Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

TAMAN NASIONAL (PULAU JAWA)

Rabu, 11 April 2018 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 397 Kali

Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Taman Nasional ini dulu bernama “Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan” dan merupakan hutan tertua di pulau Jawa.

            Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas 43.420 hektar, teridiri dari : Zona Inti ( Sanctuary zone) dengan luas 17.200 hektar, Zona Rimba ( Wilderness zone) dengan luas 24.767 hektar, Zona Penfaatan ( Intensive use zone) dengan luas 250 hektar, dan Zona Penyangga ( Buffer zone) dengan luas 1.203 hektar.

            Taman Nasional yang diresmikan oleh Departemen Kehutanan R.I. tahun 1993 ini merupakan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah.  Curah hujan rata-rata per tahun 1000-1500 mm dengan temperature 22-31 derajat C, serta kelembaban udara 40-85%.  Bagian Barat curah hujan lebih banyak dibandingkan di bagian Timur. Biasanya hujan terjadi pada bulan Oktober hingga April, selebihnya musim kemarau.

            Kawasan Taman Nasional Alas Purwo memiliki topografi datar, bergelombang ringan sampai berat, dengan puncak tertinggi (322 m dpl) terdapat pada gunung Lingga Manis. Keadaan tanah secara umum berupa tanah liat berpasir dan selebihnya berupa tanah lempung.  Beberapa tipe hutan yang tumbuh di Taman Nasional Alas Purwo seperti : hutan bambu, hutan bakau, hutan tanaman, hutan pantai, hutan alam, dan savana.  Hutan bambu merupakan hutan terluas (40%), selebihnya terdapat 584 jenis tumbuhan yang berupa rumput, herba, semak, liana, dan pepohonan.

            Sungai yang terdapat di Taman Nasional ini adalah: sungai Segoro Anak dan sungai Sunglon Ombo.  Sungai di kawasan ini pendek dan dangkal.  Sumber mata air berasal dari Gunung Kencur, Gunng Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Adapun tumbuhan khas dan endemik yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo, antara lain: sawo kecik ( Manilkara kauki) dan bamboo manggong                              ( Ginantochloa manggong).  Tumbuhan lainnya: ketapang ( Terminalia cattapa), nyamplung ( Calophyllum inophyllum), kepuh ( Sterceulia foetida), keben ( Barringtonia asiatica), dan bermacam-macam jenis bambu.

Berbagai satwa liar di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, seperti : lutung budeng ( Trachypithecus autratus auratus),  banteng ( Bas javanicus javanicus),  ajag ( Cuon alpinus javanicus), burung merak ( Pavo muticus), ayam hutan ( Gallus gallus), rusa ( Cervus timorensis russa), macan tutul ( Panthera pardus melas),   babi hutan (Sus Scrofa), kucing bakau ( Prionailurus bengalensis javanensis) dan         kera abu-abu ( Macaca fascicularis),.

Beberapa satwa langka yang dilindungi:  penyu lekang ( lepidochelis olivacea), penyu belimbing ( Dermochelys coriacea), penyu sisik ( Eretmochelys imbricata), penyu hijau ( Chelonia mydas), dan biawak ( Varanus salvator).

Taman Nasional Alas Purwo juga merupakan tempat singgahan 16 jenis burung migran dari Australia yang bisanya  datang dalam bulan Oktober sampai Desember setiap tahunnya. Burung-burung migran itu seperti : cekakak suci ( Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut ( Merops philippinus), trinil pantai ( Actitis hypoleucos),  dan trinil semak (Tringa glareola). Jenis burung lainnya ada 236 jenis, terdiri dari burung darat dan air antara lain :  kangkareng (  Antracoceros coronatus), Rangkok ( Buceros undulates), merak ( Pavo muticus), dan cekakak jawa ( Halcyon cyanoventris).

Masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Alas Purwo umumnya hidup dari bertani dan menangkap ikan. Sebagian besar menganut agama Islam, tetapi ada juga yang menganut agama Hindu.  Namun, pada umumnya mereka dapat digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional yang kental dengan budaya “Blambangan.”    Taman Nasional Alas Purwo  masih dipercaya angker, sebab dulunya sebagai tempat  pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram. Sampai saat ini masih banyak yang bersemadi di dalam kawasan tersebut.

Pantainya yang indah dengan pasir putih yang diselingi hutan pantai, merupakan tempat wisata yang menarik. Di tempat ini ada tempat berkemah di pantai Trianggulasi  atau pantai Ngagelam untuk menyaksikan penyu bertelur.

Pelengkung, sebuah tempat di selatan taman nasional itu  merupakan tempat selancar tingkat dunia yang tak kalah dengan lokasi surfing di Hawai atau Australia. Pelengkung terkenal dengan sebutan “G-Land” berkat letaknya diteluk Granjangan yang menyerupai huruf G.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT