Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

KISAH PARA IBU YANG NAMANYA DIABADIKAN DALAM AL-QURAN: Khadijah binti Khuwailid (Seorang Ibu yang Mendermakan Hartanya di Jalan Dakwah)

Jum'at, 16 Desember 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 724 Kali

Ketika membuka lembaran sejarah permulaan Islam, maka kita akan dipertemukan dengan seorang sosok wanita (ibu) yang sangat terhormat, memiliki kepribadian yang luar biasa, akhlaknya sangat tinggi, serta memiliki kepiawaian dalam berbisnis, sehingga mengantarkannya sebagai wanita yang memiliki kekayaan yang sangat disegani di kalangan Arab.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Khadijah lahir pada tahun 68 SH., terlahir dari keluarga yang mulia dan terhormat. Dia tumbuh dalam suasana yang dipenuhi dengan perilaku terpuji. Ia memiliki karakter yang ulet, tekun, pantang menyerah, cerdas, dan penyayang, sehingga masyarakat di zaman Jahiliah menjulukinya sebagai at-Thahirah (seorang wanita yang suci).
Selain itu, Khadijah juga terkenal dengan profesinya sebagai pedagang yang mempunyai modal besar, sehingga ia mampu mengupah orang untuk menjalankan usahanya. Kemudian ia membagi keuntungan dari perolehan usaha tersebut. Rombongan dagang miliknya juga seperti umumnya rombongan dagang kaum Quraisy lainnya.
Ketika menjalankan bisnisnya itu, Khadijah mendengar tentang kepribadian Muhammad yang sangat menarik dirinya, terutama tentang kejujuran, sifat amanah, dan kemuliaan akhlak beliau, yang menyebar di kalangan Arab. Karena ketertarikan akan kepribadian Muhammad tersebut, Khadijah meminta kepada Muhammad agar menjalankan roda perdagangannya. Muhammad pun menerima tawaran tersebut. Untuk menjalankan roda perdagangan itu, beliau diberi modal yang cukup besar dibandingkan dengan yang lainnya.
 Beliau memulai melakukan perjalanan dagangnya ke Negeri Syam, ditemani pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Sesampainya di Negeri Syam tersebut, Muhammad mulai menjual barang dagangannya. Hasil penjualan tersebut beliau belikan barang lagi untuk dijual di Mekah. Setelah misi dagangnya selesai, beliau bergabung dengan kafilah dan kembali ke Mekah bersama Maisarah. Keuntungan yang didapatkan Muhammad kala itu sungguh sangat berlipat ganda, sebuah keuntungan yang luar biasa, sehingga Khadijah menambahkan bonus untuk beliau.
Dalam perjalanan perdagangan tersebut, tanda-tanda kenabian Muhammad sudah mulai nampak, di antaranya adalah bahwa beliau ––selama dalam perjalanan–– senantiasa dinaungi oleh awan yang berjalan di atas kepalanya, sehingga tidak merasa panas dari teriknya matahari. Sekembalinya ke kota Mekah, Maisarah menceritakan perilaku mulia Muhammad, yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Terutama tentang kejujuran dan awan yang menaungi kepala beliau selama dalam perjalanan.
Mendengar cerita Maisarah tersebut, Khadijah merasa tertarik dan segera mengutus Maisarah untuk datang pada Muhammad. Ia menyampaikan pesannya untuk beliau: “Wahai anak pamanku, aku senang kepadamu karena kekerabatan, kekuasaan terhadap kaummu, amanahmu, kepribadianmu yang baik, dan kejujuran perkataanmu”. Selanjutnya Khadijah menawarkan dirinya untuk dipersunting oleh Muhammad, walaupun sebenarnya telah banyak “tangan” yang mencoba menggapainya, tetapi Khadijah hanya memberikannya kepada Muhammad.
Muhammad menceritakan keadaan ini kepada para pamannya. Tidak lama kemudian, Hamzah bin Abdul Muthalib bersama Muhammad datang pada Khuwailid bin Asad (ayahnya Siti Khadijah), dengan tujuan untuk meminang putrinya untuk Muhammad. Kemudian beliau menikahi Khadijah dan memberinya dua puluh unta muda sebagai maharnya. Pada saat itu, Khadijah berusia 40 tahun dan Muhammad berusia 25 tahun. Dialah perempuan pertama yang dinikahi Muhammad. Dalam sejarah disebutkan bahwa beliau tidak menikah dengan perempuan manapun, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia. Dari pernikahannya dengan Khadijah ini, beliau dikaruniai anak bernama Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Maka tidak heran jika beliau diberi sebutan Abul Qasim.
Saat menerima risalah kenabian, Khadijah merupakan orang pertama yang percaya kepada Allah dan Rasul beserta ajaran-ajaran-Nya. Nabi Muhammad SAW pun tidak menghiraukan berbagai ancaman dan propaganda yang datang dari kaum musyrikin, karena di sampingnya terdapat sang kekasih pilihan Allah yang dengan setia mendampingi dan memperkuat aktivitas dakwahnya.
Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, yakni QS. Al-‘Alaq ayat 1-5, Rasulullah SAW kembali ke rumah dengan perasaan takut seraya berkata kepada Khadijah: ”Selimuti aku! Selimuti aku!” Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga perasaan takutnya hilang. Beliau menceritakan semua yang telah terjadi. “Aku khawatir pada diriku,” kata Rasulullah. Khadijah menjawab: “Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.”
Khadijah mengajak suaminya menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang memeluk agama Nasrani di zaman Jahiliah dan menulis buku Injil dengan bahasa Ibrani. “Dengarkan sepupuku, kata-kata dari keponakanmu ini!” kata Khadijah. “Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat?” tanya Waraqah pada Muhammad SAW. Kemudian Rasulullah menceritakan tentang apa yang telah dilihatnya. Waraqah berkata: “Ini adalah malaikat yang telah Allah turunkan kepada Nabi Musa. Andai aku dapat bertahan, aku berharap masih hidup ketika kaummu mengusirmu.” Rasulullah bertanya: “Kenapa mereka mengusirku?” “Tidak seorang pun yang datang dengan sesuatu sebagaimana yang kau emban ini kecuali dimusuhi oleh kaumnya. Jika aku masih hidup sampai pada harimu, tentu aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh” jawabnya.
Waraqah tidak sempat terlibat dalam aktivitas dakwah Nabi, karena keburu meninggal dunia. Dia pun tidak sempat mendengarkan ajaran wahyu yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah dan Khadijah tetap berdiam di Mekah dan melakukan shalat secara rahasia. Khadijah memang sangat dicintai dan dihormati oleh Rasulullah. Beliau juga tidak pernah berselisih dengan apa yang dikatakan Khadijah pada beliau, terutama sebelum wahyu turun.
Bahkan walau Khadijah telah tiada, Rasulullah selalu menyebut-nyebutnya dalam setiap kesempatan, dan tidak bosan-bosan memujinya. Sehingga Aisyah, Ummul Mukminin, merasa cemburu. Sampai-sampai suatu saat Aisyah berkata pada Rasulullah: “Allah telah mengganti wanita tua itu.” Tentu saja Rasulullah tersinggung dengan ucapan ini. Aisyah pun berkata pada dirinya: “Ya Allah, hilangkanlah perasaan marah Rasulullah terhadapku, dan aku berjanji untuk tidak lagi menjelek-jelekkan Khajidah.”
Aisyah pernah berkata: “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat. Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Ketika aku katakan, seakan-akan tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.”
Aisyah berkata: “Dulu, setiap Rasulullah SAW keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya, sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’ Lalu Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah, dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniakan kepadaku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”
Khadijah meninggal pada tahun ke-3 sebelum Hijrah di kota Mekah pada usia 65 tahun. Di saat ajal menjemputnya, Rasulullah menghampiri Khadijah sembari berkata: “Engkau pasti tidak menyukai apa yang aku lihat saat ini, sedangkan Allah telah menjadikan dalam sesuatu yang tidak engkau kehendaki itu sebagai kebaikan”.
Saat pemakamannya, Rasulullah turun ke liang lahad, dan dengan tangannya sendiri memasukkan jenazah Khadijah. Wafatnya Khadijah merupakan musibah besar, di mana setelahnya diikuti berbagai musibah dan peristiwa yang datangnya secara beruntun. Namun Rasulullah SAW memikul beban dengan penuh ketabahan dan kesabaran demi mencapai ridha Allah swt. [Heri Gunawan, M.Si., M.Ag.]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT