MALNUTRIS BEBAN GANDA PERTUMBUHAN BALITA

MALNUTRIS BEBAN GANDA PERTUMBUHAN BALITA

Usia balita adalah masa penting pemberian gizi untuk mendapatkan perkemabangan yang baik pada otak anak

 

Anak merupakan cikal bakal penerus bangsa. Untuk mempersiapkan hal tersebut, selain bekal ilmu pengetahuan, kebutuhan gizi harian mereka pun harus terpenuhi dengan baik. Hal ini berguna untuk menghasilkan individu yang berkwalitas di masa depan.

            Selain kebutuhan gizi, stimulasi kepada anak juga merupakan salah satu aspek yang penting dalam mencapai tumbuh kembang  yang optimal. Untuk memenuhi semua hal tersebut peran orang tua dalam mengasuh sang anak pun tak kalah penting untuk dilakukan.

            Kebutuhan gizi dan stimulasi anak harus dilakukan sejak usia balita dalam 1.000 hari pertama kehidupannya. Karena usia balita merupakan saat otak anak sedang berkembang dan menjadi penentu kwalitas kehidupannya di kemudian hari.

            Namun, sayangnya masih ada saja masyarakat yang belum paham akan hal ini sehingga mengakibatkan banyaknya balita yang terganggu perkembangannya akibat menderita gizi buruk.

            Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi gizi buruk pada anak usia balita cukup tinggi, yakni mencapai 19.6 persen yang betubuh pendek (stunting) berjumlah 11,2 persen dan obesitas 11,9 persen.

            Menurut pakar gizi masyarakat dan Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan MS,  kondisi ini sangat memprihatinkan dan dapat disebut sebgai beban ganda malanutrisi pada anak-anak. Masalah ini jelas dapat menghambat tumbuh kembang mereka.

            “Kebutuhan gizi dalam masa pertumbuhan anak perlu tercukupi dengan  baik. Apabila anak kurang gizi, maka akan berpengaruh terhadap tingkat intelektualitas mereka. Usia balita merupalkan masa penting untuk pemberian gizi anak, karena di usia tersebut otak anak sedang berkembang, “ ungkapnya saat membahas soal Senam Tanggap, di Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu.

            Selain itu, lanjutnya, di usia balita ini anak lebih sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak. Itulah sebabnya sejak dini, anak membutuhkan pola makan bergizi seimbang agar mereka memiliki daya tahan yang baik sekaligus mengoptimalkan kecerdasannya.

            “Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi pada masa sekolah cenderung kurang menonjol dalam hal akademis, sulit menerima pelajaran dengan baik, mudah lelah, bahkan lebih mudah terserang penyakit,” tambahnya.

            Untuk mencegah kondisi tersebut, ada baiknya, menurut Ali, agar orang tua dapat memenuhi kebutuhan gizi anak dengan baik. Pemberian makanan bergizi seimbang pada prinsipnya adalah jumlahnya cukup lengkap dan seimbang, seperti sayur, buah, lauk- pauk, dan susu, serta bervariasi menunya.

            “Variasi ini berguna untuk menarik perhatian  anak agar mau makan. Semenatara itu, dalam usia balita 0-6 bulan penting untuk diberikan ASI, tetapi setelahnya mereka juga  perlu diberikan makanan pendamping ASI sebagai peralihan menuju makanan keluarga, lanjutnya.

            Ali  juga menambahkan bahwa kebiasaan jajan juga menyebabkan anak berkonstribusi pada rendahnya setatus gizi anak. Jajan yang disukai anak umumnya yang padat kalori, tetapi miskin gizi. Padahal banyak cemilan lokal yang murah dan menyehatkan, seperti bubur kacang hujau, pisang goreng, atau buah yang bisa diberikan pada anak.

            “Edukasi orang tua terhadap anak tentang pentingnya mengkonsumsi makanan seimbang juga harus dilakukan agar anak mengerti akan pentingnya makanan-makanan yang bergizi bagi tubuhnya, “ ujarnya.

            Untuk menyiasati anak yang suasah makan, sebaiknya orangtua tidak berpatokan pada waktu makan tiga kali sehari karena lambungnya masih kecil. Anak tidak bisa menerima makanan dalam porsi besar. Lebih baik makan sedikit tapi sering. “Sebaiknya sediakan juga cemilan sehat untuk   anak, “ katanya.

            Untuk itu, lanjut Ali, orangtua juga perlu mengetahui ada atau tidaknya penurunan atau kenaikan berat badan pada sang anak dengan cara menimbang berat badan mereka setiap bulan. Prinsipnya anak yag sehat adalah bertambah umur dan juga bertambah berat badan serta tinggi badannya. Secara keseluruhan, peran nutrisi seimbang dan stimulasi dari orangtua merupakan senergi yang baik untuk menciptakan anak yang aktif dan tanggap.            

 

Cara Memenuhi Gizi Berimbang

Agar kebutuhan gizi dan stimulasi anak terpenuhi, orangtua peru memberikan makanan dengan komposisi gizi seimbang. Selain itu, beberapa sumber makanan lain yang tak kalah penting diberikan adalah sebagai berikut:

  1. Batasi konsumsi makanan manis

Makanan mengandung gula berlebih hanya akan membuat anak mudah obesitas, hipertensi, dan penyakit gula. Untuk itu, orangtua wajib memperhatikan  agar anak tidak terlalu sering mengkonsumsi makanan –makanan tersebut.

  1. Batasi konsumsi makanan asin dan berpengawet

Makanan asin  dan berpengawet tinggi dapat memicu berbagai macam penyakit ke dalam tubuh anak-anak. Sebaiknya orangtua membatasi anaknya mekanan selingan jenis itu, seperti mie instan dan makanan lain seperti potato chips.

  1. Perbanyak konsumsi makanan kaya protein

Makanan yang kaya proien, seperti ikan dan ayam, baik dikonsumsi untuk perkembangan otak anak karena mengandung DHA yang penting untuk perkembangan otak. Apalagi bila diberikan pada balita enam bulan ke atas dan  anak usia sekolah.

  1. Perbanyak konsumsi buah dan sayur

Selain protein hewani, konsumsi buah dan sayur berwarna hijau tua juga penting dilakukan. Buah dan sayur tidak hanya menyehatkan, tetapi mengandung banyak vitamin yang dapat membantu menunjang pertumbuhan anak.

  1. Konsumsi air putih

Air putih sangat baik dikonsumsi oleh siapa pun, tak terkecuali anak-anak. Biasakan mengenalkan akan pentingnya air putih pada anak dibandingkan mengkonsumsi minuman kemasan, seperti air soda kalengan, dan minuman pengawet lainnya.

  1. Budayakan olahraga

Tak hanya bagi orang dewasa, anak-anak juga perlu melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga guna melatih tubuh agar tetap sehat, sehingga nantinya anak-anak dapat terhindar dari berbagai macam penyakit.

(REPUBLIKA)

           



Komentar Facebook