Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

NOVEL PERJUANGAN: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 7 Tokyo Masih Jauh di Sana

Senin, 29 Agustus 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 801 Kali

Tiba-tiba Jiwat muncul di Dalem Pandukusuman. Dia tidak sampai bertanya tentang Ningtyas, tetapi Guntur lebih dulu mengatakannya. Jiwat meradang dan berduka sekaligus.
“Panjenengan tahu, Dimas? Jepang itu tidak punya program untuk menyekolahkan bangsa yang dijajahnya!” katanya sengit. “Seantero Asia Timur Raya dijajah dan dibinasakan tidak untuk dibikin pintar. Bahkan sampai ke daratan Tiongkok dan Amerika mereka cuma merusak dan membinasakan!”
“Oh, saya tidak tahu sampai begitu, Mas.”
“Saya tidak tahu apa yang akan dialami Jeng Ningtyas, tapi saya tahu itu bukan hal yang baik. Saya akan cari info soal itu.”
Entah Jiwat ini orang pintar atau nekat, dia mendatangi markas tentara Jepang, bekas kantor polisi Hindia Belanda dulu. Susah-payah dia menjelaskan maksudnya kepada serdadu yang berjaga. Bukan saja karena kesulitan bahasa, juga karena buat sang serdadu sangat tidak lazim orang jajahan berani-beraninya menyatroni markas tentara Jepang yang lagi berkuasa atas tanah jajahan berikut isinya. Beruntung Jiwat diperbolehkan bertemu dengan opsir yang berpangkat lebih tinggi setelah debat panjang yang tidak saling nyambung. Opsir ini berpangkat letnan satu, namanya Okamura.
Jiwat mengulangi kesulitan bicara dengan repot lagi terhadap Letnan Okamura. Cuma Jepang yang berpangkat tinggi lebih bisa bicara bahasa Melayu daripada yang kroco.
“Donota desu ka?” tanya Okamura setelah Jiwat bicara banyak.
Jiwat tahu pertanyaan itu artinya kamu siapa?
“Saya Miftah Muhammad.”    
Jawaban salah, sebab Okamura bermaksud menanyakan Jiwat itu apanya Kusumaningtyas.
“Itu purumpuan apa kamu punya?” Akhirnya Okamura bertanya begitu. Aksennya payah, tentu saja.
“Dia saya punya kawan.”
“Tuan pigi saja! Urusan militer bukan Tuan punya urusan!”
Jiwat mau ngotot, tapi Okamura sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Jiwat. Jiwat pun diseret pergi. Bahkan ketika dia membelot, dikepruk dengan popor senjata sampai kepalanya berdarah. Di tempat ini telah dua kali kepalanya bocor oleh dua penjajah dari bangsa yang berbeda. Keduanya gara-gara Ningtyas, perempuan yang kini ternyata sangat dicintainya. Mulanya hanya karena semangat menaklukkan gadis ningrat yang sombong dan belandis. Ternyata kemudian dia yang bertekuk lutut karena cinta itu benar-benar ada, menguasai seluruh batin dan jiwa. Tidak masalah si sombong akan memperhitungkannya atau tidak, Jiwat sudah telanjur mati kutu.
Di markas tentara itu ada seorang laki-laki terpelajar seusia Jiwat yang bekerja sebagai penerjemah sekaligus guru bahasa Melayu bagi opsir-opsir Jepang. Namanya Suseki. Nama yang cukup aneh untuk orang Jawa. Orang-orang Jepang di markas itu memanggilnya Suiseki-san, Tuan Suiseki. Mungkin karena di Jepang suiseki itu artinya seni batu alam.
Suseki melihat perlakuan kasar serdadu Jepang terhadap Jiwat. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya prihatin terhadap nasib orang sebangsa setanah airnya. Masih bagus Jiwat dilepaskan begitu saja setelah digebuki, tidak ditahan berlama-lama dijadikan samsak hidup bagi para serdadu yang stres karena kejenuhan terhadap perang.
Malam hari Jiwat baru pulang dari poliklinik untuk mengobati luka-lukanya. Di jalan kecil menuju ke pemondokannya ada sosok lelaki berdiri menghalang jalan, seperti sengaja akan menghentikan laju sepeda kumbangnya.
Jiwat menghentikan sepeda kumbangnya karena dia tidak bisa lewat di jalan sempit dengan seseorang yang berdiri di tengah jalan.
“Nuwun sewu, Mas. Saya mau lewat,” ucap Jiwat sopan untuk menghindari kemungkinan bersitegang dengan orang. Kepalanya sudah luka, jika ribut sekali lagi dengan orang, bisa mati dia dengan sekali kemplang.
“Bung Miftah Muhammad?” tegur orang itu.
“Betul. Panjenengan siapa?”
Orang itu mendekat dan mengajak bersalaman.
“Saya Suseki. Saya terpaksa bekerja dengan orang Jepang supaya mereka bisa berbahasa Melayu daripada memaksa orang kita berbahasa Jepang.”
“Oh, iya. Perbuatan yang mulia kalau panjenengan melakukannya dengan sungguh-sungguh seperti niatnya.”
“Saya juga nasionalis, Bung. Tapi saya cuma bisa melakukan itu. Saya tidak bisa macam Bung berani konfrontasi langsung. Tadi saya lihat Bung di markas.”
“Mungkin itu kebodohan, ya? Saya tidak dapat apa-apa, cuma bikin kepala bocor saja.”
“Saya bisa kasih info buat Bung.”
“Apa saya bisa percaya penjenengan?”
“Sebaiknya begitu. Saya bicara atas nama orang Indonesia, bukan antek Jepang. Bung boleh pancung saya punya kepala kalau ternyata saya bikin agitasi politik atau spionase.”
Untung-untungan saja Jiwat percaya. Kalau Suseki ini mata-mata Jepang, celakalah dia. Kelihatannya Suseki memang bisa dipercaya. Dia memberi informasi tentang gadis-gadis yang dikumpulkan di markas tentara Jepang.
“Serdadu Jepang itu jauh dari tanah airnya selama bertahun-tahun bertempur dari medan perang yang satu ke medan yang lainnya,” kata Suseki mengawali informasinya. “Mereka manusia normal yang punya libido. Coba Bung pikir bagaimana mereka menyalurkan hasrat libidonya?”
“Jadi gadis-gadis itu ….”
“Ini faktanya, Bung. Mereka coba tutup-tutupi ini. Tapi malaikat juga mencatat perbuatan mereka, meskipun sejarah mungkin tidak menulisnya.”
Jiwat merasakan kepalanya yang dibalut itu pusing sekali. Padahal ketika dia digenjot popor saja tidak sepusing ini. Membayangkan Ningtyas bakal menjadi budak pemuas nafsu para serdadu Jepang itu, Jiwat merasakan napasnya pun sesak sampai megap-megap. Kalaupun misalnya Ningtyas bukan siapa-siapa, bukan perempuan yang dicintainya, tetap saja tak sudi membiarkan kekejian itu berlangsung tanpa berbuat apa-apa.
“Di mana mereka sekarang?” tanya Jiwat setelah napasnya agak teratur.
“Saya tidak tahu persis. Di markas itu saya menerjemahkan ucapan perwira Jepang yang memberi pengarahan kepada mereka. Perwira itu bilang mereka akan dibawa ke Tokyo untuk disekolahkan. Tapi omong kosong itu, Bung. Saya pernah dengar para perwira itu ketawa-ketawa bicara tentang jugen ianfu, perempuan-perempuan kita yang direkrut untuk jadi pemuas nafsu di tangsi-tangsi mereka.”
“Apa gadis-gadis itu akan senasib dengan yang panjenengan bilang itu?”
“Saya yakin itu. Mungkin ini kelas eksklusif. Biasanya yang diambil perempuan-perempuan kampung yang ditipu untuk dikasih pekerjaan. Kali ini dibilang akan disekolahkan.”
“Kalau Jepang itu tahu panjenengan kasih info ini, mungkin panjenengan akan dipancung.”
“Cuma Bung yang tahu info dari saya. Kalau saya ketahuan berarti Bung yang bocorkan.”
“Kita saling percaya saja. Pertemuan ini terjadi juga karena kita saling percaya. Panjenengan punya info apa lagi?”
“Gadis-gadis itu dibawa ke Surabaya untuk diberangkatkan ke Filipina. Bukan ke Tokyo.”
“Filipina?”
“Mungkin untuk suplai para perwira Jepang di sana. Maaf, infonya begitu. Saya tidak bermaksud sakiti perasaan Bung.”
“Saya paham. Terus apa lagi?”
“Saya punya banyak kawan yang seideologi dengan saya. Kerja untuk Jepang, tapi jiwa tetap Indonesia. Saya bisa kontak mereka untuk cari info lagi. Tapi bagaimana saya bisa hubungi Bung Miftah? Kita belum tentu bisa ketemu begini lagi.”
“Panjenengan bisa hubungi nomor telepon saya punya famili. Namanya R.M. Setobroto. Dia nasionalis tulen. Panjenengan bisa hubungi kawan-kawan panjenengan supaya saya bisa lacak gadis-gadis itu ada di mana. Pakai bahasa sandi yang mungkin tidak dimengerti Jepang-jepang itu. Ini untuk menjaga keselamatan kita semua.”
“Bisa. Kita pisah dulu, Bung. Pertemuan di jalan ini akan mencurigakan kalau terlalu lama. Saya catat dulu nomor telepon famili Bung itu.”
Terjadilah kesepakatan begitu. Tak dinyana, ternyata masih banyak juga orang kita yang tidak sampai tertipu oleh propaganda Jepang yang menyebut diri mereka sebagai penyelamat bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Orang-orang itu bekerja dengan Jepang untuk mencari penghidupan, bukan menjual kemerdekaan bangsanya sendiri.
Malam itu, Jiwat tidak bisa tidur barang sedetik pun. Pikiran melayang ke mana-mana. Bayangan Ningtyas mendominasi seluruh angan-angannya tentang banyak hal. Pagi-pagi sekali dia ke rumah R.M. Setobroto untuk melaporkan semuanya.
“Allahu Akbar!” seru R.M. Setobroto begitu mengetahui nasib Ningtyas dari penuturan Jiwat. “Tidak dimakan Belanda, sekarang dia diterkam Jepang!”
Buat priayi macam R.M. Setobroto ucapan itu kasar sekali. Mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya dia bicara sekasar itu saking marahnya mengetahui nasib adiknya.
“Tolong selamatkan adik saya kalau masih mungkin, Bung. Berapa pun biaya yang harus saya keluarkan, tidak masalah. Jika nanti Bung tidak sudi lagi menikahi adik saya, juga tidak masalah. Yang penting, selamatkan dia dengan segala daya upaya yang bisa dilakukan.”
“Insya Allah, akan saya perjuangkan, Bung. Saya tidak pikir apa Jeng Ningtyas masih sudi terima saya atau tidak. Saya cuma anggap ini perjuangan untuk anak-anak bangsa saya dan adik Bung Seto. Maaf, saya tidak bisa bicara lebih sopan lagi daripada yang saya bisa.”
“Terima kasih, Bung. Tapi mohon, masalah ini jangan sampai romo ibu saya tahu. Guntur pun tidak boleh tahu. Saya kuatir Romo dan Ibu tidak kuat mendengar ini sampai membahayakan kesehatan beliau. Saya juga kuatir Guntur akan ambil tindakan yang tidak rasionil sampai membahayakan dirinya sendiri. Bung paham sampai pasal ini?”
“Paham, Bung.”
“Kita akur?”
“Akur seratus persen!”
Artinya mereka sepakat.

***

Memang sebaiknya orang-orang Dalem Pandukusuman tidak usah tahu masalah ini. Terlalu berat buat mereka yang sebenarnya menyayangi Ningtyas sebagaimana adanya.
Puri yang juga tidak mengetahui masalah itu sedang berkunjung ke rumah romonya, R.M. Dewobroto. Romonya itu masih jadi wedana, tetapi kini di bawah pemerintahan militer Jepang.
Biasanya setiap kali berkunjung ke sana, Puri lebih banyak bertemu dengan Mami Mieske, ibu tirinya, dan adik-adik seayahnya, Shiane dan Yurike. Ada kejutan luar biasa melihat Mami Mieske berjilbab dan berkacamata abu-abu. Aneh, seperti menyaksikan putri dari Pakistan, Turki, atau negara timur tengah lainnya.
“Mami, bagaimana Mami bisa menjelma jadi putri dari negeri dongeng begini?” seru Puri gegap gempita.
Shiane dan Yurike tertawa-tawa melihat Puri terbengong-bengong begitu.
“Sssst!” Sang Mami, Mieske van Blijenburg, menegakkan telunjuk di depan bibirnya sendiri. “Orang Jepang tidak suka apa-apa yang bau Belanda. Sekarang panggil Ibu, jangan Mami. Lihat itu adik-adikmu,” Mami Mieske lalu berseru kepada anak-anaknya, “Kalian siapa sekarang, Nak?”
“Watakushi no namae was Sinta desu,” sahut Shiane dengan bangga disertai bungkukan badan dalam-dalam seperti serdadu Jepang menghormat.
“Watakushi wa Yunita desu,” sambung Yurike.
Ajaib ini. Dua kalimat bahasa Jepang itu artinya, nama saya Sinta dan saya Yunita.
Jadi, dua orang adik seayah Puri itu kini berganti nama menjadi Sinta untuk Shiane dan Yunita untuk Yurike.
“Terus Mami jadi siapa, sekarang?”
“Ibu.”
“Iya, maaf. Ibu jadi siapa?”
“Miranti Dewobroto. Bagus, ya?”
“Bagus, Mam eh, Bu. Lucu lihat Ibu pakai jilbab.”
“Supaya tidak ketahuan rambut Ibu pirang dan mata agak biru. Kalau ketahuan, takut dibawa ke interniran. Orang Jepang itu main sikat saja apa-apa yang bau Belanda.”
Begitukah teror serdadu Jepang selama mereka ngacak-ngacak tanah air ini? Sampai Mami Mieske pun takut dibawa ke interniran, tempat tawanan sipil orang-orang Belanda. Konon banyak yang menjadi gila karena tidak tahan siksaan, terutama kaum perempuan.
Bagus juga jilbab dan nama Miranti buat Mami Mieske meskipun itu terjadi bukan karena kesadaran diri sendiri. Sinta dan Yunita juga nama yang lebih membumi, sayang karena takut Jepang.
Setelah bicara-bicara begitu, Sinta dan Yunita pamit pergi ke guru bahasa Jepang. Tinggal Puri berdua Ibu Miranti alias Mami Mieske. Ibu Miranti bertanya tentang banyak hal kepada anak tirinya itu seperti biasanya. Tentang kesehatan orang-orang di Dalem Pandukusuman, dan terakhir soal Sasongko.
“Gadis Jawa seumurmu sudah telat, lho. Berapa umurmu sekarang?”
“Dua puluh tiga tahun, Mam … eh Bu ….”
“Ibu saja dulu sudah punya Yunita waktu seumurmu. Apa masalahnya sampai belum kawin juga? Jangan niru Ningtyas. Dia itu lain, tidak bisa ditiru.”
“Tidak mau niru Tante Ningtyas, tapi yah … masalahnya sulit, Bu.”
Puri curhat juga kepada ibu tirinya itu tentang masalahnya dengan Sasongko.
“Kamu cinta dia?”
Puri tidak menjawab. Hanya menunduk dan pipinya bersemu dadu.
“Sasongko juga cinta kamu?”
“Inggih, Bu. Kelihatannya begitu.”
“Kalau begitu kenapa lagi?”
“Mas Sasongko sudah punya Damar Galih.”
“Siapa itu?”
“Putranya. Ibunya sudah meninggal setelah melahirkan dia.”
“Jangan salahkan Tuhan menciptakan Damar Galih di antara kalian. Kalau Tuhan mau ciptakan Damar Galih, ya terjadilah. Tapi Tuhan belum tentu mengonsep Damar Galih sebagai penghalang bagimu. Dulu kamu dan Guntur juga tidak jadi penghalang Ibu untuk menerima romomu.”
Kalimat-kalimat itu lugas sekali. Hanya bisa diucapkan oleh orang semacam Ibu Miranti yang setengah Belanda.
Puri memikirkan juga ucapan ibu tirinya itu.

***
Sasongko sedang berada di ruang guru pada jam istirahat kelasnya. Genap setahun dia mengajar di sekolah itu. Damar Galih pun sudah berumur dua setengah tahun. Tak perlu dininabobokkan dengan biola lagi kalau dia mau tidur. Hanya sering bertanya ibunya di mana kok tidak seperti ibu teman-temannya yang ada di rumah. Sasongko tidak pernah bisa menjawab pertanyaan anaknya itu.
Saat dia merenung-renung di ruang guru, ada tamu seorang perempuan berjilbab dengan kacamata abu-abu. Wajahnya kemerah-merahan seperti perempuan Belanda.
“Saudara Sasongko?” tanya perempuan itu. “Saya Ibu Miranti Dewobroto.”
Nama Dewobroto yang disebutkan cukup membuat degup jantung Sasongko menggebu.
“Oh, iya Ibu.” Sasongko menyalami tangan Ibu Miranti Dewobroto. “Saya Sasongko. Apa …. Maaf, apa ada hubungannya dengan Jeng Puri? Mohon maaf kalau saya keliru.”
“Saya seorang ibu yang tidak suka anaknya ditelantarkan oleh ketidakpastian. Saudara paham? Kalau Saudara memang tidak suka anak saya, Saudara putuskan saja secara terang. Kalau Saudara cinta betul, Saudara harus action. Laki-laki itu harus jantan, tidak bagus jadi pengecut.”
Sasongko terhenyak oleh berondongan kata-kata setandas dan selugas itu. Sungguh dia baru pertama kali ini jumpa dengan perempuan itu meskipun tentang dia sering didengarnya dari Puri. Ibu tiri yang spektakuler, kata Puri dulu. Rupanya inilah orangnya, yang berjilbab untuk menutupi rambut pirangnya, yang berkacamata abu-abu untuk kamuflase warna biru matanya.
Sampai saat Ibu Miranti Dewobroto berpamitan, Sasongko masih termangu-mangu. Dia mengenal satu lagi pribadi yang tidak lazim dari keluarga besar Pandukusumo. Itu cukup membuatnya menyadari kekeliruan diri sendiri.
Akan tetapi, sampai setahun kemudian keberanian Sasongko belum terkumpul juga.

***

Di mana Ningtyas sebenarnya? Dia belum sampai menyadari kekeliruannya bermimpi sekolah di Tokyo ketika dikumpulkan bersama sepuluh orang yang semimpi dengannya. Ada yang sudah dikenalnya, ada yang baru di markas tentara Jepang itu bertemu. Setelah diberi pembekalan yang diterjemahkan oleh seseorang di sana, mereka lalu dibawa dengan truk militer. Tentara Jepang yang membentak-bentaknya ketika naik truk tidak dipermasalahkan karena bahasa Jepang memang bahasa jantan, penuh tekanan pada setiap suku katanya. Ketika Jepang itu berbahasa Melayu pun penuh bentakan.
Ningtyas merasa ada yang salah ketika ia tidak diizinkan menghubungi Dalem Pandukusuman melalui telepon. Bahkan semua perhiasan yang dipakai gadis-gadis itu pun dikumpulkan dan disimpan oleh seorang serdadu entah di mana.
“Sebenarnya kita mau dibawa ke mana ini?” tanya Ningtyas kepada teman yang duduk di sebelahnya. Itu teman sekota dan sudah lama dikenalnya. Ia anak seorang pegawai pamong praja bernama Sulastri
“Tokyo, seperti tujuan kita.”
“Maksudku, kita mau diapakan? Dari Solo sampai ke sini kita dibentak-bentak terus. Apa begini cara orang Jepang memperlakukan anak sekolahan?”
“Mungkin. Mereka kan militer. Kita belum terbiasa dengan cara militer.”
Di Surabaya mereka ditempatkan di asrama yang dijaga ketat oleh serdadu Jepang. Agak lumayan di sini karena mereka bisa mandi dan mencuci pakaian kotor, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Ningtyas di Dalem Pandukusuman. Yang terasa tidak enak adalah pandangan mata para serdadu yang bagai singa kelaparan hendak mencaplok mentah-mentah para gadis itu. Sebenarnya sejak dari Solo pandangan semacam itu biasa mereka terima. Bikin merinding dan bergidik, tapi konon tentara biasa begitu kalau melihat perempuan. Serdadu Belanda pun dulu begitu, terutama yang masih muda.
“Tentara itu orang yang jarang ketemu perempuan,” kata Megandini, teman dari Ambarawa yang mengenal Ningtyas sejak di markas Jepang di Solo. “Makanya kalau lihat perempuan mereka jelalatan begitu. Hati-hati, kita jangan sampai terpisah satu sama lain. Bisa bahaya.”
“Betul. Jepang-jepang itu jauh dari negerinya. Mungkin dia ingat kekasihnya di kampung halaman,” sambung Sumiarsih. Itu diucapkannya dalam bahasa Jawa supaya Jepang-jepang itu tidak memahaminya.
“Tidak begitu. Dia lagi cari-cari siapa gadis Jawa yang pantas jadi kekasihnya.”
“Sebenarnya dia sih ganteng. Tapi matanya yang kecil kaya laron itu kelihatannya aneh.”
“Sudah kecil, nungging lagi. Seperti laron keberatan kepala.”
Bermacam-macamlah kata mereka tentang serdadu Jepang itu. Padahal para serdadu Jepang juga bermacam-macam bicaranya tentang perempuan itu. Semua pembicaraan tak jauh dari ranjang. Sayang para gadis itu diperuntukkan bagi para perwira di daratan Filipina. Bagi mereka cukup perempuan-perempuan kampung yang belum tentu perawan.
Para gadis itu kemudian dinaikkan ke kapal perang bersama para serdadu. Bilangnya mau ke Tokyo, tapi sebenarnya mereka akan dibawa ke Filipina sesuai dengan informasi Suseki kepada Jiwat.
Tokyo masih jauh di sana. Mereka baru sampai di Laut Flores ketika terjadi pertempuran laut yang seru. Pesawat-pesawat Sekutu bermunculan di langit menghujani kapal-kapal Jepang dengan peluru dan bom. Kapal yang mengangkut Ningtyas hancur dihantam bom dan tenggelam. Serangan ini sebuah serangan dadakan yang tidak terdeteksi oleh tentara Jepang. Memang mereka tidak sampai kalah dalam pertempuran itu, tapi setidak-tidaknya sejumlah calon jugen ianfu mubazir jatuh ke laut, atau dengan kata lain selamat dari bencana dunia yang paling memalukan.
Mereka tewas karena luka atau tenggelam bersama serdadu yang bernasib sama. Tidak jelas berapa yang berhasil selamat, tetapi dipastikan Ningtyas terlempar ke laut ketika terjadi ledakan bom di geladak. Dia tidak terluka, hanya hantaman ombak ketika tubuhnya tercebur membuatnya mengalami kesakitan luar biasa. Dia timbul-tenggelam berkali-kali. Air laut juga terminum berkali-kali. Kemahirannya berenang dulu sama sekali tidak berarti di sini. Ketika ada kepingan sekoci yang terapung di dekatnya, adalah kebetulan atau kehendak Tuhan. Ningtyas menyerahkan dirinya ke atas kepingan sekoci itu. Lalu pingsan entah berapa lama sampai tubuhnya terayun–ayun hanyut dibawa ombak atau angin. Pertempuran sudah berakhir.
Dua hari lamanya Ningtyas dalam posisi hidup tidak mati pun belum. Ia berteriak dan tertawa dengan sisa tenaga yang masih ada. Tangis dan penyesalan tidak ada lagi. Dia sudah berada dalam tahapan orang yang stres dan putus asa.
Ada perahu nelayan yang terjebak dalam pertempuran itu ketika sedang melaut. Hanya perahu kecil saja, berisi lima orang laki-laki. Mereka menemukan Ningtyas dalam keadaan pingsan. Dibawa ke darat pun masih pingsan.
Ketika sadar dia berada di sebuah rumah gubuk dekat pantai. Ia merasakan bibirnya manis dan agak aneh. Rupanya seorang anak muda, salah seorang nelayan penolong itu, telah meminumkan madu dan telur ayam ke dalam mulutnya ketika dia pingsan. Lalu dia menjerit kaget ketika menyadari pakaiannya telah berganti dengan kain kusam yang diselimutkan begitu saja ke tubuhnya.
“Mana bajuku?” tanyanya gugup.
“Sedang dijemur, Nona. Sudah saya cuci,” jawab anak muda itu.
“Siapa yang buka pakaianku?”
Nelayan muda itu hanya tersenyum-senyum tertahan. Ningtyas marah. Dia bangkit hendak mencakar nelayan muda yang kurang ajar itu. Si nelayan muda membuang muka karena kain Ningtyas melorot. Ningtyas sadar gerakannya itu malah mencelakai diri sendiri. Dia menyerah. Kembali menelentang dan memejamkan mata karena tak sanggup melihat senyum nelayan muda yang misterius.
“Tadi saya yang gantikan baju Nona. Saya mama Ponti.”
Ada suara perempuan begitu. Ningtyas melirik dan tak berani bergerak karena khawatir kainnya bermasalah lagi. Lirikannya menangkap wajah tua seorang perempuan. Dia lega karena ternyata yang membuka pakaiannya adalah sesama perempuan.
Akan tetapi, nelayan muda itu menyembunyikan senyumannya. Dia yang bernama Ponti. Dia ikut membantu mamanya merawat Ningtyas ketika pakaiannya masih basah.

***

Ningtyas belum bisa merasa aman karena tertolong oleh nelayan. Ponti itu misterius sikapnya. Umurnya kira-kira sebaya dengan Guntur. Kalau tahu tantenya diperlakukan seperti ini, Guntur pasti bakal ngemplang kepala anak tengil itu. Namun, Guntur jauh di Jawa, sedangkan ini di mana? Ningtyas tak pernah mendapat jawaban di mana dia sebenarnya. Kelihatannya Ponti sengaja merahasiakan tempat itu untuk tujuan yang mengerikan bila Ningtyas mencoba menduganya.
“Nona ada di daratan. Tempo hari Nona di lautan macam putri duyung, toh?” jawab Mama Ponti ketika Ningtyas bertanya tentang keberadaannya.
Jadi mama dan anak sama saja. Mama ini bodoh atau takut kepada anaknya, sedangkan papanya konon tenggelam di laut karena badai di musim barat.
Ningtyas tidak tahu kehidupan macam apa yang dijalaninya sekarang. Berpakaian pun harus dengan cara yang primitif. Pakaian yang dikenakannya saat terlempar ke laut itu harus dipakainya selama seminggu terus-menerus, lalu dicuci di sungai yang airnya payau. Mandi pun di situ, juga gosok gigi tanpa odol. Kalau mandi harus mengenakan kain basahan yang nantinya dicuci bakal basahan pada mandi berikutnya. Ningtyas selalu merasa ngeri membayangkan jika ada angin kencang yang menerbangkan kain yang melilit tubuhnya sampai sedada itu atau ranting kayu yang menyangkut saat dia lewat. Maka, berjalan di hutan menuju ke sungai itu merupakan ketegangan yang aneh baginya. Juga kesakitan karena tanah keras dan duri yang mencucuk telapak kakinya yang tak bersepatu tidak pula bersandal. Aneh seorang raden roro harus mengalami semua itu.
Malam hari saat Ponti tidak melaut merupakan teror panjang yang tak kurang menyeramkan. Ia harus tidur di kamar yang hanya berpintu kain sementara Ponti mondar-mandir di luar kamar tak jelas apa maunya. Oleh karena itu, Ningtyas tidak berani tidur juga untuk keselamatan diri sendiri.
“Saya biasa tidak tidur kalau ke laut, Nona. Maka di darat saya juga tidak bisa tidur,” kata Ponti ketika Ningtyas bertanya kenapa dia mondar-mandir semalaman di depan kamar Ningtyas.
Jelas dia bohong.
“Saya mau telepon ke rumah saya di Jawa,” kata Ningtyas pada suatu hari. “Orangtua saya bisa kasih uang banyak buat kamu kalau mereka tahu kamu tolong saya.”
“Di sini tidak ada kantor telepon, Nona.”
“Yang ada di mana?”
“Di Makassar.”
“Makassar di mana?”
“Jauh. Kita musti pigi naik kapal terus naik mobil kalau ada. Tapi di Makassar banyak Jepang.”
Ningtyas tidak tahu bahwa ia hampir saja menjadi jugen ianfu, tapi nama ‘Jepang’ sekarang terdengar mengerikan. Paling tidak Jepang itu yang membawanya ke laut dengan dibentak-bentak dan ada juga gadis yang sempat ditendang karena tidak paham ucapan orang Jepang itu. Bagaimanapun orang Jepang itu sama juga dengan Pieter van Hofman yang datang dari seberang jauh untuk menjajah negerinya. Pandangan yang jauh berbeda dengan kesan pertama kalinya saat dia ditawari sekolah di Tokyo. Ningtyas teringat akan teman-teman senasib di kapal perang itu. Sulastri, Megandini, Sumiarsih, di mana mereka sekarang? Jika mereka tewas mungkin akan lebih baik daripada menderita jadi tawanan Ponti ini.
“Ada kepala desa di sini, Ponti?”
“Mau apa tanya kepala desa?”
“Saya akan minta tolong kepala desa kabari saya punya orangtua di Jawa.”
“Kepala desa tidak bisa kasih kabar dengan telepon. Orang pulau ini tidak tahu apa itu telepon.”
“Dengan telegram.”
“Tidak ada kantor telegram.”
“Jadi saya harus bagaimana?”
“Jadi istri Ponti. Bagus toh nelayan punya istri putri duyung?”
Celaka ini. Sungguh saat itu Ningtyas merasa sangat membutuhkan Guntur, keponakannya yang dulu selalu ribut dengannya. Bagaimana pun kehadiran Guntur akan bisa menjaganya dari marabahaya apa pun. Kenapa ya hal itu tidak pernah terpikirkan sejak dulu?
Kelihatannya Ponti anak muda yang tidak jauh berbeda dari Guntur, punya pengaruh atau ditakuti atau bahkan orang enggan berurusan dengan dia karena banyak sebab. Kahadiran putri duyung di rumah Ponti itu cuma menjadi bahan desas-desus. Orang tidak berani membicarakannya secara terang-terangan, lebih-lebih di depan Ponti sendiri.
Ada seorang lelaki tengkulak ikan yang punya perhatian khusus terhadap kasus itu. Dia mendengar selentingan dari sana sini tentang kapal perang Jepang yang dibom pesawat Sekutu. Orang ini tidak cukup terpelajar, tetapi berpengetahuan luas karena dia sering pergi ke mana-mana dan bertemu dengan banyak orang. Dia tahu ada perempuan-perempuan Jawa (maksudnya juga Jawa Timur dan Jawa Barat) yang direkrut ke tangsi-tangsi Jepang untuk jadi budak nafsu para serdadu. Dia berlogika sendiri bahwa perempuan di rumah Ponti itu pastilah salah satu dari perempuan Jawa yang akan dikirim ke tangsi-tangsi tentara Jepang.
Orang ini biasa dipanggil Kraeng Sulaiman. Penampilannya kasar dan bicara dengan urat leher menonjol. Namun, siapa tahu ternyata ia memiliki kelembutan dan kepekaan yang tidak dipunyai rata-rata orang. Dia menyusup di belukar, diam-diam menuju ke sungai tempat Ningtyas mencuci pakaian. Ponti sedang melaut, hingga tidak mengantar Ningtyas ke sungai.
“Sst! Sst! Nona!” bisik Kraeng Sulaiman tertahan-tahan di balik belukar.
Ningtyas menoleh dan berteriak kaget.
Kraeng Sulaiman menegakkan kedua telapak tangannya dan menggerak-gerakkannya ke depan dan ke belakang dengan cepat. Itu isyarat untuk Ningtyas supaya tenang dan jangan takut.
Tapi, siapa tidak takut sendirian di sungai ada orang di belukar dengan penampilan sangar bak jagoan itu?
“Saya mau tolong Nona. Kasih tahu saja orangtua Nona di mana. Saya bisa kirim kawat ke sana,” kata Kraeng Sulaiman. Kawat yang dimaksudkannya adalah istilah lain dari telegram. Ia diam sesaat, menunggu reaksi Ningtyas lalu melanjutkan, “Demi Allah, saya mau tolong Nona. Nona muslimah, toh? Nona musti percaya saya bersumpah dengan asma Allah. Saya akan dilaknat kalau saya berani langgar sumpah saya. Nona percaya, toh?”
Ningtyas menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan rasa takutnya. Dia bukan muslimah yang taat benar, tapi dia tahu arti asma Allah yang disebutkan dalam sumpah seorang muslim. Dia harus percaya, meskipun orang asing seperti begal di panggung ketoprak itu mungkin bisa bohong, sedangkan Ningtyas hanya berpakaian lilitan kain sedada, tak ada apa-apa lagi selain itu. Dia ingin begal ketoprak itu segera pergi.
Kraeng Sulaiman mengambil notes dan pensil dari kantongnya. Dia tetap berada di belukar dan menjaga jarak untuk meyakinkan Ningtyas bahwa dia tidak bermaksud apa-apa kecuali akan menolong muslimah yang dibencanai oleh nasib buruk.
“Saya tidak punya ongkos,” ucap Ningtyas setelah berhasil menguasai rasa takutnya. Maksudnya tidak punya biaya untuk ongkos jalan ke kantor pos dan telegrap, berikut biaya pengiriman telegramnya. “Semua harta saya hilang di laut.”
“Nona kasih tahu saja alamat dan apa beritanya. Saya catat.”
Ningtyas lalu mengeja alamat Dalem Pandukusuman dan berita yang akan disampaikannya. Dia meminta kepada Kraeng Sulaiman untuk menyebutkan tempat keberadaannya dalam telegram itu karena Ningtyas belum tahu dia ada di mana.
“Ini Selayar, Nona. Pulau di sebelah selatan Zelebes. Saya akan kasih kabar ke orangtua Nona di Jawa.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Sama-sama, Nona. Yang penting kita sama-sama muslim, toh?”
Sesudah itu, Kraeng Sulaiman mengendap pergi.
Ternyata orang baik ada di mana-mana di pelosok negeri ini. Tidak semuanya seperti Ponti. (Bersambung...)

Untuk lebih lengkapnya novel cinta 2 perempuan kunjungi www.rosda.co.id

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT