MISKOMUNIKASI ORANG ARAB

MISKOMUNIKASI ORANG ARAB

MISKOMUNIKASI ORANG ARAB

Kehidupan raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud dan rombongannya dari Arab Saudi di Indonesia selama sembilan hari (1-9 Maret 2017) mengingatkan saya akan sejumlah narasi tentang miskomunikasi orang Arab. Seorang penceramah agama di Melbourne, Australia, pernah menyampaikan cerita nyata: Di sebuah kota di Malaysia, beberapa pendatang Arab yang tidak bisa berbahasa Malayu bermaksud membeli besin untuk mobil yang mereka kendarai.  Seorang dari mereka mengutarakan , maksudnya dalam bahasa Arab, bahwa bensinnya telah habis, namun dijawab oleh pegawai pom bensin dalam bahasa Melayu, karena ia tidak bisa berbahasa Arab. Bahwa bensinnya sudah habis terjual. Namun, orang Arab itu tak mengerti jawaban orang Malaysia itu. Ia ngotot ingin membeli bensin. Menyadari ada kemacetan komunikasi, sang pengawas mencari akal. Akhirnya ia mengucapkan. Sadaqallahu azim.” Akhirnya, orang Arab itu mengerti. Ia pun tertawa.

            Lain  lagi cerita seorang mahasiswa saya di Fikom Unpad: “Kejadian ini dialami orangtua teman saya waktu menunaikan ibadah haji. Saat berjalan-jalan mereka melihat bus yang menunggu penumpang. Mereka sudah lelah dan ingin kembali  ke kemah. Mereka memutuskan untuk naik bus tersebut. Ketika menginjakkan kaki di tangga bus, tiba-tiba supirnya berteriak. “Haram, Haram, Haram !” Mereka kaget mengira bahwa mereka tidak boleh naik.  Yah, namanya juga sedang naik haji, pasti akan  selalu waspada terhadap yang haram-haram. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke kemah. Sampai di kemah dengan napas yang masih terengah-engah setelah berjalan belasan kilometer, si ibu menceritakan pengalamannya kepada temannya yang sudah naik haji berkali-kali. Temannya menjelaskan, “Haram itu berarti ke Masjid Haram, bukan tak boleh naik.”

            Jika orang Indonesia di Tanah Arab bisa salah paham, orang Arab di Indonesia pun bisa demikian. Satu anekdot melukiskan : “ Suatu hari dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandung, seorang pria Arab meminta supir  untuk melewati wilayah Puncak. Saat melihat rambu lalu lintas yang menggambarkan dua gunung yang berdekatan (di depan yang akan dilewati pengendara), orang Arab itu kaget. Serta merta ia berteriak, “Haram, Haram, Haram!” Rambu lalu lintas itu rupanya mengingatkan pada pria Arab itu akan bagian sensitif tubuh wanita.

            Kesalahpahaman bisa terjadi pada siapa pun yang berkomunikasi  dengan orang Arab, bukan hanya secara verbal, namun juga secara non verbal. Jika Anda datang sebagai pria ke Arab Saudi untuk pertama kali dan berbelaja di toko, jangan kaget jika pria Arab itu memeluk Anda, atau mengusap dagu Anda, apalagi jika berjenggot. Bukan karena ia ” gay”, melainkan karena ia menyukai atau menghormati Anda  atau sedang membujuk Anda untuk membeli barang ia tawarkan. Mengusap dagu seorang pria juga untuk meredahkan marah pria tersebut. Saat di tanah suci dulu, saat saya menawar kerudung di sebuah toko, dagu saya diusap pedagang. Saya balik mengusap dagunya, agar harga kerudung diturunkan. Ia pun mengabulkan  tawaran saya.

            Mereka tak masalah mengusap dagu orang Arab yang baru Anda kenal, apalagi kalau Anda, jangan coba-coba anda melakukannya terhadap seorang ustaz, kiai, ulama atau orang biasa sekalipun di negeri kita, kecuali siap kena semprotnya. Seorang mahasiswa lain menceritakan kesalahpahaman soal dagu ini: “Saat libur panjang sekolah, saya dan keluarga berlibur di Puncak. Kami menginap di hotel berbintang yang dipenuhi pengunjung, termasuk turis asing dari berbagai negara. Ketika berada di depan front office kami melihat seorang turis yang mungkin dari Timur Tengah. Itu terlihat dari caranya berpakain dengan memakai sorban di kepalanya. Turis Arab itu menghampiri turis lokal, mungkin teman atau rekan kerjanya,  Usai berjabatan tangan dan berpelukan, tiba-tiba turis asing itu mencolek dagu temannya yang orang lokal.  Serta merta orang Indonesia itu mencak-mencak “Kamu pikir saya ini apa? Pegang-pegang. Baru kenal kamu  sudah nggak sopan.“ Menggunakan bahasa sendiri turis Timur Tengah itu juga marah-marah. Manager hotel datang melerai Ia menjelaskan kepada orang Indonesia itu, bahwa kebiasaan mencolek dagu ketika bertemu dengan teman lama sudah penghargaan yang tinggi bagi orang Arab. Orang Indonesia itu meminta maaf. Akhirnya mereka bersalaman kembali.  Turis Timur Tengah itu mencolek dagu temannya sekali lagi, tetapi kini sambil tertawa-tawa.”

Orang-orang Arab sesama jenis lazim berpelukan. Di kalangan pria Arab membaui tubuh orang Arab dan merasakan sapuan napasnya adalah hal yang menyenangkan.

Pada zaman dahulu, suatu keluarga mengirim utusan untuk membaui badan calon menatunya itu prospektif atau tidak. Pria Arab bahkan mencium pipi kawan akrabnya dengan bibirnya saat bertemu. Kecupannya itu cukup keras,  suatu hal yang dianggap jijay oleh orang Barat, juga oleh orang Indonesia. Maka, di Jerman pernah seorang pri Arab mengingatkan temannya yang akan turun dari kereta di stasiun untuk tidak melakukan sapaan seperti itu guna menghindari tatapan ganjil dari orang-orang Jerman di sekitar mereka.

            Di Arab Saudi menyentuh kepala orang lain dianggap sopan. Di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, tak jarang orang Arab menyentuh kepala orang yang dilewatinya dan melangkahi bahunya saat masjid penuh dengan jamaah yang duduk. Sentuhan kepala itu bisa diartikan  minta izin. Terpenting jangan sekali-kali menyentuh pantat pria Arab, karena itu pelanggaran serius. Sering kita menganggap orang Arab itu kasar karena suara mereka yang keras.

Dalam budaya Arab suara keras bukan tanda kekasaran, melainkan tanda kasih sayang dan ketulusan. Semakin  orang Arab menyukai Anda, semakin keras suaranya.

            Orang Arab sering diseteriotipkan  sebagai penggemar wanita, terutama di Barat. Stereotip ini misalnya, muncul dalam buku  Bradford Hall (2002) lewat guyonan berikut: Dalam satu diskusi ada pertanyaan, “ Siapa yang Anda harus tolong dalam musibah kapal yang tenggelam, seandainya Anda punya tempat  untuk satui orang lagi dalam rakit Anda, apakah ibu Anda atau istri Anda?” Dua peserta diskusi, satu pria Arab dan satu pria Inggris, berbeda pendapat. Pria Arab memilih ibunya, dan pria Inggris memilih istrinya. Pria Inggris berujar, “Istri  harus dipilih karena meski Anda mencintai ibu Anda, Ibu Anda telah memperoleh kehidupan yang penuh, tetapi istri Anda adalah teman hidup terpilih selama hidup Anda. “ Sedangkan alasan Pria Arab memilih ibunya adalah: ”Anda dapat selalu memperoleh istri yang baru, tetapi Anda hanya memiliki satu Ibu.” Stereotip memang sering berlebihan, bahkan salah kaprah. Bukankah stereotip yang dianut Barat bahwa Muslim itu teroris atau stereotip yang dianut suku non-Sunda, bahwa perempuan Sunda itu materialistis dan tak setia itu, juga salah kaprah?

            Kembali ke kedatangan Raja Salman di Indonesia yang menawarkan investasi kerja sama senilai lebih dari 300 triliun rupiah, semoga kerjasama itu akan terwujud dan membawa kemeslahatan bagi kedua belah pihak.           

( Prof. Dr.Deddy Mulyana)



Komentar Facebook