Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

ANAK BERMASALAH, SIAPA YANG SALAH?

Selasa, 13 September 2016 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 723 Kali

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya adalah ibu dari remaja laki-laki. Saya baru-baru ini dipanggil oleh sekolah tempat putra saya menuntut ilmu. Dia duduk di bangku kelas VIII SMP. Sekolah mengatakan putra saya termasuk anak yang memiliki masalah dengan “prilaku”. Khususnya yang terkait dengan sikapnya yang cenderung melanggar dan tidak terlalu peduli degan aturan sekolah, seperti datang terlambat, tidak mengerjakan PR, dan suka “kabur” dari sekolah. Putra semata wayang saya itu berusia 14 tahun.

Kami sebagai orangtua, kurang berkenan dengan “label” putra saya bermasalah. Secara perlahan setiap anak akan berubah dengan sendirinya. Aktivitas saya sehari-hari adalah ibu rumah tangga yang memiliki bisnis pakaian, sedang suami konsultan yang seringkali berada di luar kota. Selain kami , masih ada paman dan nenek yang ikut mengawasi dia.  Sejujurnya, saya mulai sedikit waswas dengan perkembangan prilaku anak kami yang mulai lebih sering tertarik untuk berkumpul dengan kelompoknya daripada dengan keluarga di rumah.

Sebagai orangtua, kami sudah merasa memberi apa yang paling dibutuhkan anak, kasih sayang dan fasilitas, semua diberikan. Namun, kami sekarang mulai berdebar, mulai ketakutan, dan merasa gagal sebagai orangtua. Apa yang harus kami lakukan?

Nani, Bandung

 

Mendidik anak adalah perjalanan panjang sehingga mereka memiliki prilaku yang sesuai dengan harapan.  Dalam mendidik anak, hasilnya mungkin baru dapat kita lihat setelah proses yang panjang selama bertahun-tahun kemudian.  Pembentukan prilaku dan karakter jarang sekali yang diperoleh dalam jangka waktu yang pendek. Suatu proses perjuangan sepanjang hayat. Sangat penting prilaku positif itu dibangun dan siapa yang membangunnya, yaitu orangtua itu sendiri.  Dimulai dari kandungan, buaian, sampai mengenalkan anak dalam kehidupannya di lingkup pertama rumah dan mengenalkannya kepada masyarakat.

      Anak-anak kita adalah rapor yang terpanjang di hadapan kita. Perkembangan moral pada masa kanak-kanak berawal pada tingkat yang paling sederhana. Karena perkembangan intelektualnya, maka belum mencapai kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Awalnya setiap anak tidak memiliki keinginan untuk mengikuti aturan karena belum mengerti manfaatnya sebagai anggota masyarakat.

Setiap anak secara bertahap diajarkan  untuk mengerti standar moral yang harus diketahuinya, tentang bagaimana cara bertindak. Semua pengenalan aturan dan disiplin yang dikenalkan pada anak, awalnya akan membuat anak seperti “terpaksa”. Namun, lama kelamaan anak akan merasakan bahwa aturan dan disiplin merupakan kebutuhan. Perilaku benar dan salah menjadi lebih jelas.

Bagaimanapun cerdasnya anak, untuk menjadi baik diperlukan waktu yang cukup panjang. Istilahnya untuk menjadi cerdas dapat kita lakukan dalam satu malam. Namun, untuk menjadi mereka baik, memerlukan waktu ribuan malam. Agar anak mampu belajar perilaku sosial yang baik merupakan proses panjang dan rumit. Harus dilakukan penanaman nilai secara berulang-ulang, sampai terbentuk perilaku yang kita harapkan. Boleh jadi hari ini anak ingat, esoknya mungkin sudah lupa. Orang dewasa di sekitarnya harus mengingatkan. Caranya disesuaikan dengan usianya. Tentu saja memerlukan kesabaran yang tak terbatas.  

Pembentukan moral yang terkait dengan pembentukan penerimaan anak secara sosial, awalnya ditandai dengan sebutan, “moralitas melalui paksaan”. Seperti anak secara otomatis mengikuti aturan tanpa berpikir ataupun menilai, hanya mengikuti. Ia melihat apa yang ditetapkan oleh orang dewasa di sekitar kehidupannya merupakan kebenaran yang dapat mereka ikuti. Cara berpikir anak awalnya masih sangat konkret. Menurut pandangan anak, suatu perbuatan yang “salah” berakibat hukuman dan yang “benar” berakibat pujian. Jadi dalam benak anak, suatu perbuatan salah dan benar itu, masih  bersifat sebab–akibat, bukan berdasarkan kemampuan nalar mereka dalam memahami “mengapa” seseorang itu harus bersikap salah dan benar. Dengan berjalannya waktu, anak-anak akan menyesuaikan diri dengan harapan sosial agar memperoleh pujian.

Saat anak masuk masa remaja, perilaku patuh terhadap aturan diharapkan sudah terbentuk. Untuk itu diperlukan disiplin yang sifatnya konsisten. Apa yang dimaksud dengan disiplin adalah cara masyarakat (orangtua, guru, dan orang dewasa  lain) mengajarkan tingkah laku moral pada anak yang diterima oleh kelompoknya. Tujuan dari semua disiplin adalah membentuk perilaku. Bagaimana cara mengajarkan kepada anak mengenai benar dan  salah sehingga secara lambat laun akan mendorong anak untuk  berperilaku sesuai dengan harapan sosialnya.

Sebagian orangtua masih menganggap disiplin berkaitan erat dengan hukuman. Pendapat itu tentu saja salah. Makanya, disiplin baru diberikan ketika anak melanggar suatu aturan. Padahal disiplin itu merupakan suatu kebutuhan yang sangat terkait dalam pembentukan kepribadian anak. Bagaimana tidak, dengan disiplin, memberikan efek positif cukup besar. Anak merasa aman untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sederhananya, dalam menetapkan disiplin, ditentukan oleh empat hal:                                                                           

-- Aturan, yang merupakan undang-undang mengenai salah dan benar.                       

– Hukuman dan ganjaran. Fungsi dari hukuman untuk melemahkan prilaku negatif pada anak dan fungsi dari ganjaran akan membentuk penguatan prilaku positif pada anak. Anak akan tahu mana perilaku yang diharapkan oleh lingkungan dan mana perilaku yang tidak diharapkan  oleh lingkungannya.                  

  – Konsisten. Anak akan menghargai aturan dan figur otoritas (orangtua, guru, atau orang dewasa lain) sehingga anak akan mempertahankan aturan meningkatkan perilaku positifnya.                                                                                                                   

  – Komitmen. Ada kesepakatan bersama di antara seluruh orang dewasa yang mengasuh untuk membentuk sikap positif anak. Tidak boleh berlaku pengecualian sebelum tingkah laku yang diharapkan terbentuk.

Dalam hal ini sangat penting kerjasama dengan pasangan dan komunikasi yang besifat empati dengan anak. Yang terjadi pada persoalan yang ibu hadapi terlihat bahwa Ibu merasa kebingungan. Sekarang yang terpenting adalah melakukan re-edukasi pada anak agar mampu mengawal anak lebih baik lagi . Jika terjadi pembiaran atau pengabaian atas perilaku negatif yang dilakukan anak, nantinya akan berdampak pada penguatan perilaku negatifnya. Artinya kita memberikan reward pada perilaku negatif dan akan terjadi peningkatan untuk perilaku negatif berikutnya. Kontrol diri anak akan semakin lemah dan tidak mengenal arti “jera.” Ini akan sangat membahayakan dan akan memiliki resiko terbawa sampai anak dewasa.

Persoalannya, sudahkah kita sebagai orangtua menanamkan nilai-nilai yang benar sehingga anak dapat bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang berlaku? Sampai akhirnya kita sebagai orangtua menyadari, pentingnya mengatur perilaku positif anak untuk  kepentingan pembentukan kepribadiannya. Mendidik anak memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi tidak sulit menegakkan benang basah. Selama ikhtiar dijalankan, tangan Tuhan senantiasa akan terulur.

(Dra Elia Daryati R, Psi, Msi)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT