Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

MENGIDENTIFIKASI GAYA BELAJAR ANAK

Senin, 22 Agustus 2016 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 732 Kali

Pengantar: Artikel ini ditulis berdasarkan pertanyaan seorang Guru SMP, Ibu Furi Fatmawati, yang ditujukan kepada Dr Hidayat, Dpl SED, Msi, Dosen Pasca sarjana UPI Bandung, Pengasuh Rubrik Konsultasi Pedagogi HU Pikiran Rakyat.

Saya guru SMP yang memiliki dua anak yang sedang belajar di Kelas III dan VI SD. ketika saya mengajar di sekolah, saya sering bingung dan kadang tersinggung degan pola belajar anak kami. Ada beberapa murid saya kalau diterangkan sering tidak menyimak. Mereka lebih asik menggambar atau mencorat- coret buku, tidak suka kalau disuruh membaca buku bacaannya. Tetapi ketika saya beri soal yang telah diterangkan, dia bisa menjawabnya dengan benar.

            Ternyata pengalaman di kelas tersebut menyadarkan kami sebagai orangtua karena anak kami yang kelas III rajin membaca buku, tidak suka di lingkungan yang berisik dan gaduh, sedangkan kakaknya yang di kelas IV, kalau belajar atau ulangan , tidak mau membaca buku sendiri, meskipun sudah bisa membaca pemahaman. Dia lebih senang minta dibacakan oleh kami buku yang harus dipelajarinya dan mudah memahami, bahkan nilai ujian masuk 10 besar di kelas.

            (1). Apakah benar pola belajar anak-anak itu tidak ada yang sama dan seperti apa ragam belajar anak-anak itu?

            (2). Bagaimana caranya kami sebagai orangtua dan guru bisa memahami gaya belajar anak supaya anak murid kami bisa berprestasi optimal?

            (3)Pembelajaran seperti apa yang harus saya hindari supaya anak-anak kami bisa bergembira dalam belajar dan mencapai prestasinya.

            Pada 2015, Morinaga menyurvei 1.061 orang tua dengan anak mereka yang berusia 0-6 tahun (0-12 bulan sejumlah 257 anak, 13-35 bulan sejumlah 471 anak, dan 36-72 bulan berjumlah 365 anak) di kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Pematangsiantar, DKI Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Surabaya, dan Malang. Kesimpulannya anak-anak usia 0-6 tahun lebih banyak menggunakan gaya belajar auditori (pendengaran ). Meskipun demikian, ada juga yang menggunakan gaya belajar kinestetik (gerak tubuh/otot dan tulang) dan visual ( penglihatan).

            Dalam memberikan simulasi atau pembelajaran, akan lebih bijak bagi orangtua atau pendidik (guru) apabila memperhatikan gaya belajar yang dominan pada anak supaya informasi lebih muda diserap. Untuk itu perlu pembiasaan, karena orangtua atau pendidik cenderung menggunakan gaya belajar yang dominan pada dirinya dalam proses stimulasi atau pembelajaran. Bila kebetulan gaya belajar yang dominan pada orangtua atau pendidik dengan anak sama, tidak akan terjadi kendala. Namun, bila yang dominan berbeda, anak akan kesulitan menerap informasi atau pengetahuan yang diberikan. Sebaiknya orang tua atau pendidik menggunakan gaya belajar lain sebagai pendamping agar ketiga gaya belajarnya tetap terstimulasi dengan baik. Gaya belajar merupakan kecenderungan cara yang digunakan seseorang saat mempelajari hal-hal baru dalam hidupnya.

            Generasi yang lahir pada abad ke 21 sering diistilahkan sebagai generasi platinum. Mereka terlahir pada masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan saran pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Cirinya tinggi dalam mengakses dan menyerap informasi sehingga memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan diri. Kemampuan inilah yang kelak menjadi modal untuk bertahan hidup. Banyak yang berasumsi, dengan segala fasilitas dan kemudahan yang tersedia pastilah generasi ini lebih “nyaman” menjalani hidup. Belum tentu, sebab dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tantangan yang harus dihadapi lebih besar, persaingan main ketat, serta tekanan lebih kuat.

             Menurut Dr Howard Gadner, psikolog dari Universitas Harvard dalam bukunya The Multiple Intelligence (1993), indikator kecerdasan tidak hanya satu aspek, melainkan mencakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari. Makna kecerdasan itu sendiri adalah keseluruhan kapasitas atau kemampuan untuk belajar, memahami lingkungan, dan memecahkan masalah. Kecerdasan yang menyangkut banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari yang diistilahkan sebagai multiple intelligence atau kecerdasan majemuk. Penelitiannya masih terus dilakukan untuk menemukan lebih banyak tentang bagaimana manusia itu belajar.  

            Secara singkat, Gardner membagi kecerdasan itu menjadi 9, yaitu:

  1. Kecerdasan gerak tubuh,
  2. Kecerdasan gambar dan ruangan,
  3. Kecerdasan bahasa,
  4. Kecerdasan logika,
  5. Kecerdasan dalam musik,
  6. Kecerdasan intrapribadi,
  7. Kecerdasan antara pribadi,
  8. Kecerdasan memahami alam,
  9. Kecerdasan moral.

 

Luasnya spektrum kecerdasan bisa disimpulkan bahwa tiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan itu juga terkait dengan talenta atau bakat. Suatu kecerdasan yang menonjol bisa saja lahir beberapa talenta yang lebih spesifik. Misalnya anak dengan kecerdasan musikal, bisa jadi ia memiliki talenta menyanyi atau bermain musik.

Kecerdasan perlu diasah dengan tepat, supaya hasilnya optimal. Caranya dengan menstimulasi potensi itu secara kontinu sejak dini. Stimulasi sebaiknya tidak dibatasi pada salah satu dari aspek kecerdasan, melainkan pada setiap aspek kecerdasan. Meskipun ada salah satu aspek kecerdasan itu menonjol, anak tidak akan rugi bila distimulasi beragam aspek kecerdasan yang lain, karena bisa jadi sebenarnya ada lebih dari satu talenta yang dimiliki anak.

Gaya belajar adalah cara individu untuk menyerap informasi. Dr Lauren Bradway (1993) menyebutkan tiga macam gaya belajar, yaitu:

1.Looker Visual), gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indra penglihatan. Anak-anak dengan gaya belajar looker/ visualmudah mengingat sesuatu yang pernah dilihat, seperti gerakan, warna, bentuk dan ukuran, gemar mengobservasi lingkungan, serta memiliki koordinasi mata-tangan (motorik halus) yang baik.

2. Listener ( auditory), gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indra pendengaran. Anak-anak dengan  gaya belajar ini senang menirukan suara yang didengar serta cenderung banyak bicara.

3. Mover (kinesthetic),gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indra peraba dan gerak. Anak-anak dengan gaya belajar ini lebih senang kegiatan dengan memfungsikan motorik kasar (gross motor), hakus ( fine motor) dan ingin menyentuh semua benda yang dilihatnya, serta lebih cepat berjalan daripada berbicara.  

Setiap orang memiliki ketiganya. Akan tetapi biasanya ada yang lebih dominan digunakan. Penting bagi orangtua dan guru untuk mengetahui gaya belajar anak karena dengan mengetahuinya, orangtua dan guru tidak akan memaksakan anak belajar dengan gaya yang tidak sesuai. Misalnya, gaya anak belajar move / kinesthetic, tetapi orangtua meminta anak duduk manis sambil membaca buku seperti anak visual. Akibatnya, anak akan merasa jenuh dan hasilnya tidak optimal. Sebaliknya, bila telah paham dengan gaya belajar anak, orangtua dan guru bisa memahami karakter anak sekaligus membuat anak menjadi senang belajar.

Selanjutnya buat anak sendiri, semakin anak tersebut mengenal gaya belajar yang dimilikinya, anak-anak dapat menerapkan cara belajar yang baik untuk memaksimalkan kemampuannya sehingga siap menjadi generasi platinum yang mampu menjawab segala tantangan zaman.

(Dr. Hidayat, Dpl Sed, Msi)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT