Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

NILAI NOL RAPOR PESERTA DIDIK

Rabu, 27 September 2017 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 487 Kali

Mendapatkan nilai nol dalam ulangan atau tugas mungkin pernah dialami sebagian orang, tetapi memperoleh nilai nol (0) di rapot rasanya sulit dipercaya. Namun, kejadian ini dialami salah seorang siswi di SMA Negeri 4 Bandung.

            Mencuatnya kasus ini ke publik tentu saja mengejutkan banyak pihak. Hal ini berpotensi menimbulkan keraguan masyarakat untuk mempercayai nilai yang diberikan guru dan sekolah.

            Meskipun pihak sekolah sudah mengklarifikasi di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bahwa itu bukan nilai nol, melainkan kosong, alias belum diisi, tetap saja faktanya di rapot tertulis “0” bukan dikosongkan. Ada kelalaian manajemen sekolah yang telah memberikan rapot bernilai nol yang sudah ditanda tangani kepala sekolah dan wali kelas, bahkan lengkap dengan setempel sekolah, bukti bahwa pelayanan sekolah buruk.

Bukan kesalahan teknis

            Dalam matematika kita hanya mengenal bilangan nol, genap, dan ganjil, tidak ada bilangan kosong. Artinya, secaa defactodan dejure nilai rapot siswi tersebut adalah nol karena tidak mungkin rapot yang siap dibagikan nilainya kosong.

            Jika sekolah hanya berpijak pada alasan kesalahan teknis operasional pengolahan nilai, itu hanya melihat dari hasil akhir. Padahal, kesalahan teknis itu disebabkan peritiwa yang mendahuluinya, sebagaimana dikemukakan orangtua korban di sejumlah media. Ada sebab akibat mengapa sekolah sampai memberikan nilai nol di rapor. Inilah yang seharusnya didalami KPAI karena orangtua korban mepercayakan penyelesaian kasusnya kepada KPAI.

            KPAI dalam pemeriksaan awal mengakui adanya unsur kelalaian sekolah yang secara implisit membuktikan buruknya pelayanan sekolah terhadap peserta didik. Pemberian nilai nol di rapor telah membuat korban malu, tidak percaya diri, dan depresi.

            KPAI sejatinya tidak berhenti pada pengakuan sekolah yang menganggap pemberian nilai nol di rapor sebagai kesalahan teknis operasional semata. KPAI harus menggali peristiwa sebelum  nilai rapor diberikan, karena di situlah benang merah dari kekerasan pisikis yang dialami korban.  Bagimana mungkin peristiwa  pendahulunya selama berbulan-bulan diabaikan sehingga publik harus percaya bahwa  itu semata-mat karena kesalahan teknis tanpa ada latar belakang peristiwa yang mendahuluinya.

            Ada indikasi bahwa guru Matematika, wakil kepala sekolah ( bidang kurikulum), dan kepala sekolah telah lalai memperhatikan persoalan individu siswa yang sedang menderita sakit dengan diagnosis astimat miop composites ODS dan sikatrik kornea ODS, sebagaimana hasil pemeriksaan dokter mata Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

            Di balik kekurangan memiliki penyakit tertentu, sehingga berujung pada kecepatan dan kesempurnaan  mengumpulkan tugas khususnya pada mata pelajaran matematika kelompok peminatan, seharusnya bagian kurikulum dan kepala sekola turun tangan. Hal ni melihat dan memperhatikan sisi kelebihan dan potensi si anak yang mendapat kepercayaan mewakili SMAN 4 Bandung dalam olimpiade biologi tingkat wilayah, sesuai surat keterangan Kapala Sekolah no. 421.3/848/2016.

            Pemberian nol dengan standar indikator melihat keaktifan siswa dari kecepatan mengumpulkan tugas akademik, sesungguhnya dalam hal ini guru baru menerapkan salah satu dari empat kompetensi guru, yaitu kompetensi profesional. Masih ada tiga kompetensi lagi yang wajib dimiliki guru, yatitu kompetensi sosial, Pedagogik, dan kepribadian, sebagaimana diatur dalam Pasal 10 UU No.14/2005.

            Memberi nol dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki, melengkapi, dan menyusulkan tugas yang belum sempurna—padahal situasi dan kondisi masih memungkinkan – dapat dikategorikan melanggar peraturan dan perundang-undangan sebagai berikut:

Pertama, guru tidak memahami dan salah tafsir Kurikulum 2013 yang mewajibkan, memproses menganalisis penilaian kepada siswa secara portofolio, dengan melihat dan memperhatikan siswa sebagai individu dan pribadi yang unik, berbeda dengan siswa lain. Keadaan siswa yang sedang menderita sakit dan perlu perawatan dokter dan memperjuangkan sekolah menjadi peserta olimpiade biolgi seharusnya jadi indikator adaya pertimbangan fleksibel kemudahan dan rasa maklum pengumpulan tugasnya dapat disusulkan.

            Kedua, kewajiban guru memiliki kopempentensi dan mampu mewujudkan  tujuan pendidikan nasional telah diatur pada pasal 8 UU Guru dan Dosen (UU no 14 2005) ketidak mampuan guru menjalankan tuntutan kurikulum adalah persoalan besar, serius, dan jadi perhatian publik karena yang bersangkutan  bukan  saja melanggar UU Guru dan Dosen, melainkan nyata melanggar UU No.20/20013 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

            Ketiga, UU Sisdiknas Pasal 12 mengatur kewajiban sekolah memfasilitasi kebutuhan peserta didik demi tercapainya penyaluran minat, bakat, dan kemampuan. Tidak memberi kesempatan kepada siswa mengumpulkan tugas secara susulan sangat berpotensi mematikan kreativitas siswa.

            Keempat, mematikan kreativitas siswa, pemberian nilai nol dan menolak memberi kesempatan mengumpulkan tugas adalah faktor utama penyebab dan pendorong siswa diputuskan tidak naik kelas oleh SMAN 4 Bandung pada tahun pelajaran 2015-2016. Kesalahan proses pelayanan sistim pengolahan nilai yang berdampak munculnya nilai nol yang berujung pada kesalahan mengambil keputusan tidak naik kelas bagi siswa adalah termasuk perbuatan melanggar hukum dan kode etik guru.        

Lewat jalur Pengadilan

            Kelima, mengingat adanya bukti perlakuan kepada siswa yang didahului penolakan memberi kesempatan menyempurnakanm tugas, adanya pemberian nilai nol, dan berakibat siswa tidak naik kelasa, maka ditinjau dari hubungan sebab-akibat telah layak diselesaikan melalui proses hukum, yaitu pengadilan tata usaha negara, pidana, dan perdata. Tuntutan pelanggaran yang dapat diajukan di antaranya pelanggaran kewajiban menjalankan tugas profesi guru yang diatur pasal 20, UU No. 14/2005.

            Kenam, memahami dan memaklumi siswa yang kurang berdaya karena sedang ditimpa penyakit dengan cara memberi kesempatan dan kemudahan mengumpulkan tugas secara menyusul adalah kebiasaan yang sudah lahir, terpelihara, dan hidup bertahun-tahun sehingga dapat diterim oleh bangsa Indonesia sebagai hukum tidak tertulis, nilai dan etika yang dialui oleh masyarakat. Acuan tersebut diatur Pasal 20UU No. 14/2005.

            Ketujuh, mengacu kepada surat edaran Direktur PSMA No. 5182/D4/LK/2015 tentang pemberlakuan Panduan Penilaian Hasil Bbelajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan, maka kasus pemberian nilai nol di rapor siswi SMA 4 Bandung pada mata pelajaran Matematika, bukan hanya kesalahan guru, melainkan juga manajemen sekolah. Ketika ada siswa tidak memiliki nilai harian, guru berasangkutan seharusnya menagih tugas ke siswa yang nilainya belum lengkap, bukan menyerahkan nilai nol di akhir tahun dengan alasan siswa tidak mengumpulkan.

            Menurut ketentuan yang berlaku untuk penilaian dalam Kurikulun 2013 laporan pada hasil penilaian pendidikan pada akhir semester dan akhir tahun (rapor) ditetapkan dalam rapat dewan guru berdasarkan hasil penilaian oleh satuan pendidikan. Ketika peserta didik hanya memiliki nilai UAS, maka sudah seharusnya sekolah mempertanyakan dan memeriksa guru yang tidak menyerahkan nilai harian anak. Sekolah harus menyelidiki mengapa guru bersangkutan tidak menjalankan tugas pokoknya melakukan penilaian harian selama satu semester, bukan malah membiarkan pemberian nilai nol di rapor.

            Pemberian nol kepada peserta didik oleh guru Matematika SMN4 Bandung ini sangat memprihatinkan dan telah mencemarkan nama baik guru Indonesia. Hal ini juga merupakan kemunduran dalam pendidikan nasional dan berpotensi menimbulkan ketidak percayaan masyarakat terhadap penilaian yang dilakukan guru dan sekolah. Hal ini sangat berbahaya bagi upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

 

RETNO LISTYATI,

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT