Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

CINTA DUA PEREMPUAN bag. 2 Nama Saya Jiwat, Denmas

Selasa, 02 Agustus 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 693 Kali

Guntur tak sengaja bikin ulah di kampung Sraten. Sebagian besar wilayah kampung itu merupakan lahan luas yang pernah direncanakan menjadi kebun kelapa sawit. Rencana itu tak pernah terwujud karena perizinan yang sulit. Hanya pemerintah Hindia Belanda dan pengusaha partikelir (swasta) Belanda yang boleh membuka perkebunan kelapa sawit. Kini lahan itu dihuni oleh banyak orang secara gelap. Banyak rumah penduduk yang didirikan tanpa seizin pemilik lahan, R.M. Pandukusumo.
Di sana ada tanah terbuka yang merupakan hutan dan semak-belukar. Guntur bermaksud berburu babi hutan di sana ditemani Joleno. Dia naik BSA merah bata ke sana, membawa senapan locoknya. Namun, sebenarnya dia sama sekali tidak berpengalaman berburu. Senapan yang sudah berpeluru itu nganggur saja. Guntur malah duduk santai di dekat pancuran air. Dan di pancuran air itu ada perempuan kampung yang cantik sedang mengambil air dengan kleting, gentong mini berleher kecil yang cara membawanya dengan digendong di samping pinggang. Si perempuan mengenakan kebaya dan berkain batik sebetis tingginya.
Sebuah kejutan yang benar-benar tak terduga, Guntur mengenali perempuan itu. Tak salah, dia Sumirah, teman sekolahnya di MULO dulu. Sumirah bisa bersekolah sampai MULO (setingkat SMP) karena diakui sebagai keponakan R.M Dewobroto, ayah Guntur. Bila tidak begitu, tak mungkin rakyat jelata bisa bersekolah setinggi itu, sekolah yang diperuntukkan bagi kaum priayi sebagai salah satu politik kolonial untuk memperbodoh bangsa jajahan. Kaum priayi boleh bersekolah tinggi karena dinilai bisa kooperatif dengan pemerintah kolonial. Sayang Sumirah keluar sekolah karena harus kawin. Padahal ketika itu Guntur sedang hangat-hangatnya naksir Sumirah. Tampaknya Sumirah juga melayani cinta Denmas Guntur, panggilannya ketika itu. Maka lenyapnya Sumirah dari bangku sekolah dan tahu-tahu ada di pancuran itu, sungguh kejutan besar buat Guntur.
“Sumirah!” Guntur berseru memanggil. Posisinya berada di atas tebing menggunduk, dan pancuran itu ada di bawahnya. Ia membelakangi matahari sehingga wajahnya tidak tampak jelas.
Sumirah menoleh mencari-cari. Tampak olehnya sosok asing dengan senjata laras panjang di tangan. Bayangan orang itu memanjang sampai menuruni tebing dan menyentuh pancuran. Sungguh tampak mengerikan. Itukah serdadu KNIL yang masuk kampung untuk menembaki rakyat? Teror serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger – Tentara Kolonial Hindia Belanda) menjadi salah dan berlebihan bagi orang kampung seperti Sumirah. Maka karena teror rasa takutnya, Sumirah lari dari pancuran. Kletingnya dibuang begitu saja dan pecah menimpa batu.
“Sum! Sumirah! Aku Guntur!” seru Guntur, menyadari Sumirah setakut itu.
Sumirah terus lari menyusuri jalan tikus di antara alang-alang dan belukar. Ia jatuh bangun tak keruan hingga baju dan kainnya kotor. Guntur terus memanggil dan mengejar untuk meyakinkan siapa dirinya dan Sumirah tak perlu setakut itu sekalipun dia merasa pernah menyakiti Guntur di masa lalu.
“Deeeeen! Jangan, Deeeeen! Bahayaaaa!” seru Joleno sambil lari pontang-panting mengejar ndoronya.
Guntur terus mengejar karena penasaran dan sekarang sudah menjadi jengkel oleh perilaku Sumirah. Itulah kesalahan besar yang dilakukannya. Di kampung Sraten, kampung jadi-jadian yang baru terbentuk beberapa tahun belakangan ini karena infasi penduduk atas tanah R.M. Pandukusumo, ada beberapa orang lelaki. Mereka sedang menganyam sayatan bambu untuk dinding rumah. Ada juga yang sedang memotong dan membelah bambu. Ada beberapa orang yang kerja di ladang pula. Karena itu mereka bersenjata arit dan pacul.
“Tulung, Kaaaaang!” seru Sumirah begitu memasuki kampung itu.
Serentak para lelaki berdiri dan mencari tahu ada apa gerangan. Melihat keadaan Sumirah mereka menduga ada hal-hal yang membahayakan dan sangat menakutkan.
“Ada apa, Sum?” Seseorang bertanya. Dialah Sardikun, suami Sumirah dengan perbedaan usia yang jauh sehingga Sumirah pantas memanggilnya Paman, bukan Kang.
“Aku takut, Kang. Ada orang ngejar-ngejar aku ….”
Sardikun memandangi Guntur yang baru saja tiba dengan senapan panjang yang dipegangnya.
“Ini orangnya?” tanya Sardikun.
“Iya, Kang ….”
Sardikun yang cinta mati pada istrinya yang cantik mungil itu, segera saja menyerbu Guntur tanpa tanya jawab lebih dulu seperti layaknya di panggung ketoprak bila seseorang akan menyerang jagoan.
Untunglah Guntur pernah belajar silat sejak dia belum disunat sampai dia khatam Al Quran berulang kali. Refleksnya hidup. Dia mengelak dan menggunakan senjatanya untuk menangkis.
Sedetik lamanya dia teringat akan guru silatnya, Kiai Wok Randu Alas. Sebutan Kiai itu bukan berarti dia seorang ulama. Melainkan sebutan bagi orang yang disegani, dihormati, dan dituakan. Namanya sendiri siapa tidak ada yang mempersoalkan. Para murid dan segenap kenalannya menyebutnya begitu. Yang diingat Guntur adalah kebiasaan Kiai Wok Randu Alas melatihnya dengan pertarungan jitus. Artinya siji lawan satus atau satu lawan seratus. Memang tidak benar-benar melawan seratus orang, tapi cukup banyak dalam jumlah yang tidak tentu bergantung pada situasi. Inilah saatnya jurus jitus diuji.
“Tunggu dulu! Ada apa ini?” seru Guntur setelah berhasil menangkis serangan arit yang mengarah ke kepalanya.
“Ada setan lanang!” seru lelaki lain. Setan lanang itu setan laki-laki atau laki-laki setan.
Dia ikut menyerang dengan sepotong bambu. Hukum rimba di zaman apa pun berlaku. Orang akan mudah tergerak untuk mengeroyok siapa pun yang dianggapnya sebagai gangguan. Apalagi terjadi di kampung mereka dan pengganggu itu adalah pendatang entah dari mana. Maka orang pun makin banyak berdatangan, makin bersemangat menghabisi orang asing yang bisa menangkis bacokan arit.
Joleno berteriak-teriak mencegah. Namun, teriakannya tak punya arti di tengah orang bodoh yang marah secara ngawur itu.
Pada saat yang kritis ketika Guntur hampir tak bisa menangkis serangan karena lelah dan musuh terlalu banyak, datang seorang pemuda tiga puluh tahunan naik sepeda kumbang merek Ducati. Si pendatang itu memarkir sepeda kumbangnya dan langsung terjun ke arena, membentengi Guntur dengan tindakan yang kelewat berani.
“Saya kawan, Denmas!” seru pemuda itu. “Pinjam senjatanya!”
Pemuda itu langsung mengambil senjata dari tangan Guntur. Dia mengokangnya dan menembak ke udara. Bunyinya menggelegar membahana ke mana-mana, dipantulkan oleh pohon-pohon rimbun menjadi gema yang mengerikan.
Serentak semua gerakan penyerangan berhenti. Orang-orang itu menjadi patung dalam beberapa detik karena teror letusan senjata yang menggelegar. Pemuda itu menodongkan senjata ke dada para pengeroyok secara bergantian. Setiap orang yang ditodong bergerak mundur secara otomatis.
“Ayo, siapa yang ingin dadanya jebol! Maju!” ancam pemuda itu. Padahal senjata itu kosong, tak berpeluru lagi karena sudah ditembakkan. Untuk mengisinya harus menuangkan bubuk mesiu melalui mulut larasnya yang lebar. Lalu dipadatkan dengan besi panjang, barulah diisikan pelurunya, berupa butiran-butiran besi.
Guntur menjadi sangat tegang pada posisi ini karena dia tahu senjata itu tak berpeluru lagi. Jika pun berpeluru, bagaimana bisa menembak orang sebanyak itu? Senapannya bukan senjata otomatis yang bisa memberondongkan peluru sekaligus.
Joleno pun ikut tegang, karena dia tahu kondisi senjata itu. Dia biasa mengisikan mesiu dan peluru jika Denmas Guntur latihan menembak di halaman belakang Dalem Pandukusuman.
“Kalian tahu siapa Denmas ini?” seru pemuda itu. Aksennya aneh, seperti pemuda dari seberang laut, entah di mana. “Beliau ini Raden Mas Guntursewu dari Dalem Pandukusuman! Cucunda Raden Mas Pandukusumo! Kalian semua tinggal di kampung ini tanpa seizin beliau!”
Terdengar koor yang tidak kompak. Perasaan kaget dan menyesal dilontarkan dengan gumam yang tidak sama bunyinya. Lalu mereka membungkuk-bungkuk sambil merangkapkan kedua telapak tangan seperti orang menyembah.
“Oh, Maaf, Denmas. Maaf, kami tidak tahu ….” Sardikun bersuara gemetar.
“Karena tidak tahu bukan berarti kalian boleh nggebuki orang sembarangan!” dengus Guntur.
“Inggih, inggih ….”
Saat itu Sumirah baru sadar, orang yang disangka KNIL itu ternyata Denmas Guntur, kekasihnya pada masa lalu. Dia menjatuhkan dirinya ke tanah dan menyembah.
“Mohon ampun, Denmas. Dalem tidak menyangka ternyata panjenengan…,” ucapnya penuh sesal.
“Ya sudah. Tidak apa-apa. Lain kali lihat dulu sebelum lari.”
Pemuda penolong itu mengulurkan tangan ke arah Guntur.
“Kenalkan, nama saya Jiwat, Denmas,” ucapnya.
“Terima kasih, tapi tidak usah pakai Denmas.”
“Dimas saja, boleh?”
“Rasanya begitu lebih baik. Panjenengan siapa tadi?”
“Jiwat. Siji ning kuwat. Ha-ha-ha ….”
Guntur ikut tertawa. Lucu juga orang itu. Siji ning kuwat itu artinya satu tetapi kuat. Pas dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Begitulah cara perkenalan Guntur dengan Jiwat. Kelihatannya hanya kebetulan Jiwat berada di sana. Sebenarnya tidak. Jiwat sudah membuntuti Guntur sejak keluar dari gerbang Dalem Pandukusuman. Ia memang berencana mendekati Guntur meskipun cara pertemuan dengan letusan bedil itu tidak tersengaja. Maka siapakah Jiwat ini?
Dia berasal dari Makassar, salah seorang aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan bawah tanah untuk memerdekakan Indonesia atau setidak-tidaknya menghimpun perasaan kebangsaan di kalangan masyarakat kebanyakan. Dia bergabung dengan seorang pemilik perkebunan teh yang nasionalis dan menjadi donatur gerakan itu, R.M Setobroto, paman Guntur! Tapi aksi Jiwat ini lebih sebagai usaha pribadi dalam rangka mencari kekasih. Usianya mendekati tiga puluh tahun, tapi belum laku di mata gadis Jawa.
R.M. Setobroto pernah bilang begini, “Saya punya adik itu sangat belandis. Kekasihnya pun orang Belanda. Kalau Bung Jiwat bisa dekati dia, Bung bisa jadi adik ipar saya. Bung kan masih bujangan?”
“Mendekati Nona Ningtyas? Apa bisa orang seberang tanpa titel kebangsawanan macam saya bisa jadi ipar Bung Seto?” jawab Jiwat ketika itu. “Saya tidak berani mimpi begitu, Bung.”
“Paling tidak Bung Jiwat bisa bikin Ningtyas jauh dari polisi Belanda itu. Saya tidak bisa terima adik saya jadi istri orang dari bangsa yang menjajah kita sejak zaman leluhur dulu. Bung Paham?”
“Saya paham. Tapi bagaimana saya bisa mendekati Nona Ningtyas?”
“Bung bisa dekati Guntur, keponakan saya. Ningtyas itu bisa galak terhadap Guntur, tapi sebenarnya dia takut. Guntur bisa jadi gunung berapi yang sewaktu-waktu meledak menyemburkan lava. Ningtyas tahu itu. Dia pasti akan berhitung kalau berani berhadapan dengan Guntur.”
Itu modal Jiwat yang punya banyak nama untuk berbagai keperluan gerakan bawah tanahnya. Dia menggunakan nama Jiwat untuk kamuflase identitas yang sebenarnya. Sebab dia pelarian dari Batavia sebagai kriminal yang diburu polisi Belanda. Sesungguhnya kriminalisasi oleh polisi Belanda itu adalah politik untuk menumpas gerakan bawah tanah yang membahayakan keberadaan Hindia Belanda.
Dalam pertemuan yang dramatis itu, Guntur menjadi cepat akrab dengan Jiwat. Mereka bicara-bicara di warung nasi di kampung yang membuat Jiwat kagum ada priayi sudi makan di tempat yang tidak layak macam itu. Jiwat tidak membuka penyamarannya sebagai aktivis, tapi cukup memberi isyarat sebagai pemuda nasionalis yang masih lajang.
“Saya punya tante juga masih lajang. Tapi dia dekat dengan pembesar polisi Belanda. Saya senang kalau Mas Jiwat bisa dekat dengan tante saya.”
“Kenapa begitu, Dimas?”
“Paling tidak Mas Jiwat orang Indonesia.”
“Ha-ha-ha …. Tapi bagaimana saya bisa dekati Dimas punya tante?”
“Bikin saja masalah dengan dia.”
“Kenapa begitu, Dimas?”
“Tante saya itu orang sakit. Orang yang punya masalah dengan dia akan terus diingat dan dipikirkannya. Lama-lama dia bisa bertekuk lutut.”
Boleh juga cara itu dicoba. Kembali ke Dalem Pandukusuman, Guntur langsung melaksanakan rencana itu. Ia harus bermanis muka dengan tantenya. Di Dalem Pandukusuman itu ada usaha pembuatan batik tulis berlogo DM dengan huruf Jawa. Ningtyas mengurusi pemasaran batik itu sementara Puri sering menjadi desainer untuk batik-batik yang tidak pakem atau kontemporer. Parangrusak, Truntum, Jlamprang, Limaran, dan banyak lagi, termasuk batik pakem. Puri mendesain batik di luar itu dan termasuk sebuah terobosan yang berani pada zamannya.
“Teman dalem itu punya kenalan luas di kalangan priayi dan pembesar pemerintahan, Tante,” kata Guntur dalam rangka melaksanakan rencananya dengan Jiwat. “Dia bisa pasarkan batik tulis dengan kenalannya itu.”
“Nonsens! Kawan kamu pasti gila dan ugal-ugalan macem kamu!”
“Apa teman Tante juga pasti suka sama Hollandse jongens seperti Tante?”
Memang tidak. Hanya Ningtyas dan sedikit orang yang suka Hollandse jongens, pemuda bule dari negeri Belanda. Kebanyakan lebih suka pemuda Indonesia seperti Jiwat kalaupun bukan karena perasaan nasionalisme tentu karena persamaan budaya atau agama.
Ningtyas KO meskipun tidak mau mengakuinya.
“Jadi boleh ya Tante, teman dalem datang menemui Tante?”
“Asalkan dengan tujuan yang baik.”
Guntur pergi naik BSA-nya. Kali ini sendirian, tidak mengajak Joleno. Ia bertemu dengan Jiwat di jalan ke Sraten seperti yang telah disepakati.
“Jalan sudah terbentang lempang, Mas Jiwat.”
“Terima kasih, Dimas. Barangkali masih ada persyaratan lain untuk bisa menemui Nona Ningtyas?”
“Mas Jiwat jangan datang pada hari-hari taliwangke. Itu bisa bikin halangan.”
“Apa itu? Apa semacam hari-hari tasrik yang bikin kita haram berpuasa?”
“Taliwangke itu hari penuh halangan dalam budaya Jawa. Setiap orang punya hari taliwangke sendiri-sendiri menurut hari kelahirannya. Tante Ningtyas itu lahirnya Sabtu Pahing.”
“Jadi hari taliwangke-nya hari apa?”
“Sialnya, saya tidak tahu perhitungan menurut Primbon Betaljemur Adammakna.”
Jiwat tertawa karena tahu dia lagi dikerjain oleh Guntur. Tapi soal primbon itu memang benar ada, yang masih menjadi panutan kalangan orang Jawa.
“Di kampung saya juga ada hari halangan semacam itu. Orang tidak bisa datang ke jarig seseorang tanpa bawa kado. Ha-ha-ha ….”
Memang begitu. Jarig itu ulang tahun. Memang tak elok datang tanpa membawa kado.
Dengan pilihan waktu yang tepat Jiwat pun datang pada suatu sore. Penampilannya necis, jauh lebih kelimis daripada dalam pertemuannya dengan Guntur di desa Sraten. Begitu bertemu di pendopo, Jiwat langsung melancarkan serangannya, “Oh, goed! Je bent snoesig met die kleeren.”
Dua alis Ningtyas terangkat naik. Apa-apaan ini orang hitam berani-beraninya memuji Ningtyas tampak cantik dengan gaun yang dipakainya itu dalam bahasa Belanda yang lumayan fasih aksennya. Cukup kurang ajar untuk pertemuan pertama dengan gadis priayi di Dalem Pandukusuman.
“Tuan orang seberang, bukan?” sahut Ningtyas dengan nada datar. Sulit mengetahui dia tersinggung apa malah tertantang oleh ucapan Jiwat.    
“Betul, Nona. Saya dari Zelebes.”
“Pantas Tuan punya adat macam begitu.”
“Maaf, Nona. Panggil saja saya Jiwat. Tidak usah pakai Tuan. Kalau boleh, saya juga mau panggil Nona, Jeng saja.”
“Saya bermaksud menghormati Tuan. Tapi kalau Tuan tidak mau, baiklah. Panggil saya sesuka Bung Jiwat.”
Puri mendengar percakapan di pendopo itu. Ia segera tahu siapa dalang pertemuan pemuda seberang yang agak kurang ajar itu dengan Tante Ningtyas. Ia mencari Guntur di halaman belakang, dekat dengan penjemuran batik.
“Mau cari perkara apa lagi kamu, sampai mendatangkan teman tidak tahu sopan begitu?” tegur Puri segera. Tumben dia bicara dengan nada agak ketus, tidak lembut seperti biasanya. Karena dia khawatir akan terjadi keributan lagi oleh ulah adiknya.
“Tenang, Mbakyu. Mas Jiwat orang yang mahir menguasai situasi gawat.”
“Kamu kenal dia di mana? Setahuku kamu tidak punya kawan macam begitu.”
“Di Sraten.”
“Oh …. Pasti ada masalah yang terjadi di sana. Kabarnya orang Sraten itu terkenal galak dan gampang bermasalah.”
“Ah, tidak Mbakyu. Hanya sedikit kesalahpahaman. Tapi sudah selesai, kok.”
“Kamu bermasalah dengan orang Sraten? Tidak segampang itu bisa kamu anggap selesai. Pasti akan ada kelanjutannya. Orang Sraten itu pendendam dan keras adatnya.”
Memang benar kata Puri. Masalah keributan di Sraten itu belum selesai. Masih akan ada kelanjutannya. Pasalnya orang Sraten menjadi ketakutan setelah peristiwa itu. Bukan saja karena mereka khawatir akan diusir dari tanah R.M. Pandukusumo yang mereka tempati tanpa izin. Juga dalam benak mereka R.M. Pandukusumo itu orang ningrat yang punya kolega pembesar Hindia Belanda dan bisa menggunakan pengaruhnya untuk melakukan apa saja yang mengerikan bagi orang Sraten. Mereka bisa ditangkap polisi dan dipenjarakan tanpa pengadilan yang semestinya. Bisa dikriminalkan, bahkan juga bisa ditembaki begitu saja dengan alasan yang diciptakan semau penguasa.
Orang Sraten berembuk untuk mencari solusi bagi kengerian yang bakal terjadi. Semua berpendapat sama, Sardikunlah biang keladi kerusuhan itu dan Sumirah adalah pemicunya.
“Ada dua cara untuk mencegah masalah yang bisa terjadi,” kata tetua Sraten yang biasa disebut Kamituwo, orang yang dituakan karena usia dan pengaruhnya. Dia orang pertama yang membangun gubug di Sraten. “Pertama, Sardikun harus menyerahkan diri ke Dalem Pandukusuman untuk memohon ampun atau hukuman dari Ndoro Pandu.”
Ndoro Pandu itu sebutan lain untuk R.M. Pandukusumo yang punya arti Tuanku Pandu. Sebutan yang lazim diberikan oleh orang kebanyakan yang merasa diri mereka berada jauh di bawah kelas orang yang pantas dipertuan.
“Cara yang kedua apa, Kamituwo?” tanya Sardikun. Ia sudah merasakan kengerian yang menyakitkan membayangkan dirinya harus menyerah ke Dalem Pandukusuman.
“Serahkan Sumirah kepada Denmas Guntur untuk memohon ampun.”
“Oh … menyerahkan Sumirah?”
“Iya. Nasibnya akan ditentukan oleh kebijaksanaan Denmas Guntur sendiri.”
“Ya Allah … apa maksudnya ….”
“Denmas Guntur boleh memiliki Sumirah seterusnya atau sekadar pinjaman.”
Itu juga mengerikan kalau ternyata ada budaya semacam itu di kalangan sedikit priayi dan perlakuan orang kebanyakan yang berlebihan terhadap superioritas kaum bangsawan. Sardikun tak bisa menentukan sikapnya. Lelaki pengecut ini tak bisa memilih satu dari dua opsi yang sama-sama mengerikan itu.
“Biarlah saya yang akan menyerahkan diri karena saya yang memulai huru-hara itu.” Sumirah mengajukan diri sebagai tumbal bagi terciptanya perdamaian. “Saya mengenal Denmas Guntur karena dulu beliau teman sekolah saya. Mudah-mudahan masih ada kebaikan hatinya seperti yang saya kenal dulu.”
Itulah keputusan dan kesepakatan orang Sraten. Puri tidak bisa membayangkan apa gerangan kelanjutan kerusuhan di Sraten itu, tapi ia cukup meyakini bahwa persoalan itu memang belum selesai.
Di pendopo Dalem Pandukusuman sudah ada kesepakatan antara Jiwat dan Ningtyas. Sore itu Ningtyas mempercayakan tiga potong batik tulis kepada Jiwat dengan jaminan sebentuk cincin berlian.
“Jeng Ningtyas harap paham, saya tidak punya uang kontan sebelum batik ini saya pasarkan. Saya taruh cincin berlian ini sebagai boreh,” kata Jiwat dengan nada seolah mengandung kekuatan sihir yang membius.
Ningtyas meneliti cincin berlian itu beberapa saat. Ia sangat mengenal perhiasan semacam itu karena dia memang punya koleksinya. Cukup memadai sebagai jaminan tiga potong batik tulis dari kelas yang sedang-sedang saja. Jiwat jelas bukan orang yang memahami batik tulis. Pilihannya terhadap batik-batik yang diperlihatkan mencerminkan Jiwat itu sangat awam.
“Saya mempercayai Bung Jiwat karena Bung teman keponakan saya Guntur,” katanya. “Saya harap Bung tidak mengkianati kepercayaan saya.”
“Saya paham, Jeng. Saya juga tidak akan bikin celaka Dimas Guntur tentunya.”
Guntur berpura-pura mencari sesuatu di sekitar kamar dan ruang dalam Dalem Pandukusuman. Sesuatu yang dicari tidak ketemu, karena sebenarnya dia tidak mencari apa-apa, hanya ingin nguping pembicaraan di pendopo. Setelah itu ia buru-buru ke halaman belakang menjumpai Puri.
“Betul kan, Mbakyu? Mas Jiwat itu punya kekuatan pesona yang bisa bikin Tante Ningtyas bertekuk lutut!”
“Jangan keburu yakin, Gun. Dulu kamu juga selalu bilang Mas Sasongko itu pria paling baik sejagat. Nyatanya kini dia tak tentu rimbanya.”
Guntur sedih juga mengingat hal itu. Seandainya ia bisa mendapatkan Sasongko dan mengajaknya kembali ke Dalem Pandukusuman …. (Bersambung....)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT