin rasanya ia menangis meraung-raung untuk mengungkapkan betapa dalam duka yang dirasakannya. Tapi ia berhasil mengasai dirinya. Bu Haryono ingat anak-anaknya. Mereka tidak boleh bangun saat ini. Bagaimana perasaan mereka kalau melihat ceceran darah di lantai? Darah ayah mereka.

Dengan hati pilu, Bu Haryono membersihan bekas darah di lantai. Sapai saat ini ia tidak tahu apa salah suaminya hingga orang-orang kejam berhati hewan itu tega menghabisinya. 

Setelah salat Subuh, Bu Haryono pergi ke rumah Mayor Jenderal S. Parman, rekan suaminya. Ia akan menceritakan kejadian yang dialaminya.[Bahrudin Supardi]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT