Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

BELAJAR JADI RELAWAN DI JERMAN

Kamis, 08 Desember 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 484 Kali

Saya diminta melepas kerudung.

 Saya juga diminta tidak usah shalat!

 

Bermula dari cita-citanya ingin ke luar negeri. Nadhira Arini yang masih belum mendaftarkan dirinya sebagai relawan pekerja sosial di Jerman. Selain ingin ke luar negeri, sarjana psikologi Universitas Islam Bandung ini ingin segera mempraktikkan ilmu yang dimilikinya.

“Saya memang ingin mendalami dunia anak-anak berkebutuhan khusus. Rasanya setelah tamat kuliah, saya ingin cepat-cepat bisa praktik.  Ingin merasakan juga ke luar negeri,” katanya menjelaskan .

Akhirnya, setelah mencari informasi ke sana- ke mari, gadis gadis yang akrab disapa Dhira ini diterima sebagai relawan Au Pair di Dunningen, Jerman.  Dunningen, adalah desa kecil yang terletak di selatan Jerman. Ia ikut program inap keluarga (homestay) dan menjalani kontraknya selama setahun di sana.

Selama tinggal di Dunningen, Dhira mengaku benar-benar menikmati profesi sebagai pengasuh bagi sembilan orang anak-anak difabel.  Ia juga banyak belajar soal adat istiadat dan pola komunikasi orang Jerman.

“ Anak-anak difabel itu rata-rata punya penyakit yang baru, baik secara medis maupun psikologis. Saya banyak belajar bagaimana merawat dan membesarkan hati mereka,” kata Dhira mengisahkan.

Dari cara berkomunikasi, orang Jerman cenderung langsung dan tak suka berbasa-basi. “Komunikasi mereka itu direck ( langsung), beda dengan orang Indonesia, “ kata Dhira menjelaskan.  Inilah yang menjadi tantangan baginya untuk menampilkan pola komunikasi yang baik kepada anak asuhnya.

“ Mereka ngomongnya langsung-langsung saja. Ada yang bilang. “Nadhira, teman saya yang penyakitnya sama dengan saya, meninggal dalam usia 16 tahun. Usia saya sekarang 14 tahun. Berarti umur saya dua tahun lagi.” Kata Dhira mengisahkan. Terkadang susah baginya memilihkan bahasa yang menggembirakan dan membangkitkan motivasi anak-anak asuhnya.

Selama menjalani pengabdiannya sebagai relawan di Dunningen, Dhira sempat mendapat tantangan  di awal. Namun, ia berhasil menampilkan wajah seorang Muslimah yang baik dan toleran bagi masyarakat Jerman. Walau pada awalnya, ia sempat mendapat penolakan karena dirinya beragama Islam.

“ Saya diminta untuk melepas kerudung. Saya juga diminta tidak usah shalat. Saya jelaskan, untuk urusan kerudung adalah  kewajiban saya sebagai Muslimah. Sedangkan shalat, tidak memakan waktu lama, dan itu bisa dikondisikan,” katanya memaparkan.

Dhira pun mewanti-wanti  agar makanannya bisa dijauhkan dari daging babi adan alkohol. Ia menerangkan bahwa umat Islam seperti dirinya dilarang mengonsumsi makanan dan minuman tersebut. “ Saya minta tolong, jangan saya dihidangkan babi atau alkohol. Mereka akhirnya paham. Bahkan ada yang membelikan makanan saya langsung  dari kedai Turki, “ kata Dhira memaparkan.

Setelah setahun Dhira pindah ke  Hannover ke wilayah utara Jerman. Ia kembali menjadi relawan  pekerja sosial ( Freiwilliges Sosiales Jahr) di Anastift Leben und Lemen GamH Schuler wohngroupp I di Hannover, Jerman.

  Di Hannover sudah banyak imigran dari Turki. Ia mengaku mendapatkan pengalaman berbeda dari kota sebelumnya, Dunningen. Masyarakat di Hannover, tempat tinggal barunya, lebih terbuka dengan Islam dan dia tidak lagi dianggap aneh.

“ Kalau dulu saya memang tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif, tetapi banyak yang memandang sinis.  Bahkan duduk di samping saya saja tidak ada yang mau. Kalau di tempat baru ini, karena banyak orang Turki,  jadi saya merasa lebih nyaman dengan kerudung,” katanya memaparkan.

Ketika tinggal di tempat baru, Dhira mengaku banyak mendapat teman-teman sesama Muslimah.  Mereka pun aktif menggelar pengajian bulanan. Banyak umat Islam datang dari berbagai tempat, bahkan dari Ibukota Berlin sendiri. “Saya pernah menjadi panitya pengajian. Waktu itu kita mengundang Ustadz Felix Siaw untuk mengisi pengajian.”  Katanya mengisahakan.

Menurut Dhira, tidak seluruh warga Jerman yang sinis dengan umat Islam. Dari pengalamannya tinggal di Jerman, yang tinggal di dua tempat, ia mendapatkan perlakuan yang berbeda di dua tempat tersebut.

“Waktu tinggal di Selatan, memang banyak yang sinis. Bahkan tidak mau duduk di sebelah saya. Kalau di Utara Jerman, mereka sudah mulai terbuka dengan Islam, “ katanya memaparkan.

Selain menjalin silaturahim, sebulan sekali kaum Muslimin di Hannover juga menggelar kajian keluarga Muslim. “Sebulan sekali kita rutin berkumpul. Kalau ada pengajian kita mengaji. Kalau tidak kita dakan acara barbeku saja,” kata gadis yang punya hobi menulis serta mengoleksi megnet dari berbagai belahan dunia ini menjelaskan.

Seluruh perjalanan Dhira ia tuangkan dalam ‘blog’ dan dalam buku-bukunya yang sudah beredar di pasaran.  Asam garam perjalanannya berkeliling dunia, bagi Dhira adalah bekal yang s angat mahal untuk menghadapi kehidupan. Saat ini ia sangat sibuk mendaftarkan diri sebagai relawan di Kanada atau Amerika Serikat (AS).

“Moto saya, hidup sederhana, enjoy your life. Hidup itu dinikmati, bukan untuk dicaci,” kata gadis yang punya cita-cita ingin membuat bisnis yang berhubungan dengan dunia penulisan ini menjelaskan.

 

(NADHITA AINI)   

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT