Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

MENANTI LAILATUL QADR

Rabu, 29 Juni 2016 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 803 Kali

Kehadiran Lailatul qadr, menurut sekian banyak hadis Nabi, diharapkan pada malam-malam ganjil pertigaan terakhir dari bulan Ramadhan. Apakah “Malam Qadr” itu dan bagaimana kehadirannya? Qadr berarti “mulia.” Kemuliaannya antara lain, karena turunnya Alquran pada malam itu. Qadr juga berarti “pengaturan” karena ketika itu Allah mengatur khiththah dan strategi Nabi-nya guna mengajak manusia kepada ajaran yang benar. Qadr yang berarti juga ‘ketetapan” karena pada malam itu terjadi ketetapan bagi perjalanan hidup makhluk ( manusia).

            Tidak kurang orang mengaitkan kehadiran lailatul qadr dengan tanda-tanda alamiah. Hal tersebut tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggung jawabkan. Yang jelas ialah ketika itu dirasakan—oleh yang menemui—adanya kedamaian dan kesejahteraan. Ketika itu turun juga malaikat sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya.

            Betapapun arti dan hakikat Lailatul Qadr, yang jelas adalah bahwa Nabi menganjurkan umatnya untuk berusaha “menemuinya.” Tentu saja pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian, maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah sambil menyadari dosa dan kelemahan kita yang harus dilakukan, khususnya sepanjang bulan Ramadhan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan, akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketenteraman, dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seeorang.

            Memang, ada saat-saat dalam perjalanan hidup manusia yang dapat menimbulkan kesadaran ruhani yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kehidupannya. Dan juga bahwa sat-saat tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu. Tetapi, pada bulan  Ramadhan—khususnya pada malam-malam terakhir di mana jiwa telah diasah dan diasuh—pelbagai kemungkinan bisa tersebut menjadi lebih besar. Mungkin itulah sebabnya Nabi Saw menyatakan bahwa kehadirannya terjadi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan.

            Apabila kesadaran ruhani telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan  hidupnya. Ini benar-benar merupakan peletakan batu pertama dari kebajikan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan “malam penetapan” atau Lailatul Qadr bagi kehidupan di alam fana’ dan baqa’.  Sejak itu hingga akhir hayatnya, yang dilanjutkan sampai di akhirat, ia akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga merasakan kehadiran malaikat yang , antara lain, berfungsih mengukuhkan jiwanya serta membimbing dan mendorongnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan serta menghindari pelanggaran-pelanggaran.

( M.Quraish Shihab)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT