Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

MENGHIDUPKAN AJARAN CINTA

Senin, 27 Juni 2016 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 640 Kali

Agama Islam yang diturunkan Allah melalui Muhammad Saw. kepada umat manusia adalah untuk menjadi rahmat yang menebarkan cinta kasih bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Anbiyah ayat 107, “”Kami mengutus engkau ( Muhammad) semata-mata sebagai rahmat bagi seru sekalian alam.”

            Pada hakikatnya, “cinta’” merupakan pelajaran inti yang inheren dalam setiap agama. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci. Ketika pemuda sufi, Ibn Arabi, ditanya mengenai agama yang dianutnya, ia menjawab, ”Cinta adalah agamaku. Ragukan bahwa bintang-bintang itu api; ragukan bahwa matahari itu bergerak; ragukan bahwa kebenaran itu dusta; tapi jangan ragukan cintaku!”demikian ajaran Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya William Shakespeare, Hamlet.

            Namun, sayang ajaran tentang cinta ini seringkali terabaikan, sehingga agama yang seharusnya menjadi rahmat bagi manusia justru membawa petaka. Sejumlah peristiwa besar di dunia tak dipungkiri, sedikit banyak disebabkan oleh masalah keagamaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

            Penyerbuan Hindu fanatik le masjid Ayodya India beberapa waktu yang silam, konflik di Cyprus antara orang-orang Islam turunan Turki dengan Kristen keturunan Yunani, tragedi di Inggris antara kelompok Protestan dan Katholik Irlandia, pertikaian di Aljazair dan Afganistan antara sesama Muslim, yang paling akhir dapat kita saksikan keberingasan Seberia membersihkan kelompok Muslim Kosovo-Bosnia adalah beberapa kesaksian ihwal ”karikatur” agama yang retak karena kehilangan ( dihilangkan) ruh-Nya: cinta

            Manusia yang merabut dimensi cinta inilah yang biasanya mengobarkan api permusuhan, intra atau antarumat beragama.  Manusia ini biasanya menjadikan agama sebatas alat legitimasi dan kendaraan untuk meraih keuntungan dan kepentingan politis sesaat. Jika sudah mendapatkan sesuatu dari agama mereka, kemudian menyampakkannya.

            Menyunting kembali kuncup ajaran cinta yang telah layu karena ulah tangan jahil manusia kotor, merupakan suatu keharusan guna menata kembali  tata lingkungan (dunia) yang lebih rama dan santun.

            Ajaran cinta tidak lain adalah merasukkan rasa penuh kelembutan dan kehangatan kasih sayang kepada semua insan dan alam dalam sanubari kita, sebagaimana teladan dari Nabi Saw.

            Ketika agama yang dibawa Muhammad Saw (Islam) mendapat momentum kemenangan ( peristiwa Futuh Makkah), posisi Nabi dan para sahabatnya berada di atas angin, sedangkan ribuan kuffar Quraisy  yang dulu mengintimidasai, meneror, dan memusuhi Nabi dan kaum Muslim gemetar penuh ketakutan. Nabi tidak mempelopori untuk melakukan aksi balas dendam.  Dengan santun, lembut, dan penuh cinta kasih Nabi Saw berpidato:

            “Jangan lagi ada cercaan kepadamu hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu semua. “ ( QS. Yusuf 29). Akhirnya mereka kembali ke tangah-tengah keluarganya. Membangun kota Makkah bersama-sama.  Bebas dari rasa kebencian dan permusuhan.

            Sikap seperti ini bisa timbul, muaranya adalah cinta. Cinta yang semata-mata berporos pada Illahi Sang kekasih. Kata Syekh Syhabuddin Suchrowardi, cinta adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal.

            Dan manusia pecinta selalu berkenan dengan segenap perintah dan larangan-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah pribadi pemaaf ( QS. Al-Nur:22); menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi (QS. Al Baqarah: 256), penebar kasih sayang (QS. Al Anbya:107; selalu menjalin tali silaturahmi (QS al-Hujarat 10);  menghormati etika pergaulan (Qs Al Hujurat: 11-13, Al Muntahana :8-9); dan berakhlakul karimah serta tidak bersikap sombong dan brutal di muka bumi ( QS. Fathir :43).

            Kita mengaku umat pecinta (beragama), namun tidak pernah mengindahkan ajaran Sang Kekasih di atas. Karena itu klaim dan ikrar itu perlu dipertanyakan kembali. Syaikh Syhabuddin Suhrowardi dengan menarik, telah mengilustrasikan tentang hal itu dalam buku duras klasik tasaufnya, ‘Awarif Al Maarif ( 1998, halaman 187).

            Ada seorang pemuda berjumpa dengan seorang gadis amat cantik jelita.  Kemudian ia mengungkapkan cintanya kepadanya. Untuk menguji pemuda itu, si gadis bertanya, “ Di sampingku ada seorang gadis yang lebih cantik wajahnya dan lebih sempurna kecantikannya daripadaku. Ia adalah saudara perempuanku.”

            Sang pemuda itu menengok ke belakang. Si gadis marah sekali dan berkata, “Dasar penipu! Ketika aku jauh darimu, kupikir engkau adalah seorang pemuda bijak; dan  ketika engkau dekat, kusangka engkau adalah seorang kekasih sejati. Kini aku tahu bahwa  engkau bukan seorang pemuda bijak dan bukan pula seorang kekasih sejati.”

            Pemuda (umat beragama) pecinta gombal inilah yang kerap menciptakan hidup dan kehidupan menjadi sempit, penuh tragedi, sarat konflik, sehingga pertikaian tumbuh subur ( QS. Thaha:124).

            Mudah-mudahan kita, yang hidup alam suatu masyarakat heterogen yang sangat rentan akan timbulnya benturan-benturan bisa menghidupkan kembali ajaran cinta sehingga kehidupan damai pun bisa tercipta. Rahmatan lil alamin betul-betul terwujud dalam sejarah keseharian kita. Wallahu ‘alam.                       

 

(Asep Salahudin)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT