Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

NOVEL PERJUANGAN: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 6 Orang Kate Dari Timur

Kamis, 25 Agustus 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 830 Kali

Kemapanan hidup sebagai bangsa yang terjajah selama 350 tahun di bawah kolonial Belanda tiba-tiba saja terkoyak. ‘Kemapanan’ dengan tanda petik yang dimaksud adalah kenyataan bahwa bangsa Indonesia harus hidup di bawah tekanan penjajah dan itu sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Maka sejak seseorang untuk yang pertama kalinya mengenal budaya manusia, yang dilihatnya adalah suasana penjajahan semacam itu.
Kini tiba-tiba suasana berubah sejak balatentara Dai Nippon menyerbu bukan saja ke Indonesia, juga ke seluruh wilayah Asia Tenggara. Pernyataan perang yang dicanangkan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Jendral Tjarda van Starkendborgh Stachouwer pernah didengar R.M. Setobroto lewat radio di bulan Desember 1941. Segera disambut dengan pernyataan yang sama oleh Jepang pada 1 Januari 1942. Lalu mendaratlah pasukan tentara Jepang di beberapa tempat di pantai utara Jawa, termasuk di Eretan Wetan Indramayu yang kemudian merebut Lapangan Terbang Kalijati yang dijaga oleh Angkatan Udara Inggris.
Tak kurang dari empat divisi atau sekitar 40.000 prajurit Sekutu yang terdiri dari Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, berhadapan dengan balatentara Jepang di bumi Nusantara. Inilah sarang pelanduk yang menjadi ajang pertarungan dua gajah seperti yang dicemaskan R.M. Setobroto. Belum lagi kekejaman perang yang pasti bisa terjadi di medan mana pun. Sebuah peristiwa kecil saja tentang kekejaman itu terjadi ketika lagu kebangsaan ‘Wilhelmus’ masih dikumandangkan oleh radio NIROM sampai 18 Maret 1942. Polisi militer Jepang yang dikenal dengan nama Kempe Tai menangkap petugas radio dan memancung kepala mereka dengan pedang samurai di Ancol.
Akan menciptakan perasaan tak nyaman bila membicarakan kekejaman perang ketika orang kate dari Timur, balatentara Jepang yang berpostur lebih pendek daripada serdadu Belanda itu, menduduki Indonesia sampai ke wilayah di luar Jawa. Tatanan hidup berubah. Nasib bumi putera diempaskan sampai ke dasar penderitaan yang paling mengerikan. Romusha, para pekerja paksa yang dilemparkan ke tambang-tambang dan pembangunan sarana perang, adalah korban kekejaman yang tidak diperlakukan sebagai manusia hingga mati pun tidak dikuburkan sebagaimana mestinya.
Kehidupan Dalem Pandukusuman juga terkena imbas infasi tentara penjajah yang baru ini. Awalnya perusahaan batik tulis harus tutup karena sulit mendapatkan bahan baku dan pemasarannya. Tak ada orang membeli batik tulis lagi sementara di banyak tempat kemiskinan demikian merajalela sampai-sampai orang menggunakan karung goni untuk pakaiannya sehingga mereka menderita gatal-gatal karena ratusan ekor kutu. Para pekerja batik menganggur tanpa santunan dengan kesulitan hidup yang sukar dibayangkan. Musik keroncong juga tidak mengalun lagi sejak para pemainnya menghilang oleh beberapa sebab.
Dua perempuan di Dalem Pandukusuman menderita dua macam kehilangan yang berbeda. Ningtyas tak pernah jumpa Pieter lagi sejak Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Mungkin Pieter ditahan di kamp tawanan perang kalau dia tidak tewas dalam pertempuran.
“Datangnya dulu juga tiba-tiba,” kata Ningtyas, tampaknya dia tabah menghadapi perpisahan itu. “Sekarang dia hilang juga dengan tiba-tiba. Sasongko masih lebih baik karena bisa diketahui keberadaannya.”
“Apanya yang lebih baik, Tante? Dia juga tidak bisa diharapkan lagi dengan adanya Damar Galih. Sekarang Mas Sasongko sama juga dengan Mijnheer Pieter.”
“Mungkin nasibnya yang lebih baik. Pieter sekarang ini hidup atau mati di laut, di kali, di hutan, siapa yang tahu?”
Ada benarnya Ningtyas bilang nasib Sasongko lebih baik daripada nasib Pieter van Hofman. Tanpa Ningtyas tahu, ada serdadu Jepang yang menduduki Solo memanggil Sasongko, menanyainya dengan banyak soal, lalu menyuruhnya mengajar di sebuah sekolah rakyat. Itu berkat permainan biolanya yang sempat memukau seorang opsir Jepang. Maka Damar Galih bakal mendapatkan susu lebih teratur daripada sebelumnya.
Ningtyas sendiri kemudian mengubah dirinya sesuai dengan situasi sejak tentara Jepang mengisi seluruh bagian Solo dan sekitarnya. Ia tidak menjadi belandis lagi dengan cas-cis-cus Hollandse spreekten yang bisa membahayakan karena tentara Jepang sensitif sekali terhadap bau musuh mereka. Ningtyas bahkan bisa menjalin kontak dengan opsir Jepang dan mendapatkan tawaran belajar ke Tokyo bersama gadis-gadis lain yang berminat.
“Mau sekolah saja kok jauh-jauh sampai ke Tokyo, Tante?” Puri pernah bertanya begitu.
“Kita harus tanggap terhadap situasi. Kalau dulu Pieter menawari belajar ke Leiden, aku juga mau berangkat ke sana. Perempuan Jawa itu tidak maju di antaranya karena tidak peka terhadap situasi, tidak pandai memanfaatkan kesempatan yang datang sampai ke depan hidung mereka karena dianggap tabu dan oleh sikap puritan.”
Sudahlah kalau Ningtyas berpendapat begitu. Tak ada yang bisa melunakkan hatinya bila ia sudah mengambil keputusan. R.M. Pandukusumo pun tidak bisa berbuat banyak terhadap keinginan putri bungsunya itu.
“Mungkin kita yang salah melahirkan anak seperti Ningtyas, Kangmas,” kata Den Ayu Pandu mengenai hal itu. “Mestinya bukan begitu putri priayi trah Pandukusuman.”
Begitulah, pada tahun kedua Jepang menduduki Solo, Ningtyas benar-benar berangkat membawa koper besar berisi pakaian untuk belajar di Tokyo supaya menjadi perempuan Jawa yang pintar. Ia dikumpulkan dengan teman-temannya yang punya mimpi sama di markas tentara Jepang, tidak di hotel atau tempat yang lebih layak daripada markas tentara.
Guntur yang tidak berubah sejauh ini. Ia menolak ketika ada petugas pamong praja yang mengajaknya mendaftarkan diri menjadi Heiho, tentara Jepang yang dibentuk dari pemuda-pemuda Indonesia dengan pendidikan militer di Cimahi. Dia tidak memberi alasan penolakannya. Tapi kepada Joleno dia bilang, ”Aku takut di pendidikan militer tidak bisa mendengarkan Dandang Gulo sampeyan lagi, Lik.”
Joleno terkekeh.
“Tapi kalau jadi tentara kan bedilnya bagus, Den. Ndak usah dilocok lagi. Bisa langsung dor.”
“Buat apa bedil begitu kan tidak mau ribut dengan orang Sraten lagi.”
“He-he-he … betul itu, Den. Pokoknya Denmas orang cinta tanah air, ya. Tidak sudi jadi antek Belanda apa Jepang.”
Mungkin benar kata Joleno. Guntur memang tak pernah sudi berkolaborasi dengan bangsa apa pun yang datang dari jauh untuk menjarah negerinya. Pangeran Diponegoro pun sudah bersikap sama sejak masa yang lalu.
Dan Jiwat apa kabarnya? Sulit dilacak keberadaannya. Hanya sekali pernah berkunjung ke rumah R.M. Setobroto. Ia membicarakan keadaan yang semakin rusuh sejak Jepang datang. Ketika ditanya masalahnya dengan Ningtyas, dia hanya menjawab singkat,” Masih dalam perjuangan, Bung.”
Sesudah itu, keberadaannya tidak diketahui.

***
Teriknya matahari kemarau panjang bagai menusuk dan mencabik-cabik kulitnya. Sampai alas sandal karet yang dipakainya pun terasa menggigit karena panasnya. Belum lagi lapar dan haus yang hampir tak bisa ditahan lagi. Itu derita Sumirah, perempuan cantik dari Sraten. Siang ini ia bertekad meninggalkan kampungnya membawa sedikit pakaian yang ditaruh dalam buntalan kain taplak meja. Kebaya dan kain batik yang dikenakannya adalah miliknya yang paling bagus, meskipun sebenarnya warnanya telah kusam dan di sana-sini ada bagian yang merampang hampir sobek.
Ini juga imbas kedatangan tentara kate dari Timur. Sardikun dan beberapa orang lelaki Sraten dipanggil kepala desa dan dikirim ke Bayat, sebuah tempat nun jauh di Banten sana. Mereka dijadikan romusha, pekerja paksa tanpa bayaran pantas dan makanan layak di tambang batu bara. Banyak di antara mereka yang mati kelaparan atau kena malaria.
Sumirah belum sampai tahu nasib Sardikun yang sebenarnya di Bayat. Ia hanya tahu sejak kepergian suaminya itu hidupnya makin tak jelas. Ladang di Sraten sudah tidak menghasilkan apa-apa hanya sedikit ubi pahit yang bisa memabukkan bila dimakan. Tak sanggup bertahan dalam kegetiran itu, Sumirah kini berjalan di terik matahari. Ia tidak bisa ke mana-mana karena orangtuanya sudah pulang ke kampungnya di pelosok Pacitan sejak menikahkan Sumirah dengan Sardikun. Dulu biaya pernikahan dan kepulangan mereka ditanggung Sardikun dengan menjual satu-satunya rumah kecil peninggalan orangtuanya. Itu sebabnya kemudian Sardikun mengajak Sumirah tinggal di Sraten dengan membuka tanah yang masih menghutan.
Perjalananan berat itu berakhir di depan gerbang Dalem Pandukusuman pada tengah malam. Sangat ajaib dia tidak kepergok patroli tentara Jepang yang bisa menyulitkannya. Ia sengaja lewat kampung dan kepergok peronda malam yang justru mengantarkannya setelah dia menyebutkan tujuannya ke Dalem Pandukusuman. Peronda itu tidak bisa menemani Sumirah yang terpaksa tidur di dekat gerbang tersembunyi oleh rumpun beluntas yang rimbun. Untunglah malam itu tidak ada ular tanah yang merayap mencari anak kodok di dekat selokan. Ular semacam itu bisa mematikan dalam waktu dua jam bila seseorang digigitnya.
Saat itu Sumirah merasakan dinding bagian dalam perutnya sudah saling menempel karena seharian tidak diisi apa-apa. Ketika pagi harinya Joleno membuka gerbang, Sumirah sudah berdiri di sana. Joleno kaget sampai tubuhnya mumbul.
“Jabang bayi! Tak kira kuntilanak kesiangan, tadi!”
Sumirah mencoba tersenyum sebagai pernyataan maaf. Tapi yang tampak dari bibirnya adalah seringai belaka. Lalu tubuhnya bergoyang-goyang bagai pohon ditiup angin. Rupanya kakinya sudah tak kuat lagi menahan tubuhnya. Dia pun ambruk.
“Lhadalah!” seru Joleno. Tak ada artinya, hanya pernyataan rasa kaget yang amat sangat. Sambil mengucapkan seruan itu Joleno menangkap tubuh Sumirah sebelum terempas ke tanah. Joleno kebingungan dan tubuh rubuh itu terasa sangat berat baginya, lebih-lebih karena itu perempuan sekalipun baunya sudah tak nyaman karena keringat kering sejak kemarin.
“Tuluuuung …. Tuluuuuuung.” Joleno berseru minta tolong tak soal kepada siapa.
Guntur menyangka Joleno dalam bahaya besar di gerbang sana. Ia berlari dengan gugup dan siaga penuh untuk menghadapi apa saja demi menolong abdinya. Tiba di dekat gerbang dia segera tahu apa yang terjadi.
“Tulung, Den. Ini berat banget ….”
“Bagaimana tiba-tiba dia ada di sini, Lik?”
“Ndak tahu, Den. Belum bisa ditanya wong masih kelenger.”
Iya juga begitu. Guntur segera memanggul tubuh Sumirah sementara Joleno membawa buntalan pakaiannya. Guntur binggung harus menaruh tubuh Sumirah di mana. Maka, ia membaringkannya saja di pendopo, di atas lantai.
“Lho kok ditaruh di lantai?” seru Puri yang muncul karena mendengar keributan itu. “Ini orang Sraten itu, toh?”
“Kalau tidak di sini terus di mana, Mbakyu?”
Puri juga tidak tahu harus dibaringkan di mana perempuan yang pingsan dengan bau tubuh sengit seperti itu. Seumur hidupnya, ia belum pernah merasa punya kewenangan atas setiap bagian Dalem Pandukusuman untuk diapakan saja. Berbeda dengan Ningtyas yang tidak pernah punya perasaan semacam itu.
Mbok Sayem yang ikut muncul ke pendopo juga bingung harus meletakkan tubuh pingsan itu di mana dan harus diapakan.
R.M. Pandukusumo muncul kemudian.
“Ini orang kelenger, toh?” serunya. “Lha kok didiamkan saja! Bawa masuk! Rawat di dalam dengan balsem terus dikasih minum hangat.”
“Dibawa masuk ke mana, Eyang?” tanya Puri, masih belum merasa berwenang menentukan harus meletakkan tubuh pingsan itu di mana.
“Kok di mana! Di kamarmu apa kamar ibumu juga bisa. Asal jangan di kamar Guntur! Ayo cepat angkat!”
“Inggih, Eyang.”
Guntur langsung mengangkat tubuh itu tanpa rasa sungkan toh dari gerbang pun dia yang mengangkatnya. Dibawa ke kamar Puri dan Puri pun segera merawat Sumirah dengan baik. Di sekolah dulu ia ikut gerakan kepanduan dan belajar PPPK untuk situasi darurat begitu.
“Apa yang terjadi di Sraten ini, sampai istri Sardikun itu datang lagi ke sini?” gumam R.M Pandukusumo.
“Di zaman semrawut begini, apa saja bisa terjadi, Kangmas,” kata Den Ayu Pandu. “Di zaman normal saja ada kerusuhan sampai Guntur digebuki orang sekampung.”
Zaman normal yang dimaksud Den Ayu Pandu adalah zaman Hindia Belanda. Orang banyak menganggap zaman itu lebih normal daripada masa penjajahan Jepang yang serbakacau. Semua tatanan yang sudah mapan pada zaman Hindia Belanda itu diacak-acak oleh bangsa yang menyatakan dirinya sebagai saudara tua, para pengabdi Kaisar Tenno Heika.
Setelah siuman, Sumirah diberi minum dan makan, lalu dimandikan. Benar-benar dimandikan, karena Puri ikut masuk ke kamar mandi untuk menunjukkan itu dan ini peralatan mandi yang masih menjadi benda asing bagi Sumirah.
Guntur sangat kebingungan begitu Sumirah selesai bercerita tentang dirinya setelah makan dan dimandikan.
“Mohon maaf sebesar-besarnya, dalem tidak tahu harus mengungsikan hidup ke mana lagi, Ndoro. Jika diperkenankan, dalem bisa mengabdi di sini,” ucap Sumirah dengan memelas dan tampaknya dia mengucapkannya dengan sepenuh hati. Mengabdi itu kata lain dari menjadi babu.
“Ya sudah, di sini saja sampai suamimu pulang.” Den Ayu Pandu menyahut. “Tapi tidurnya di mana, ya ….”
“Kok bingung? Lah tempat seluas ini, kok. Di belakang tempat pembatikan itu juga bisa, toh?” sahut R.M. Pandukusumo.
“Kangmas ini bagaimana! Guntur kan bisa biyayakan ke mana-mana!”
Oh, tahulah semua orang maksud Den Ayu Pandu. Keberadaan Sumirah di Dalem Pandukusuman itu tentu sangat rawan karena ada Guntur di situ.
“Maaf, kalau boleh usul. Biar di kamar dalem saja,” sela Mbok Sayem.
“Lah iya! Betul itu! Kamu jaga kalau Guntur biyayakan ke sana kamu pentung saja kepalanya! He-he-he ….”
Guntur merasa tersindir oleh eyangnya, R.M. Pandukusumo.
“Eyang ndak tahu ya, dalem bisa ngelak kalau dipentung,” katanya untuk menetralisasi rasa malu kerena kena sindir.
Maka, jadilah Sumirah penghuni baru di Dalem Pandukusuman. Mbok Sayem merasa Sumirah adalah dirinya pada masa lalu, maka ia pun ekstra hati-hati menjaganya. Guntur dilarang masuk ke kamar Mbok Sayem sekalipun untuk keperluan darurat, misalnya mengambil uang logam bakal kerokan dengan Joleno bila dia masuk angin berat.
Puri memahami ‘hukuman’ yang dikenakan terhadap Guntur karena keberadaan Sumirah. Namun, dia sendiri juga ikut memperketat pengawasan terhadap adiknya itu. Sumirah diminta tidak dekat-dekat kamar Guntur meskipun hanya untuk menyapu dan mengepel lantai. Bagian itu disapu dan dipel sendiri oleh Guntur. Sebenarnya itu tidak memberatkan karena menyapu dan mengepel lantai itu biasa dilakukan Guntur bila membantu ibunya mengerjakan tugas-tugas babunya sementara pembantu lain sedang berhalangan.
Guntur menyadari semua itu, dan ia secara ekstrem meyakinkan pengawasan akan dirinya dengan sering tidur di kamar Joleno, sesuatu yang sebenarnya tabu dilakukan oleh ndoro terhadap abdinya. Dan dia senang melakukannya sebagai sikap demonstratif yang mengejek semua orang di Dalem Pandukusuman.
Sementara itu, keberadaan Sumirah sebenarnya menjadi penderitaan batin tersendiri baginya. Bagaimana pun Sumirah adalah kekasih lama yang dulu sangat dicintainya. Berada bersamanya dalam kondisi seperti ini, betapa menyakitkan.

***
Sampai hari ini Sardikun belum bisa memahami benar apa yang sesungguhnya terjadi atas negerinya ini. Ketika kepala desa datang ke Sraten, semua orang takut dan bangga sekaligus. Takut karena khawatir akan ada masalah yang terjadi mengingat Sraten itu desa jadi-jadian yang belum resmi diakui oleh pemerintah daerah setempat. Bangga karena kedatangan kepala desa itu mencerminkan pengakuan bahwa Sraten adalah memang wilayah yang diakui keberadaannya. Sardikun tidak sampai pada pemahaman bahwa kepala desa itu di bawah tekanan tentara Jepang untuk mengumpulkan sejumlah orang guna dikirim sebagai pekerja paksa ke Bayat.
Kepala desa tidak punya pilihan lain kecuali memanggil orang-orang Sraten. Dia tahu, orang Sraten secara psikologis di bawah angin sehingga akan mudah ditekan. Dari desanya sendiri kepala desa itu hanya memilih orang-orang yang sekiranya tidak akan bermasalah bila pengiriman pekerja paksa itu akan menimbulkan dendam. Kepala desa orang yang tidak cukup pintar, tapi dia bisa menduga politik kerja paksa model Jepang ini akan bermasalah di belakang hari. Dia yakin tidak selamanya penjajah akan berkuasa di negeri ini. Belanda saja yang sudah tiga setengah abad berkuasa bisa didongkel dari bumi Nusantara. Ini lagi Jepang yang konon tidak hanya menguasai Indonesia, juga sampai ke negeri-negeri yang jauh di Indocina. Dan Jepang punya cukup banyak musuh, termasuk negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Maka orang tidak pintar ini bisa berlogika sederhana. Suatu saat ayam kate itu akan keok dikeroyok begitu banyak ayam Bangkok!
Lalu jika ini terjadi, ke manakah para romusha itu kalau tidak pulang kampung dan membalas dendam kepada kepala desa yang mengirim mereka?
Itu pula yang dipikirkan Sardikun dan Kamituwo yang kebetulan tinggal di satu barak di Bayat. Orang Sraten lainnya di barak yang lain dan jarang sekali bertemu dengan mereka. Barak yang dimaksud adalah bangunan bedeng dari papan kayu jinjing yang dibangun sendiri oleh para romusha dengan pengawasan serdadu Jepang bersenjata bedil panjang berujung bayonet.
Kamituwo pernah dihantam dengan popor senjata itu gara-gara ia menjatuhkan balok kayu yang akan dijadikan tiang barak. Kakinya tersandung batu ketika memanggul balok kayu itu sendirian. Balok kayu terjatuh hampir menimpa sepatu serdadu Jepang. Itu kecelakaan kecil saja yang sebenarnya cukup selesai dengan permintaan maaf. Tapi tidak begitu. Jepang itu memaki-maki dengan bahasa yang tidak dimengerti Kamituwo.
“Bagero!” Begitu di antaranya.
Kamituwo tidak ambil pusing dengan makian itu, karena baginya bagero itu hanya pelesetan kata bagi loro, dibagi dua!
Kamituwo akan menganggap itu sebagai candaan saja, tidak akan diterimanya sebagai derita sungguhan. Maka, ia mengambil sebuah gergaji dan akan memotong balok itu menjadi dua. Itulah bagi loro. Hasilnya, popor bedil panjang itu mendarat di kepalanya. Kamituwo terjengkang dan ditendang. Sejak saat itu Kamituwo bersumpah jika ada kesempatan dia akan menggorok leher Jepang itu. Namun, kesempatan itu tidak pernah datang. Banyak serdadu yang menjaga para romusha. Juga ada mandor yang sebenarnya sesama pribumi, tapi berlaku galak juga karena dia ditekan pula oleh Jepang.
Terhadap mandor itu Jepang juga berlaku galak dan kurang ajar. Suatu ketika diketahui sang mandor buang air kecil di sebuah sudut yang agak tersembunyi. Serdadu Jepang yang umurnya kira-kira sebaya dengan anak lelaki mandor itu memarahinya.
“Kamu mau lari, he?” serunya dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih hanya logatnya yang serem karena seperti orang menggeram.
“Tidak, Tuan. Saya cuma mau kencing,” jawab Mandor itu. Biasanya dia juga membentak kalau bicara dengan romusha. Tapi lembek dan menjilat bila kepada serdadu Jepang.
“Kincing apa musti lari? Kincing di sini!”
“Tidak, Tuan. Itu tidak sopan.”
“Kamu musti kincing di sini!”
“Tidak, Tuan. Maaf.”
Berkata tidak itu hal yang sangat tabu bagi serdadu Jepang. Sang sedadu marah karena perintahnya tidak dilaksanakan oleh mandor. Dia menusukkan bayonet di ujung senjatanya ke arah selangkangan mandor dan menggerakkannya ke bawah.
“Aaaaaa …!” Mandor menjerit dan mendekap bagian bawah tubuhnya.
Ia menyangka ada yang sobek dari tubuhnya. Ternyata hanya celananya yang sobek memanjang ke bawah. Burungnya tampak karena di balik celana lusuh bau apak itu dia tidak mengenakan apa-apa lagi.
Kurang ajarnya, Jepang itu tertawa terbahak-bahak dengan senang. Terus terang banyak romusha yang juga tertawa dengan diam-diam. Mereka pun senang karena mandor galak itu mendapat balasan bagi kegalakannya.
Celakanya setelah peristiwa itu si mandor malah tambah galak. Seolah dia ingin membalas dendam justru kepada para romusha yang tidak tahu apa-apa. Saat para romusha membuat terowongan untuk mengeruk bijih batu bara, banyak di antara mereka yang berniat membunuh mandor dan akan menguburkan mayatnya di terowongan itu.
“Jangan begitu,” kata seseorang. “Kita akan ketahuan Jepang. Kita bisa ditembak mati semuanya.”
“Biar saja begitu asal mandor sialan itu mampus duluan!”
“Tidak sebanding satu nyawa dibayar dengan dua puluh nyawa di sini. Cari cara lain saja. Suatu saat kita akan ketemu cara itu.”
Itulah yang terjadi sebagai efek penjajahan. Orang bisa saling bunuh antarsesamanya, meskipun sebenarnya mereka sama-sama orang terjajah. Hal semacam ini bisa terjadi di mana-mana di ladang kerja paksa.
Rencana pembunuhan itu dibahas sambil bekerja mengayunkan beliung menggali tanah bercampur bijih batu bara dan mengangkutnya ke luar lubang dengan keranjang-keranjang yang dipanggul. Sardikun ada di sana, melirik dengan sembunyi-sembunyi ke arah mandor itu. Namanya Landung, sesuai dengan tubuhnya yang landung atau jangkung. Ia orang dari Bojonegoro yang ikut terlempar ke Bayat ini karena dikirim oleh kepala desanya. Dalam kondisi normal, sebenarnya dia orang baik-baik yang tak suka kekerasan. Tapi zaman ini telah mengubah karakter seseorang karena banyak sebab. Mungkin kegalakannya kepada romusha sebagai kompensasi dirinya yang merasa kalah oleh intimidasi serdadu Jepang, atau sekadar sikap proteksi terhadap kemungkinan dikeroyok oleh para pekerja paksa yang tertindas dan berpotensi melakukan pemberontakan.
“Lihat! Mandor kepalanya bergoyang-goyang,” bisik Sardikun kepada teman di sebelahnya sambil terus mengeruk tanah ke dalam keranjang. Temannya itu sedang memahat dinding lubang dengan pahat dan martil.
Tanpa menghentikan gerakannya, teman itu, namanya Kumbi, ikut melirik ke arah Landung si mandor. Memang, sekali waktu kepala Landung bergoyang ke depan dan ke belakang seperti orang sedang menikmati alunan musik melayu. Padahal di situ tidak ada bunyi musik. Hanya bunyi beliung menghantam tanah berbatu. Tapi gerakan kepala Landung itu tidak berirama tetap. Suka-suka dia, kadang jarang kadang kerap.
“Kenapa dia? Apa kesambet penghuni tempat ini?” bisik Kumbi. Kesambet itu semacam diganggu makhluk halus. Masuk akal mengingat tempat itu adalah belantara yang diacak-acak para pendatang dari segala penjuru tanpa permisi lebih dulu. Para dedemit penghuni tempat itu tidak terima wilayahnya diinjak-injak dan dijarah begitu saja.
Tapi sebenarnya Landung tidak kesambet. Dedemit Bayat tidak berani lawan orang jago dari Bojonegoro yang konon sakti ini. Kalau lagi duduk ngobrol di barak saja Landung suka bercerita bahwa ayahnya dulu jagoan. Kalau dia batuk saja kereta api pengangkut tebu bisa berhenti, tak bisa jalan lagi. Landung mendapat warisan kesaktiannya itu dari sang ayah. Waktu Landung bercerita begitu, Sardikun diam-diam berbisik kepada Kamituwo, “Bisa berhenti begitu karena ketelnya kurang air, jadi keretanya mogok.”
Sebenarnya Landung sedang kena malaria tropika yang ganas dan menyerang setiap hari. Hanya saja dia merahasiakan hal itu demi kredebilitasnya sebagai orang sakti. Masa gigitan nyamuk kecil bisa mencelakakan sang jagoan?
Bahwa malaria itu harus diobati, Landung tahu benar. Ada poliklinik kecil di Bayat yang bisa mengobati para romusha yang sakit, meskipun fasilitasnya tidak memadai dan orang Jepang itu ogah-ogahan kalau mengobati romusha, berbeda bila yang sakit itu serdadu Jepang sendiri. Berobat ke poliklinik itu sungguh akan menjatuhkan martabatnya dan penyakit pun belum tentu sembuh benar. Maka Landung merahasiakan penyakitnya dan diam-diam mencari brotowali, tumbuhan sejenis kaktus hutan yang pahit luar biasa untuk obat penyakitnya. Sejak zaman nenek moyang dulu brotowali itu dipercaya bisa mengobati malaria. Mungkin karena pahit seperti kina.
Kini ketika kepalanya bergoyang-goyang dengan irama kacau itu sebenarnya malarianya sudah memuncak. Keringat pun bercucuran meskipun dia merasa dingin luar biasa. Di kepalanya bermain halusinasi yang bermacam-macam. Tentang istrinya yang lari digondol tetangganya, tentang anaknya yang hanyut di sungai ketika sedang mencari ikan, dan bermacam-macam yang sebenarnya hanya ada dalam khalayan orang yang kena malaria tropika.
Besoknya, Landung ditemukan tewas di dekat tumbuhan brotowali di hutan. Ia belum sempat mengunyah pucuk brotowali keburu maut menjemputnya pada batas kemampuan manusia mempertahankan nyawa.
Ini adalah bencana bagi regu romusha yang satu lubang tambang dengannya. Semuanya dikumpulkan dan dipaksa mengaku telah membunuh Landung. Mereka dipukuli, diinjak-injak, bahkan ada yang ditusuk dengan bayonet. Tidak ada yang mau mengaku karena mereka tidak melakukan itu. Namun, Jepang itu terus memaksa, padahal dia tidak melakukan pemeriksaan terhadap jenazah Landung untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Tiba-tiba tampil seorang lelaki kurus yang bajunya sudah sangat compang-camping, kotor, dan banyak kutu di dalamnya. Lelaki ini tidak pernah berperan apa-apa dalam rombongan romusha itu kecuali hanya mengerjakan pekerjaan biasa tanpa kejutan dan tak pernah diperhatikan karena dia memang biasa-biasa saja. Namanya Kuprit, nama yang juga biasa dan tidak punya arti apa-apa.
“Nan no goyo desu ka?” tanya seorang serdadu Jepang yang pangkatnya paling tinggi. Mau apa kamu, begitu maksudnya melihat Kuprit melangkah maju dari barisan orang yang digebuki.
Kuprit tidak tahu bahasa Jepang. Tapi dalam situasi itu dia paham apa yang dikatakan opsir Jepang itu dengan mata melotot dan mulut mecucu (mengerucut tanda marah).
“Tuan jangan siksa orang-orang ini,” kata Kuprit. Orang takjub karena tiba-tiba makhluk biasa-biasa saja itu bisa menjadi luar biasa. “Mereka tidak tahu apa-apa. Saya yang bunuh Landung!”
“Nan desu ka? Shitsurei?” Jepang itu bertanya Kuprit itu bilang apa.
“Saya bunuh Landung karena dia mau bunuh saya.”
Dor! Opsir Jepang itu menembak dahi Kuprit dengan revolver yang dicabut secara cepat dari sarungnya di pinggang. Orang-orang menjerit kaget meskipun mereka sangat berpengalaman melihat orang ditembak karena masalah sepele saja. Tapi Kuprit ini pantaskah ditembak begitu saja tanpa pemeriksaan sedikit pun akan kebenaran pengakuannya?
Tak usahlah ada pertanyaan semacam itu untuk situasi begini. Serdadu Jepang mencabut nyawa romusha tak usah dipersoalkan. Bahkan bila orang menembak seekor ayam di kampung pun bisa jadi perkara karena yang punya bakal tidak terima.
Memang para romusha yang sudah babak belur itu bebas dari tuduhan karena pengorbanan Kuprit yang tak perlu. Jenazah Kuprit dikuburkan oleh para romusha di hutan bersama jenazah Landung. Mereka tidak dimandikan karena tidak ada fasilitas untuk itu dan Jepang tidak mengharuskan jenazah romusha dikubur secara baik-baik. Asalkan mayatnya tidak menebarkan bau busuk saja, cukuplah. Saat berdoa di kuburan itu, Sardikun heran kalau ada di belahan bumi ini kekejaman seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jepang itu.
Kamituwo menghitung jumlah Jepang yang akan digoroknya bertambah lagi. Penggorokan yang hanya ada dalam khayalannya.
Di barak, orang-orang yang terluka karena dipukuli Jepang itu sudah tertidur. Mereka tidak diobati kecuali yang ditusuk bayonet. Kini dia diinapkan di poliklinik dengan perawatan ala kadarnya sekadar diolesi jodium tentuur dan ditempeli kain kassa. Kalau kelak dia sembuh dari lukanya adalah karena kehendak Tuhan belaka.
“Kalau aku bisa pulang, akan kubunuh kepala desa itu,” kata Kamituwo geram.
“Aku setuju, Kang,” sahut Sardikun dengan berbisik-bisik. “Tapi apa tidak malah bikin masalah baru di kampung?”
“Biar saja. Kepala desa itu biang keladi yang bikin kita dikirim ke sini. Banyak orang lagi yang dikirim dari desa. Kalau semua bisa pulang, mereka juga mendendam pada kepala desa.”
“Tapi … apa pengiriman kita ini tidak ada hubungannya dengan perkara kita dulu, Kang?”
“Perkara yang mana?”
“Denmas Guntur.”
“Oh … bisa jadi begitu. Ayahanda Denmas Guntur itu kan wedana sejak dulu? Sekarang dia masih wedana dan berkerja sama dengan Jepang. Pasti dia yang nyuruh kepala desa mengirimkan orang-orang Sraten ke neraka ini supaya pada mati semuanya.”
“Lalu Denmas Guntur bisa mengambil Mirah dengan aman.”
“Iya betul, Kun! Dari dulu aku juga sudah curiga sama Denmas Guntur. Mau apa dia ngejar-ngejar Mirah kalau tidak ada maksud jahatnya? Ketika Mirah diantarkan ke Dalem Pandukusuman itu mana tahu sudah diapa-apakan? Cuma Denmas malu mengakuinya, lalu pura-pura murka di Sraten!”
Begitulah, orang-orang dungu itu sampai pada kesimpulan salah terhadap Guntur. Mereka menganggap itu adalah kebenaran, bukan kekeliruan yang disimpulkan dari kebodohan diri sendiri.
Besoknya ada lagi yang tewas. Kali ini ditembak karena ketahuan saat akan melarikan diri. Sardikun bilang yang mati itu orang bodoh karena melarikan diri pada siang hari. Jika Sardikun akan melarikan diri, dia akan melakukannya pada malam hari. (Bersambung...

 
 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT