MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSI ANAK

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSI ANAK

Orangtua mana yang tak ingin melihat anaknya tumbuh sehat dan cerdas? Asupan nutrisi yang cukup, ternyata belum menjamin anak menjadi cerdas. Menurut pakar psikologi Dr. Rose Mini Ap.  MPsi atau akrab disapa Bunda Romy, selain asupan nutrisi, diperlukan stimulasi agar semua potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak dapat tampil secara optimal dalam kehidupannya.

 

Bunda Romy menuturkan, dahulu kecerdasan selalu diidentikkan dengan kemampuan kognitif yang terukur dalam satu skor Quotient (IQ). IQ merupakan kemampuan intelektual, kemampuan menganalisis, serta logika dan rasio seseorang. Dalam prespektif IQ, dianggap cerdas, saat mereka pandai dalam bidang tertentu, seperti bahasa, berhitung atau dalam kemampuan lainnya yang berhubungan dengan akademik. Dengan semakin berkembangnya informasi dan pengetahuan, para ahli menemukan bahwa kecerdasan ternyata juga mencakup pada aspek yang lebih sepesifik sehinga kecerdasan tidak lagi dilihat sebagai satu demensi, tetapi juga dari banyak demensi. Salah satu      perspektif kecerdasan yang mencakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari ialah Multiple intelligence (MI) atau kecerdasan majemuk.

Istilah kecerdasan majemuk ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr Howard Gardner , psikolog dari Universitas Harvard, dalam bukunya The Multiple Intelligence (1993). Dalam prespektif  MI, terdapat setidaknya delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan Kinesterik, Kecerdasan Visual Spacial, Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logika dan Angka, Kecedasan Musikal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal, dan Kecerdasan Naturalis. Setiap anak memiliki delapan jenis kecerdasan tersebut, tetapi perkembangan setiap jenis kecerdasan bisa jadi berbeda-beda. Perlu stimulasi agar ragam kecerdasan ini  berkembang optimal.

Terkait proses stimulasi si kecil, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu gaya belajar, pola suh, dan kecerdasan emosi. Gaya belajar merupakan cara yang cendrung digunakan anak untuk menyerap informasi dan lingkungannya ( Kompas 31/1/2016). Sementara itu, pola asuh  menyangkut gaya pengasuhan yang diterapkan kepada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Hal berikutnya yang tak kalah penting, yaitu kecerdasan emosi.

 

Mengenal kecerdasan emosi

            Kecerdasan emosi atau Emotional intelligence (EI) merupakan kecerdasan yang memperlihatkan kemampuan untuk mengetahui perasaan diri maupun orang lain dan dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan. Menurut Daniel Goleman, ada lima area kecerdasan emosi, yaitu kemampuan mengenal emosi, kemampuan mengelola emosi (kontrol diri), kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain (empat) serta kemampuan membina hubungan. Cara mengenal kecerdasan emosi adalah melalui pengamatan terhadap prilaku si kecil dalam kesehariannya.

 

Peran orangtua dalam proses stimulasi.

            Setiap orangtua memiliki perasaan yang penting dalam kehidupan anak. Setiap peran tentunya mengandung tanggung jawab yang berbeda. Terkait dengan peran orangtua sebagai pengasuh anak, perlu diiringi dengan tanggung jawab orangtua untuk memenuhi segala kebutuhan fisik anak, seperti sandang pangan, dan papan. Terkait peran orangtua sebagai pendidik perlu diiringi dengan tanggung jawab mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual anak, seperti memberikan pendidikan yang layak serta mengenalkan norma serta aturan. Sementara itu, terkait orangua sebagai rekan, mengandung tanggung jawab ntuk memenuhi kebutuhan emosional  anak, seperti memberikan kasih sayang dan mengembangkan kecerdasan emosi mereka.

            Menurut Bunda Romy, orangtua merupakan lingkungan terdekat anak sehingga memiliki peran dan tanggung jawab utama untuk menstimulasi kecerdasan emosi anak. Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak, orangtua juga perlu mengasah kecerdasan emosi yang dimilikinya juga. Oleh karena itu, setiap orangtua perlu memiliki gambaran mengenai kondisi kecerdasan emosi sendiri, sebagai langka awal sebelum melakukan stimulasi. Dengan terasanya kecerdasan emosi stimulasi yang diberikan orangtua akan mudah diterima dan dicerna anak dalam otaknya (kognitif). Selaian itu, baik anak maupun orangtua menjadi tidak mudah stres dan komunikasi menjadi lebih lancar. (Kompas)

           

Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak

 

Mengenal emosi diri:          

Mengajarkan anak memahami dan mengomunikasikan  emosi pada orang lain. Contoh : saat anak terlihat bereaksi terhadap sesuatu, misanya tertawa atau menangis, orangtua menanyakan perasaan anak.

 

Mengelola emosi/kontrol diri:

Mengajarkan anak menyelesaikan masalah dan mengekpresikan rasa kesal dengan cara yang tepat. Mengajarkan anak mengatasi kekecewaan.

 

Memotivikasi diri sendiri:

Meningkatkan kepercayaan diri anak. Melatih anak memiliki rasa optimisme dengan melihat sisi positif dari setiap peristiwa.

 

Mengenali emosi orang lain/empati:

Memberikan contoh perbuatan baik. Melibatkan anak dalam kegiatan soisal.

 

Membina hubungan:

Melatih keterampilan sosial, misalnya mengajak diskusi anak tentang kegiatan sehari-hari atau berbagi miliknya dengan teman sekelompok.

 

(Kompas)

Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak

 

Orangtua mana yang tak ingin melihat anaknya tumbuh sehat dan cerdas? Asupan nutrisi yang cukup, ternyata belum menjamin anak menjadi cerdas. Menurut pakar psikologi Dr. Rose Mini Ap.  MPsi atau akrab disapa Bunda Romy, selain asupan nutrisi, diperlukan stimulasi agar semua potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak dapat tampil secara optimal dalam kehidupannya.

 

Bunda Romy menuturkan, dahulu kecerdasan selalu diidentikkan dengan kemampuan kognitif yang terukur dalam satu skor Quotient (IQ). IQ merupakan kemampuan intelektual, kemampuan menganalisis, serta logika dan rasio seseorang. Dalam prespektif IQ, dianggap cerdas, saat mereka pandai dalam bidang tertentu, seperti bahasa, berhitung atau dalam kemampuan lainnya yang berhubungan dengan akademik. Dengan semakin berkembangnya informasi dan pengetahuan, para ahli menemukan bahwa kecerdasan ternyata juga mencakup pada aspek yang lebih sepesifik sehinga kecerdasan tidak lagi dilihat sebagai satu demensi, tetapi juga dari banyak demensi. Salah satu      perspektif kecerdasan yang mencakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari ialah Multiple intelligence (MI) atau kecerdasan majemuk.

Istilah kecerdasan majemuk ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr Howard Gardner , psikolog dari Universitas Harvard, dalam bukunya The Multiple Intelligence (1993). Dalam prespektif  MI, terdapat setidaknya delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan Kinesterik, Kecerdasan Visual Spacial, Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logika dan Angka, Kecedasan Musikal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal, dan Kecerdasan Naturalis. Setiap anak memiliki delapan jenis kecerdasan tersebut, tetapi perkembangan setiap jenis kecerdasan bisa jadi berbeda-beda. Perlu stimulasi agar ragam kecerdasan ini  berkembang optimal.

Terkait proses stimulasi si kecil, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu gaya belajar, pola suh, dan kecerdasan emosi. Gaya belajar merupakan cara yang cendrung digunakan anak untuk menyerap informasi dan lingkungannya ( Kompas 31/1/2016). Sementara itu, pola asuh  menyangkut gaya pengasuhan yang diterapkan kepada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Hal berikutnya yang tak kalah penting, yaitu kecerdasan emosi.

 

Mengenal kecerdasan emosi

            Kecerdasan emosi atau Emotional intelligence (EI) merupakan kecerdasan yang memperlihatkan kemampuan untuk mengetahui perasaan diri maupun orang lain dan dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan. Menurut Daniel Goleman, ada lima area kecerdasan emosi, yaitu kemampuan mengenal emosi, kemampuan mengelola emosi (kontrol diri), kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain (empat) serta kemampuan membina hubungan. Cara mengenal kecerdasan emosi adalah melalui pengamatan terhadap prilaku si kecil dalam kesehariannya.

 

Peran orangtua dalam proses stimulasi.

            Setiap orangtua memiliki perasaan yang penting dalam kehidupan anak. Setiap peran tentunya mengandung tanggung jawab yang berbeda. Terkait dengan peran orangtua sebagai pengasuh anak, perlu diiringi dengan tanggung jawab orangtua untuk memenuhi segala kebutuhan fisik anak, seperti sandang pangan, dan papan. Terkait peran orangtua sebagai pendidik perlu diiringi dengan tanggung jawab mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual anak, seperti memberikan pendidikan yang layak serta mengenalkan norma serta aturan. Sementara itu, terkait orangua sebagai rekan, mengandung tanggung jawab ntuk memenuhi kebutuhan emosional  anak, seperti memberikan kasih sayang dan mengembangkan kecerdasan emosi mereka.

            Menurut Bunda Romy, orangtua merupakan lingkungan terdekat anak sehingga memiliki peran dan tanggung jawab utama untuk menstimulasi kecerdasan emosi anak. Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak, orangtua juga perlu mengasah kecerdasan emosi yang dimilikinya juga. Oleh karena itu, setiap orangtua perlu memiliki gambaran mengenai kondisi kecerdasan emosi sendiri, sebagai langka awal sebelum melakukan stimulasi. Dengan terasanya kecerdasan emosi stimulasi yang diberikan orangtua akan mudah diterima dan dicerna anak dalam otaknya (kognitif). Selaian itu, baik anak maupun orangtua menjadi tidak mudah stres dan komunikasi menjadi lebih lancar. (Kompas)

           

Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak

 

Mengenal emosi diri:          

Mengajarkan anak memahami dan mengomunikasikan  emosi pada orang lain. Contoh : saat anak terlihat bereaksi terhadap sesuatu, misanya tertawa atau menangis, orangtua menanyakan perasaan anak.

 

Mengelola emosi/kontrol diri:

Mengajarkan anak menyelesaikan masalah dan mengekpresikan rasa kesal dengan cara yang tepat. Mengajarkan anak mengatasi kekecewaan.

 

Memotivikasi diri sendiri:

Meningkatkan kepercayaan diri anak. Melatih anak memiliki rasa optimisme dengan melihat sisi positif dari setiap peristiwa.

 

Mengenali emosi orang lain/empati:

Memberikan contoh perbuatan baik. Melibatkan anak dalam kegiatan soisal.

 

Membina hubungan:

Melatih keterampilan sosial, misalnya mengajak diskusi anak tentang kegiatan sehari-hari atau berbagi miliknya dengan teman sekelompok.

 

(Kompas)



Komentar Facebook