Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

TAMAN NASIONAL (Pulau Jawa)

Minggu, 30 April 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 395 Kali

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berada di wilayah tiga Kabupaten, yaitu :Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Luas seluruhnya adalah 21.975 hektar.  Ditetapkan sebagai Taman Nasional tahun 1980, di bawah pengawasan dan binaan Departemen Kehutanan R.I. .

Untuk mengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, seluruh kawasan dibagi dalam tiga Seksi Konservasi Wilayah (SKW), yaitu SKW I di Selabintana, SKWII di Bogor, dan SKW III di Cianjur, beserta 13 resort penglolaan dengan tugas  melindungi dan mengamankan seluruh kawasan Taman Nasional Gunung Pangrango. Kantor Penglola berada di Cibodas.

Taman Nasional Gunung Pangrango oleh UNESCO ditetapkan sebagai Cagar Biosfir (1977) dan sebagai Sister Park Taman Negara Kerajaan Malaysia (1995). Keadaan alamnya yang khas dan unik menjadikan Taman nasional ini sebagai laboratorium alam yang  banyak menarik para peneliti.

Sebenarnya, Gunung Gede Pangrango sudah dikenal sejak abad ke 19.  Walaupun sekarang tampak tenang, tetapi menurut para ahli gunung ini masih aktif dengan memacarnya uap air dan gas. Gunung Gede pernah meletus pada tahun 1747 dan paling dahsyat letusan bulan November 1840 sampai dengan maret 1841. Letusan terakhir tahun 1957.

Di zaman Pemerintahan  Kolonial Belanda, Kebun Raya Cibodas dan areal hutan seluas 240 hektar(1889) ditetapkan sebagai percontohan flora pegunungan pulau Jawa dan karenanya kawasan tersebut dinyatakan sebagai Hutan Lindung. Tahun 1925,  daerah puncak Gunung Gede, Gunung Gemuruh, Gunung Pangrango, daerah Sungai Cibodas,  dan Ciwalenyang,  yang selurunya memiliki luas 1040 hektar dinyatakan sebagai Cagar Alam dengan nama “Cagar Alam Cibodas Gunung Gede”. Akhirnya pada tahun 1980 semua daerah disatukan dan lahirlah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan luas 15.196 hektar. Pada perkembangannya tahun 2003 terjadi perluasan dengan menyatukan hutan-hutan di sekitarnya, sehingga luas Taman Nasional menjadi 21.975 hektar. Di kawasan ini ada tiga sungai yang menyatu di bawah air terjun Cibereum yang kemudian membentuk satu sungai, yaitu sungai Cikundul.

 Menurut catatan, lereng gunung paling tenggara pernah dikunjungi oleh Sir Thomas Raffles (1811) .  Setelah itu, gunung ini pernah didaki oleh C.G. C. Reinwardt  ( 1819), F.W. Junghuhn ( 1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861),S.H. Kooders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911), dan C.G.G.J.van Steenis ( 1920-1952), semuanya sudah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku “The Mountain Flora of Java” (972). 

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, kedua gunung ini memiliki ekosistem yang berbeda : ekosistem sub montana pada ketinggian 1.000-1500 mdpl; ekosistem montana pada ketinggian 1.500-2.900 mdpl; dan ekosistem sub alpine pada ketinggian di atas 2.400 mdpl.

Pada ekosistem sub montana, tumbuh pohon-pohon yang besar dan tinggi dengan tiga strata tajuk. Jenis yang dominan dengan ketinggian 60 m adalah Altingia axcelsa dan Castanops argentea; Yang dengan ketinggian 10-20 m adalah Antidesma tetandrum dan Litsea sp; dan yang  berupa belukar (3-5 m) adalah Ardisia fuliginosa dan Dichora febrifuga.

 Pada ekosistem montana terdapat hutan dengan keragaman jenis yang mulai menurun dan ditandai dengan sedikitnya tumbuhan bawah. Jenis pohon yang dijumpai seperti : jamuju ( Dacrycarpus imbricatus) dan puspa ( Schima wallichii).

Pada area sub alpine terdapat dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangerensis, bunga eidelweis ( Anaphalis javanica), violet ( Viola pilosa), dan canting ( Vaccinium varingiaefolium). Kawasan taman Nasional ini juga memiliki ekosistem savanna dan rawa.  Suhu tercatat rata-rata antara 10- 18 derajat C.              

Sejumlah satwa yang hidup di kawasan Taman Nasional Gunung Gede banyak yang sudah terancam punah. Beberapa di antaranya : owa ( Hylobates moloch), surili (Presbytis comate comate), lutung budge ( Tracyoithecus auratus auratus), macan tutul (Panthera pardus melas), landak jawa (Hytrix brachura),  kijang ( Muntiacus muntjak muntjak),  musang tenggorokan kuning ( Martes flavigula), anjing hutan (Cuon alpinus javanicus), kucing akar ( Mustela flavigula) sigung ( Mydaus javanensis) dan kancil ( Tragulus javanicus).

Salah satu usaha menyelamatkan satwa langka seperti Owa jawa (Hylobates moloch), Javan Giboon Center (JGC) tahun 2003 bekerjasama dengan Departemen Kerhutanan dan didukung oleh yayasan Owa Jawa, Concervation International Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango , Universitas Indonesia, dan Slivery Gibbon Project (SGP), merawat Owa jawa yang didapat dari sitaan atau Owa yang diserahkan masyarakat secara sukarela. Setelah sehat dan baik kondisi fisiknya, kemudian dilepas lagi di alam bebas di taman ini.

Owa Jawa merupakan Satwa endemik pulau Jawa yang terancam punah. Dengan adanya usaha rehabibilitasi, diharapkan hewan  langka ini dapat diselamatkan dari bahaya kepunahan akibat rusaknya habitat, perburuan, dan perdagangan oleh manusia.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kaya akan berbagai jenis burung. Dari 451 jenis burung yang terdapat di pulau Jawa, lebih setengahnya terdapat di kawasan Taman Nasional ini. Beberapa jenis diantaranya burung yang sekarang sudah langka seperti : elang jawa ( Spizaetus bartelsi), dan burung hantu ( Otus angelinea), luntur gunung (Harpactes reinwardti),cerecet ( Psaltria exilis) dan burung madu gunung ( Aethpyga eximia).

Karena letaknya yang strategis dekat dengan Jakarta, Bogor, dan Bandung, maka kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berkembang menjadi daerah kawasan Wisata Jawa Barat.

Beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi antara lain:  Alun-alun Suryakencana. Suryakencana dan Prabu Siliwangi  adalah leluhur masyarakat Sunda zaman dulu. Alun-alun Suryakencana seluas 50 hektar  ditutupi bunga edelweiss, berada di ketinggian  2.750 m dpl.

Danau Telaga Biru (5 hektar), air danaunya tampak biru ditimpa matahari akibat dari adanya gangan biru yang tumbuh di dalam danau.

Air terjun Cibereum, mempunyai ketinggian 50 m dan disekitarnya ditumbuhi oleh lumut merah endemik Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Kandang Batu dan Kandang Badak, tempat berkemah di ketinggian 2.220 mdpl.

Puncak dan Kawah Gunung Gede, memiliki panorama yang indah dan menarik.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT