Fikih Muslim

Fikih Muslim

Syahidnya Perempuan melahirkan

Melahirkan merupakan anugrah terbesar bagi perempuan. Lewat peristiwa tersebut, ibu menjadi media peciptaan Allah SWT. Lahirnya setiap jiwa yang ke dunia berarti harapan bagi adanya peradaban baru.  Berbagai generasi dengan berbagai karakter berbeda hanya bisa bernapas di dunia selepas keluar dari rahim ibu.

            Melahirkan pun merupakan peristiwa diambang hidup dan mati.  Setiap ibu yang  melahirkan sedang bertaruh nyawa. Beruntung, lewat perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, tingkat kematian ibu melahirkan bisa ditekan.

            Hanya saja bukan berarti angka itu tidak ada.  Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, angka kematian ibu melahirkan mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup.  Angka itu jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’S), yakni 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Tidak heran jika Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menghargai jerih ibu. “Dan Kami memerintahkan kepada manusi (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lelah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. “ (QS. Luqman 14)

            Seorang ibu yang meninggal dunia kerena melahirkan pun mendapatkan syahid. Ini dijelaskan dalam hadis ketika Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis ketika Rasulullah menjelaskan tentang makna kesyahidan. Nabi SAW bersabda, “Kesahidan itu ada tujuh, selain gugur dalam perang, orang yang mati karena keracunan, tenggelam dalam air, terserang virus, terkena lepra, terbakar api, tertimbun bangunan, dan perempuan yang meninggal karena melahirkan.” (HR Abu Dawud, Nasa’I, ibnu Hibban)

            Dalam buku Menggagas Fiqih Pemberdayaan Perempuan, Zaitunah Subhan menjelaskan,  Imam Bukhari menyepakati isi hadis tersebut, meski degan lafaz yang berbeda. Di dalam syarah yang ditulis Ibn Hajar al-Asqatani, dijelaskan ada dua macam kesyahidan yakni syahid dunia akhirat dan syahid akhirat. Terbunuh dalam perang masuk dalam syahid pertama. Sementara itu perempuan yang syahid seusai melahirkan merupakan syahid akhirat. Karena itu jenazah sang ibu diperlakukan seperti umumnya orang meninggal. Dia mesti dimandikan, dikafani, dan dishalati.

            Zaituna menjelaskan, dalam syahid dunia khirat, segenap upaya dengan kekuatan dan kemampuan untuk memenangkan perjuangan fi sabilillah dengan meminimalkan yang meninggal. Sebaliknya, para syahid karena proses reproduksi ini tidak demikian.

            Seorang ibu yang syahid masih dianggap segelintir masyarakat kita telah melakuikan  pengorbanan. Di sini perlu ditekankan bahwa keyakinan proses reproduksi sebagai perjuangana syahid menuntut adanya upaya dan pengerahan kekuatan untuk dapat menyelamatkan sang ibu.

            Bukankah kedudukan ibu lebih terhormat ketimbang bapa?  Alquran pun lewat  ayat di atas, sudah menegaskan demikian. Karena itu ibu melahirkan harus dihormati dan diberti perhatian. Dia pun harus diperlakukan dengan baik.

            Menurut Zaitunah, pemahaman keagamaan yang keliru jikalau syahidnya perempuan usai melahirkan karena pengorbanan harus diluruskan. Peran reproduksi dianggap sebagai amanah sekalipun kewajiban yang harus diemban oleh perempuan semata harus digeser. Karena itu, kaum ibu harus menedapatkan hak-haknya untuk melakukan persalinan yang layak.

Wallahu a’lam.  



Komentar Facebook