Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

NOVEL PERJUANGAN MEMPERINGATI HUT RI: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 3 Dandang Gulo Joleno

Jum'at, 05 Agustus 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 647 Kali

oleno hanya seorang abdi yang berasal dari kampung di pelosok dan tidak terdidik secara formal. Mengaji pun hanya bisa melafalkannya tanpa bisa membaca hurufnya apalagi memahami maknanya. Namun, sebenarnya dalam satu hal dia genius. Dia mahir membuat syair tembang Jawa. Kinanti, Megatruh, Mas Kumambang, dan Dandang Gulo adalah hanya empat dari sekian banyak tembang Jawa yang sering dilantunkan Joleno. Syair tembangnya dibuat Joleno sendiri untuk menyatakan pendapat, menyindir, atau menyampaikan sesuatu, bahkan kadang juga untuk memuji kebesaran Illahi.
Syair tembang Jawa itu mempunyai patokan-patokan yang rumit. Setiap tembang berbeda patokan dan pakemnya. Berapa baris syair dalam sebuah tembang, berapa suku kata dalam setiap baris, dan bunyi suku kata terakhir dalam setiap baris pun ada aturannya. Lebih-lebih setiap kalimat dalam syair itu kadang-kadang tidak bisa begitu saja diartikan secara harfiah. Harus dipecahkan bagai teka-teki yang penuh misteri. Singkatnya, membuat syair tembang Jawa itu adalah kerja hebat seniman genius yang sama sekali berbeda dengan membuat syair lagu bahasa Indonesia.
Malam itu Joleno membuka gerbang Dalem Pandukusuman ketika Sardikun mengantarkan Sumirah.
“Mirah akan sowan Denmas Guntur, Pak. Saya hanya mengantar sampai di sini,” kata Sardikun.
Dia lalu berpamitan dan pergi mengayuh sepedanya menjauhi gerbang. Tubuhnya lunglai bagai tak ada lagi tulang-belulangnya. Tak disangka pembelaan atas istrinya yang diganggu orang akan berakhir seperti ini. Mirah harus diserahkan kepada orang yang mengganggunya dengan suka atau tidak. Apa harus begini nasib si kecil yang tak boleh membela miliknya, dan milik itu adalah seorang istri yang dinikahinya secara sah di mata Tuhan dan manusia? Sementara Sumirah sendiri tampaknya rela saja diserahkan kepada Denmas Guntur, bahkan kelihatan senang karenanya. Sardikun tidak sampai pada pengertian bahwa Sumirah melakukan itu adalah sebagai pengorbanan bagi suaminya yang melakukan kesalahan besar karena kebodohan dan sifatnya yang pemberang.
Joleno memahami apa yang bakal terjadi dengan kedatangan Sumirah yang menyerahkan dirinya untuk diampuni atau dijarah oleh orang yang berkuasa atas nasibnya saat itu. Dia mengantar Sumirah menaiki undak-undakan pendopo dengan kesedihan luar biasa. Teringat akan anak perempuannya sendiri yang ditinggalkannya jauh di kampung. Semoga anak perempuannya itu tidak akan mengalami nasib serupa dengan Sumirah ini.
Puri juga memahami makna kedatangan perempuan Sraten itu ke pendopo Dalem Pandukusuman. Terbayanglah olehnya sekian puluh tahun lalu gadis desa bernama Sayem dipersembahkan ke Dalem Pandukusuman untuk sang priayi muda yang tak boleh kena sipilis. Akankah kisah pilu itu bakal terulang terhadap Sumirah yang nasibnya berada di tangan Guntur? Bahkan lebih pilu dan hitam karena Sumirah istri orang.
“Ibu pernah melakukan kesalahan besar sehingga kalian lahir ke dunia ini tanpa status yang jelas seperti ini,” kata Mbok Sayem kepada Puri. “Ibu tidak menyangka kalau Guntur akan melakukan hal yang lebih buruk daripada romonya karena perempuan Sraten itu istri orang.”
Puri memahami derita batin ibunya sementara dirinya sendiri juga mengalami keperihan yang sama jika Guntur akan mengulangi sejarah gelap orangtuanya. Puri mencegat adiknya ketika Guntur akan menemui Sumirah di pendopo.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Sraten. Tapi aku tahu perempuan yang datang itu pasti buntut masalahmu di sana. Iya, kan?”
“Inggih.”
“Pesanku, ingatlah kamu pernah mengaji dan mempelajari nilai-nilai luhur dalam kitab suci. Kamu paham, Guntur?”
“Inggih, Mbakyu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Menemui Sumirah di pendopo.”
Uh, Guntur tetap saja menjadi monster yang mengerikan dengan tindakan-tindakannya yang serba tak terduga. Apa maksudnya dengan jawaban itu? Puri mengeluh tanpa suara.
Joleno duduk di bawah pohon sawo kecik di samping pendopo. Menyandarkan punggung dan kepalanya ke batang pohon itu. Ini kebiasaan dia kalau sedang merangkai kata untuk syair tembangnya. Kali ini dia akan menyusun syair untuk Dandang Gulo.
Di pendopo, Sumirah duduk bersimpuh di atas lantai, meyakinkan dirinya sebagai makhluk pesakitan yang menyerahkan seluruh nasibnya kepada penguasa. Guntur muncul dari ruang dalam dan memandangi Sumirah sesaat. Sikapnya sulit diterjemahkan.
“Kenapa duduk di bawah?” tegurnya pelan.
“Inggih, Den ….”
“Duduk di kursi. Kamu kan teman sekolahku. Kita sederajat sejak dulu. Ingat?”
“Inggih, Den.”
Sumirah belum beranjak dari lantai. Duduk sejajar dengan Denmas Guntur dalam posisinya sekarang, sungguh hal yang sulit dilakukan.
“Kamu selalu tidak menuruti kataku sejak dulu,” ucap Guntur pula. “Kalau kau menuruti kataku, tidak akan terjadi peristiwa begini. Kau tak perlu lari dan menghilang hanya untuk kawin dengan Sardikun. Kau bisa terus sekolah dan jadi orang pintar. Kalaupun tidak bisa menjadi istriku, paling tidak kau bisa menata hidupmu menjadi lebih baik daripada sekarang karena kau berpendidikan.”
“Inggih, Den.”
“Sekali ini cobalah menurut. Duduk di kursi, jangan di bawah, nanti masuk angin dan kurang pantas untuk teman sekolahku.”
“Inggih, Den. Maturnuwun ….”
Sumirah beranjak akan duduk di kursi dengan sikap yang memperlihatkan rasa takut dan jengahnya melakukan hal itu.
Mendadak muncul Ningtyas dari dalam rumah dengan senapan locok ditodongkan ke dada Guntur!
“Suruh pergi perempuan kampung itu atau kamu kutembak!” ancamnya.
Sumirah meloncat dari kursi yang baru saja didudukinya dan berlari menjauh dengan rasa takut luar biasa. Guntur mengangkat tangannya ke arah Sumirah, memberi isyarat agar Sumirah tenang saja, tak usah takut berada di dekat Guntur. Dia sendiri berdiri menghalangi Sumirah dari kemungkinan bahaya dengan menghadapi laras senjata itu.
“Tante tidak bisa bicara dengan mulut, ya Tante? Sampai harus pakai senapan.”
“Suruh pergi perempuan itu! Dalem Pandukusuman tidak boleh dikotori dengan kebejatan moral!”
“Ternyata Tante juga tidak bisa bicara dengan senjata. Tante cuma omong kosong.”
“Aku akan tembak kamu!”
“Tembak saja, Tante. Kalau itu akan bikin Tante puas.”
Ningtyas benar-benar menembak. Jarinya menekan trigger senjata itu. Tapi tidak bisa. Dicobanya lagi, tidak bisa juga karena senjata itu dalam keadaan terpasang kunci pengamannya. Guntur tidak akan ceroboh menaruh senjata api tanpa kunci pengaman yang terpasang. Lebih dari itu, senjata itu kosong, belum diisi mesiu dan peluru.
Menyadari hal itu, Ningtyas membanting senapan ke lantai. Tadi sebenarnya dia akan sungguh-sungguh menembak Guntur untuk membuktikan keseriusannya. Sayang dia tidak tahu cara menggunakan senjata api yang disangkanya cukup dengan ditekan picunya, dan menyemburlah berpuluh butir pelor dari larasnya.
Ningtyas bergegas memasuki rumah dengan langkah panjang dan cepat. Dia malu sejadi-jadinya kegalakannya cuma nonsens.
“Kamu lihat sendiri, Nduk? Tantemu juga tidak suka Guntur jadi priayi slordig yang doyan makan barang haram,” ucap Mbok Sayem di kamarnya. “Kali ini Ibu setuju dengan sikapnya.”
“Inggih, Bu. Tapi mestinya tidak usah pakai senjata begitu,” sahut Puri. “Kalau Guntur ceroboh dengan menyimpan senjata berpeluru, hari ini akan terjadi rojopati (pembunuhan). Nama baik Pandukusuman akan tercemar karena ada tante membunuh keponakannya sendiri.”
Memang itu bisa terjadi. Lalu apa sajakah yang bisa terjadi atas perempuan cantik dari Sraten di pendopo Dalem Pandukusuman itu?
Dia sudah duduk lagi di kursi. Kali ini menangis terisak-isak sambil menunduk dalam-dalam. Guntur memungut senjata api itu dan menyandarkannya di dinding rumah. Lalu dia sendiri duduk di kursi yang berhadapan dengan Sumirah. Bisakah orang menebak apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya?
“Aku hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang mendorongmu datang ke sini, Mirah? Karena perintah suamimu atau karena kau sendiri ingin menemuiku?”
“Karena dua-duanya, Denmas. Dalem juga kangen panjenengan.”
“Edan!”
Guntur meninju meja ketika menyemburkan kata itu.
“Maaf, dalem juga ingin menebus kesalahan dalem karena dulu meninggalkan panjenengan begitu saja. Itu kalau panjenengan sudi menerima permohonan maaf dalem ….”
Dari bawah pohon sawo kecik Joleno melantunkan tembang Dandang Gulo yang baru saja digubahnya,

Duh priyagung kang wus andarbeni
panguwasa marang kang pasrah jiwa
Tan pineksa manut wae
Mbuh bener apa kleru
Waton bisa numbas pakarti
Mangka Gusti tan nendra
Wruh sadayanipun
Suthik-a panggawe ala
Pinda sardula nggaglak mangsa upami
Ra idep dosa nista

Syair tembang itu tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa apa saja secara pas. Hanya bisa sedikit mirip dengan makna yang dangkal, tak sedalam makna bahasa aslinya,

Wahai orang terhormat yang memiliki
kekuasaan atas orang yang menyerahkan jiwa raganya
Dia pasrahkan dirinya tanpa paksaan
Entah benar atau keliru
Asalkan bisa menebus kesalahan
Padahal Tuhan tak pernah tertidur
Tahu akan segalanya
Maka engganlah terhadap perbuatan tercela
Bagai harimau menelan mangsa
Tak tahu akan dosa dan nista

Guntur mendengar jelas tembang itu. Ia tersenyum, memahami arti Dandang Gulo Joleno yang berisi nasihat kepadanya. Begitulah Joleno, abdi yang telah mengasuhnya sejak kecil. Dulu jika Guntur kecil nakal, Joleno pun nembang Dandang Gulo untuk menasihatinya. Tentu digunakan syair-syair ringan yang bisa dipahami Guntur kecil. Nasihat seperti itu terasa lebih menyentuh sekalipun terhadap bocah bengal bernama Guntursewu.
Kali ini Dandang Gulo itu pun mampu menggedor batin Guntur hingga dia tegak lagi dari kejatuhan yang hampir saja terjadi. Joleno itu sungguh guru yang sebenarnya, sekalipun dia hanya seorang abdi.
“Sardikun itu suami bejat!” dengus Guntur seraya bangkit dari kursinya. “Aku heran bagaimana perempuan seperti kamu cuma dapat laki-laki tidak bermoral seperti dia.”
Guntur menuju ke garasi di samping belakang pendopo. Ia mengeluarkan sepeda motornya. Dia berseru ke pendopo, “Mirah! Ayo kuantar pulang!”
“Oh … pulang, Denmas?”
Sumirah turun dari pendopo dengan tak memahami sepenuhnya apa arti ucapan Guntur.
“Lik, tolong antar aku ke Sraten, ya. Sampeyan pakai sepeda saja,” ucap Guntur kepada Joleno. Dia memanggil Lik, yang artinya Paman kepada abdi dan pengasuhnya itu. Padahal mestinya dia berhak memanggil abdinya dengan nama saja.
“Lho, dalem harus ikut, Den?”
“Iya, Lik. Aku takut ada setan di jalan.”
“Lho, panjenengan kok takut setan? Apa bukan setan yang malah takut lawan panjenengan?”
“Soalnya setannya ada dalam diriku sendiri, Lik. Kalau ada sampeyan kan setannya takut berbuat macem-macem.”
“O, inggih, inggih. Sendiko.”
Sendiko itu artinya siap menjalankan perintah. Joleno paham, Guntur berusaha membentengi dirinya dari kemungkinan berbuat nista karena dia harus bersama perempuan muda cantik yang dulu pernah dicintainya di tempat sepi dan gelap pula.
Malam itu BSA merah bata meluncur ke Sraten. Sumirah berada di boncengannya, duduk jauh-jauh di belakang, tak berani menyentuhkan tubuhnya ke punggung Guntur. Di belakang, Joleno mengayuh sepedanya dengan napas tersengal. Padahal BSA itu sengaja dijalankan pelan saja.
Perjalanan itu jadi sangat berat bukan saja karena kondisi jalan yang buruk, juga karena di sepanjang jalan Guntur terus-menerus berperang dengan hatinya sendiri. Antara keharusan mengantarkan Sumirah ke Sraten atau menikmati saja kesenangan yang sudah dihadapkan ke depan hidungnya. Untunglah ada Joleno. Benar katanya, setan itu tidak bisa ngapa-ngapain karena itu.

***

Di Sraten juga ada perang batin yang terjadi ketika Sardikun memasuki rumahnya. Rasanya rumah ini begitu sunyi, begitu memilukan bila ditempati sendirian tanpa Sumirah. Sardikun berusaha memaksa dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah benar. Sumirah memang harus diserahkan ke Dalem Pandukusuman. Sakit atau tidak ia harus menerima kenyataan itu.
Lalu terdengar bunyi sepeda motor mendekat dengan lajunya yang pelan. Sardikun menegasi apa benar ia mendengar bunyi sepeda motor apa hanya halusinasi. Bunyi itu makin mendekat dan akhirnya berhenti di depan rumah.
“Ya, Allah … apa lagi yang harus hamba terima ini? Apa salah hamba menyerahkan Sumirah?”
Ada bunyi ketukan pintu. Terdengar agak keras dengan gedoran yang kuat. Jelas Guntur yang melakukannya.
Sardikun tegang. Ia berdiri saja, belum berani membuka pintu.
“Kang … ini Mirah, Kang ….”
Sumirah? Benarkah itu suara Sumirah?
“Kang … buka pintunya, Kang ….”
Suara itu terdengar memelas. Bergetar hati Sardikun karenanya. Dia lalu membuka pintu dengan tangan yang gemetar pula.
Belum lagi ia sempat melihat Sumirah, Guntur sudah merangsek masuk dan menghajar dagunya dengan pukulan telak bagai godam yang menghantam. Sardikun terhuyung lalu jatuh terduduk. Guntur berdiri gagah di hadapannya. Sumirah menyusul masuk di belakang punggung Guntur. Joleno di luar saja, mengatur napasnya yang tersengal karena yang terakhir tadi dia harus ngebut setelah Guntur melajukan sepeda motornya dengan kencang menjelang Sraten.
Sardikun tak berani berdiri meskipun sebenarnya dia sudah bisa melakukannya setelah sesaat ia duduk di lantai tanah itu.
“Kenapa tidak berdiri, Sardikun?”
“Tidak berani, Denmas.”
“Kenapa tidak berani? Karena tidak ada arit di tanganmu? Mirah! Ambil aritnya supaya Sardikun jadi berani!”
Sumirah tak beranjak dan tak bernapas juga karena tegang. Ia tidak menyangka Guntur akan berlaku seperti itu. Disangkanya akan baik-baik saja seperti selama perjalanannya dari Dalem Pandukusuman.
“Hayo berdiri, Sardikun!”
“Tidak, Denmas….”
“Ternyata cuma begini nyalimu. Tidak galak seperti kalau banyak temanmu dengan arit dan pentungan.”
Di luar, mulai ada orang yang berdatangan.
“Ada apa ini, Pak?” Seseorang bertanya begitu kepada Joleno.
“Tidak ada apa-apa. Denmas Guntur ngantar Sumirah.”
Orang semakin banyak berdatangan. Guntur mendengar kebisingan itu.
“Itu teman-temanmu sudah datang, Sardikun! Kamu harus berani seperti tempo hari. Ayo bangun!”
“Tidak, Denmas. Kalau Denmas akan bunuh dalem, dalem juga akan terima.”
Orang yang berdatangan semakin banyak. Di antaranya Kamituwo. Guntur bergerak cepat ke luar rumah. Sumirah sampai terdorong dan jatuh ke kursi.
“Hei, kalian orang-orang Sraten!” seru Guntur. “Aku datang ke sini mengantarkan Sumirah dalam keadaan utuh seperti ketika dia diantarkan ke Dalem Pandukusuman. Aku tidak menyentuhnya barang sedikitpun karena aku tak sudi makan barang busuk yang kalian persembahkan untuk menebus kesalahan kalian. Sumirah itu perempuan baik-baik yang kukenal sejak dulu. Tapi dia kalian jadikan barang busuk yang hina seperti itu. Siapa yang punya gagasan menyerahkan Sumirah ke Dalem Pandukusuman?”
Sesaat tidak ada yang menjawab. Beberapa orang saling pandang dengan rasa takut. Ternyata yang mereka lakukan untuk penebusan kesalahan itu keliru juga sampai membuat denmas itu murka.
“Dalem, Denmas,” Kamituwo menyahut. “Kemudian menjadi kesepakatan bersama. Mohon maaf kalau ternyata Denmas kurang berkenan….”
“Yang kalian lakukan itu penghinaan terhadap aku pribadi dan Eyang Pandukusumo karena kalian menyangka kami orang-orang bejat seperti kalian.”
“Inggih, Denmas. Mohon maaf ….”
“Kalian semua bisa diusir dari tanah ini karena Eyang Pandukusumo tidak sudi tanahnya dihuni orang-orang tak bermoral yang justru menyangka kami seperti kalian! Dengar semuanya?”
“Inggih, Denmas.”
Sahutan yang terakhir itu diserukan oleh banyak orang secara koor. Lalu tak ada yang bicara lagi. Guntur berbalik memasuki rumah kembali.
Sardikun masih duduk di lantai tanah. Bahkan Sumirah pun ikut bersimpuh di situ.
“Mirah,” panggil Guntur dengan suara tidak keras lagi nadanya.    
“Dalem, Denmas ….”
“Kalau sewaktu-waktu kamu ingin datang ke Dalem Pandukusuman, datanglah sebagai temanku yang dulu. Jangan sebagai barang busuk yang dijadikan tumbal bagi siapa pun. Kamu ngerti, Mirah?”
“Inggih Denmas ….”
Guntur lalu melangkah ke luar tanpa pamitan. Orang-orang di luar rumah mundur beberapa langkah ketika Guntur mendekati sepeda motornya tanpa mengatakan apa-apa. Sepeda motor itu distarter lalu meluncur pergi.
Joleno buru-buru naik ke sadel sepedanya dan mengayuhnya mengejar BSA ndoro-nya.
Di rumahnya, Sardikun masih duduk di lantai dan Sumirah pun masih bersimpuh seolah belum cukup memperlihatkan kepasrahan mereka.
“Orang kecil itu selalu kalah ya, Mirah? Apa-apa menjadi salah di mata priayi.”
Sumirah heran suaminya sampai pada pengertian seperti itu. Bukan menyadari kesalahan diri sendiri yang terjadi berulang kali. Ia sedih menyadari ternyata Sardikun lebih dungu daripada yang bisa dibayangkannya.

***

Jiwat menaruh tiga potong kain batik tulis itu di meja ruang tamu rumah R.M. Setobroto. Dia sudah menceritakan panjang-lebar mengenai batik tulis itu.
“Saya angkat jempol buat Bung Jiwat,” kata R.M. Setobroto. “Tapi masalahnya batik ini terus buat apa? Bung pasti tidak bisa menjualnya, kan?”
“Pasti tidak bisa. Artinya saya juga tidak akan bisa membayarnya kepada Nona Ningtyas.”
Nyonya Setobroto muncul menyajikan minuman dan sekadar penganan. Sebuah kehormatan bagi Jiwat karena Nyonya Seto sendiri yang menyajikan minuman, bukan pembantunya. Nyonya Seto akan menyahuti soal batik itu. Tapi tak elok istri priayi bicara mengenai urusan suaminya tanpa dimintai pendapat. Maka dia hanya diam, menelan keinginan untuk bicara tentang batik itu.
“Silakan Bung, tehnya dinikmati,” katanya kepada Jiwat.
“Terima kasih, Mbakyu. Maturnuwun,” sahut Jiwat dengan aksennya yang aneh bagi telinga Jawa.
“Oh, ya. Batik itu bisa dimanfaatkan buat Jeng Ratri saja. Tapi asal tahu, Bung. Ini batik yang hanya bisa dipakai sehari-hari. Dalam acara-acara resmi kurang patut karena kelasnya rendah,” kata R.M. Setobroto. Jeng Ratri itu panggilan kepada istrinya. “Jadi saya harus membayar batik produksi ibu saya sendiri? Lucu, ya?”
Jiwat sadar bahwa dirinya memang tak punya pengetahuan apa-apa mengenai batik tulis. Terbukti dia memilih kualitas yang salah. Bahan kainnya dari mori, bukan prima atau primissima. Sogan-nya juga kurang matang. Dalem Pandukusuman sengaja memproduksi kualitas itu untuk konsumsi masyarakat biasa, bukan kaum priayi atau orang kaya.
“Pakai saja dana perjuangan untuk bayar batik itu, Bung,” kata Jiwat setengah malu karena dia keliru soal batik yang disangkanya kelas satu.
“O, tidak. Ini urusan pribadi yang harus diselesaikan dengan uang pribadi. Tidak masalah asalkan Bung Jiwat bisa benar-benar menaklukkan adik saya. Dengan orang Belanda itu saya tidak suka meskipun misalnya sampai dia mau disunat!”
“Terima kasih. Bung memang nasionalis sejati. Saya harus banyak belajar sama Bung.”
“Saya juga harus belajar bagaimana Bung Jiwat punya semangat macam itu.”
Soal uang pembayaran batik tulis itu selesai. Namun, urusan dengan Ningtyas tak semudah itu. Sebab Ningtyas membawa cincin berlian Jiwat ke toko perhiasan dengan Babah Ming Pek sebagai ahli permatanya. Babah Ming Pek sudah meneliti berlian itu dengan saksama menggunakan keahliannya yang terpercaya.
“Den Lolo ada salah pilih ambil belian ini,” kata Babah Ming Pek. Maksudnya Den Roro, panggilan untuk gadis dari keluarga ningrat. Karena lidah cinanya dia mengucapkan Den Lolo dan belian. “Ini cuma beling, Den Lolo.”
Mati aku! Ningtyas mengutuk dan memasuki mobil sedan Buick warna hitam yang dikendarainya sendiri. Mobil ngebut ke Dalem Pandukusuman. Gerbang pun nyaris ditabraknya karena Joleno agak lambat membukanya. Joleno sendiri meloncat menghindari benturan bumper kendaraan itu setelah dia membuka gerbang.
“Guntuuuur! Mana Guntur!” seru Ningtyas sambil bergerak ke sana kemari mencari keponakannnya.
“Ada apa toh, Ning? Siang-siang begini kok amuk-amukan begitu,” desah Den Ayu Pandu, padahal dia sering melihat anak gadisnya itu heboh begitu.
“Anak babu itu bikin masalah!” sahut Ningtyas.
Den Ayu Pandu mendesah dan mengurut dadanya sendiri. Dia tidak tahu apa leluhurnya atau leluhur suaminya yang menurunkan sifat buruk seperti itu kepada Ningtyas.
“Guntuuuuur! Di mana, kamu?”
“Dalem di sini, Tante.”
Guntur muncul dari kamarnya, di dekat bangsal yang digunakan sebagai tempat pembatikan di bagian belakang rumah besar itu.
“Schuferd! “ makinya. Artinya kurang ajar. “Dievent is dief!”
Siapa yang dievent is dief, benar-benar penipu? Guntur belum sempat menduga siapa yang dimaksudkan tantenya itu ketika sang tante sudah membanting cincin berlian ke lantai di depan kakinya. Mata cincin itu copot dan pinggirnya gerepes karena retakan. Berlian mana yang retak dibanting ke atas lantai? Guntur segera tahu artinya.
“Jadi dalem harus bagaimana, Tante?”
“Kamu harus tanggung jawab karena kamu yang bawa setan belang itu ke sini!”
“Bagaimana caranya Tante?”
“Koppig! Cari dia sampai dapat dan bawa ke sini!”
“Masya Allah! Dalem tidak tahu dia tinggal di mana ….”
Itu memang benar. Guntur tidak pernah tahu Jiwat itu tinggal di mana. Herannya, dia baru sadar sekarang bahwa mengetahui tempat tinggal teman baru memang hal yang penting. Ia tidak menyangka, sarannya kepada Jiwat untuk bikin perkara dengan Ningtyas ternyata jadi begini. Maksudnya yang kecil-kecil saja. Misalnya cara Jiwat bicara cas-cis-cus dengan Hollandse spreekten itu oke banget.
“Aku tidak mau tahu bagaimana kamu bisa ganti uang batik itu. Kalau bisa dengan kepalamu, lakukan!”
“Wah, siapa yang mau beli kepala dalem, Tante?”
“Pieter! Aku mau laporkan ini kepada Pieter! Bandit itu bisa ditangkap atau dibunuh mati sekalian!”
Celaka kalau begini. Pieter van Hofman itu bisa bikin macam-macam atas diri Jiwat dan Guntur sendiri akan terlibat dalam urusan karena dialah yang merekomendasi Jiwat.
Guntur belum sampai menemukan akal untuk mengatasi masalah ini, Ningtyas sudah memutar nomor telepon untuk menghubungi Inspektur Pieter van Hofman si pembesar polisi!
Di mana Jiwat saat ini? Guntur tidak tahu kesengsaraan yang sedang dialami Jiwat siang itu. Hari panas pada musim kemarau yang terik. Ban sepeda kumbang merek Ducati-nya kempes karena tertusuk paku. Ia tahu di sepanjang jalan yang akan dilaluinya tidak ada tukang tambal ban sepeda yang bisa mengerjakan penambalan ban sepeda kumbang. Harus mencari bengkel di kampung lain. Kalau harus menuntun sepeda kumbang ke sana sungguh tak mungkin. Maka dia mengambil jalan pintas dengan menyusuri jalan-jalan kampung. Itu pun sudah sangat menyiksa dengan kelelahan dan kehausan yang mencekik tenggorokannya. Saku celana panjangnya yang meggelembung berisi uang lima puluh gulden terasa mengganggu langkahnya.
Lalu ada bunyi gesekan biola di kampung itu. Terdengar aneh karena mestinya di kampung begitu yang terdengar adalah bunyi seruling bambu atau gesekan rebab. Lebih aneh lagi karena Jiwat merasa gesekan biola itu terdengar dari sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang menghadap ke hamparan sawah di depannya, di seberang jalan tanah. Lagu ‘Als de Orchideen Bloeien’ mengalun dengan gesekan biola yang apik.
“Ini keajaiban tanah Jawa,” ucap Jiwat dalam hatinya. “Bagaimana di tempat seperti ini ada bunyi biola?”
Jiwat menuntun sepeda kumbangnya ke halaman rumah itu. Paling tidak dia berharap bisa memperoleh segelas dua gelas air putih bagi kehausannya. Penggesek biola itu pasti orang intelek. Bertemu dengan orang terpelajar akan lebih enak daripada dengan orang kampung biasa.
“Spada … kulonuwun …,” ucapnya di depan pintu rumah itu.
Gesekan biola terhenti sebelum lagu itu terselesaikan. Lalu terdengar tangis anak kecil berusia satu tahunan begitu gesekan biola terhenti.
“Sebentar ya, Damar. Bapak akan menemui tamu dulu. Nanti Bapak main lagi.” Terdengar ucapan itu, mungkin si pemain biola yang bicara dengan bayinya.
Pintu terbuka. Bayi terus menangis.
“Maaf, saya mengganggu. Saya tidak tahu Saudara sedang meninabobokkan putra Saudara ….”
“Tidak apa-apa. Oh! Mas Jiwat, ya?”
Pemain biola itu kaget mengenali Jiwat. Jiwat pun tak kalah kaget mengenali pemain biola itu lelaki ramping bertampang priayi dengan kacamata bundar yang menguatkan kesan aristokrat di wajahnya.
“Kamu Bung Sasongko? Bagaimana bisa ketemu di sini?”    
Keduanya bersalaman dengan pegangan yang kuat dan diguncang berkali-kali.
“Sebentar saya mendiamkan anak saya dulu. Silakan masuk, Mas. Lama ya kita tidak ketemu?”
Jiwat melangkah masuk dan melihat seorang anak lelaki satu tahunan yang duduk di kursi rotan berukuran kecil. Anak itu masih menangis. Sasongko mengambil biolanya dan mulai memainkan lagu itu lagi. Anak kecil itu berhenti menangis seperti hendak menikmati alunan biola ayahnya.
“Keajaiban dunia yang keberapa ini ada anak kecil bisa menikmati alunan biola?”
“Begini caraku mendiamkan tangis Damar Galih.”
Sasongko terus memainkan biolanya sambil bicara.
“Namanya Damar Galih? Orang Jawa biasa bikin arti untuk nama anaknya. Damar Galih itu apa artinya?”
“Pelita hati.”
“O …. Tapi bagaimana dia bisa suka lagu ‘Als de Orchideen Bloeien’? Tidak lagu lain?”
“Ini lagu ‘Bila Anggrek Mulai Timbul’. Melodinya memang sama dengan ‘Als de Orchideen Bloeien’. Saya tidak tahu mana yang diciptakan lebih dulu oleh Ismail Marzuki. Atau lagu itu memang dibikin dua versi?”
“Tidak penting. Yang penting lagu itu memang bagus dan bisa meninabobokkan Damar Galih. Tapi bagaimana saya bisa minum sekadar segelas air putih? Saya haus betul.”
“Oh, iya. Mas Jiwat bisa ambil sendiri di dapur. Kebetulan bapak saya sedang ke sawah. Kalau Bapak di rumah, bisa bikinkan minuman buat Mas Jiwat. Biola ini harus terus bunyi sampai Damar tidur.”
Tak apa kasak-kusuk ke dapur sendiri untuk mencari dua gelas air putih bagi dirinya sendiri. Selama itu bunyi biola terus mengalun. Bahkan sampai ketika Jiwat sudah kembali ke ruang tamu dan berbincang tentang banyak hal dengan Sasongko.
Mereka teman lama. Setidaknya ada setahun lamanya mereka bergaul akrab ketika Jiwat indekos di Laweyan dan Sasongko sering berada di rumah Mijnheer (Tuan) Oldenbaarneveld untuk belajar main biola. Jiwat menganggap aneh juga ada anak kampung yang suka main biola.
Ketika Damar Galih sudah tertidur, barulah Sasongko meletakkan biolanya pelan-pelan. Sasongko lebih lancar bercerita tentang dirinya saat dia tidak harus menggesek biola untuk anak lelakinya.
“Anak ini perolehan saya ketika saya ingin sekolah dan terpaksa menggadaikan hidup dengan menikahi ibunya,” kata Sasongko dalam kisahnya.
Memang cerita sedih yang memilukan. Sasongko bisa bersekolah lagi dengan biaya mertuanya, juragan tembakau Joyodikromo. Namun, ketika istrinya yang penyakitan itu meninggal sejak melahirkan Damar Galih, santunan untuk biaya sekolahnya berhenti. Mertuanya bahkan menyalahkan Sasongko sebagai penyebab kematian sang istri. Sasongko keluar dari rumah mertuanya itu membawa Damar Galih yang saat itu baru berusia tiga bulan. Sulit dibayangkan bagaimana dia bisa merawat anak bayi berdua ayahnya yang sudah tua. Kadang adik perempuan Sasongko yang sudah berumah tangga dan tinggal di kampung itu, datang membantu merawat keponakannya. Namun itu juga tidak selalu bisa diharapkan.
Ketika Jiwat kembali menuntun sepeda kumbang itu ke bengkel sepeda, kesedihan menggelantung di batinnya akan nasib sahabatnya. Uang bakal membayar batik tulis itu dikuranginya sedikit untuk sekadar pembeli susu Damar Galih. Ketika masih bayi dulu anak itu hanya disuapi air tajin sebagai pengganti susu yang tak bisa dibeli orang tuanya.
Seandainya kemampuan Sasongko main biola itu bisa digunakan untuk mencari penghasilan, mungkin Damar Galih akan bisa selalu minum susu. Jiwat memikirkan hal itu. (Bersambung....)

 

 

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT