Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

MENCINTAI DUNIA DAN STATUS

Sabtu, 02 Desember 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 386 Kali

Nafsu dan syahwat merupakan bagian dari anugerah yang telah Allah berikan kepada manusia.Nikmat ini termasuk sarana dan fasilitas hidup yang harus disyukuri dalam wujud ibadah dan Khilafah manusia di bumi.

Allah berfirman:

“Telah dijadikan indah pada ( pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diingininya, yaitu wanita-wanita, anak-anak (para pengikut/bawahan), harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan ( alat transformasi), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali-Imran. 14)

 

            Siapa yang terbaik di sisi Allah dalam mengantisipasi hajat duniawinya? Tentunya tidak bergantung pada banyak tidaknya kekayaan, tinggi rendahnya status di masyarakat, atau sederhana megahnya sisi materi dunia seseorang. Aspek ubudiyah manusia paling baik di sisi Allah hanyalah dari ketakwaannya;  bagaimana seserorang dapat memainkan perannya sebaik-baiknya dengan sekenario Allah, karena sarana dan fasilitas yang dinikmati manusia dalam hidupnya semuanya dari Allah SWT.

            Bahayanya, jika hati manusia sudah terbelenggu penyakit cinta dunia, kedudukan, popularitas, atau harta kekayaan. Syahwat dan nafsunya—yang secara tabi’I (alami) cenderung kepada kejelekan --- yang akan mengendalikan hatinya agar menjadi budak bagi semua yang dinintainya. Bagaimana jika nafsu liar ini bebas memangsa dunia yang dicintainya? Akibatnya, bimbingan hati nurani atas semua jasad akan lepas. Tidak akan ada lagi hidayah yang membimbingnya, selain dorongan nafsu semata.

            Rasulullah bersabda:

             “Seseorang yang rakus harta dan jabatan akan lebih merusak agamanya daripada dua binatang buas yang lapar dan dilepas di antara domba.”

 (HR. Turmudi)

            Demikian halnya dengan pecinta popularitas yang mendambakan setiap orang mengenal kebaikan atau kemahirannya, untuk mendapatkan status yang lebih tinggi di tengah masyarakat.

            Rasulullah SAW bersabda:

            “Cukuplah kejelekan seseorang jika dia menginginkan agar orang-orang memberikan  acungan jempol atas ( kebaikan ) dirinya, baik dalam urusan agama maupun dalam urusan dunia, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan pemeliharaan Allah. “  (H.R. Baihaqi).

 

Penyakit hati yang satu ini akan menyebabkan  munculnya penyakit-penyakit lain, seperti ujub ( merasa aling hebat ibadahnya), riya (sombong) dan terlalu bergantung pada amal kebaikannya sehingga lupa bahwa di antara kebaikannya tersimpan banyak kesalahan. Lebih para lagi jika penyakit dunia dan status ini menyerang para pemuka. Agama akan dijadikan sarana untuk mengumpulkan materi dan merebut simpati massa yang pada gilirannya akan mendorongnya menjadi budak nafsu yang menghalalkan segala cara.

            Akan tetapi, bagi mereka yang mendapatkan pemeliharaan dari Allah, tentu saja tidak demikian. Bagi mereka, dunia, kedudukan, dan popularitas duniawi yang didapatkannya tidak akan pernah menggusurnya hanyut dalam kerusakan, karena semua aspek duniawi  yang mereka peroleh tidak pernah mendapat tempat di hatinya. Mereka bahkan berkuasa mengatur dan mengendalikan dunia sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi, para wali, dan para ulama yang saleh.

            Adapun penyebab munculnya penyakit ini  antara lain sebagai berikut:

  1. Adanya perasaan bahwa jabatan tertentu akan mempermudah meraih segala keinginan, meskipun dengan cara yang tidak sah.
  2. Kurang paham akan hakikat suatu jabatan. Jabatan dipandang sebagai suatu hak yang harus direbut dari orang lain, dan dipertahankan agar tidak jatuh kepada orang lain. Padahal, suatu jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pengembala akan diminta pertanggungjawaban atas semua gembalaannya.” (HR. Bukhari)
  3. Jabatan atau popularitas dunia, oleh nafsunya dianggap sebagai satu-satunya yang dapat menyenangkan.

 

Berikut beberapa cara untuk menyelamatkan hati dari penyakit cinta dunia ini:

  1. Memahami bahayanya.
  2. Menghidari penyebabnya.
  3. Meyakini bahwa semua persoalan duniawi akan segera mengalami kehancuran.
  4. Menumbuhkan iman dan rasa takut kepada Allah akan haripetangunganjawaban amanah. Ingat seorang pemimpin yang zalim akan mendapt siksaan yang berlipatganda dibandingkan dengan apa yang ditimpakan kepada rakyatnya. Dalam Alquran, Allah menyebutkan pengaduan rakyat mengenai perilaku pemimpinnya:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, tampakanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan kutukanlah mereka dengan kutukan yang besar.”  (QS. Al-Azab 67-68).

  1. Memahami bahwa kemuliaan hakiki adalah kemuliaan di sisi Allah.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa.” (QS. Al-Hujrat, 13) .

  1. Bertaqwalah kepada Allah dengan banyak berdoa kepada-Nya agar dunia dengan segala dinamikanya ini tidak merasuki hati, tetapi hati mampu menguasainya.

 

Ya Allah, jadikanlah dunia dalam genggaman tanganku. Janganlah Kau jadikan dunia di dalam hatiku.

 

(Uwes Al-Qorni)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT