DZIKIR KHAFIY (RAHASIA)

DZIKIR KHAFIY (RAHASIA)

                   Pembicaraan tentang masalah ini menyangkut bidang ilmu tasauf. Yaitu ilmu yang banyak mendalami dan menekankan amalan batin manusia.  Di kalangan kaum Syi’ah Isma iliaya ( yang dipimpin oleh Aga Khan yang terkenal itu) tekanan kepada amalan batin tersebut sedemikian rupa sentralnya sehingga mereka disebut Kaum Kebatinan ( al-Bathiniyyum).  Imam al-Gazali yang terkenal itu menulis karya polemis terhadap mereka, meskipun dia sendiri juga mengembangkan ajaran tentang olah batin yang sangat lengkap dan tangguh, khususnya dalam kitabnya. Ihya Ulum al-Din.

                Tetapi karena dasar-dasarnya juga ada dalam prinsip-prinsip ajaran agama secara keseluruhan, maka sudah barang tentu akan bermanfaat pula untuk setiap pemeluk agama. Lebih-lebih setelah “masalah kebatinan”ini digarap dalam ilmu tasauf, termasuk melalui pena al-Gazali juga, dan diusahakan untuk diletakkan di bawah pengawasan ajaran setandar. Dalam hal ini bisa disebut syari’ah.

                Di kalangan kaum sufi itu dikenal adanya dzikir jahr dan dzikir khafi. Dzikir tentu saja artinya ialah ingat, dan di sini yang dimaksud adalah ingat kepada Allah. Dzikir Jahr yang dilakukan dengan suara keras atau secara nampak lahir (jahr artinya keras), dan dzikir khafyi ialah yang dilakukan secara diam-diam atau rahasia (khafiy berarti samara tau tersembunyi).

                Agama membenarkan seorang melakukan kebaikan dengan memperlihatkan amalannya itu atau merahasiakannya atau memandangnya sebagai urusan pribadi dia dengan Tuhan. Kemudian ada amal kebajikan yang sebaiknya, mungkin seharusnya, diketahui orang banyak disebabkan kuatnya demensi sosial kebajikan  itu. Karena itu berkenan dengan dzikir jahr dan dzikir khahfiy, terkaitkan firman Tuhan: “Sesungguhnya mereka yang takut kepada Tuhan mereka dalam kegaiban, bagi mereka adalah ampunan dan pahala yang agung. Dan lirihkanlah ucapanmu, atau keraskanlah, sesungguhnya Dia maha Tahu akan segala isi dada.” (QS. Al- Mulk/67:12:13).

                Tapi, kalau derma yang berdemensi sosial sangat kuat itu pun lebih baik jika dilakukan secara diam-diam  dan anonym demi memelihara keutuhan keikhlasan hati,  maka lebih-lebih lagi perihal ingat kepada Allah, jelas lebih utama dilakukan secara private, dalam hati dan tanpa  demontrasi. Karena itu difirmankan dalam Kitab Suci, “  Serulah (berdoalah) kamu semua kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara lirih. Sesungguhnya Dia tidak suka kepada mereka yang melampaui batas.” (QS. Al-Araf/7:55). Juga firman-Nya, “Dan ingatlah Tuhanmu dalam jiwamu dengan penuh rendah hati dan rasa takut, serta tanpa mengeraskan ucapan (suara), di pagi dan petang, dan janganlah engkau tergolong mereka yang lalai.” (QS. Al- araf/ 7: 205).

                Oleh karena ingat kepada Allah  atau dzikir itu pada dasarnya ada dalam batin kita yang paling mendalam, maka dia bisa dilakukan pada setiap waktu dan di setiap tempat, serta dalam keadaan bagaimana pun.  Inilah sifat utama orang-orang yang berakal budi, yang mendapat bimbingan Ilahi ( lihat QS Alu7-Imran/3:191). Maka sesungguhnya shalat, misalnya, diajarkan agar kita ingat kepada Allah yang penuh rendah hati dan privacy itu. “Dan pastilah ingat kepada Allah itu lebih agung.” ( QS. Al-ankabut/ 29:45)

(“Pintu-pintu Menuju Tuhan”, Dr. Nurcholis Majid)



Komentar Facebook