Kisah Korban G30S/PKI: Ibu Pertiwi Menangis

Kisah Korban G30S/PKI: Ibu Pertiwi Menangis

Menko Hankam/Kasab beserta rombongan pindah ke Makostrad. Di sana Jenderal Nasution mengikuti musyawarah yang diadakan oleh Mayjen Suharto. Musyawarah itu terutama membicarakan masalah penujukkan pengganti Men/Pangad serta perintah panggilan kepada beberapa jenderal untuk menghadap Presiden di Pangkalan Udara Halim.

Saat itu Laksamana Laut RE Martadinata dan ajudan Presiden Sukarno, Kolonel Bambang Wijanarko, juga telah berada di Makostrad. Keduanya menjelaskan  apa yang dibicarakan Presiden dengan Panglima Angkatan (AU, AL, AK) di Pangkalan Halim. Presiden meminta nasihat dari ketiga Panglima Angkatan mengenai masalah  pengganti Men/Pangad Letjen Ahmad Yani.

Jenderal Nasution berpendapat bahwa keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Pranoto sebagai pengganti  Men/Panghad belum dapat dilaksanakan.

Akhirnya diputuskan untuk memberitahu Presiden, bahwa perintah Presiden untuk melaksanakan perintah sehari-hari dalam Angkatan Darat kepada Mayor Jenderal Pronoto Reksosamudro belum dapat dilaksanakan, karena situasi belun teratasi. Operasi keamanan masih berjalan terus. Sementara ketujuh petinggi ABRI yang diculik masih belum diketahui keberadaannya.

Menko Hankam/Kasab Jenderal Nasution memanggil Mayjen Pronoto melalui Mayjen Suharto. Nasution meminta bantuan serta pengertian Pranoto mengenai penundaan Keputusan Presiden tersebut. Pranoto tidak tegas dalam memberi jawaban kepada Nasution.

Pada saat itu juga Mayjen Suharto memberikan laporan kepada Jenderal Nasution. Dalam laporannya, Suharto memberitahu tentang pemecatan beberapa perwira yang terlibat dalam “Gerakan 30 September”. Mereka adalah Suparjo, Untung, dan beberapa orang lainnya. Suharto juga memberikan gambaran mengenai keadaan di Jawa Tengah dan Bandung. Kepada Nasution, Suharto juga menyampaikan laporan dari Komandan RPKAD tentang disitanya beberapa senjata baru milik AURI dari satuan-satuan SOBSI.

Pasukan pemberontak telah dibersihkan dari Ibu Kota. Penguasaan sehari “Gerakan 30 September” atas Jakarta, telah dipatahkan. Perjuangan TNI yang tidak kenal lelah telah membuahkan hasil. Secara umum Jakarta telah dikuasai dan diawasi. Gembong-gembong G 30-S/PKI dan para pengikutnya yang berada di Jakarta melarikan diri ke luar kota. Tapi perjuangan belum selesai. Karena G 30-S/PKI harus dipatahkan sama sekali. Karena itu gerakan-gerakan ke arah sana terus dijalankan. Informasi-informasi yang masuk menunjukkan basis mereka ada di kompleks Pangkalan Udara Halim. Hal itu diperkuat dengan dikeluarkannya Perintah Harian Men/Pangau Omar Dhani yang bernada “memihak” Gerakan 30 September.

 Mayjen Suharto dengan pasukannya terus melakukan gerakan-gerakan yang mendesak keberadaan “Gerakan 30 September”. Tokoh-tokoh pimpinan gerakan tersebut meninggalkan Halim dengan tergesa-gesa. Karena Kolonel Bambang Wijanarko membawa kabar bahwa “Halim akan diserang oleh pasukan Suharto”.

Pasukan-pasukan yang digerakkan oleh G 30-S/PKI memutuskan untuk mundur ke Lapangan Udara Halim, sesuai perintah pimpinan mereka. Pasukan-pasukan itu telah mendengar adanya reaksi dari Kostrad. Mundur ke Halim dianggap langkah terbaik. Karena di sanalah pusat kekuatan induk pasukan G 30-S/PKI.

Keputusan untuk mengamankan Lapangan Udara Halim pun diambil setelah diperoleh kesepakatan. Panglima Kostrad yang juga merangkap sebagai Pimpinan Sementara Angkatan Darat mengeluarkan perintah pengamatan atas Lapangan Udara Halim. Kepada seluruh pasukan yang ditugaskan, dipesan agar sedapat mungkin menghindari pertumpahan darah. Mereka juga diminta untuk tidak merusak benda-benda yang berguna. Tugas ini cukup berat. Tidak boleh gagal. Diperlukan siasat dan strategi yang jitu untuk dapat menarik pasukan Yon 454 dan Yon 530 dari persembunyian mereka. Usaha itu harus berhasil tanpa menimbulkan korban yang tidak perlu.

***

Sebelum matahari menampakkan diri pada tanggal 2 Oktober 1965, warga Jakarta sedang nyenyak dalam tidur mereka. Mereka sedang asyik menikmati sisa malam dibuai mimpi indah. Pada saat itu bergeraklah satuan-satuan Yon RPKAD, Yon 328 Para/Kujang Siliwangi. Mereka diperkuat satu kompi tank dan satu kompi panser. Pasukan itu menuju sasaran yang telah ditentukan. Dinginnya udara pagi tidak mereka hiraukan. Tekad dan keyakinan yang kuat dalam hati membuat mereka tidak menganggap itu sebagai penghalang. Dalam dada masing-masing anggota pasukan ada keinginan yang kuat untuk segera memulihkan keadaan negeri ini. Agar rakyat bisa hidup tenteram penuh kedamaian.

Hari itu menjadi saat yang paling memilukan dalam sejarah Indonesia. Ketika para prajurit dalam seragam yang sama, dengan bendera yang sama pula, harus saling bertikai. Karena ada kekuatan jahat yang telah memecahbelah mereka. Kekuatan jahat yang telah menjadikan kawan sebagai lawan. Sungguh kekejaman yang tiada tara. Ibu Pertiwi pun menitikkan air mata, menyaksikan putera-putera terbaik mereka berhadapan sebagai musuh yang ingin saling menjatuhkan.

Syukurlah pertikaian itu tidak berlangsung lama. Pada pukul 16.00 Lapangan Udara Halim berhasil dikuasai. Tentu saja ada korban jatuh. Tapi setiap perjuangan memang memerlukan pengorbanan.

Gerakan pasukan pun diteruskan. Tujuan selanjutnya adalah Lubang Buaya. Penyerbuan ke Lubang Buaya dipercayakan kepada RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Menit demi menit berlalu dalam ketegangan. Sasaran makin dekat.

Dengan tanpa suara pasukan RPKAD tiba di sasaran. Saat itulah dua kekuatan bertemu, RPKAD dan Yon 454. Kemunculan pasukan baret merah itu benar-benar mengejutkan. Angoota Yon 454 yang sedang beristirahat sama sekali tidak menduga datangnya serangan. Mereka panik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah melakukan perlawanan.

Tembak menembak pun tidak dapat dihindarkan. Dua kekuatan yang seharusnya bersama-sama menjaga keamanan negara, kini bertempur saling membunuh. Kawan yang seharusnya saling berangkulan, kini malah saling mengumbar peluru. Sungguh kejam mereka yang telah menciptakan permusuhan antara sesama anak bangsa ini.

Pertempuran itu baru berhenti ketika Komodor Dewanto datang dengan kendaraan jip.

Komodor Dewanto memerintah Kapten Kuncoro, Wakil Komandan Yon 454, agar melaporkan pasukannya ke Kostrad. Kuncoro juga diminta untuk menunggu brifing yang akan dilakukan Dewanto dengan Kolonel Sarwo Edhie.

Dewanto dan Sarwo Edhie akan menemui Presiden di Bogor untuk meminta instruksi mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Pertempuran di Lubang Buaya itu memakan korban. Seorang anggota RPKAD gugur dan dua orang lainnya menderita luka-luka. Korban yang tidak perlu seandaninya tidak ada yang memecahbelah mereka. [Bahrudin Supardi]



Komentar Facebook