Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

GURU SEKOLAH MINGGU YANG MENEMUKAN ISLAM

Selasa, 21 Juni 2016 ~ Oleh operator1 ~ Dilihat 508 Kali

Perjalanan mendapatkan hidayah dari Allah hingga akhirnya menemukan Islam bisa terjadi kepada siapa pun yang Allah kehendaki, seperti yang dialami oleh seorang pengajar di Sekolah Minggu di Amerika Serikat, Cheryl Dacey.

            Cheryl dilahirkan dalam sebuah keluarga Katholik Irlandia. Ia selalu menghadiri sekolah Katholik dari SD hingga perguruan tinggi. Ia sudah menikah dan memiliki empat anak yang mulai dewasa, tetapi di tengah jalan pernikahan mereka harus putus alias bercerai.

Cheryl mulai mengenal Islam ketika ia bekerja dan bertemu dengan beberapa orang Muslim. Perusahaan tempatnya bekerja berada di New jersey, tetapi ia bertemu dengan rekan Muslim ketika bekerja di New York dalam sebuah proyek perusahaan. “Yang saya perhatikan selama bertahun-tahun untuk mengenal mereka adalah bagaimana mereka menghormati ibu saya dan saya sendiri. Prilaku yang saya temukan dari mereka sangat baik,” ungkapnya.

Banyak hal menarik yang Cheryl ketahui tentang rekan-rekan Muslimnya. Ketika mereka mengatakan bahwa kita mempercayai Tuhan yang sama, Cheryl pikir mereka gila, sehingga Cheryl mengatakan kepada mereka, “Tidak, tentu saja kita tidak percaya kepada Tuhan yang sama.” Ia berpikir Islam itu benar-benar jenis agama yang asing dari apa yang ia yakini. Ia tidak menyadari bahwa semua umat manusia memiliki Nabi yang sama, bahkan banyak informasi yang ia terima, sebenarnya hampir sama dengan apa yang diajarkan Islam. Jadi ia benar-benar tidak tahu banyak tentang Islam.

Cheryl mulai tertarik dengan Islam dan ingin mengetahui tentang Islam ketika untuk pertama kalinya membaca beberapa literatur tentang Islam. “Ketika saya sampai ke suatu titik bahwa Yesus bukan Tuhan, saya mulai berpikir kembali untuk meyakini ketuhanan Yesus.”

Sebenarnya, sejak dulu Cheryl sangat percaya apa yang telah ia yakini, ia adalah seorang guru sekolah minggu dan mengajar ratusan anak-anak tentang agama Katholik. Itulah sebabnya ia merasa seperti mendapat sebuah keajaiban ketika akhirnya ia masuk Islam.

“Apa yang mereka katakan bahwa kita memiliki Tuhan yang sama dan pesan yang sama yang turun secara berulang-ulang kepada Nabi yang berbeda. Mereka menempatkan Islam, Kristen, dan Yahudi dalam semacam bingkai waktu dari Tuhan yang sama, tetapi dengan Nabi yang  berbeda. Dan saya pikir dari melihat hal seperti itu membuat saya percaya bahwa banyak komponen yang sama, seperti Maria adalah bunda perawan Yesus, tetapi hanya Yesus  bukan Tuhan,” ungkapnya.

 Pada waktu itu Cheryl sangat kesulitan untuk tidak mempercayai itu semua. Apa yang telah terjadi tentang hidayah keislamannya. Ia pikir benar-benar hanyalah sebuah keajaiban. Ia tidak bisa tidur sama sekali malam itu ketika diberitahu sebuah buku oleh seorang syekh dari masjid yang berasal dari Suriah. Buku itu berjudul “Keajaiban Alquran”. Meskipun ia sudah memiliki buku itu selama dua tahun, ia tidak pernah membacanya.

Suatu hari Cheryl mengambil buku itu dan membacanya. Setelah membacanya ia mempunyai perasaan yang benar-benar menakjubkan hingga ia berteriak, “Oh my Gosh, sekarang saya tahu apa itu kebenaran,” sambungnya. “Saya tak punya pilihan. Dan saya tahu bahwa itu akan menjadi begitu sulit karena tidak mudah untuk berpindah agama.  Saya harus mempertimbangkan keluarga saya, bagaimana mereka akan memandang saya dan masih banyak hal lainnya yang bisa mengkhawatirkan saya.”

 Masalah terjadi ketika Cheryl memutuskan masuk Islam, keluarganya menjauhinya, bahkan ibunya enggan untuk berbicara kepadanya.  Ketika ibunya diajak berdiskusi, selalu saja menghindar dan beralasan. Sebenarnya ia tahu, tetapi takut untuk membahasnya. Hal itu sekitar tiga setengah tahun yang lalu dan hari ini dia senang tentang hal itu.  Sang ibu berkata,” Saya senang kau menemukan sebuah agama yang indah.”  Namun Cheryl mengaku belum bisa meyakinkan sang ibu untuk menjadi seorang Muslim.

Saudara-saudara Cheryl mengambil sikap secara berbeda. Beberapa dari mereka menerimanya lebih baik daripada yang lain, tetapi ada juga yang sebaliknya.

Anak-anak Cheryl yang sekarang berusia 32, 24, dan 16 benar-benar positif menerima keislaman Cheryl. Mereka benar-benar terbuka dan tertarik untuk belajar lebih banyak.

Setelah masuk Islam, Cheryl mulai mencoba berdakwa di kalangan perempuan. Ia memulai sebuah program di Islamic of Society of Central Jersey yang disebut “ Moslem by Chois.” Ia memiliki sebuah situs web dan memulai program ini ketika ia menjadi seorang mualaf dan terisolasi di masjid. Awalnya sulit untuk diterima di sana ( masjid), tetapi lambat laun banyak yang mulai menerimanya dan juga mualaf lainnya.

Ketika Cheryl ingin tahu  bagaimana tata cara shalat, ia ingin belajar bahasa Arab. Namun ia bingung harus bertanya kepada siapa dan ke mana. Ketika ia menelepon masjid, tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Akhirnya ia pun memulai program tersebut sehingga ia bisa menawarkan layanan tersebut. Cheryl memiliki kelas membaca Alquran. Ia memiliki kelas aqidah dan halaqah sebagai bantuan bagi orang yang ingin belajar Islam. Ia akan terus berdakwah.

Menurut Cheryl, contoh terbaik umat Islam adalah dengan berprilaku yang baik terhadap orang nonmuslim daripada berdakwa dengan kata-kata.  Ketika mereka melihat seorang Muslim yang baik dan berperilaku baik, itulah awalnya mereka tertarik pada Islam, sebagaimana yang dialami Cheryl.

(Steven Indra Wibowo)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT