HASIM HAFIZ, IMAM DI TUBUH MILITER INGGRIS

HASIM HAFIZ, IMAM DI TUBUH MILITER INGGRIS

Hasim Hafiz, Imam di Tubuh Militer Inggris

Kementerian Pertahanan Inggris memiliki seorang penasehat khusus bidang agama Islam. Dialah Hasim Hafiz yang memiliki jabatan resmi Islamic Religious Advisor to Chief of the Defence Staff and Service Chiefs serta Muslim pertama dan satu-satunya menduduki jabatan tersebut.

Imam Hasim Hafiz lulus pada 1999 dari sebuah sekolah Islam di England, Inggris. Ia dikenal sebagi Imam sekaligus cendikiawan Muslim. Hafiz meraih gelar Master of Art dalam bidang Contemporary Islamic Studies di University of London.

Pada 2003 Hafiz ditunjuk untuk menjadi penceramah di penjara Wandsworth. Di sana ia memberikan bimbingan dan nasehat keagamaan kepada para tahanan Muslim.  Ia juga memberi masukan kepada managemen penjara terkait kebutuhan khusus tahanan Muslim serta mendorong agar agama menjadi bagian intergeral dari program rehabilitasi tahanan.

Dua tahun kemudian, yakni pada Oktober 2005, Hafiz ditunjuk menjadi Imam yang pertama dan satu-satunya di Angkatan Bersenjata Inggris.

Antara 2010 dan 2011, ia ditugaskan di Afganistan untuk mendukung tugas membangun perdamaian, stabilisasi, dan resolusi konflik. Atas peran aktifnya di militer Inggris, ia dianugerahi penghargaan Offiser of Order of the British Empire (OBE) dari Kerajaan Inggris 2014.

Hafiz berkesempatan berbincang dengan Kamran Dikarma, Darmawan dan Yeyen Rostiyani dari Republika. Inilah hasil bincang-bincang tersebut:

 

Apa sebenarnya tugas anda?

Saya bergabung dengan militer Inggris 12 tahun yang lalu. Saat itu saya menda pat tawaran  menjadi imam dan ditugasan  untuk  memberikan bimbingan keagamaan kepada tententara Muslim yang bernaung di militer Inggris. Ini tawaran yang pertama sekali untuk saya.

            Saya pun memutuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Tujuannya, tak lain  untuk memastikan bahwa kebutuhan rohani dan aspiritual tentara-tentara Muslim di militer Inggris terpenuhi.

            Di sisi lain, saya juga ingin berkomunitas Muslim di Inggris juga memahami lebih baik tentang militer Inggris.  Karena, di antara mereka mungkin ada yang mempertanyakan bagaimana juga mereka sebagai Muslim, juga bisa menjadi anggota angkatan militer Inggris.

            Saya juga memberi masukan terkait isu-isu Islam kepada militer Inggris. Sedangkan secara eksternal, saya bertugas meningkatkan kesadaran para personil milter Inggris akan Islam dan Muslim, khususnya melalui pelatihan sebelum mereka ditempatkan di wilayah Muslim. Ingin militer Inggris memahami dengan baik tentang Islam. Mereka harus memahami Islam dalam dua hal, baik sebagai cara hidup maupun saat Islam sebagai alat politik.

            Jadi, pada prinsipnya saya membangun jambatan  antara militer Inggris, pemerintah, dan komunitas Muslim.

 

Anda pernah ditempatkan di Afganistan? Apa tugas anda di sana?

            Pada 2010 saya melakukan sejumlah kunjungan singkat ke Afganistan dan ditugaskan untuk memberikan nasehat religious kepada komandan Inggris dan Amerika Serikat. Pada 2011 saya memimpin tim lintas Pemerintah Inggris untuk Keterlibatan dan Penjangkauan Agama dalam mendukung stabilitas serta rekonsiliasi di Afganistan Selatan.

            Pada 2012 saya ditugaskan untuk tur operasional selama enam bulan penuh di Afganistan sebagai bagian dari upaya Inggris atau Tentara Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) guna meningkatkan peran pemahanan keamanan untuk mempromosikan, stabilitas dan penghentian konflik.

 

Apa tantangan terbesar yang dihadapi Muslim yang juga menjadi personil militer Inggris?

            Ini terkait dengan tugas saya sebagai penasihat. Menjadi warga Inggris yang Muslim dan masuk menjadi anggota militer bukanlah hal yang tidak mungkin. Saya membantu umat Islam Inggris untuk memahami bahwa ketiganya compatible dan bisa menjadi satu kesatuan.

            Saat seorang tentara  Inggris yang Muslim kemudian ditugaskan ke Negara Muslim, mungkin akan muncul pertanyaan pada diri mereka. Namun, mereka juga harus memahami bahwa kehadiran mereka di negara tersebut bukanlah untuk memerangi Islam.  Mereka hadir di negara tersebut dengan alasan untuk menjaga keamanan. Bahkan, tak jarang negara tersebutlah yang meminta Inggris hadir di sana. Jadi, mereka hadir di negara tersebut  atas permintaan tuan rumah.

            Selain itu, tugas militer Inggris di Negara tersebut bukan untuk menghambat kegiatan ibadah umat Islam. Sebaliknya, mereka justru ingin memastikan umat Islam di sana tetap dapat menjalankan ibadah mereka di tengah keadaan yang aman.

            Sebagai Muslim yang juga bertugas di Pemerintahan Inggris, apa peran And dalam memerangi Islamofobia?          

Satu hal yang yang menjadi masalah adalah ignorance, ketidak pedulian. Orang kerap tidak memahami dan mengenal Islam demikian juga sebaliknya, umat Islam tidak memahami umat lain.

            Saya akui, memang di kalangan tertentu ada elemen kecil yang ingin memecah belah budaya, agama , dan Negara Inggris, melalui aksi terror. Tapi, kita harus membangun rasa saling menghormati dengan mengikis ignorance itu.  Harapannya agar semua agama, baik itu Kristen, Yahudi, Buddha, Islam, bahkan mereka yang atheis bisa menunjukkan sikap saling menghormati dan     saling menghargai satu sama lain.  Saat kita menyadari hidup kita penting bagi kita, hidup orang lain pun penting bagi mereka. Inilah yang harus kami bangun untuk menciptakan perdamaian.

 

Apa pengalaman menarik Anda dalam tugas ini?

Ada dua hal. Pertama, begitu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan tugas yang saya emban ini. Saya bisa menjadi jambatan yang menghubungkan antar komunitas, membantu orang memahami tentang Islam.  Saya merasa senang bahwa dengan agama dan pengetahuan yag saya miliki, ada sesuatu yang bisa  saya perbuat.

            Hal itu mengarahkan saya pada hal kedua.  Pekerjaan saya telah membuat saya berkeliling dunia. Ke Timur Tengah, Afrika, hingga ke Indonesia negara yang sangat indah. Setelah sasa berpergian ke begitu banyak Negara, saya menyadari bahwa manusia itu sebetulnya satu ras yang sama. Manusia, di mana pun, mereka menginginkan hal yang sama. Yaitu ada makanan tersedia di meja makan, ada pakaian yang melindungi tubuh, serta ada atap yang menaungi kepala kita.   

            Kita sering menyebut diri kita berbeda dengan yang lain sebagai ras manusia, tapi sebenarnya kita sebetulnya sama. Itulah hal yang menarik.

 

Jadi bisa dikatakan, anda adalah orang yang berbahagaia?

            Saya merasa perihatin dengan kondisi yang ada saat ini, tapi saya optimistis dengan masa depan kita.

 

Lantas, bagaimana pendapat Anda selama kunjungan di Indonesia?

            Saya sangat senang berada di Indonesia. Kerendahan hati, keramatamaan, dan kehangatan orang-orang yang saya jumpai disini. Selain itu makanannya yang sangat lezat, seperti ‘satai’ misalnya. Ada satu lagi, nasi putih yang dibungkus dengan daun.

            Tapi hal yang paling berkesan, menurut saya adalah tentang begitu kuatnya upaya untuk menciptakan rasa kebersamaan untuk memastikan sikap komunitas tetap bersama, dan merasa aman di Indonesia. Saya sangat tertarik dengan filosofi nasional Indonesia, yaitu Pancasila. Lima prinsip yang dimaksudkan agar orang-orang memiliki rasa indentitas dan kebersamaan yang kuat.

            Saya pikir, memiliki sebuah negara yang mengenal indentitasnya adalah hal yang sangat penting. Dan satu hal membuat saya terkesan adalah, walupun kita tahu di sini merupakan Negara mayoritas Muslim, kalian mengakui enam agama yang berbeda. Kalian mau bekerjasama dan menghormati agama lainnya.  

            (Republika)



Komentar Facebook