MUKJIZAT AL QUR’AN: ILMU-ILMU YANG TERKANDUNG DALAM AL QUR’AN (Bag. 1)

MUKJIZAT AL QUR’AN: ILMU-ILMU YANG TERKANDUNG DALAM AL QUR’AN (Bag. 1)

 

“Hai seluruh umat manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dari Tuhan (yakni Muhammad SAW), dan Kami telah menurunkan kepada kamu cahaya benderang (yakni Al Qur’an).” (Q.S. An Nisaa’, 4:174)

Seperti kamu ketahui, mukjizat merupakan kejadian luar biasa yang keluar dari batas hukum alam, yang dianugerahkan oleh Allah kepada utusan-Nya. Dilihat dari sifatnya, ada perbedaan mendasar pada mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan para rasul sebelumnya. Apakah itu?
Mukjizat yang diberikan kepada rasul sebelum Muhammad bersifat material, artinya bisa dicerna dengan pancaindra. Sebab, daya pikir mereka belum berkembang dan masih hidup dalam zaman kebodohan. Karena itu, segala sesuatu pada masa itu, selalu dikaitkan dengan sihir. Mereka baru percaya jika “sihir” yang dilakukan para rasul itu tidak bisa dilakukan atau dipelajari oleh orang lain. Kamu tentu pernah membaca riwayat Nabi Ibrahim a.s. Pada saat hendak dibunuh oleh kaum musyrik, Nabi Ibrahim tak mempan dibakar oleh api. Atas kehendak Allah, sifat api yang panas membakar menjadi dingin ketika mengenai tubuhnya. Mukjizat Nabi Ibrahim tersebut menjadi salah satu contoh mukjizat yang bisa dicerna oleh pancaindra.
Lain halnya dengan zaman Nabi Muhammad SAW. Pemikiran orang-orang pada masa itu telah berkembang. Karena itu, mukjizat yang diberikan kepada beliau bersifat rasional, artinya mampu dicerna oleh akal.


ILMU-ILMU YANG TERKANDUNG DALAM AL QUR’AN

Al Qur’an menjadi sumber rujukan bagi ilmu pengetahuan modern. Di dalamnya terdapat sekitar 750 ayat yang meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, geologi, arkeologi, geografi, agronomi, botani, zoologi, entomologi, biologi, kedokteran, genetika, anatomi, nutrisi, sosiologi, metafisika, komunikasi, musik visual, statistik, ekonomi, kelautan, hingga pengobatan jiwa. Berabad-abad setelah Al Qur’an diturunkan, banyak ilmu yang telah dibuktikan kebenarannya oleh para ilmuwan. Berikut ini adalah beberapa contohnya.


Ilmu Genetika Tentang Reproduksi Manusia

Kamu tentu tahu, semua manusia dewasa, baik lelaki maupun perempuan, mempunyai organ reproduksi untuk menghasilkan keturunan. Alat kelamin pria menghasilkan air mani yang mengandung benih manusia, sedangkan rahim perempuan menghasilkan sel telur (ovum). Setiap bulan, ovum yang telah matang siap dibuahi. Jika tidak, ia akan luruh menjadi darah menstruasi.   
Jika lelaki dan perempuan melakukan perkawinan, dari alat kelamin lelaki akan memancar air mani. Air mani itu akan tertuang ke dalam rahim dan bertemu dengan ovum. “Nuthfah” yang disebut dalam ayat di atas merupakan bagian kecil dari mani lelaki yang bisa membuahi ovum.

Pernyataan Al Qur’an ini sejalan dengan penelitian para ahli. Mereka mengatakan bahwa pancaran mani yang menyembur ke dalam rahim itu berisi sekitar dua ratus juta benih manusia. Namun, dari sekian banyak itu, yang berhasil membuahi ovum hanya satu.                     
Dari setetes nuthfah itu, Allah menciptakan kedua jenis manusia, lelaki dan perempuan. Pernyataan Al Qur’an ini dibuktikan para ahli dengan penemuan dua macam kandungan sperma (mani lelaki), yaitu kromosom lelaki yang dilambangkan dengan huruf Y dan kromosom perempuan yang dilambangkan dengan huruf X. Ovum perempuan sendiri dilambangkan dengan huruf X. Apabila yang membuahi ovum adalah sperma yang memiliki kromosom Y, anak yang dikandung adalah laki-laki. Sebaliknya, jika yang membuahi adalah sperma yang memiliki kromosom X, anak yang dikandung adalah perempuan.
Setelah terjadi pembuahan, nuthfah tersebut menjadi “alaqah”. Alaqah bisa diartikan sebagai segumpal darah yang menempel di dinding rahim. Hal ini pun sejalan dengan penelitian para ahli embriologi yang menyatakan bahwa ovum yang telah dibuahi menempel di dinding rahim. Ia akan terus di sana sampai masa kelahiran tiba. Dari situlah, tahap-tahap pembentukan calon manusia dimulai.


Ilmu Falak (Astronomi) tentang Awal Kejadian Alam Semesta

Katakanlah, “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat demikian) itulah Tuhan semesta alam.” Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. Penjelasan itu sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, sedangkan langit masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”. (Q.S. Fushshilat, 41:9-11)

Al Qur’an mengungkap rahasia alam semesta. Salah satunya adalah bagaimana alam semesta diciptakan. Dahulu, semua benda langit merupakan satu kesatuan, termasuk langit dan bumi. Awalnya, para ilmuwan menyebutnya nebula, yaitu sekumpulan bintang yang tampak seperti massa debu dan gas berpijar di ruang angkasa. Baru akhir-akhir ini mereka menyatakan bahwa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan massa debu dan gas yang berpijar itu adalah kabut atau asap.
 Kesatuan benda langit itu kemudian meledak menjadi galaksi-galaksi. Langit dan bumi pun terpisah. Karena ledakan itu pula, terciptalah matahari akibat tekanan yang amat panas. Benda-benda alam itu kemudian berpencar mengelilingi matahari, termasuk bumi. Mereka menempati lintasan atau orbitnya masing-masing sehingga tidak bertabrakan.
 Bumi ketika itu masih merupakan gas yang panas. Seiring perjalanan waktu, bumi menjadi dingin. Permukaannya membeku dan bertambah tinggi. Dalam proses ini, beberapa gas dan uap memancar dari bumi dan turun kembali dalam bentuk hujan. Maka, terbentuklah mata air. Dengan adanya mata air, tumbuhlah berbagai tanaman di atas tanah.


Ilmu Kelautan tentang Pemisah Dua Laut

“Dan Dia (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), ini tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan di antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al Furqaan, 25:53)

Allah menciptakan pemisah (barzakh) di lokasi-lokasi tempat bertemunya laut dan sungai sehingga ciri antara laut dan sungai tetap terpelihara. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
 Pada 1873, para pakar ilmu kelautan melakukan penelitian dengan menggunakan kapal Challenger. Mereka menemukan perbedaan ciri-ciri laut dari segi kadar garam, temperatur, jenis binatang laut, dan sebagainya. Namun, mereka belum dapat menjawab mengapa air tersebut tidak bercampur.
 Jawaban atas penelitian itu baru ditemukan pada 1948. Rupanya, perbedaan mendasar itu menjadikan setiap jenis air berkelompok dengan sendirinya dan terpisah dari jenis yang lain.


Ilmu Meteorologi tentang Awan dan Es

“Tidakkah kamu melihat (bagaimana) Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya (awan). Allah juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Q.S. An Nuur, 24:43)

Kamu tentu tahu, awan terbentuk dari titik-titik uap air yang naik ke atas. Terbentuknya awan ini tak lepas dari peranan matahari dan angin.
Nah, yang dimaksud dengan “mengarak awan” dalam ayat di atas adalah awan tebal. Dalam hal ini, angin pun berperan besar dalam mendorong bagian-bagian awan tersebut.
Tentang hal ini, para ilmuwan berpendapat bahwa proses turunnya hujan dimulai dari pembentukan awan tebal. Awan tebal bermula dari dorongan angin yang menggiring kawanan awan kecil menuju daerah pusat pertemuan awan (convergence zone). Pergerakan itulah yang menyebabkan bertambahnya jumlah uap air dalam perjalanannya sehingga turunlah hujan.
Bagaimana dengan es? Para ahli menjelaskan, akibat arus udara yang sangat tinggi di dalam awan yang mengandung hujan serta terjadinya perbedaan kecepatan titik embun yang sangat dingin dan butiran-butiran embun (es), terjadilah tabrakan yang mengubah titik yang sangat dingin itu menjadi es (salju). Butirannya terus membesar dan beratnya terus bertambah sehingga jatuh ke permukaan bumi.
Salju atau es dapat melahirkan muatan-muatan listrik pada saat terjadi perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain, seperti bertabrakan, bersentuhan, dan pencairan. Karena itu, salju atau es dapat merupakan penyebab lahirnya kilat. Kekosongan yang diakibatkan oleh pergolakan butiran-butiran es itulah yang mengakibatkan terjadinya kilat.


Ilmu Geografi tentang Gunung

“Kamu lihat gunung-gunung, kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah, yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An Naml, 27:88)

Tahukah kamu, para ilmuwan menemukan rekaman satelit yang sangat mencengangkan. Ternyata, Jazirah Arab beserta gunung-gunungnya bergerak mendekati Iran beberapa sentimeter setiap tahunnya. Bisakah kamu membayangkan pergerakannya?
 Sebelumnya, sekitar lima juta tahun lalu, Jazirah Arab bergerak memisahkan diri dari Afrika dan membentuk Laut Merah.
Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Hanya Allah yang bisa menjawabnya.


Ilmu Geologi tentang Pancaran Air dari Bebatuan

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Baqarah, 2:74)

Bagaimana para ahli geologi mendalami masalah ini?
Menurut mereka, bebatuan itu mempunyai kepekaan dan reaksi. Banyak batu yang mampu memancarkan air sehingga dapat mengalirkan sungai. Dari mana air itu berasal?
Ternyata, air tanah dapat merembes melalui kulit bumi melalui pori-pori bebatuan dan karang. Jika tekanan bertambah, air akan keluar menyembur di sela-sela bebatuan sehingga dapat menjadi sungai atau mata air.

[Sumber: M. Rifqy Zulkarnaen, Rosda, Mujizat Al-Quran]



Komentar Facebook