SAYYIDAH NAFISAH

SAYYIDAH NAFISAH

Keturunan Rasulullah yang Terkenal Zuhud

Imam Syafi’I pun kerap meminta hadis dan doa kepada Sayyidah Nafisah

Sosoknya memang diketahui sudah dekat dengan nilai-nilai ajaran Islam sejak usia dini. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kebiasaan orangtuanya yang juga taat kepada ajaran agama.

Sejarah Islam mencatat perempuan-perempuan hebat baik masa Nabi Muhammad SAW maupun setelahnya. Mereka mempunyai peran yang tak kalah besar juga dengan laki-laki.

Sayyidinah Nafisah salah satunya. Secara garis keturunan, ia bukan orang sembarangan, karena termasuk salah seorang keturunan Rasulullah SAW. Ia adalah putri dari Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Ali R.A. Nafisah dilahirkan di Makkah pada 11 Rabiawal 145 H dan besar di Madinah saat masih berusia lima tahun.

Sosoknya memang diketahui sudah dekat dengan nilai-nilai ajaran Islam sejak usia dini. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari kebiasaan orangtuanya yang juga taat kepada ajaran Islam.  Sejak umur enam tahun, ia selalu menunaikan shalat fardhu dengan teratur di Masjid Nabawi. Di Madinah, ia selalu menghafal Alquran dan mempelajari tafsirnya serta selalu ziarah ke makam Rasulullah SAW. Dalam catatan sejarah, Sayyidah Nafisa  terkenaL dengan sosoknya  yang zuhud dan sering berpuasa. Ia juga tak lepas untuk melaksanakan shalat malam setiap harinya.

            Pada 5 Rajab 161 H ia menikah dengan Ishaq al-Mu’Tamin yang tak lain putra dari pamannya sendiri. Ketika itu ia baru berumur 16 tahun. Usia yang sangat muda jika diukur dari sisi umur.  Dari pernikahannya tersebut telah dikurniai putra bernama al-Qasim dan seorang putri, Ummu Kultsum. Sayyidah Nafisah telah melaksanakan ibadah haji sebanyak 30 kali dan sebagian besar ia laksanakan dengan berjalan kaki. Hal tersebut ia lakukan untuk meneladani datuknya, Rasulullah SAW. Riwayat-riwayat tentang Sayyidah Nafisah kebanyakan dinisbahkan kepada putri  saudaranya, Zainal binti Yahya al-Mutawwaj, di mana ia selalu menyertai dan menemani sepanjang hidupnya.

               Yahya pernah menyebut tantang Sayyidah Nafisah. “Bibiku hafal Alquran dan menafsirkannya, ia membaca Alquran sambil menangis dan berdoa, ” Tuhanku, mudahkanlah untukku berziarah ke tempat Nabi Ibrahim AS.” Pasalnya, Sayyidah Nafisah mengetahui bahwa Nabi Ibrahim merupakan datuk para Nabi. Pada 193 H bersama suaminya, ia hijrah ke Mesir setelah sebelumnya berziarah ke makam Nabi Ibrahim. Keberadaan Sayyidah Nafisah di Mesir diketahui oleh masyarakat setempat, sehinggga mereka berbondong-bondong menemuinya untuk mendapatkan berkah.  Saat baru tiba di Mesir, ia ditampung di rumah pedagang besar Mesir, yaitu Jamaluddin Abdullah al- Jashashash.

            Di rumah tersebut ia tinggal beberapa bulan sebelum kemudian pindah ke sebuah kampung belakang masjid Syajarah ad-Duur, di jalan Khalifah, sekarang dikenal dengan al-Hasaniyyah. Namun, warga tetap ramai untuk bertemu dengan Sayyidah Nafisah. Banyak masyarakat yang berdatangan membuat Sayyidah Nafisah merasa terganggu untuk bisa khusuk beribadah. Karena itu ia sampai berpikir untuk kembali ke Makkah agar bisa melaksanakan ibadah dengan tenang.

            Keinginan tersebut akhirnya tak terjadi setelah penguasa Mesir waktu itu, As -Sirri bin Al-Hakam, menjamin akan mengatasi segala keluhannya. Permintaan penguasa Mesir tersebut tak lain permintaan dari warga Mesir sendiri.

            Kompromi pun disepakati antara Sayyidah Nafisah dan penguasa Mesir. Kesepakatan tersebut diantaranya terkait pengaturan waktu, kapan masyarakat bisa menemuinya. Sehingga Sayyidah memiliki waktu yang tenang untuk beribadah. Dalam beberapa catatan sejarah, Sayyidah Nafisah cukup dihormati  oleh seorang mufti besar Sunni, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i  al Muththalibi al-Quraisyi atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Asy-Syafi’i. Meskipun Sayyidah Nafisah juga menaruh hormat kepadanya.

            Imam Syafi’i datang ke Mesir pada 198 H, tepatnya lima tahun setelah kedatangan Sayyidah Nafisah. Di Mesir Imam Syafi’i tinggal selama empat tahun. Di Mesir pula Imam Syafi’i mengarang kitab-kitabnya dan diterima oleh masyarakat. Imam Syafi’i sering menemui Sayyidah Nafisah dan beribadah bersama. Meskipun mempunyai kedudukan agung, ia tak segan menemui Sayyidah Nafisah sekaligus meminta doanya guna mendapatkan berkah. Banyak hadis yang didapatkan dari Sayyidah Nafisah.

            Saat Imam Syafi’i dalam keadaan sakit, ia tetap tak lupa untuk meminta doa kepada Sayyidah Nafisah dengan mengutus muridnya. Satu ketika Sayyidah Nafisah mengatakan kepada utusan Imam Syafi’i.”Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia.”

            Perkataan Sayyidah Nafisah kemudian disampaikan kepada Imam Syafi’i. Imam Syafi’I pun mengerti bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Imam Syafi’i pun berwasiat agar Sayyidah Nafisah bersedia untuk menshalatkan bila nanti ia wafat. Sayyidah Nafisah memenuhi wasiat tersebut. Sikap Imam Syafi’i menandakan Sayyidah Nafisah merupakan sosok yang sangat istimewah. Sehingga ia tak malu-malu untuk meminta doanya guna mendapatkan berkahnya.

(Rahmat Fajar- Dialog)



Komentar Facebook